Bab 10 dokter Dadakan

1983 Kata
Giovan mendekati Celine yang berdiri di depan pintu yang tertutup, lantas dihadapkan ke dia. Celine tersentak kaget melihat sang ayah, merasa si ayah mendengar sahut-sahutan tadi. “Lin,” terdengar suara Giovan sambil mengamati sang anak, “Papa dengar Kamu mau menikah.” Si nona terkesiap, menjadi resah, mengutuki diri kenapa sahut-sahutan mengenai itu dengan Arash. Sedangkan Arash di luar segera merapat ke pintu untuk menguping pembicaraan ayah dan anak di dalam. “Anu Pa,” sang gadis gugup, “Ah ya, tadi Ara membawakan makan siang,” lantas mengalihkan pembicaraan sambil memutar badan ke arah pintu. Sang presdir yang menguping segera menjauhi pintu, segera mengambil tas berisi makanan yang tergeletak di lantai, dan begitu si nona keluar, dia menyodorkan tas tersebut. “Sorry, ini kamu lupa bawa masuk ke dalam,” ujarnya menutupi perbuatan menguping pembicaraan tadi, “Aku baru mau memanggilmu.” Celine menghela napas, diambil tas dari tangan tuan muda, padahal dia tidak mau menerima pemberian itu, lantas mengecek isi tas. “Lin,” Arash terheran melihat yang dilakukan si nona, “Isinya masih lengkap kok, Aku tidak ada mengambil satu pun.” Dikira sang nona merasa dia mengambil satu isi tas tersebut. Celine tidak menjawab hanya mengeluarkan satu kotak brownies dari tas, lantas dibikin berada di tangan sang presdir. “Untuk Kamu ngemil saat kerja.” Ujarnya singkat. “Untuk Aku?” Sang presdir terheran sambil menunjuk diri sendiri. “Iya buat Kamu.” Sahut si nona, “Sudah ya, Aku tinggal,” Segera berpamitan dan bergegas masuk ke dalam rumah sambil merapatkan pintu. Tuan muda ini melongo sambil memandang bergantian pintu dan kotak Brownies di tangan, lantas tersenyum geli. “Iyalah Aku terima,” dia berbicara sendirian, “Lin, Aku pasti menolong Papa Kamu.” Dia memandang pintu yang tertutup rapat. *** Arash masuk ke dalam IGD Lewis Hospital, langsung menuju ruang dokter Damian Kepala IGD, lantas mengetuk daun pintu yang terbuka lebar. Sang dokter yang berada di dalam tengah mengerjakan tugas mengalihkan pandangan ke pintu, lantas bergegas berdiri dan mendekati sang presdir, sebab sahabat baik tuan muda ini. “Mian,” pria ini langsung menyapa sang dokter, “Tolong resepkan salep memar sekarang juga.” Kening si dokter berkerut lantas kedua mata menyisir setiap bagian tubuh sang presdir yang terlihat, bahkan mengecek wajah, kedua tangan, dan kedua kaki cucu James tersebut. Arash menjadi gemas, mengeplak pundak kanan sahabatnya. “Bukan gue yang memar, Man!” tukasnya gregetan, “Tapi calon istri gue!” imbuh dia menerangkan yang mengalami luka memar adalah Celine, bukan dia. Dokter Damian terkesiap, segera menarik sahabatnya masuk sambil merapatkan pintu. Didudukan ke sofa, lantas dipandangi sang teman baik. “Apa Opa sudah mengadakan pesta jodoh itu, lantas loe klik sama salah satu kandidat yang ada?” sang dokter segera duduk di sebelah sang presdir, dipandang dengan sorot mata penasaran. “Opa tidak mengadakan pesta jodoh, Mian!” sang presdir menghela napas, “Ah sudah lah nanti gue ceritakan siapa calon istri gue itu,” diputuskan tidak dulu memberitahu mengenai Celine ke sahabatnya ini, “Lekas Mian, resep kan salep memar untuk dia.” “Oke, oke,” dokter Damian paham, berdiri, segera ke meja kerja untuk mengambil buku resep, baru kembali duduk di sebelah sang presdir, “Siapa nama dia?” Arash terheran mendengar ini, “Loe penasaran banget siapa calon istri gue ya?” “Lha, loe minta salep memar, pasti gue tanyakan nama pasien yang bakal pakai tu salep.” Sang presdir terkesiap, lantas menghela napas tersadar bahwa minta obat apa pun ke rumah sakit pasti ditanya nama pasiennya. “Namanya Lin.” “Oke,” dokter Damian paham, segera menuliskan nama tersebut di kolom nama pasien, “Nama calon istri loe itu Lin.” Disebut lagi nama si pasien sambil menambahkan keterangan bahwa itu nama calon istri sang teman baik. “Berapa usia dia?” diajukan pertanyaan berikut. Sang presdir terkesiap, dipandang heran si dokter, “Perlu kah gue beritahu berapa usia