Bab 17 Kunjungan Calon Besan

1999 Kata
Martin pun mengenali sosok James karena bekerja sebagai asisten Giovan sangat lama. “Martin,” pelan Giovan menegur Martin, “Apa mata Saya tidak salah melihat saat ini? Pria itu bukan kah Tuan James Lewis sahabat ayah saya?” “Anda tidak salah melihat, Tuan,” sahut Martin, “Beliau itu memang Tuan James Lewis sahabat almarhum Tuan Harun ayah Anda.” Giovan mendengar ini merasa ingin pingsan, tapi tidak jadi sebab Martin membawa dia menyambut James di halaman. Si opa tampak tersenyum lega karena akhirnya bisa bertemu Giovan yang menghilang sejak digugat cerai Indira, dan dilengserkan dari kursi presiden direktur Victory Company. Dia segera menyongsong ayah Celine ini, dan ketika mereka berhadapan tampak terharu. “Giovan.” Disebut nama pria itu, “Akhirnya Saya menemukanmu.” Giovan tampak kebingungan, lantas, “Maaf Tuan, apa Anda adalah Tuan James Lewis sahabat almarhum ayah Saya?” “Betul, Saya sahabat almarhum ayah kamu.” Giovan mendengar ini segera meraih tangan kanan James, ditempelkan sejenak punggung tangan si opa ke keningnya, tidak menyangka bertemu sahabat Harun. James lantas menepuk sayang kepala Giovan, seolah pria itu putranya sendiri. Sejurus kemudian dia merasa hatinya dipanggil sesuatu dari masa lalu. Langsung mengamati Giovan. Saat itu tampak dipelupuk mata dia, peristiwa ketika dia bersama kedua putranya dari kedua istri dia. William dan Nathan. Sosok Giovan terlihat dalam diri William putranya yang hilang puluhan tahun dari Los Angeles karena perbuatan keji istri kedua dia yang berambisi kelak Nathan menjadi pewaris tunggal. Kejahatan sang istri terungkap, tapi tidak bisa dia memberi hukuman, karena istri pertama sudah tiada. Dia sudah berusaha menemukan William, tapi tidak ada hasil sama sekali, sehingga menganggap putranya sudah meninggal. Namun kini saat berhadapan dekat dengan Giovan, dia teringat William. Padahal dulu saat bertemu Giovan, tidak ada teringat William putranya yang hilang itu. “Tuan,” Damar menegur James yang masih mengamati Giovan, “Tuan.” Dia sedikit menyentuh lengan tuan besar ini. James terkesiap, lantas tersadar sedikit terkenang masa lalu. “Maaf, Giovan, maaf.” Ujarnya ke Giovan, “Saya teringat Harun tadi.” Dia mengatakan teringat Harun, “Ah nanti lah Saya akan jelaskan semuanya ke Kamu.” Giovan menganggukan kepala, hati dia pun merasa terpanggil masa lalu, sehingga mengamati James. Namun dia tidak berani memastikan apakah James ayah kandungnya, karena puluhan tahun dia tidak pernah kembali ke Los Angeles demi Harun. Dia juga menganggap ayah kandungnya sudah tiada, hanya Harun ayah dia. “Mari Tuan, silahkan masuk ke rumah saya,” dia segera mempersilahkan James masuk ke rumah kontrakan tersebut, “Mohon maaf kalau rumah saya sekarang hanya kontrakan satu pintu.” “Tidak masalah, karena tidak lama lagi Arash menikahi Lin, lantas membawamu dan Martin tinggal bersama pasangan itu.” Sahut James menepuk ramah pundak kanan Giovan, sambil membatin, ‘Apa Kamu putraku yang hilang itu?’ Giovan terkaget mendengar James menyebut nama Arash, dipandang sang billionaire dengan terheran. “Maaf, Tuan, saya mendengar Anda menyebut nama Arash. Arash siapa? Bukan kah Anda kakek dari Tuan Sandiya Lewis calon istri Lin?” James tersenyum, “Giovan, bukan kah akhir-akhir ini Lin punya teman bernama Arash?” “Iya, betul. Kok Anda tahu itu?” “Tentu tahu karena Arash cucu Saya, dia adalah Sandiya Lewis.” *** Arash terlihat gemas karena Celine menolak pulang dengan mobilnya. Tentu menolak, si nona kan bawa motor. Mereka saat ini di dekat motor sang gadis. “Celine,” sang presdir memandang gemas sang gadis, “Ini sudah sore menjelang malam.” Ujarnya menunjuk ke langit yang mulai gelap. “Lantas?” si nona memandang tuan muda dengan terheran. “Tidak baik pulang dengan motor.” “Mengapa tidak baik?” “Kamu bisa masuk angin, Celine.” “Aku kan pake jaket.” Sang gadis dengan polos memamerkan jaket di badannya, “Aku juga pakai helm,” ditunjuk pula helm yang bertengger di salah satu kaca spion motornya, “Lantas pakai celana panjang,” dilanjutkan menunjuk celana jeans panjang di tubuh, “Lalu pakai sarung tangan di kedua tanganku. Kedua kakiku pakai kaos dan sepatu.” Arash mengecerutkan bibir merasa Celine tidak paham maksud dia yang ingin si nona pulang bersama dia dengan mobil. “Baik,” sang presdir mengacungkan jari telunjuk tangan kanan ke atas, “Kamu tunggu sebentar di sini.” Tiba-tiba minta si nona menunggu dia, “Jangan berangkat dulu, paham?” didekatkan wajah ke muka si nona dengan kedua mata tampak gregetan. Celine sedikit terkaget, lantas manyun. “Iyalah.” “Good!” tuan muda lega, lantas bergegas meninggalkan parkiran motor, masuk ke dalam gedung kantor Golden Golf, “Steve!” serunya saat berada di dalam, “Steven!” dipanggil asisten dia yang diminta datang ke Golden Golf sejam yang lalu, agar nanti sang asisten yang mengemudikan motor Celine. Dia pun setengah berlari menaiki tangga ke lantai dua. Tidak lama datang Steve bersama Dude dari arah ruangan Dude. “Iya, Tuan Muda?” sahut pria itu ke Arash yang tampak senewen, “Anda kenapa, Tuan?” ditanya kenapa si bos, “Kok senewen?” Arash terkesiap, lantas mendengus kesal. “Steve,” dipanggil asistennya, “Berikan jaket dan helm kamu ke saya.” “Untuk apa, Tuan?” “Gadisku tidak mau pulang dengan mobilku, jadi Aku bawa dia pulang dengan motornya!” Steve dan Dude melongo. “Sudah jangan pada melongo!” terdengar hardikan sang presdir, “Lekas Steve, pinjam jaket dan helm Kamu. Biar Lin ngga kemalaman sampai di rumah.” “Tuan,” Steve memberanikan diri bersuara, “Bukannya Anda sudah dilarang Tuan Giovan berteman sama Nona Lin?” “Lantas, masalahnya apa?” “Anda mengantar Nona pulang, apa nanti Anda tidak kena semprotan air dari selangnya Tuan Giovan?” Arash terhenyak mendengar ini, lantas mendengus kasar. “Biarin kena semprot air,” tukasnya tidak gentar, “Yang penting aku antar Lin selamat lahir batin sampai ke tangan ayahnya!” tekad dia sudah bulat, tidak bisa digoyahkan. “Anda tidak marah kena semprot air?” “Tidak, karena kayak di film-film percintaan, hal wajar jika pria kena semprot air dari calon mertua.” Steve dan Dude berbarengan menghela napas, merasa atasan mereka mabuk kepayang karena cinta. Sejurus kemudian datang Celine, tampak gadis ini resah. “Mas Arash!” terdengar pula suaranya memanggil sang presdir. “Mas Arash!” dia sambil menyisiri ke sekitar ruangan di lantai satu ini, “Mas!” Arash tersentak kaget mendengar suara si nona, lantas cepat menepuk-nepuk lengan Steve. “Buruan Steven, jaket dan helm!” “I, iya, Tuan muda!” sang asisten jadi senewen, segera berlari ke ruangan Dude, tapi keluar lagi, kehadapan si atasan.”Tuan.” “Apalagi Steve?” Arash memandang kesal si asisten. “Jaketnya ada di sini.” Steve menunjuk diri sendiri yang memakai jaket. Tadi saat di ruangan Dude, baru menyadari dia memakai jaket, karena ke Golden Golf dengan ojek online dari Lewis Company. “Tapi helm masih di ruangan Pak Dude.” Imbuhnya memberitahu kalau helm di ruangan Dude. Arash melihat semua ini menjadi gregetan, hendak menjitak asistennya yang terkadang konyol kayak dia, tapi suara Celine kembali terdengar. “Mas Arash! Mas, Aku pulang ya!” Arash terkaget, spontan berseru lantang di mana tergesa pula ke pagar balkon. “Jangan Lin! Jangan pulang tanpa Aku!” Celine mendengar suara sang tuan muda, langsung kedua mata kembali mencari-cari sosok pria itu. “Lin!” seru cucu James dengan lantang, “Kamu lihat ke balkon atas depan kamu!” diminta si nona mengarahkan pandangan ke balkon tempatnya berada. Sang gadis mengikuti instruksi itu, melihat ke sana, lantas cemberut. “Mas, Lin pulang sendiri ya!” serunya ingin pulang sendiri. “Ngga bisa!” sahut tuan muda tegas, lantas terbirit ke Steve yang ternyata sudah melepas jaket dan menenteng helm. “Steve, mana jaket dan helm?” ditanya sang asisten karena tidak melihat apa yang ditangan pria itu. Steve dengan polos memamerka kedua barang yang dicari si bos. Arash lekas mengambil keduanya, lalu terbirit pergi, di mana sambil memakai jaket dengan satu tangan. Steve dan Dude kembali geleng-geleng kepala melihat ke absurdan ini. Sang presdir sampai di lantai satu, segera meraih tangan Celine, dibawa meninggalkan gedung kantor ini ke parkiran. Sampai di depan motor si nona, tangan Arash menengadah ke hadapan gadis ini. “Sayang, berikan kunci motormu.” Celine merenggut, dengan terpaksa merogoh saku jaket, ditarik keluar kunci motor, diberikan ke tangan sang tuan muda. “Thanks, Sayang.” Arash tersenyum sambil menjawil sedikit hidung si nona, “Dah yuk kita pulang.” “Eee!” sergah gadis ini cepat, “Itu helm dipakai dulu kale!” dia spontan menunjuk helm yang ditenteng sang presdir sedari tadi. Arash cengegesan, segera memakai helm tersebut, lantas memasukan kunci ke lubang kunci di motor, baru dikeluarkan dari jalur parkir, terakhir duduk di sadel. “Naik, Sayang.” Diminta si nona naik ke sadel belakang. Celine menghela napas, mengapa jadi begini? Sejak mengenal Arash, pria itu terus mengintili dia, tidak mau pergi darinya. Dia segera duduk di sadel belakang. “Pegangan, Lin.” Tukas Arash karena gadis ini tidak melingkarkan tangan ke pinggangnya, “Ish, gadis ini.” Dia geram sebab si nona acuh saja, cepat dibikin kedua tangan sang gadis melingkar di pinggangnya, “Aku tidak mau Kamu protes!” cepat pula menyergah sebelum putri Giovan itu menukas protes. “Eee, tunggu dulu!” Celine tetap saja menukas, “Aku baru ingat sesuatu!” “Ada barangmu yang tertinggal di loker?” Arash memandang si nona dengan menahan gemas. “Bukan itu! Papa kan melarangmu ke rumah kami.” “Aku tidak perduli itu.” “Ish, dosa tauk melawan orang tua.” “Aku tidak melawan beliau, hanya tidak mau disuruh putus dari kamu.” “Bukannya dulu Aku sudah memutuskan kita?” “Aku menolaknya kan?” Hais, pasangan ini membicarakan mengenai putus, seolah mereka sudah berpacaran saja. “Ah sudah lah,” tukas sang presdir mengakhiri pembicaraan ngawur ini, lantas menghidupkan mesin motor, baru perlahan melajukan meninggalkan Golden Golf. “Arash!” sayup terdengar suara si nona memanggil tuan muda, “Aku lapar.” Entah mengapa dia merasa perutnya lapar. “Tumben ngeluh lapar,” sahut sang presdir sedikit melihat ke Celine yang di belakang, “Tadi pas maksi, kamu menolak makan.” “Sekarang terasa lapar, tauk!” Celine jadi kesal kena disindir pria ini, karena tadi saat break lunch, menolak diajak makan sama sang presdir, beralasan masih kenyang. “Udah, ayuk mampir beli makanan dulu,” lantas merengekin tuan muda, “Sekalian beliin martabak Bangka untuk Papa dan Paman Martin.” “Memang mereka pesan itu ke Kamu?” “Ngga, itu buat sogokan, biar Kamu ngga kena damprat Papa karena bandel masih ngintilin Aku.” Arash menjadi tertawa geli, tepatnya selalu tertawa jika bersama si nona. “Iya lah, sayang,” sahutnya memandang wajah Celine yang inosen, “Kita beli martabak itu untuk upeti ke ayahmu dan paman Martin.” *** Celine memandang ke arah pintu kontrakan dengan wajah cemas, karena saat ini Arash masih bersama dia. Giovan tidak pernah memarahi dia, membuat dia sekarang takut sang ayah marah jika melihat Arash. Sang presdir pelan meraih tangan si nona, digenggam lembut, membuat sang gadis melihat ke dia. “Tidak akan Papa Kamu marahin Kamu.” “Tapi marahin Kamu kan?” “Tidak mengapa,” sahut sang presdir tersenyum tulus, “Itu hal biasa dalam percintaan.” Imbuhnya seolah mereka berpacaran. “Percintaan apa? Aku dan Kamu?” Celine menjadi terheran, dipertanyakan perkataan tuan muda. “Kapan kita jadian?” Cucu James ini terhenyak, lantas sedikit menggaruk kepala belakang, dia memutar otak cerdasnya untuk menemukan jawaban yang tepat, karena mereka belum pacaran, hanya berstatus segera menikah. Itu pun si nona belum tahu dia Sandiya Lewis calon pengantin sang gadis. Saat itu muncul Giovan di pintu rumah. “Celine!” Suara pria itu di dengar Celine dan Arash, langsung mereka bersamaan mengarahkan pandangan ke sang pria yang berdiri di pintu. Tidak lama si nona merapat ke sisi tuan muda, merasa cemas karena tampak wajah sang ayah mengamati sang presdir dengan tajam, seolah hendak diterkam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN