Bab 12 Dukungan

1893 Kata
Celine menghela napas, dia tidak bisa melepas peluang kerja yang bagus di depan mata demi harga dirinya. Toh kelak dia hanya istri di atas kertas, tidak akan terlalu diperdulikan Sandiya Lewis sang suami yang sibuk bekerja. Lantas juga tempat bekerja tidak di perusahaan si suami. “Bel,” ditegur Abel, “Gue ambil peluang kerja itu,” ujarnya memandang sang teman, “Tolong share ke gue persyaratan untuk lowongan tersebut.” “Lin,” sela Diana cepat, “Loe yakin kerja itu? Apa tidak berunding dulu ama calon laki loe?” ditatap si nona. Celine menghela napas, “Gue belum pernah bertemu dan kenalan sama dia.” Dibuka mengenai calon suaminya. Abel dan Diana terkaget, “Serius?” berbarengan memberi pertanyaan. Celine menganggukan kepala, “Bunda juga belum pernah ketemu dan mengenal dia.” Kedua sahabat si nona tersentak kaget, “Astaga!” Sang gadis menghela napas menyadari segera menikah dengan pria asing yang tidak diketahui sosok nyatanya. “Ah gila Mak loe!” seru Diana kesal, “Ngejual loe ke laki yang dia sendiri belum pernah ketemu dan mengenal tu laki? Ngga beres tu, Lin!” “Gue setuju ama Diana,” sahut Abel, “Tadinya gue pikir loe dah ketemu dan mengenal calon laki loe, ternyata oh ternyata.” “Lin, mending loe batalin dah untuk menikah sama tu laki,” Diana memandang Celine dengan sedih, “Kesian loe nantinya kalau ternyata calon suami itu berwajah menyeramkan kayak Beast di film Beauty and The Beast. Lantas ternyata bengis pula suka menganiaya loe kayak di film-film horor Korea.” Celine menghela napas, Diana wajar mencemaskan dia, karena bisa saja terjadi semua itu. Namun untuk membatalkan dia tidak bisa karena Indira tidak akan menerima itu, lantas juga sang ibu tiri akan bilang apa ke James? “Udah lah ini nasib gue,” ujarnya menegarkan diri, “Semua ini demi kesembuhan Papa.” Dia membuang rasa sedih dengan mengingat tidak salah mengorbankan diri untuk Giovan. Abel dan Diana berbarengan mengelus d***, lantas memandang sahabat mungil ini dengan pilu. Abel lantas sedikit mengacak rambut di kepala nona tersebut. “Oke gue share syarat-syarat lowongan itu ke elo sekarang,” ujarnya mengalihkan pembicaraan agar si nona tidak sedih. Tidak lama di akses ponselnya mengirim persyaratan untuk lowongan pekerjaan sebagai Caddy Girl Golf di Golden Golf, “Dah gue kirim ya ke hape loe.” Diberitahu sudah berhasil mengirim ke ponsel sang gadis. “ Kalau loe dah selesai menyiapkan semua persyaratan, telpon gue, nanti gue temanin loe ke sana. Lowongan ini tidak disebarluaskan karena hanya mencari lima Caddy Girl baru, karena yang lama kena pecat akibat ketahuan bermesraan dengan pemain golf saat masih di padang golf.” Celine menganggukan kepala, “Thanks, Bel.” Dipeluk sejenak sahabatnya ini, lantas memeluk Diana, “Dah loe ngga usah cemasin gue.” Diusap-usap pelan punggung sang teman, “Gue yakin calon suami gue itu orang yang baik karena mau membantu kesulitan gue.” Diana mendengar ini melepas pelukan si nona, “Kalau gitu, biar gue ama Abel yang nyiapin pernikahan loe ya. Agar loe dihargai calon suami loe dan keluarga dia.” “Gue setuju itu, Na!” sahut Abel cepat, “Dah loe sekarang fokus ke pekerjaan baru.” Ditepuk sayang kepala Celine, “Urusan pernikahan loe, biar gue ama Diana yang menyiapkannya.” Celine terharu dipeluk kedua sahabatnya ini yang ketika Giovan dilengserkan dari Victory Company tetap memeluk dia dan sang ayah dengan tulus. Bahkan selalu membantu saat ada kesulitan. Setelah itu dilepasnya. “Ah ya,” si nona tersadar sesuatu, “Sorry, nanti kita sambung lagi ya, karena Arash belum makan,” teringat sang presdir belum makan siang. “Cowok itu?” Abel menunjuk Arash yang tetap mengawasi Celine, “Dia siapa, Lin? Kenapa tidak mengenalkan dia ke kami?” dipandang si nona. Sang gadis tersenyum geli, lantas membawa kedua sahabatnya menghampiri sang presdir. “Arash,” dipanggil tuan muda ini, “Mari kuperkenalkan ke Diana dan Abel dua sahabatku dari aku masih SMU.” Dipamerkan Diana dan Abel ke pria itu. Arash lantas berkenalan dengan Diana dan Abel, lalu kedua sahabat ini berpamitan pulang, menyadari dia ingin berduaan sama si nona, sebab sedari tadi mengawasi gadis mungil itu. Setelah Diana dan Abel pergi, Celine mengambil piring berisi nasi dan lauk, lantas memandang sang presdir. “Aku hangatkan bentar ya pake langseng, ini dah dingin soalnya.” Pria ini tersenyum, “Ngga usah, tidak mengapa sudah dingin,” ujarnya menolak jasa baik si nona, “Kamu cukup menyuapin aku saja makanan ini.” Celine terkesiap, lantas menghela napas, “Iyalah kali ini kusuapin,” ujarnya mengalah, “Karena Aku bikin makananmu jadi dingin.” Imbuhnya sambil menyauk nasi dengan sedikit lauk, lantas disuapkan ke mulut sang presdir. Arash tampak bahagia karena berhasil membuat si nona menyuapin dia. “Lin,” sang presdir membuka obrolan, “Tadi kudengar Abel menawarkan lowongan kerja ke kamu.” Celine terdiam, lantas, “Iya, dan aku ambil peluang itu,” ujarnya kembali menyuapin sang presdir. “Untuk apa kamu kerja kalau calon suami kamu itu billionaire, karena dengan mudah setuju membantu biaya operasi ayahmu?” Arash memandang Celine dengan pandangan menyelidik, “Apa dia tidak mencintaimu?” Si nona menghela napas pendek, “Ara, Kami menikah tanpa cinta, jadi kuyakin dia tidak keberatan kalau Aku bekerja. Lagipula pasti dia menikahiku dalam kontrak menikah untuk sekian tahun saja, karena pernikahan itu hanya sebagai pengganti uang dia untuk berobat ayahku.” “Kenapa Kamu berpikir begitu?” “Karena Bunda bilang menunggu kabar dari kakek calon suami kapan pernikahan dilangsungkan. Pasti mereka merencanakan pernikahan itu dalam satu kontrak menikah sekian tahun sebagai pengganti dana berobat itu.” Arash tersentak kaget mendengar ini, apa James mengatakan itu ke Indira? *** Sang presdir mengendurkan ikatan dasi ke leher dan melepas dua kancing kemejanya, baru menghempaskan badan ke atas tempat tidur. Kedua tangannya menjadi sandaran kepala. “Lin,” dipanggil Celine, “Aku menikahimu untuk seumur hidupku, tidak akan kusetujui Opa mengajukan kontrak menikah untuk kita sekian tahun saja.” “Kapan Opa lakukan itu?” sejurus kemudian terdengar suara James dari arah pintu yang masih terbuka lebar. Sang presdir terkesiap kaget, melonjak menegakan badan sambil mengarahkan kepala ke pintu, lantas menghela napas melihat si kakek berdiri di sana. “Hehehe,” terdengar kekehan sang kakek karena melihat si cucu terkaget, “Sorry boy, Opa melihatmu pulang dengan wajah cloudy sky, lantas membiarkan saja pintu kamarmu terbuka lebar.” Sambil mendekati sang cucu, duduk di tepi tempat tidur menghadap cucu ganteng ini yang menghembuskan napas lega melihat sosoknya. Si opa mengamati cucunya ini, “Kamu bukannya baru ngedate sama Lin?” tanyanya memancing si cucu untuk bicara karena sedari tadi hanya diam sambil sedikit menggaruk kening, atau kepala. Arash terhenyak, “Kok Opa tau? Hais pasti Opa nanya ke Steve ya?” “Opa tidak menanyakanmu, hanya menanyakan di mana alamat rumah Lin, wanita idaman hatimu itu.” Sahut si opa menjelaskan, “Lantas Steve menambahkan kalau Kamu sedang di sana, ngedate sama Lin itu.” “Untuk apa Opa menanyakan itu?” “Opa harus tahu di mana Lin tinggal, karena dia adalah Celine Ayuna Pratama cucunya Harun sahabat Opa.” Arash terhenyak mendengar ini lantas sedikit mendengus, “Opaku memang Detektif Conan.” Disebut si opa itu Detektif Conan salah satu tokoh komik buku saku yang dibacanya. Si opa terkekeh-kekeh sambil mengusrek-usrek gemas rambut di kepala cucunya ini. “Opa,” Arash kembali ke menu percakapan, “Hanya menanyakan itu saja ke Steve?” “Iya,” James memasang wajah serius, “Lantas, Opa melihat drama romantis tadi.” “Opa ke bioskop setelah nanya-nanya Steve?” Si opa menjadi gemas kenapa si cucu tidak paham yang dikatakan kalau ke rumah Celine, lantas melihat drama romantis sang nona dengan sang cucu. “Opa nonton drama itu secara live, Arash!” kembali diberi isyarat ke sang cucu, “Ada pria ganteng dengan tulus mengobati kening bidadari, lantas menyuapin sang bidadari makanan.” Dhuar, Arash terperangah mendengar ini, segera mengambil bantal, lantas menutupi kepala dan kedua mata dengan alas kepala tersebut. Wajahnya tampak bersemu merah karena sudah paham bahasa isyarat si opa. Hais, dia malu si opa melihat adegan romantis itu. James tersenyum geli melihat kelakuan sang presdir yang seperti kebiasaan si cucu dari kecil. Jika malu pasti menutupi kepala dan mata pake bantal. Segera diangkat bantal itu, lantas memandangi sang cucu dengan terkekeh-kekeh. “Ha eh!” desah sang presdir gregetan, “Opa nakal. Udah tua masih nonton drama twenty one plus.” Disindir si opa sudah tua masih saja melihat adegan mesra anak muda. Si opa tersenyum geli, “Sudah, sudah,” kekehnya, “Kamu kenapa kek cloudy sky, hmm? Harusnya bahagia dong karena sebentar lagi Opa nikahkan sama dia.” “Ara belum mengatakan adalah Sandiya Lewis ke dia, karena dia keburu menyetujui perjanjian sama Indira yang sebenarnya menjual dia ke Ara, bukan membantu mendapatkan dana berobat dari kantongnya sendiri untuk ayah dia.” Sang presdir memberi jawaban panjang banget. James menghela napas, “Seharusnya Opa tidak langsung menyetujui hal itu, tapi minta dia bertemu kamu dulu. Jadi kalian bisa saling mengenal, dan saling pendekatan.” “Sudah lah Opa, semua terlanjur terjadi.” Arash tidak menyalahkan si opa, “Opa, apa saat menyetujui ada Opa mengatakan ke Indira bahwa menikahkan Lin dengan Ara dalam pernikahan kontrak?” “Tidak ada, hanya meminta dia menunggu kabar dari Opa untuk kapan melangsungkan pernikahan itu.” Sahut si kakek, “Mengapa Kamu bertanya itu?” “Lin merasa kami akan menikah kontrak, jadi dia berusaha keras mendapatkan pekerjaan baru agar bisa menabung sebagian gajinya untuk mengembalikan dana bantuan itu. Tujuannya agar Ara tahu bahwa dia tidak menyerahkan diri cuma-cuma, jadi saat pernikahan kontrak berakhir, nama baik dia pulih, karena tidak berhutang apa pun ke Ara.” “I see,” James paham penjelasan Arash, “Dia sudah mendapat pekerjaan baru kah? Karena menurut Steve, dia kehilangan pekerjaan di Circle Golf, juga Savana Golf.” “Dia hendak melamar ke Golden Golf sebagai Caddy Girl Golf.” James terkesiap mendengar ini, “Ke Golden Golf punya Kamu? Memang Kamu membuka lowongan untuk Caddy Girl Golf?” “Rasanya iya, karena terakhir yang Ara ingat, menyetujui memecat beberapa Caddy Girl Golf yang ketahuan m***m sama pemain golf di padang golf, dan minta segera dicarikan gantinya karena dua bulan lagi Golden Golf menjadi tuan rumah turnamen Spanish Golf.” James menyimak, “I see,” paham jawaban sang cucu, “Sikap yang diambil menunjukan dia punya harga diri sangat bagus. Dia tidak mau menyerahkan dirinya sebagai ganti uang berobat itu.” “Karena itu Arash jatuh cinta ke dia!” sela Arash cepat dan bersemangat, “Kalau saja Kami sudah kenal lama, pasti dia tidak semberono minta bantuan Indira.” “Kenal sudah lama pun Opa yakin dia tidak akan pinjam uang ke Kamu, karena Opa melihat dia menolak menerima amplop bantuan dari kedua temannya itu.” Arash tercekat mendengar ini, lantas menghela napas pendek, “Opa juga nonton scene itu.” Desahnya. Sang opa tersenyum, “Sudah, tidak perlu kita bahas itu,” ujarnya, “Ara, mungkin baiknya kamu menikahi dia dalam kontrak nikah dulu.” “Opa, Arash sungguh cinta dia, mau beristri dia seumur hidup Arash.” “Opa tahu,” sahut si opa, “Opa ada jalan untuk mewujudkan itu.” Samg opa kemudian membisiki rencananya di telinga si cucu mengapa mengusulkan pernikahan kontrak tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN