Giovan hendak mendekati Celine untuk memastikan yang baru di dengarnya, tapi Martin cepat memegang lengan dia.
“Tuan, biar Saya yang selidiki itu,” ujar sang asisten, “Anda jangan bikin Nona bertambah tertekan.” Imbuh dia minta agar sang tuan tidak membuat Celine semakin tertekan.
Giovan menghela napas. Jika benar Indira memberi syarat itu, dia ingin menghajar mantan istrinya itu. Sungguh kelewatan membuat Celine bersedia menikah dengan Sandiya Lewis. Pria ini meski putra Harun, tidak dekat dengan James Lewis, sehingga tidak mengetahui siapa Sandiya Lewis.
Kembali ke Celine yang sudah selesai makan bubur karena perut si nona memang kelaparan. Arash tersenyum melihat si nona mungil menghabiskan bubur satu porsi, lantas mengemas kotak bubur ke dalam tas, baru dikeluarkan gelas thumbler berisi teh manis hangat, dibuka tutup gelas sambil menyodorkan gelas tersebut ke si nona.
“Minum perlahan, karena masih sedikit panas.”
Celine mengambil gelas tersebut, ditiup-tiup pelan permukaan air teh, baru perlahan diseruputnya. Kedua mata dia mengamati Arash, mengapa di dunia ini ada pria sebaik sang presdir? Setelah puas minum diletakan gelas ke meja, lantas mengambil dua butir obat dari piring kecil, segera diminumnya dibantu air teh tadi.
Arash melihat semua ini tampak lega karena si nona sudah mengisi perut, lantas minum obat. Dia segera mengemasi gelas dan piring, dimasukan ke dalam tas.
“Ara,” Celine menegur Arash, “Terima kasih ya.” Dia mengucapkan terima kasih ke pria ini, “Udah biar semua peralatan makan Kamu tinggal saja,” ujarnya mengembangkan pembicaraan setelah sang tuan muda menerima ucapan terima kasih tersebut, “Nanti malam bisa kamu ambil setelah kucuci bersih.”
Arash tersenyum, “Jadi nanti malam aku kemari ya?” dia langsung menyambut kabar gembira itu.
“Iya, untuk mengambil peralatan makan punya kamu.”
“Lebih dari itu, Lin.” Arash sedikit menaik turunkan alis, “Aku suapin lagi kamu makanan dan obat!” serunya sedikit tersenyum menyeringai memandang Celine.
“Cape dee!” desah si nona menepuk kening, “Ara, kamu sudah maksi kah?” dialihkan pembicaraan, “Apa kamu ada makan Brownies itu?”
“Aku belum maksi karena membeli obat-obatan dan makanan untuk Kamu,” sahut sang presdir dengan jujur, “Belum juga menyentuh Brownies dari Kamu.”
Celine menghela napas, lalu berdiri, “Kamu tunggu di sini ya,” ujarnya meminta tuan muda ini tetap di teras, “Aku ke dalam bentar.” Lalu segera memutar badan ke arah pintu rumah.
Martin dan Giovan segera beranjak dari pintu, duduk lesehan di lantai sambil mantengin laptop sang asisten yang menayangkan siaran berita sore.
Si nona pun masuk, langsung ke dapur, tidak lama dihangatkan sisa lauk tadi siang yang dibawa Arash untuknya, Giovan, dan Martin. Setelah itu diletakan tiap lauk ke dalam piring, lantas ditaruh ke dalam baki besar. Terakhir dia meletakan sepiring nasi, sendok, garpu, serbet, dan gelas minum ke dalam baki.
“Paman Martin!” serunya memanggil Martin, “Paman!”
Martin segera berdiri dan menghampiri nona besar ini, “Iya, Nona?”
“Paman, tolong angkatin baki ini ke teras ya.” Sang nona langsung menunjuk baki di lemari meja, “Ini untuk Ara, dia belum maksi.”
Sang asisten melihat ke baki, lantas kedua tangan mengangkat sisi kanan kini si baki sambil tersenyum.
“Oke Nona.” Dia terharu karena si nona tahu membalas kebaikan sang presdir.
“Makasih Paman.” Celine tersenyum, lantas mengambil satu poci berisi air putih dari meja kompor, “Ayuk Paman.” Baru diajak si paman berjalan.
Tidak lama si nona dan asisten meninggalkan dapur menuju teras di mana Arash masih setia menunggu sang gadis kembali. Begitu tiba di teras, si tuan presdir baru selesai mengirim pesan singkat ke Steve dengan ponselnya, tampak terheran melihat semua yang dibawa kedua orang tersebut, bergegas berdiri.
Dia semakin keheranan karena si nona dengan sigap memindahkan isi baki ke meja, lantas setelah itu Martin beranjak pergi. Sang gadis lalu membawa dia duduk, lalu dipandangnya.
“Ara,” sang nona bersuara, “Ayo lekas Kamu maksi, biar ngga masuk angin.” Diminta tuan presdir untuk segera makan, “Tadi siang Aku ngga makan, jadi lauk dan nasi masih banyak, kuhidangkan ke kamu yang belum maksi.”
Arash mendengar ini memandang tidak percaya, “Jadi Kamu ke dalam untuk menyiapkan semua ini?” ditanya si nona sambil menunjuk semua hidangan di meja.
“Iya.” Sahut sang gadis sambil menuangkan air dari poci ke dalam gelas, “Lekas lah makan.” Kembali di minta tuan muda ini untuk makan.
Sang presdir menjadi terharu, spontan saja mengecup kepala si nona.
“Makasih, Sayang.”
Celine yang terkena kecupan memandang gemas pria ini, “Ish, Kamu tu! Kenapa cium Aku lagi sih?”
Arash cengegesan, segera mengambil beberapa sendok lauk yang ada, ditambahkan ke dalam piring berisi nasi, lantas memberikan piring itu ke si nona.
“Ara?” sang gadis terheran, “Aku udah makan kan?”
“Kamu suapin Aku makan.”
Celine melongo mendengar ini, “Kamu minta kusuapin makan?”
“Iya,” sahut sang presdir dengan mimik serius, “Kalau Kamu tidak menyuapin Aku maka makannya ogah-ogahan.” Imbuh dia kini memasang wajah merajuk.
Si nona menjadi gemas, dikeplak lengan tuan muda ini, “Ish, ngga mau! Kamu makan sendiri, terserah ogah-ogahan nantinya.” dia menolak menyuapin pria ini.
Saat sang presdir hendak menukas, dari arah halaman di depan teras terdengar suara perempuan memanggil Celine.
“Lin!”
Sang gadis dan Arash berbarengan melihat ke halaman tersebut, lalu si nona segera menghampiri. Yang datang adalah Diana dan Abel-dua sahabat gadis ini.
“Lin!” Diana cepat memeluk Celine, “Maafin gue ya.” Dia minta maaf ke si nona, “Gue ngga tahu kalau Pak Dodo jadiin loe sebagai Caddymates.” Tuturnya dengan nada penyesalan, “Padahal Abel bilang lowongan itu untuk jadi Caddy Girl Golf.”
“Iya Lin,” sela Abel yang pria seperti Arash, “Pak Dodo memang meminta gue menyebarkan mengenai lowongan jadi Caddy Girl Golf, bukan Caddymates. Makanya gue beritakan itu ke Diana.”
Arash mengawasi Celine sambil mendengar percakapan tersebut. Dia sudah tahu dari Steve, memang Diana tidak mengetahui bahwa lowongan pekerjaan yang ditawarkan Dodo HRD Savana Golf itu Caddymates, bukan Caddy Girl Golf. Caddy Girl Golf bertugas membawakan tas, mengganti stik golf, membersihkan bola golf, sampai menyetir buggy car. Sedangkan Caddymates tugasnya menghibur para pemain golf dalam tanda kutip double.
Ternyata saat Dodo sengaja menyebar kabar dibuka lowongan Caddy Girl Golf untuk mendapatkan Caddymates baru, agar mengundang lebih banyak pemain golf seperti Ahmed dan rekan-rekan Turkies Group ke Savana Golf. Savana Golf adalah salah satu tempat hiburan berbasis olahraga golf. Jika pemain golf klik dengan Caddymates, bisa melanjutkan ke ranjang panas yang disediakan Savana Golf di hotel yang berada di belakang gedung kantor perusahaan tersebut.
Namun karena Arash menolong Celine, maka Savana Golf kena bredel Badan Olahraga Dunia untuk cabang golf di Jakarta. Santiago Montera pemilik perusahaan menjadi geram sebab tidak bisa melawan sang presdir yang punya power kuat di Badan Olahraga Dunia, terutama di bidang Golf. Tuan muda ini pencinta golf selain olahraga reli motor dan mobil, scuba driving, dan menembak.
Celine melepas pelukan Diana, dilihat wajah sahabatnya berhias air mata.
“Sudah-sudah,” si nona menyeka air mata itu, “Gue udah melupakan itu,” ujarnya, “Lagipula gue selamat dari pria belang-belang itu karena ditolong Arash.”
“Cowok itu, Lin?” sela Abel menunjuk ke arah Arash yang masih mengawasi Celine.
Si nona mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk temannya ini, lantas menganggukan kepala.
“By the way, kalian kemari hanya untuk mengaku ke gue?” dialihkan pembicaraan sambil memandang kedua sahabatnya.
Diana segera membuka tas clutch yang disandangnya, lantas mengeluarkan amplop berwarna coklat yang tipis, diberikan ke si nona.
“Apa ini?” Celine terheran, “Jangan bilang isinya cek untuk gue.” Dia feeling isi amplop itu sehelai cek senilai biaya operasi dan pasca operasi.
“Lin,” Abel duluan bicara, “Gue ama Diana patungan untuk bantu biaya operasi bokap loe.”
“Gue ngga minta itu kan ama kalian?”
“Kami tahu,” Diana menghela napas sambil memberikan amplop itu ke tangan Celine, “Ambil Lin, biar bokap loe segera dipasang ring di jantungnya.”
“Ngga mau.” Celine menolak sambil memasukan amplop itu ke dalam clucth Diana, “Gue udah dapat bantuan untuk biaya operasi Papa.” ujarnya memasang senyum tapi tampak pilu.
“Loe pinjem dari cowok loe itu?” Diana langsung menunjuk Arash yang masih mengawasi Celine.
“Bukan dari dia, tapi dari Bunda.”
Abel dan Diana terkejut mendengar ini, saling berpandangan, lantas Diana lebih dulu bicara ke Celine.
“Loe menemui Mak tiri itu? Loe minjem sama dia?”
Celine menganggukan kepala dengan wajah pilu, “Tidak mengapa, karena ini terbaik untuk Papa.”
Abel mengamati si nona dengan teliti, “Lin, Emak loe mengajukan syarat kah saat loe meminjam uang dari dia?”
Celine tersentak kaget, lantas menganggukan kepala, “Gue diminta menikah sama billionaire dari Los Angeles, karena Bunda minta bantuan ke dia.”
“Ish!” seru Diana geram, “Itu namanya dia ngga bantu Loe, tapi ngejual loe!” dia menilai Indira tidak membantu Celine, “Kalau dia bantu, pasti memberi pinjaman dari uang pribadinya dengan syarat loe harus mengembalikan dalam kurun waktu sekian hari atau bulan!”
Celine menghela napas, paham yang dikatakan Diana, tapi lajur dikata sudah disetujui dia.
“Kapan Loe menikah sama tu laki?” tanya Abel memandang si nona, “Apa ada Emak loe mempersiapkan pernikahan itu?”
“Gue menunggu kabar dari Bunda, karena Kakek calon suami gue belum memberi kabar kapan diadakan pernikahan,” Celine memberi jawaban, “Bunda minta gue mempersiapkan sendiri, karena sudah membantu gue mendapatkan bantuan dana untuk Papa.”
“Astaga dragon!” Diana menjadi geram, “Kebangetan sih Emak loe itu!” dia sangat marah ke Indira, lantas dikeluarkan kembali amplop berisi cek, digenggamkan ke tangan si nona, “Loe pake uang dari kami, batalkan persetujuan itu!” diminta si nona membatalkan menikah sama Sandiya Lewis.
Celine mengembalikan cek itu ke tangan Diana, “Ngga bisa gue batalin, Na! Loe kan tahu kek gimana Mak gue itu. Apa yang sudah disetujui pantang dibatalkan! Kalau dibatalkan pasti Mak gue akan menuntut gue!”
Abel segera bicara sebelum Diana mendebat si nona.
“Lin!” dipanggil sang gadis, “Loe masih mau kerja?” diberi pertanyaan ke si nona. “Biar Loe perlahan mengembalikan uang calon suami loe itu?”
Diana mendengar ini menjadi gemas, dikeplak lengan Abel.
“Loe gimana sih? Lin dah setuju nikah sama tu billionaire, memang mau apa tu laki dikembalikan uangnya?”
“Harus mau agar Lin tidak disemena-menakan nantinya.”
“Gue terima usul loe, Bel!” sergah Celine cepat, “Loe ada lowongan kerja apa? Di mana?”
“Di Golden Golf,” sahut Abel memandang si nona dengan serius, “Loe jadi Caddy Girl Golf.”
“Benaran jadi Caddy Girl Golf?”
“Benaran karena Golden Golf murni sarana olahraga golf Internasional. Di sana sering diadakan turnamen golf Internasional.” Abel memberi jawaban, “Lin, loe dulu melamar ke Circle Golf karena tertarik dengan salarynya kan, selain berharap bisa bermain golf di waktu senggang? Sayangnya Bu Wida menjadikan loe kasir karena badan loe mungil, takut loe ngga kuat melakukan tugas Caddy Girl Golf.”
“Bel, dia mau nikah sama billionaire,” sela Diana memandang Abel, “Apa boleh kerja jadi Caddy Girl Golf ama calon suaminya?”
Celine tersentak dengan pertanyaan Diana. Apakah dia diizinkan bekerja menjadi Caddy Girl Golf sama Sandiya Lewis? Lantas bagaimana dia mengatakan itu untuk minta izin jika tidak pernah tahu sosok pria itu, dan di mana tempat tinggalnya?