Bab 13 Menuju Golden Golf

1497 Kata
Celine tergesa keluar dari kamar dengan menyandang tas, karena Abel sudah menelpon menunggu dia di teras rumah, hari ini dia di antar sahabatnya untuk interview peluang kerja sebagai Caddy Girl Golf di Golden Golf. “Lin!” seru Giovan saat si nona muncul di ruang tengah, lantas melambaikan tangan kala si anak melihat ke dia, minta sang anak mendekati, “Kamu mau kemana?” ditanya karena penampilan putrinya rapih dan wajah berdandan. “Ada interview kerja, Pa.” sahut si nona sambil mengambil sepotong tahu goreng, “Lin berangkat ya, Pa.” Dia meraih tangan sang ayah, ditempelkan sejenak punggung tangan itu ke keningnya, baru mencium kedua pipi si ayah, “Doain Lin ya, Pa, biar lulus interview, jadi bisa kerja lagi untuk Papa.” Giovan menghela napas, mengapa Celine masih saja bekerja, padahal segera menikah. Martin membujuk dia mengikhlaskan si nona menikah karena calon suami si anak adalah Sandiya Lewis seorang billionaire. Sang asisten sudah mendapat keterangan itu dari Indira yang didatangi langsung ke Victory Company. “Iya, nak,” sahut sang ayah sambil mencium kepala putrinya, “Doa Papa selalu menyertai langkahmu, putriku,” dipandang si anak dengan senyum haru. “Makasih, Pa,” si nona memeluk sejenak sang ayah, “Lin sayang Papa!” diutarakan perasaannya ke si ayah. Sejurus kemudian muncul Abel dan Martin, langsung mendekati Giovan. “Sorry, Om,” kekeh Abel ke pria itu, “Abel musti segera bawa Lin ke tempatnya interview.” Dia mengatakan mengapa menemui ayah sahabatnya ini yang padahal saat dia datang sudah menyalami si ayah. “Silahkan, Bel,” sahut Giovan, “Om titip Lin ya, tolong Kamu jaga dia baik-baik, karena dia putri terbaik yang Om punya di dunia ini. Lantas sebentar lagi dia akan menikah.” “Siap, Om, pasti Abel jaga baik-baik Lin.” Abel menyanggupi, “Lin,” lantas beralih ke Celine, “Loe sarapan di mobil aja, Emak gue bekali itu untuk kita berdua, karena gue bilang mau nemenin loe interview.” Ujarnya melihat sang gadis mengunyah tahu goreng. “Oke,” sahut gadis ini sambil menjejalkan sisa tahu ditangan ke dalam mulut sehingga tampak kedua pipinya menggembung, “Lin berangkat ya, Pa,” ujarnya kembali pamitan ke sang ayah di mana sambil mengunyah tahu goreng, “Lin berangkat ya, Paman!” serunya beralih ke Martin, lantas segera beranjak pergi sama Abel. *** Abel dan Celine sudah sampai di Golden Golf, lantas setelah sejenak menunggu di ruang tamu, datang seorang pria berkumis dan berjanggut tebal, memakai kaca mata, dan rambut panjang sebahu dikuncir satu ke belakang. “Arash?!” desis Abel pelan merasa pria itu Arash. “Astaga!” desis dia karena sang pria mengedipkan mata kiri, lantas mengerling ke Celine, “Iyalah,” desahnya paham isyarat itu yang mengatakan jangan sampai si nona tahu pria itu memang Arash. Golden Golf dibangun Arash sebelum memimpin Lewis Company, dan Dude sudah menjadi HRD di sana dari awal. Dude pun tahu dia adalah Sandiya Lewis. “Selamat pagi,” Arash menyapa Abel dan Celine, “Kalian pasti Pak Abel, dan Nona Celine seperti yang Pak Dude sampaikan ke saya.” Ditunjuk kedua orang itu. Dia payah mengubah suaranya karena melihat si nona mengamati dengan menyelidik. Sang gadis merasa mengenal sosok dia yang menyamar saat ini. “Saya, Nathan, yang akan menginterview Nona Celine,” ujar sang presdir berlakon dengan memakai nama Nathan almarhum sang ayah, “Pak Dude berhalangan hadir karena semalam terkena diare.” Sementara di depan pagar balkon lantai dua, tampak Steve dan Dude melihat aksi sang presdir saat ini. Keduanya berbarengan mengelus d***, merasa atasan mereka bucin saat jatuh cinta ke Celine si calon Caddy Girl Golf Golden Golf. “Selamat pagi, Pak Nathan,” sahut Abel lebih dulu dengan sopan, “Tidak mengapa jika Pak Dude berhalangan hadir, dan Anda yang menggantikan beliau untuk interview Celine teman saya ini,” ujarnya jadi ikut lakon Arash saat ini. Hatinya tertawa geli merasa Arash bucin demi mendapat cinta Celine. “Selamat pagi, Pak Nathan,” Celine kini menyapa Arash, “Saya Celine Ayuna Pratama teman dari Pak Abel ini.” diperkenalkan nama juga apa hubungannya dengan Abel. “Baik, baik,” Arash paham, “Mari kita ke ruangan Pak Dude, mengambil seragam Caddy Girl Golf untuk Nona Celine.” “Maaf, Pak,” sela Abel cepat, “Maksud Bapak apa ya?” dia heran mengapa sahabatnya dikasih seragam Caddy Girl Golf padahal harusnya interview dulu. “Pak Abel,” Arash memandang Abel dengan serius layaknya HRD Manager, “Nona Celine akan langsung ujian praktek, jadi interview ditiadakan.” *** Arash terpana melihat Celine mengenakan seragam Caddy Girl Golf Golden Golf berupa kaos sport lengan pendek, celana jeans short pants, visor hat berlogo Golden Golf, dan kedua kaki di alas sepatu sport. ‘Alamak!’ sang presdir tak berkedip sedikit pun, ‘Gadis mungilku seksi sekali,’ decak dia menilai sang nona seksi memakai seragam tersebut, ‘Gini ceritanya kuminta Opa menyegerakan menikahkan kami, lantas kukekepin, ngga boleh kerja. Ngga rela Aku, istri seksi begini dilirik pria lain di padang golf.’ Abel melihat sang presdir terpana melihat penampilan Celine yang padahal biasa saja seperti si nona tampil sebagai kasir di Circle cafe. Namun karena tuan muda tengah dimabuk cinta, si nona dipandangan mata seksi, bikin gemas. “Tuan Nathan!” Celine menegur Arash, “Tuan Nathan.” Bahkan melambaikan sedikit tangan kanan ke depan wajah tuan presdir ini. Arash terkesiap langsung menatap si nona dengan wajah terheran. “What next, Tuan Nathan?” si gadis bertanya, “Saya sudah memakai seragam Caddy Girl Golf Golden Golf.” Ditunjuk diri sendiri dari leher hingga ke kaki. Kedua mata sang presdir melihat semua itu membuat jakunnya sedikit naik turun sebab tampak kedua melon si nona yang bulat indah sedikit nyeplak di kaos. Dia pun menelan saliva menahan rasa tergoda ingin mencicipi melon-melon ranum tersebut. Sementara di luar pintu, tampak James menjadi gemas karena Arash tergoda aura sensual Celine, di dorong Inge sekretaris Dude masuk ke dalam sana sambil diisyaratkan agar menegur cucunya itu. Inge menghela napas, pelan mendekati sang presdir yang masih menahan-nahan hasrat gegara melihat dua melon si nona yang terceplak di kaos. “Tuan Nathan!” ditegur tuan muda ini, “Tuan Nathan!” serunya sedikit lantang. Arash terkaget spontan memutar pandangan ke arah Inge, lantas mendengus gemas, kesal dihentikan melihat dua melon indah itu. “Iya, Inge?” “Tuan James sudah datang untuk bermain Golf,” Inge bicara sesuai skenario James, “Tapi para Caddy kita lagi plesiran ke Bogor untuk ikut cooking class bikin Asinan Bogor.” Si opa terhenyak mendengar dialog Inge, perasaan dia tidak menyuruh si sekretaris mengatakan semua Caddy plesiran untuk ikut cooking class bikin Asinan Bogor. Dia bilang semua Caddy plesiran ke Taman Kota Bogor melihat bunga Raflesia Arnoldi. Sang sekretaris yang sedang hamil muda saat mendengar Kota Bogor, langsung mengidam Asinan Bogor, jadi mengubah dialog dari si kakek. Damar yang di sebelah sang tuan besar tampak tersenyum geli, tahu mengapa Inge mengubah dialog. Bahkan dia mengelus d*** sebab semua drama saat ini bikinan si bos besar untuk bertemu dan mengenal Celine calon cucu menantu. Sang billionaire pun yang menyuruh Arash menjadi Nathan untuk menggantikan Dude menginterview si nona. Lantas hari ini, kegiatan di Golden Golf dihentikan demi semua drama karya James Lewis tersebut. Abel menahan senyum geli muncul di wajah, dia sudah merasa ada yang tidak beres saat ini, apalagi Inge mengatakan sesuatu yang mengada-ada. Masa para Caddy plesiran ke Bogor untuk ikut cooking class bikin Asinan Bogor? Mana ada saat plesiran mengikuti kursus memasak? Harusnya Inge mengatakan semua Caddy plesiran untuk belanja Asinan Bogor. Dude dan Steve pun tersenyum geli karena drama tanpa buku skenario ini jadi penuh improvisasi lucu. “Ah ya!” Arash pun tersenyum geli, tapi cepat diganti wajah serius, “Kebetulan hari ini ada Celine,” ujarnya menunjuk Celine yang terheran-heran melihat semua adegan tadi, “Jadi dia bisa langsung ujian praktek untuk mendapat posisi sebagai Caddy Girl Golf baru di Golden Golf ini.” Inge mengalihkan pandangan ke si nona, diamati sejenak, lantas bicara polos ke Arash. “Maaf, Tuan Nathan,” ujarnya, “Nona ini bertubuh mungil, apa kuat menarik tas berisi banyak stik dan bola golf?” Arash tersentak kaget mendengar ini, lalu menghela napas. Tubuh Celine mungil apa kuat menarik tas golf yang berat itu? “Tuan Nathan!” seru si nona cepat, “Saya kuat menarik tas golf,” ujarnya memandang Arash yang tidak tega sama dia, “Dulu saat saya melamar di Circle Golf, diminta menarik tas golf dari hole ke hole untuk ujian posisi Caddy Girl Golf.” Diceritakan saat melamar di Circle Golf untuk posisi sama, “Sayangnya, meski saya lulus, Bu Wida pemilik Circle Golf menjadikan Saya sebagai kasir di Circle Cafe. Bu Wida tidak tega Saya yang mungil ini kerja jadi Caddy Girl Golf.” Arash menghela napas, bicara ke Inge, “Nge, lekas bawa kemari tas golf, biar Lin tunjukan kemampuannya itu.” Disuruh sang sekretaris membawa tas golf karena penasaran benarkah si nona mampu menarik tas yang berat itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN