Celine menjadi gemas, disalami tangan pria itu sambil memasang senyum sapa.
“Salam kenal, Mas Arash,” ujarnya ramah, “Aku, Celine, Caddy baru di sini. Mohon dibimbing ya.” Segera dilepas jabatan tangan mereka, lantas sedikit membungkukan badan ke depan seperti gaya orang Jepang dan Korea memberi salam.
Arash terkesiap merasa gatal telinganya mendengar si nona memanggilnya dengan mas Arash, perlahan mendekatkan wajah ke telinga kanan gadis ini.
“Ngga banget memanggilku dengan Mas Arash,” tukasnya gemas, “Panggil Ara saja.”
Celine memutar wajah agar berhadapan dengan muka si presdir bucin ini, dipasang senyum inosen.
“Mas Arash,” kembali dia memanggil dengan mas Arash, “Anda senior Caddy di Golden Golf, dan kita baru kenalan kan? Jadi Saya sebagai junior wajib memanggil Anda dengan Mas Arash.”
Arash menarik bibirnya terlihat gemas dengan penuturan si nona, mendekat lagi ke telinga sang gadis.
“Kamu mau ya kucium depan atasanmu?” diberi pertanyaan berdasarkan hatinya yang gemas ke Celine.
“Mas Arash,” Celine cepat menjauhkan diri dari tuan muda, “Sepertinya Kita harus bekerja, karena Tuan Wijaya dan sang istri menanti kita.” Dia mengalihkan pembicaraan, “Pak Dude,” cepat pula ditegur Dude yang berkali menghela napas melihat kebucinan Arash, “Saya bertugas dulu ya.” Segera mohon izin untuk bertugas, lantas terbirit meninggalkan teras, menunju suami istri pemain golf tersebut yang ternyata mengamati Arash sedari tadi.
“Awas kamu ya,” Arash bertambah gemas si mungil meninggalkan dia, lantas melihat ke pasangan pemain golf, tidak lama menelan saliva memandang ke Dude, “Dude.”
“Hadir, Tuan.”
“Kamu kasih Lin bertugas jadi Caddy untuk Wijaya dan Isala teman Saya si Sandiya Lewis?”
“Iya, Tuan, sesuai pesan Anda kan.”
Arash terkesiap, “Kapan saya pesan itu ke Kamu?”
“Semalam, Tuan,” sahut Dude dengan polos, “Tuan minta Nona Celine bertugas jadi Caddy untuk couple golf player, atau woman golf player kan? Jadi saya melaksanakan pesan Anda, Nona Celine jadi Caddy untuk Tuan Wijaya dan Nyonya Isala.”
Arash menepuk keningnya, dia lupa memberi perintah itu ke Dude demi keselamatan si nona tidak di larak-lirik man golf player.
“Lantas,” dia kembali bersuara, “Kenapa tadi pas Saya telpon tidak memberitahu kalau couple golf player itu Wijaya dan Isala?”
“Tuan tidak menanyakan itu ke Saya, hanya bertanya, “Dude, apa Celine sudah datang?”,” sahut Dude dengan polos lagi, “Tuan pun tidak mengatakan akan kemari jadi Caddy Boy.” Imbuhnya sedikit menegur sang atasan.
Arash terkesiap, di usap-usap keningnya, pusing dia bagaimana harus berlakon depan Wijaya dan Isala agar mereka tidak membuka identitasnya sebagai Sandiya Lewis owner Golden Golf yang adalah calon suami Celine.
Celine datang mendekati Arash, “Mas Arash.” Ditegur pria itu.
“Ya Lin?” Arash memandang Celine dengan heran.
Celine segera meraih tangan sang presdir, dibawa berjalan menuju Wijaya dan Isala yang sabar banget menanti pasangan Caddy konyol ini. Begitu sampai di hadapan pasangan pemain golf itu, Celine memasang senyum sopan.
“Maaf Tuan Wijaya, Nyonya Isala,” ujarnya, “Izinkan saya memperkenalkan senior Saya yang akan bertugas juga menjadi Caddy kalian.” Ditunjuk Arash yang resah di mana bibirnya sedikit dimainkan. “Beliau ini Mas Arash.”
Arash terkesiap mendengar si nona memperkenalkan nama dia ke Wijaya dan Isala, tapi tidak ada jalan untuk mundur, terpaksa dia memasang senyum ke rekan sesama atlet golf tersebut.
“Selamat siang, Tuan Wijaya, Nyonya Isala,” terpaksa pula menyapa ala Caddy ke pasangan tersebut, “Saya Arash, rekan dari Celine ini.” Dia pun menunjuk Celine, “Kami hari ini akan menjadi Caddy kalian.” Ujarnya sambil sedikit mengedipkan mata kanan ke pasangan itu, lantas melirik si nona di sebelah, minta kedua orang itu pura-pura baru mengenal dia.
Wijaya dan Isala saling memandang, lantas berbarengan sedikit mengangkat bahu, artinya entah apa yang tengah terjadi saat ini, lalu mengembalikan pandangan ke sang presdir, bersama memasang senyum sambil menganggukan kepala, berarti mereka setuju dengan isyarat tuan muda.
Arash memahami kode itu sedikit menghembuskan napas, lantas segera meraih tangan Celine.
“Ayuk Lin, kita mulai kerja,” ujarnya mengajak si nona mulai bekerja, dibawa mendekati dua tas golf, dan satu tas sport yang tergeletak di atas aspal halaman, “Kamu angkat tas sport saja,” dia langsung memberi instruksi ke sang gadis agar hanya mengangkat tas sport saja, “Tas golf, biar Aku yang angkat dan letakan di bagasi buggy car.”
“Baik, Mas Arash,” gadis ini patuh, lantas mengamati sejenak tas tersebut yang berukuran lumayan besar dan dipenuhi beberapa botol minum, handuk, dan pakaian ganti.
Tidak lama dia mengambil satu stik golf, lantas dimasukan stik ke celah tali tas, baru dipegang ke dua ujung stik sambil diangkat dari aspal, dan dibawa menuju bagasi buggy car.
Isala melihat ini tampak kagum, tidak terpikir oleh dia mengangkat tas itu dengan bantuan stik golf, selalu minta suaminya yang membawa tas itu. Wijaya tersenyum merasa si nona bekerja pakai otak, tidak dengan otot, lantas melihat ke Arash yang sedikit mengelus d***. Bibir dia menanyakan siapa Celine tanpa mengeluarkan suara. Sang presdir menjawab si nona calon istrinya, tapi belum tahu dia owner Golden Golf. Dia menganggukan kepala, baru paham mengapa tuan muda mengedipkan mata saat memperkenalkan diri.
Celine sudah selesai meletakan tas ke bagasi segera kembali ke dekat Arash dengan membawa stik golf, langsung ke depan salah satu tas golf, lalu tanpa permisi, memasukan stik tersebut ke celah tali tas, dikancingkan tiap tali tas, tidak lama menarik tas berat itu dengan memegang batang stik.
Isala kembali terkagum, merasa si nona cerdas, punya cara bagus membawa tas golf dengan mudah. Sedang Wijaya tersenyum lagi, kini merasa si nona bertanggungjawab selain gesit dalam bekerja. Gadis itu melihat Arash belum membawa kedua tas golf ke buggy car, maka dia yang melakukan itu. Wijaya juga melihat bagaimana si nona meletakan tas itu di bagasi, tidak lama senyumnya kembali muncul.
Isala mendekati suaminya, bisik, “Yang, Caddy baru ini cerdas, giat bekerja, dan menyenangkan,” ujarnya mengatakan menilaian dia ke Celine, “Kamu nanti booking dia untuk tetap jadi Caddy kita selama berlatih sampai ikut turnamen. Aku suka gadis itu jadi Caddy kita.”
Wijaya tersenyum geli mendengar ini, “Kamu harus bicara itu ke Arash, karena Caddy itu calon istri dia.”
Sang istri terkesiap, “Serius?”
“Serius, Arash sudah isyaratkan itu ke Aku.” Kekeh Wijaya, “Tapi sang calon belum tahu dia adalah Sandiya Lewis owner Golden Golf.”
“I see,” Isala mulai paham ada hubungan apa antara Arash dengan Celine, “Pantas dia jadi Caddy Boy, rupanya mengawal calon istri toh?”
“Begitu lah.”
Celine sudah selesai meletakan tas golf di bagasi buggy car, segera kembali ke Arash, tapi kali ini sang presdir cepat menyandang tas tersebut ke salah satu pundak kekarnya, lalu menggiring si nona ke bagasi buggy car.
“Mas!” terdengar suara sang gadis saat mereka di depan bagasi, “Tolong tasnya ditaruh di sana.” Dia menunjuk bagian bagasi yang kosong, “Lin sudah mengosongkan tempat itu untuk tas ini,” imbuhnya kini mengarahkan jari telunjuk ke tas yang masih disandang sang presdir.
“Siap, Sayang,” sahut Arash tersenyum, segera meletakan tas di sana, lalu memandang si nona, “Done, sayang.”
Celine menghela napas, di dekati sang presdir, “Please tidak memanggil sayang saat bekerja.”
Arash terkesiap, lalu cengegesan, dan mengecup cepat kepala si nona. Celine tersentak, lantas sedikit mengeplak perut tuan presdir.
“Ish, kamu ini!” tukasnya pelan merasa gemas, bisa-bisanya tuan muda mengecup kepala dia di depan umum, “Kita lagi kerja, tauk.”
“Bodo amat, siapa suruh tadi memanggilku Mas Arash, lantas ngibrit meninggalkanku,” sahut Arash santai, “Jadi kucium kepalamu sebagai hukuman.” Ditatap dengan pandangan gemas si nona.
Celine mengepalkan satu tangan betapa ingin ditonjok sang presdir yang seenaknya bicara seperti itu, tapi dia tidak tega, segera saja ditinggalkan tuan muda, kehadapan Wijaya dan Isala yang khusyuk mengamati drama couple Caddy ini.
“Tuan, Nyonya,” disapa pasangan itu dengan sopan, “Semua tas sudah kami letakan di bagasi buggy car,” diberitahu sudah mengerjakan tugas, “Apa boleh Saya meminjam kunci buggy car, agar bisa mengantar kalian ke padang golf?”
“Baik, Nona Celine, terima kasih,” Wijaya bicara lebih dulu, lalu menyodorkan kunci buggy car ke Celine.
Arash melihat ini segera menggusur si nona yang hendak mengambil kunci itu dari tangan Wijaya, tapi cepat sang gadis mendorong tuan muda agar bisa mendapatkan kunci itu.
“Celine!” seru Arash dengan suara pelan sambil memandang gemas sang gadis, “Kamu Caddy Girl, jadi aku si Caddy Boy yang mengemudikan buggy car.”
“Ngga bisa, karena Caddy Girl juga boleh mengemudi buggy car!” tukas sang gadis dengan galak.
“Ooo tidak bisa, Lin,” Arash tidak menerima argumen gadis ini, “Di mana-mana pria yang nyetir kendaraan, perempuan duduk manis di sebelah dia.”
“Itu aturan dah kuno,” tukas Celine gemas, “Dah kita suit aja untuk menentukan siapa yang mengemudi buggy car,” dia berinisiatif menghentikan berebut mengenai siapa yang mengemudi buggy car di depan Wijaya dan Isala. “Gimana?”
“Oke, siapa takut suit,” sahut sang presdir setuju, “Yang menang mengemudikan buggy car.”
“Deal.” Celine setuju, “Ayo kita mulai suit.” Dia mengulurkan kepalan tangan kanan ke atas bersiap untuk melakukan suit.
“Deal,” Arash langsung mengepalkan tangan kanan ke atas, “Kita mulai ya suitnya.”
Wijaya dan Isala tersenyum geli melihat couple Caddy ini, sedangkan Dude geleng-geleng kepala. Baru kali ini dia melihat Sandiya Lewis bucin dan konyol saat jatuh cinta.
Tidak lama couple Caddy itu suit, dan keduanya seimbang dengan skor dua banding dua. Celine mulai memutar otak cerdasnya agar bisa mengalahkan Arash yang ternyata jago suit.
“Mas!” serunya, “Di rambut kamu ada kecoa!” sambil menunjuk kepala sang presdir dengan tangan lainnya.
Kepalan tangan tuan muda yang tadinya mau mengeluarkan jempol karena feeling si nona mengeluarkan jari jempol juga, jadi mengacungkan jari telunjuk ke atas ke arah kepala, tapi cepat tangan lain sang gadis menurunkan jari itu dan di adu dengan jari jempol dia.
“Yes!” seru gadis ini lantang, “Aku menang!” dia berhasil mengalahkan Arash dengan cerdik.
Sang presdir tampak manyun gemas kena dikadalin si nona, “Curang!” tukasnya memandang gadis itu yang tersenyum kemenangan.
“Wee!” Celine sedikit mencibirkan bibir ke depan, “Mas Senior duduk manis ya di sebelahku yang mengemudi buggy car.” kekehnya cepat mengibit kehadapan Wijaya yang tampak tertawa geli tanpa suara.
Pria itu dan sang istri melihat couple Caddy itu suit konyol, jadi tertawa geli. Dude pun ikut tertawa karena melihat pula suit tersebut.
“Awas kamu,” Sang presdir bertambah gemas, “Nanti kuciumin, baru rasa Kamu.”
***
Giovan dan Martin berdiri di teras menanti James yang memberi kabar datang untuk bertemu Giovan. Si opa mengatakan adalah kakek dari Sandiya Lewis, hendak beramah tamah ke Giovan.
Tidak lama tampak oleh mereka, datang jip Mercy yang diiringin dua mobil jip lain. Ketiga kendaraan tersebut langsung memarkir halaman depan rumah kontrakan ini. Lantas turunlah James ditemani Damar dari jip Mercy.
Giovan melihat sosok James terhenyak, karena mengenali si opa itu sahabat Harun. Benarkah sang billionaire itu kakek dari Sandiya Lewis calon menantunya?