Bab15 Diterima Bekerja Di Golden Golf

1992 Kata
Malam yang begitu sunyi dan dingin dirasakan Arash saat ini. Setelah Giovan memberitahu kabar mengenai pernikahan tersebut, pria itu meminta dia tidak berteman dekat sama Celine. Ayah si nona tahu dia ada hati ke gadis itu, tidak mau ada masalah nantinya dengan pernikahan tersebut. Sang presdir yang sendirian di dalam ruang kerjanya termenung-menung sambil sesekali meneguk Whisky di tangan. Dia senang James menyegerakan pernikahan itu, tapi bukan itu yang diinginkan. Dia mau membuat Celine nyaman bersamanya, lantas perlahan membuka identitas dia sebagai Sandiya Lewis. Tahu-tahu tangan James mengambil botol Whisky dari tangan sang presdir, lalu duduk di tepi meja kerja tepat menghadap pria itu. Tuan muda menghela napas, karena sang kakek menemui di saat suasana hati tengah kacau. James tersenyum, diusap lembut kepala Arash. “Hei, boy,” disapa si cucu dengan panggilan kesayangan, “Kamu udah sepakat kan sama Opa untuk menjalankan rencana itu? Kamu menikahi Lin selama dua tahun sampai dia melahirkan anak untukmu.” “Dengan identitas sebagai Sandiya Lewis?” “Astaga!” si kakek terkesiap, “Jadi kemarin kamu tidak mudeng sama yang Opa jelaskan?” dijitak kening si cucu dengan gemas. Arash terdiam, mencoba mengingat apa yang dibisikan si opa beberapa hari lalu, lantas menjadi lesu. “Ara tidak mau menipu dia, Opa.” “Sekarang pun Kamu sudah menipu dia? Kamu memperkenalkan diri sebagai Arash, bukan Sandiya kan?” Arash tersentak dengan pertanyaan sang kakek, menghela napas lagi. “Lantas apa akan dilanjutkan menipu dia selama dua tahun, Opa?” “Semua tergantung Kamu nantinya, karena Opa memberimu kesempatan untuk mendapatkan cinta dia dengan caramu.” “Iyalah Opa, Ara akan berusaha untuk itu karena Ara cinta Lin.” *** Diana dan Abel terperangah saat Celine mengabari mengenai waktu pernikahan di adakan. Si nona menghubungi kedua sahabat itu, minta bertemu di kantin depan SMU mereka. Mereka selalu kongkow di sana, selain di tempat lain. “Dua minggu lagi, Lin?” tanya Diana sambil mengacungkan dua jari tangan kanan ke atas, “Ah gila calon suami loe!” Celine hanya menghela napas, “Mungkin dia pikir lebih baik disegerakan agar Papa bisa lekas dipasang ring tersebut.” “Sudah, sudah,” sela Abel menengahi, “Na,” ditegur Diana yang menghela napas melihat Celine pasrah, “Kita segera siapkan pernikahan itu, agar Lin tidak malu ke keluarga calon suaminya.” Dia memutuskan untuk membantu Celine mempersiapkan pernikahan tersebut. “Bel,” sela si nona cepat, “Tapi kata Papa, pernikahan itu sudah disiapkan pihak pria, gue tinggal datang ke Zamrud Residence.” “Ngga bisa itu, Lin,” tukas Abel tegas, “Udah loe diam aja, biar Gue ama Diana yang menyiapkan pernikahan itu. Kami mau loe dipandang baik sama keluarga pihak pria.” “Setuju, setuju!” sahut Diana setuju perkataan Abel, “Em, tempat yang setara Zamrud Residence di Jakarta ada dua. Pertama di Golden Grand, yang kedua di Cakra Kuta Mandalika.” Celine terkesiap mendengar ini, lantas menukas, “Hais, ngga perlu pernikahan gue diadakan di salah satu tempat mehong itu. Kalian bisa bangkrut.” “Hei sudah, sudah,” sela Abel cepat agar kedua sahabatnya tidak adu argumen, “Gue ada tempat yang sebagus Zamrud Residence.” “Di mana?” Diana dan Celine berbarengan bertanya sambil memandang Abel. “Di Rembang Asri yang setara bagusnya dengan Zamrud Residence, dan gue yakin bokap setuju tempat itu dipakai untuk pernikahan Lin.” “Tunggu dulu,” sergah si nona cepat, “Bel, bokap loe kan bisnis ya bisnis, mana bisa memakai gratisan tempatnya itu?” “Loe tenang saja, pasti nyokap bantu gue kok.” Sahut Abel dengan senyum penuh keyakinan, “Pokoknya tempat pernikahan sudah ada,” imbuhnya, “Sekarang yang lainnya.” “Urusan gaun pengantin dan periasnya,” sela Diana cepat, “Gue yang pegang!” diambil tugas untuk mengadakan gaun pengantin dan perias, “Gue mau Lin menjadi pengantin tercantik di dunia ini.” Celine melongo mendengar ini hendak menukas, tapi dari tasnya terdengar dering panggilan suara dari ponsel. Segera saja dia mengeluarkan ponsel tersebut, dan menjawab panggilan suara tersebut. “Hallo.” Disapa yang menelpon. “Hallo, Nona Celine,” sahut Arash tersenyum mendengar suara gadis tercinta ini. Dia dari pagi belum bertemu si nona, tidak juga menelpon. Namun dia mengutit sang gadis. “Saya Nathan dari Golden Golf.” “Iya, Pak Nathan.” Mendengar Celine menyebut nama Nathan, Abel langsung mengawasi si nona, penasaran untuk apa pria itu menghubungi sang sahabat? Bukan kah Dude yang harusnya menelpon gadis itu? Diana juga mendengar nama itu, bisik ke Abel, “Bel, siapa Nathan?” “Yang kemarin menguji Lin di Golden Golf.” “I see,” Diana paham, lantas bersama Abel mengawasi Celine, “Semoga Lin diterima kerja di Golden Golf.” Dia menghaturkan harapan baik. “Amin.” Sahut Abel, lantas tanpa sengaja kedua matanya mengarah ke meja yang berada di sudut kanan tidak jauh dari meja mereka ini. “Arash?!” desis dia mengenali siapa yang duduk di sana, lalu melihat ke Celine yang masih online dengan sang presdir. Dia menjadi bertanya-tanya siapa Arash sebenarnya. “Siang ini, Pak Nathan?” terdengar suara si nona, “Saya ke Golden Golf?” “Benar, Nona Celine.” Sahut Arash yang tersenyum melihat Abel jadi penasaran siapa dia, “Tuan James puas dengan kerja Nona. Beliau mengatakan hal itu langsung ke pimpinan Kami. Jadi pimpinan langsung memutuskan Anda diterima jadi Caddy Girl di Golden Golf, dan siang ini bisa kerja.” Dijelaskan mengapa meminta sang gadis ke Golden Golf. “Selamat Nona Celine, karena Anda lulus ujian praktek tersebut, dan langsung diterima bekerja di Golden Golf.” “Puji Tuhan!” seru Celine senang mendengar dia berhasil mendapat peluang kerja tersebut, “Baik Pak, Saya sekarang ke Golden Golf, siap bekerja.” Dia setuju untuk ke Golden Golf bekerja sebagai Caddy Golf. “Bagus,” Arash tersenyum bangga, “Nanti saat sampai di sana, Kamu temui Dude untuk menerima surat kontrak kerja masa percobaan ya. Kamu bawa pulang saja surat itu untuk dipelajari.” “Baik, Pak Nathan.” Celine paham, “Terima kasih sekali Anda berkenan mengabari berita baik tersebut.” Dia mengucapkan terima kasih ke Arash. “Good,” Arash tersenyum melihat si nona tampak senang diterima bekerja di Golden Golf, “Oke, segera ya datang ke Golden Golf.” Ujarnya lantas mengakhiri panggilan suara ini. Celine menurunkan ponsel dari telinga, dipandang ke dua sahabatnya dengan wajah riang. “Guys, gue diterima kerja di Golden Golf.” “Akh!” Diana langsung terpekik gembira, dipeluk sejenak si nona, “Selamat ya bestieku,” diucapkan selamat karena sang gadis diterima bekerja di Golden Girl, lantas dilepas pelukan ini, diamati dengan serius gadis tersebut, “Tunggu dulu, loe mau nikah.” “Lantas?” tanya Abel memeluk sejenak Celine, “Met ya dek, Kamu diterima kerja.” Diucapkan selamat ke si nona, baru dilepas pelukan itu. “Makasih ya Bel, loe bela-belain nemenin gue kemarin, sampai akhirnya gue diterima di sana.” “Sama-sama.” “Eh, eh!” tukas Diana cepat, “Ini gimana ceritanya? Dua minggu lagi Lin mau nikah, masa dia kerja?” “Masalahnya apa?” Abel memandang Diana dengan heran. “Hei, perempuan yang mau nikah itu musti dipingit, agar di treatment all body, kayak dilulur, di pedikur, di facial, biar kinclong pas hari H.” Celine menghela napas, lantas, “Ah gue ngga perlu itu,” ujarnya santai, “Yang penting kerja dulu di tempat yang baru ini. Peluangnya bagus.” Dia memasukan ponsel ke dalam tas, lantas disampirkan tali tas ke salah satu pundaknya, “Dah ya, gue gawe dulu.” Dia pun berpamitan sambil mencium kedua pipi para sahabatnya, “Ntar malam disambung arisan kita.” Lantas bergegas pergi. *** Dude mengamati Celine yang tengah membaca surat kontrak kerja masa percobaan yang dibikin Steve sesuai draft dari Arash. Dia tidak bisa bicara apa pun karena nona ini adalah calon istri Arash, sebab James sudah mengatakan itu ke dia, setelah menerima surat tersebut via imel. Si nona sudah selesai membaca sekilas seluruh halaman surat kerja tersebut yang sebanyak sepuluh halaman, lantas mengalihkan pandangan ke Dude. “Pak Dude,” ditegur si HRD dengan ramah, “Saya siap bekerja siang ini juga.” Dude sedikit menghela napas, lalu sedikit merundukan badan ke arah samping kursi tempat dia duduk, diambil dua tas kain dari lantai, lalu diletakan ke meja sambil memandang si nona. “Nona Celine,” dia bersuara, “Ini seragam dan sepatu dinas untuk kamu,” ujarnya menunjuk kedua tas tersebut, “Ada tiga stel seragam, tiga visor hat, tiga pasang kaos kaki, dan sepatu sport.” Diperjelas isi kedua tas, lalu merogoh saku depan kemejanya, ditarik keluar sehelai amplop, ditaruh ke meja pula, “Di dalam amplop ini ada kartu absensi dan kartu kunci loker kamu.” Dia kembali memberi penjelasan ke sang gadis yang terus menyimak. “Ada pertanyaan?” “Ada, Pak,” sahut si nona, “Maaf berapa nomor kunci loker saya?” “Ada di dalam amplop itu apa yang kamu tanyakan.” Sahut Dude tersenyum, “Registrasi dulu di pintu lokermu, lantas rubah nomor kunci, dan masukan password kamu di sana. Nanti kedua nomor itu jadi nomor loker kamu.” “Baik, Pak.” *** Celine sudah menggenakan seragam Caddy Girl Golf, berada di sisi Dude. Mereka kini di teras depan gedung kantor Golden Golf, di mana di halaman tampak beberapa Caddy Girl dan Caddy Boy mengatur tas-tas golf para pemain. Dia mengamati semua itu, lantas menegur atasannya. “Pak Dude, maaf, Saya bertugas untuk pemain yang mana?” dia mengajukan pertanyaan di mana tempat tugasnya. “Yang itu,” sahut Dude menunjuk sepasang pemain golf seusia Arash di depan satu buggy car enam kursi, “Mereka adalah Tuan Wijaya, dan Nyonya Isala. Pasangan atlet golf yang akan mengikuti turnamen Spanish Golf nanti di Golden Golf ini.” Diterangkan siapa pasangan itu, “Jadi kamu baik-baik bekerja untuk mereka, agar nanti dibawa saat mengikuti turnamen tersebut.” “Siap, Pak.” Sahut Celine semangat. Lantas datang Arash mengenakan seragam Caddy Boy Golden Golf berupa kaos sport dan celana panjang katun model cargo, bergegas menghampiri Dude yang menelan saliva melihat si bos. “Siang Pak Dude,” sang presdir menyapa ramah Dude, “Maaf Pak, saya telat datang,” ujarnya sopan. Dude jadi kebingungan musti menanggapi apa karena sang atasan tidak mengatakan kenapa kemari dengan berseragam Caddy Boy. Sedangkan Celine melongo melihat Arash, kenapa pria ini ada di sini? “Ah ya,” Arash tersadar Dude belum diberitahu rencananya, “Maaf Pak, Saya dihubungi Pak Nathan agar menjadi partner Caddy Girl yang baru kerja hari ini.” Ujarnya mengarang cerita mengapa berada di sini, sambil sedikit melirik Celine disisi Dude. “I see,” Dude paham, feeling si bos mau mengawal calon istri saat bekerja, agar tidak dilarak-lirik pemain golf, “Oke, a, a,” dia jadi kikuk mau memanggil apa ke Arash saat ini. “Saya, Arash, Pak Dude.” Sahut Arash santai, “Masa Bapak lupa sama Saya? Saya kan sudah setahun kerja di sini.” Dia kembali mengarang cerita. Dude sedikit menggaruk ujung hidung yang jadi terasa gatal, si bos yang dimabuk cinta jadi pengarang cerita romansa novel. “Iya, Saya sedikit lupa, karena di Golden Golf banyak Caddy Boy ganteng,” sahut Dude pasrah harus mengikuti kemauan si bos, “Baik, Arash,” dengan terpaksa memanggil sang presdir dengan nama saja, “Mari Saya perkenalkan sama Nona Celine Caddy Girl baru yang Pak Nathan bilang ke,” sekali lagi kebingungan harus memanggil apa untuk melanjutkan perkataannya. Anda atau kamu? Tangannya menunjuk ke Celine, “Ke, ke Arash.” Akhirnya menyebut nama, tidak berani memanggil anda atau kamu ke sang presdir, wajahnya tampak serba salah. Arash tersenyum sambil memandang Celine, “Hai!” disapa si nona yang masih terheran-heran mengapa dia ada di sini, “Aku Arash, Caddy Boy di Golden Golf ini.” Diulurkan tangan ke nona tersebut sambil memperkenalkan diri. Celine melongo mendengar ini, Arash Caddy Boy di Golden Golf?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN