Inge datang bersama Ado office boy yang membawa tas golf berisi banyak stik dan bola golf dengan di sandang talinya ke pundak. Tas pun diletakan tegak di lantai ruangan.
“Tuan Nathan.” Sang sekretaris menegur Arash yang kembali khusyuk mengamati Celine, “Tuan Nathan!” serunya sedikit lantang.
Sang presdir menghela napas kembali harus membuat bersambung mengamati si nona, lantas menyahut singkat.
“Iya, Inge!” lalu melihat ke sang gadis, “Nona Celine!” disebut nama si nona, “Hari ini Golden Golf di sewa penuh sama Tuan James Lewis dari Argentina, dan karena para Caddy kami diberi plesiran satu hari sama pimpinan tinggi kami, maka Kamu diberi tugas membantu Tuan James di lapangan golf.”
“Baik, Tuan.” Celine menerima tugas itu dengan senang hati, “Saya akan bekerja sebaik mungkin membantu Tuan James di lapangan golf.”
“Good,” Arash tersenyum bangga sebab si nona tidak menolak dengan mengatakan, “Saya, Tuan? Saya kan baru melamar di sini.”, “Ini tas golf milik beliau,” dilanjutkan berbicara sambil menunjuk tas golf yang memang milik James, “Tugas pertama Kamu, membawa tas ini ke buggy car yang berada di halaman depan teras kantor ini. Paham?”
“Paham, Tuan.” Si nona menganggukan kepala, “Saya sudah boleh membawa tas itu, Tuan?” dia minta izin apakah sudah boleh membawa tas golf ke buggy car.
“Silahkan.”
“Terima kasih.” Celine segera mendekati tas tersebut, dipelajari sejenak model tas, lantas mengeluarkan satu stik, dimasukan ujung stik ke tali tas, lantas dikancingkan bagian bagian bawah tali sehingga stik tidak akan terlepas dari tali tas. Selanjutnya dia menekan satu tombol kecil yang terdapat di bagian kanan dudukan tas, lantas keluar dua roda dari dalam dudukan tersebut. “Done!” serunya memandang Arash yang mengamati sedari tadi, “Tuan, mohon tunjukan di mana buggy car Tuan James, agar saya membawa tas ini ke sana.”
“Kamu mengapa memasang stik di tali tas golf?” Arash belum memberi jawaban, “Lantas mengapa tahu kalau tali itu dibisa dikancing ke atas?”
“Emm, saya pernah melihat model tas seperti ini di guggli,” si nona memberi jawaban, “Saya letakan stik di tali yang terkancing untuk saya pegang saat menarik tas yang sudah ada rodanya.”
James mendengar ini tersenyum, dia feeling si nona tahu cara itu dari Harun dan Giovan yang pencinta dan atlet golf. Tas milik dia sama seperti milik kedua pria itu yang buatan negara maju. Kancing pada tali sebenarnya berfungsi memendekan ukuran tali, tapi oleh Harun dijadikan untuk mengunci stik golf agar Celine si mungil memegang stik untuk menarik tas golf dengan mudah.
“I see,” Arash antara percaya dengan tidak jawaban si nona, “Oke, Saya tunjukan di mana buggy car itu.” Dilanjutkan menguji si nona dalam mengerjakan tugas Caddy Girl Golf. “Kamu kuat menarik tas itu?” ditanya sang gadis sebelum mereka beranjak pergi meninggalkan ruangan Dude.
“Kuat, Tuan.” Sahut Celine menganggukan kepala sambil memegang erat batang stik yang ada di antara kedua tali tas.
“Kamu jalan duluan, biar Saya lihat Kamu memang kuat menarik tas itu.”
Si nona menganggukan kepala, lantas ditarik tas agar setengah rebah, baru menariknya sambil berjalan keluar dari ruangan.
“Hais!” desah Arash, “Si mungil cabe rawit ini!” dia terkagum karena si nona mungil mampu menarik tas tersebut dengan hanya memegang batang stik.
Abel tersenyum geli mendengar ini sebab sang presdir baru mengetahui Celine si mungil adalah si cabe rawit karena Harun dan Giovan menguatkan mental gadis itu dengan mendidik di nona bisa mengerjakan apa pun. Kedua pria itu tidak melakukan hal tersebut ke Alika yang dimanja Indira di mana apa-apa menyuruh orang yang mengerjakan.
Arash bergegas menyusul si nona diiringi Abel, James, dan Damar. Mereka semua menuju buggy car yang di parkir tepat di depan teras gedung kantor Golden Golf. Namun hanya Arash dan Celine yang menghampiri kendaraan tersebut, sebab si nona masih mengikuti ujian untuk posisi Caddy Girl Golf.
Begitu di hadapan kendaraan dengan empat seat dan bagasi, si nona menarik tas ke depan bagasi. Setelah itu menekan tombol bagian dudukan tas agar kedua roda kembali masuk ke dalam dudukan, dilepas stik dari tali tas, ditaruh stik ke bangku belakang, lalu mengeluarkan beberapa stik dari tas, ditaruh ke bangku tersebut, baru meletakan tas ke bagasi, terakhir dimasukan kembali satu persatu stik ke dalam tas.
Sang presdir melihat semua ini tersenyum kagum sebab si nona bekerja memakai otak. Nona ini menyadari tidak akan kuat mengangkat tas berisi banyak stik ke bagasi, maka dikeluarkan sebagian stik dari tas, baru diangkat tas ke bagasi, terakhir dikembalikan semua stik ke tas.
Sebenarnya cara ini diajarkan Harun ke Celine. Sang kakek punya prinsip, meski mereka dilayani asisten, Caddy Golf, dan abdi dalam, harus bisa mengerjakan apa pun dengan kedua tangan sendiri. Jika mendapat kesulitan, maka dicari akar masalah, baru mengatasinya. Pelajaran si kakek sampai sekarang digunakan Celine dalam berjuang hidup sebagai warga miskin.
Si nona mendekati Arash yang masih tersenyum kagum.
“Tuan,” ditegur sang presdir, “Saya sudah meletakan tas itu ke bagasi.” Diberitahu sudah menyelesaikan tugas dari pria itu, “Apa tugas Saya selanjutnya?”
Tuan muda ini merogoh salah satu saku celana panjangnya, menarik keluar kunci buggy car four seat, diberikan ke si nona.
“Kamu kemudikan buggy car, antar Tuan James ke padang golf.”
Celine terkesiap, lantas menghela napas, merasa pasti Abel menceritakan ke Dude bahwa dia bisa mengemudikan buggy car sehingga Arash kini memintanya menyetir kendaraan tersebut untuk mengantar James ke padang golf. Diambil kunci dari tangan sang presdir.
“Baik, Tuan.” Sahutnya menerima tugas tersebut.
“Good!” sang presdir tersenyum kagum lagi, “Saya jemput Tuan James dulu ya.” Dia segera meninggalkan si nona, menghampiri si opa yang melihat semua aksi sang gadis, “Tuan James.” Disapa sang kakek dengan formal, “Semua sudah siap, mari Saya antar Anda ke padang golf.”
James tersenyum, “Good, Tuan Nathan.” Sahut dia, “Pak Abel ini,” beralih sejenak ke Abel, “Baiknya ikut juga agar meramaikan suasana bermain golf nantinya.” Diajak sahabat Celine ini ikut ke padang golf.
Tidak lama mereka semua naik ke dua buggy car. Buggy car depan berpenumpang Celine sebagai driver, James, Arash, dan Abel. Buggy car di belakang berpenumpang Dion pengemudi, Damar, dan dua ajudan tuan besar.
Lantas si nona melajukan kendaraan itu menuju padang golf yang disebutkan Arash. Dia tampak tenang mengemudi kereta besi itu dengan kecepatan sedang.
‘Harun,’ bisik hati James tersenyum melihat sang gadis sudah lulus dua ujian darinya untuk posisi Caddy Girl Golf, dan ujian mental sebagai calon cucu menantu, ‘Semua lelahmu mendidik Celine terhapus. Cucu kamu mengagumkan.’ Dia bicara dengan almarhum sahabatnya, ‘Kamu tenang ya, karena Arash serius mencintai cucumu, dan segera aku nikah mereka dalam waktu dekat.’
***
Celine melahap makanan yang dibawakan Arash malam ini, di mana mereka makan di teras rumah kontrakan. Hatinya sedang enak karena mulus mengikuti ujian di Golden Golf, tinggal menunggu hasil yang akan diberitahu Dude melalui ponselnya. Lantas tidak lama tiba di rumah, tuan presdir datang membawakan makanan untuk mereka berdua, Giovan, dan Martin.
Karena hati sedang senang, dia menyambut ramah sang presdir yang sudah melepas atribut penyamaran. Membuat tuan muda ini tidak sia-sia terbirit menemui gadis ini, setelah acara ujian selesai. Pria semakin mencintai nona mungil tersebut yang berhasil menjalani semua ujian dari James di Golden Golf.
“Kamu kok ngga makan?” sang gadis berhenti makan sebab melihat Arash tidak menyentuh makanan sama sekali, “Makan dong, Ara, “ diminta tuan muda untuk makan, “Ayo makan, kamu udah seharian capek kerja, kalau tidak makan nanti masuk angin.”
Sang presdir tersenyum haru karena sikap si nona agak lunak, biasanya cuek.
“Iya, aku makan.” Sahut pria ini mengambil sendok makan, dan mulai makan, “Lin, gimana tadi di tempat interview? Kamu ditanya apa saja saat itu?”
“Aku tidak di interview, tapi dikasih ujian praktek.”
“Kok bisa?”
“Entahlah,” si nona mengangkat sedikit bahu, “Puji Tuhan, Aku diberi kemudahan mengikuti semua ujian itu, dan semoga hasilnya sesuai harapanku. Aku diterima kerja jadi Caddy Girl Golf di Golden Golf. Jadi Aku perlahan bisa mengumpulkan uang untuk mengembalikan semua dana berobat itu ke calon suamiku di akhir masa kontrak menikah kami.”
Arash tersenyum tipis, membatin, ‘Aku tidak akan mengakhiri kontrak pernikahan kita nantinya, karena kucinta kamu. Kuyakin kelak Kamu mencintaiku,’ ujarnya bertekad tidak mengakhiri kontrak menikah itu yang direncanakan James, “Apalagi kita pasti akan punya anak yang lucu, kita tidak akan berpisah, Lin.’
Kemudian datang Giovan, duduk di sisi lain Celine.
“Lin,” ditegur putrinya, “Bunda baru saja menelpon Martin.” Diberitahu mengapa datang kemari.
Celine tercekat, dipandang sang ayah dengan wajah cemas, “Mengapa Bunda menelpon Paman Martin?”
“Karena Papa yang minta itu, saat mengutus Martin menemui Bunda di Victory Company untuk menanyakan prihal kamu melakukan perjanjian dengannya tanpa berunding sama Papa.”
Celine menelan salivanya, merasa sangat bersalah karena membuat perjanjian sama Indira tanpa berunding dengan sang ayah. Semua ini karena dia tahu si ayah pasti tidak setuju syarat dari Indira.
“Karena sudah terlanjur semuanya,” Giovan melanjutkan perkataan di mana memandang si anak yang terlihat menyesal, “Dua minggu dari malam ini, Kamu menikah sama Sandiya Lewis di Zamrud Residence yang berlokasi di Dago Bandung.”
Arash yang menyimak semua ini tersedak, karena James tidak ada mengatakan yang didengarnya. Sedangkan Celine terperangah, mengapa secepat itu melangsungkan pernikahan?