dia?” Dokter Damian sedikit mendecak, “Loe gimana sih? Namanya minta obat ke rumah sakit, bukan hanya ditanya siapa nama pasien, tapi juga berapa usianya, lahir tanggal, berat badan, dan apa ada alergi satu obat.” Dijelaskan prosuder penulisan resep obat di rumah sakit mana pun. Arash terheran mendengar semua itu, “Perasaan gue kalau minta obat, ngga pernah loe tanya kek gitu.” Tukas dia tidak percaya penjelasan sahabatnya ini. Dokter Damian menjadi gemas, sedikit dijitak kening sang presdir. “Calon istri loe kan pasien baru dan sosok dia tidak ada di sini! Jelas gue musti menanyakan identitas dia!” Sang presdir mengernyitkan kening karena suara sahabatnya sedikit lantang. Dokter Damian sedikit mengelus d***, tersadar sang presdir sejak meninggalnya Diana menjadi sosok yang tidak ingin diketahui kehidupannya termasuk berteman dekat sama perempuan mana. “Oke, oke,” tuan muda nyengir kuda melihat teman baik ini mengelus d***, “Namanya Lin, usia dua puluh lima tahun, berat badan lima puluh kilogram, lahir tanggal empat belas Februari, dan rasanya dia tidak ada alergi satu obat.” Diberikan informasi yang diminta dokter Damian. Sang sahabat segera mencatat keterangan itu di kolom identitas pasien di buku resep, lantas kembali memandang tuan presdir. “Dia mengalami luka memar karena apa?” “Kening dia ke bentur pintu.” Sang dokter terkesiap, lantas mengeplak lengan sahabatnya ini, “Loe smack down calon istri loe?” Arash terkesiap mendengar ini, mengapa dikira smack down Celine, bikin kening gadis itu jadi membentur pintu? Dia segera menjitak kening temannya ini. “Dia kepleset pas mau masuk ke dalam rumah.” Tukas dia kesal. “Loe udah living together sama dia?” “Ngga Mian, dia tinggal di rumah ayahnya!” “Kenapa ngga loe bawa dia kemari setelah kening membentur pintu?” “Dia lagi ngambek ama gue.” “Karena loe sibuk? Atau loe putusin demi perjodohan yang Opa rencanakan itu?” “Ngga semuanya!” tukas sang presdir kesal dikorek-korek agar menceritakan siapa Celine, “Buruan Damian, kening dia belum diobatin salep memar!” Dokter Damian terkekeh geli melihat sang sahabat gregetan ke dia, segera ditulis nama salep obat di resep, juga menulis beberapa item obat lainnya, lantas berseru lantang. “Alin!!!” Sang presdir mengernyitkan kening gegara mendengar suara seruan itu. “Hadir, dokter Damian!” tidak lama ada sahutan dari luar ruangan ini, bahkan sejurus setelah itu datang si pemilik nama yang berprofesi sebagai asisten dokter. “Alin datang, dokter!” disapa si dokter dengan wajah tersenyum manis. Dokter Damian menyobek halaman resep yang sudah tertulis item-item nama obat lantas diberikan ke Suster Alin. Sang suster segera mengambilnya untuk dibaca sejenak, lalu menegur si bos dokter. “dok, mana pasiennya?” “Di rumah ayah si pasien.” Sahut dokter Damian singkat. “Kok ngga dibawa kemari?” “Pasien lagi ngambek ama Arash!” sahut si dokter sambil menunjuk Arash, “Udah lekas kamu ambil semua obat itu dari Farmasi.” *** Arash tersenyum saat Celine menemui dia yang datang ke kontrakan si nona. Namun dia menjadi pilu karena wajah gadis ini lesu dan sedikit sembab. Pasti gadis ini memikirkan nasib malang harus segera menikah sama Sandiya Lewis billionaire misterius dari Los Angeles. “Ara,” Celine memulai pembicaraan, “Kan Aku udah bilang Kamu jangan kemari lagi hari ini.” Ditegur sang presdir. “Aku tidak bisa menunggu sampai besok, Lin.” Arash menghela napas, lantas membimbing si nona duduk di kursi teras. Celine terheran mengapa di teras ada kursi? Selama ini tidak ada, hanya lantai saja. Arash yang memberi kursi dan meja di sini, agar kalau dia bertamu, bisa nyaman mengobrol dengan sang nona. “Ara,” ditegur tuan muda dengan pandangan bertanya, “Perasaan di teras ini ngga ada kursi ama meja.” “Sekarang ada kan?” tanya sang presdir sambil mengeluarkan semua isi plastik ke meja, “Sudah jangan banyak bertanya,” segera menahan Celine untuk bertanya lebih jauh, “Coba kulihat kening Kamu,” Dia mengulurkan satu tangan untuk membuat wajah si nona menghadap ke dia, lantas diamati kening gadis ini. “Ha eh!” desahnya pelan menemukan kening itu masih benjol dan memerah, lantas memasang sarung tangan steril, baru mengobati kening si nona. Celine melongo melihat semua ini sambil mengamati sang presdir yang dengan tulus mengobati memar tersebut. “Ara,” ditegur tuan muda ini, “Kamu kemari hanya untuk mengobati kening Aku?” Arash tersenyum tipis, “Iya,” ujarnya selesai mengobati kening si nona, lantas merundukan badan ke arah kedua kaki sang gadis. Dilepas sandal dari kaki-kaki mulus berwarna putih bersih, lantas diamati. “Kamu ngapaian, Ara?” Celine terheran melihat yang dilakukan sang presdir. Arash menegakan badan, “Kulihat kamu tadi berjalan sedikit tertatih,” ujarnya karena memang saat si nona menemui dia, jalan tertatih, “Dan kutemukan kaki kanan kamu sedikit bengkak.” Diberitahu hasil mengamati kedua kaki sang gadis, lantas segera mengobati bagian tersebut. Hati Celine menjadi tidak karuan karena tuan muda ini mengawasi dengan cermat. Dia sendiri tidak menyadari kalau salah satu kakinya sedikit bengkak, hanya merasakan kaki itu dibawa jalan nyeri. Arash sudah selesai mengobati bagian yang sakit, segera mengemasi semua obat, alat medis, dan kapas bekas obat dari meja. Obat dan alat medis dimasukan ke dalam kotak plastik steril, sedangkan kapas bekas obat disimpan ke dalam plastik kosong, baru setelah itu dia melepas sarung tangan steril dari kedua tangannya. Celine mengamati semua ini tampak tersenyum, ternyata pria slengean ini orang yang apik, perhatian, dan tulus menolong. Hatinya sedikit terharu bisa mengenal sang presdir. “Lin,” Arash bersuara sambil memandang Celine, “Ayo minum obat nyeri dan antibiotik dulu, agar luka memar bisa segera sembuh.” Dia sambil membersihkan piring kecil dari melamin dengan handwash, lantas di sana diletakan dua butir obat minum. “Ara, Aku belum makan apa pun dari siang.” Celine menolak meminum obat itu, “Udah lah Aku baik saja kok, cukup rebahan di kamarku.” Arash menghela napas, sudah menduga si nona tidak makan siang, lantas mengeluarkan sesuatu dari tas yang tertaruh di kursi lain, dipamerkan ke nona ini. Celine mengalihkan pandangan ke sana dan menemukan bubur ayam lezat yang dikemas dalam kotak plastik food grade. “Makan ini ya, baru minum obatnya.” Sang presdir membujuk si nona agar mau makan baru minum obat, “Please, biar kamu lekas pulih.” “Makan aja ya, karena obat yang waktu itu masih ada.” Celine bernegosiasi, “Obat yang kamu taruh ini sama kayak obat yang kemarin itu.” Imbuh dia karena saat sang presdir menyiapkan obat, melihat kemasan obat, dan merasa kemasan itu sama dengan kemasan obat yang dari IGD tempo hari. “Apa obat itu rajin kamu minum tiap hari sesuai aturan pakai?” Celine terkesiap diberi pertanyaan itu, lantas, “Emm, iya aku rajin minumnya kok.” Sahut dia sedikit gugup, “Nanti Aku minum obat itu sehabis makan bubur.” Arash menghela napas, sudah menduga si nona tidak meminum semua obat dari IGD tempo hari. Itu pun karena kedua matanya melihat Martin di pintu memamerkan plastik berisi semua obat tersebut sambil memberi isyarat bahwa Celine tidak meminum sama sekali obat-obatan itu. “Ya sudah kamu minum obat yang kusiapkan dulu.” Sang presdir memberi keputusan, “Obat yang kemarin kamu minum after dinner.” Celine langsung manyun, merasa ada Martin kedua yang menyatpamin dia minum obat. Arash mengangkat kotak berisi bubur sambil bicara lagi, “Ayo Lin, kusuapin kamu makan, karena kutahu Kamu ogah-ogahan makan,” Dipandang si nona dengan tegas, “Ayo ngga usah sungkan kusuapin.” “Iyalah,” Celine mengalah, membiarkan tuan muda ini menyuapin dia, “Ara, jangan baik ke Aku.” “Karena Kamu mau menikah? Aku tidak perduli itu.” “Ara, Papa perlu segera di operasi, jadi aku minta bantuan ibu tiriku,” si nona dengan polos bercerita,”Beliau setuju asal aku mau menikah sama pria yang sedang mencari jodoh, karena beliau minta bantuan dari pria itu.” Giovan yang datang ke sisi Martin mendengarnya, tampak wajahnya terkaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN