Vienna Hart
Gaun itu cantik sekali, dengan belahan panjang di bagian belakang sehingga akan memperlihatkan punggung Vienna yang cantik. Gaun itu dihiasi kristal Swarovski sehingga kilaunya sungguh membuat semua mata akan tertuju kepada sang pengantin.
Vienna menatap sepatunya yang tinggi dan juga dipenuhi kristal Swarovski. Semuanya sepertinya sudah siap. Besok dia akan menikah. Dia menghela napas lalu menatap wajahnya yang cantik di cermin. Vienna membenci wajahnya. Kalau saja dia berwajah biasa saja mungkin dia bisa lebih bebas, jika saja dia terlahir di keluarga yang berbeda mungkin dia bisa lebih menikmati hidupnya.
Batas kesabarannya sudah habis. Papanya yang memperlakukannya sebagai barang dagangan berhasil menjual anaknya ke rekan bisnisnya. Bukan karena dia kekurangan uang, namun karena ingin merambah ke dunia properti juga.
Dengan pernikahan dua anak mereka, maka merger antara PT. ZT dan PT YF akan sukses dan kuat. Hanya dengan mendengar akan ada pernikahan mereka berdua, saham kedua perusahaan itu langsung meningkat. "Mereka berdua, hmph, aku bahkan tidak tahu seperti apa itu Luca Christiano?" pikir Vienna kesal dalam hati.
Namun jika papanya sudah bertitah, maka Vienna tak bisa berkata lain selain 'ya papa', persis seperti yang diajarkan oleh alarhum mamanya.
Jika Vienna melihat di internet, walau wajah Luca tampan, dia bisa melihat kalau pria itu terlihat serius dan dingin. Tak jauh berbeda dengan papanya sendiri. Vienna akan seperti terlepas dari kandang singa lalu masuk ke kandang buaya.
Vienna mendengus menatap tas olahraga hitamnya dan tersenyum tipis. Hanya sebentar lagi, dan semuanya akan berakhir. Dia hanya harus mengikuti perintah ayahnya untuk terakhir kalinya. Menikahi pria itu, dan dia akan bebas.
Vienna sudah menyiapkan semuanya. Bahkan rencana B, jika rencana A gagal. Dia harus keluar dari dunia yang gila ini.Dia akan bebas dan menjadi Ayana Nello.
"Selamat tinggal Vienna Hart, aku tak akan merindukanmu. Halo Ayana Nello, aku akan mencintai diriku yang baru!" batin Vienna tersenyum senang.
Rencana ini sangat sempurna, Vienna sudah menyusunnya selama berbulan-bulan lalu, sejak ayahnya memberitahukan siapa calon suaminya. Selesai pesta pernikahan, Vienna Hart akan menghilang.
…
Luca menutup laptopnya dan meregangkan tubuhnya, tubuhnya terasa pegal dan lelah. Besok akan menjadi hari yang panjang. Dia berdiri dan menuju kamar mandi. Dia selalu membersihkan tubuhnya sebelum tidur.
Saat merebahkan diri di atas tempat tidurnya, dia membayangkan calon istrinya. Dia tahu maksud dari kakaknya, menikahkannya dengan anak dari keluarga Hart.
Sebagai grup perusahaan pengelola pusat perbelanjaan, sudah pas jika mereka merambah ke dunia properti. Keluarga Luca memiliki tanah yang siap diolah untuk menjadi perumahan elit. Keluarga calon istrinya sudah pasti tidak mau ketinggalan untuk mendirikan berbagai mall disana.
Dia mendengus, dia tak menyukai perjodohan, bahkan lebih tepatnya pernikahan, dia sama sekali tidak tertarik dengan ide menghabiskan sisa hidupmu dengan satu orang saja. Luca seorang pemain cinta. Tapi pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas. Calon istrinya juga bukan dari kalangan sembarangan, dia pasti tahu permainan pernikahan di kalangan mereka.
Pernikahan hanya agar meningkatkan harga saham sebelum merger dilakukan. Setelah perusahaan bergabung, fungsi dari pernikahan itu berakhir. Mungkin hanya untuk menghasilkan generasi keluarga mereka berikutnya, setelah itu mereka bebas.
Luca yang bebas, istrinya tidak boleh. Istrinya harus duduk diam dan ikut dalam kegiatan sosial untuk meningkatkan harga saham perusahaan. Terlihat cantik dan baik hati di koran dan berita, itu fungsi istrinya nanti.
Dia mengambil handphone-nya dan menatap foto calon istrinya. Dia terlalu sibuk untuk bertemu dan menyapa, lagi pula ini hanya pernikahan kertas.
Wajahnya cantik, tubuhnya kurus, terlalu kurus, dia harus makan banyak nanti jika bersamanya, Luca tak suka wanita lurus seperti itu. Istrinya harus memiliki b****g dan d**a yang bagus. Rambutnya indah panjang sepinggang. Terlalu panjang, dia harus memotongnya nanti. Bibirnya pas, matanya pun cantik, secara keseluruhan calon istrinya dia beri nilai 7 itu juga karena latar belakang keluarganya. Selain itu, wanita itu terlihat membosankan.
"Setidaknya dia sarjana," gumam Luca dalam hatinya. Kebanyakan putri-putri dari kalangannya hanya lulus SMA dan langsung bekerja di perusahaan keluarga. "Sarjana pertanian, nggak nyambung dengan bisnis keluarga," guman Luca lagi sambil mengamati foto calon istrinya.
"Vienna Hart, semoga kamu bisa menjadi istri yang baik, menjadi ibu bagi penerus keluarga kita," dengus Luca dalam hati sambil kembali meregangkan tubuhnya lalu melirik ke arah jam dinding.
"Sudah jam 12.30, sebaiknya aku tidur, upacara mulai jam 9.00 pagi. Besok aku harus cuti sehari karena pernikahan konyol ini, dan pers sibuk mengurusi bulan madu, sepertinya mereka harus berpura-pura bahagia beberapa lama," pikir Luca geram sambil mencoba mencari tidur.
Vienna menatap jam di handphone-nya. Sudah lama dia sering terbangun sebelum bunyi alarm, sama seperti pagi ini. Dia segera bangun dan membersihkan diri, hari ini hari pernikahannya, terlebih lagi ini adalah hari dia akan lepas bebas dari keluarga ini.
Make-up, gaun pengantin bunga semua sudah siap, juga tas hitam itu. Tas itu harus ikut kemana pun Vienna pergi. Papanya menatapnya dengan dingin saat dia mendekatinya.
“Sudah siap?” Vienna mengangguk dalam diam.
"Jangan macam-macam dan jangan buat papa malu. Kamu harus melakukan tugasmu terakhir sebagai anak papa. Kamu harus bertahan menikah dengan anak dari keluarga YF, jangan pernah berpikir macam-macam, kamu dengar itu Vien!" bentak papanya menatapnya sungguh-sungguh.
"Baik Pa," jawab Vienna mencicit, entah kenapa dia selalu takut jika harus berhadapan dengan papanya.
"Bagus."
Lalu pria itu berdiri dan menuju mobil yang akan membawa mereka ke tempat Vienna akan mengucapkan janji sehidup semati dengan pria asing yang tak pernah ditemuinya.
Wanita itu walau bertubuh kecil dan rapuh, ternyata sangat cantik. Luca menatapnya dengan pandangan terpesona. Gadis itu memang sudah menarik hatinya sejak upacara perkenalan cukup usia. Acara konyol di kalangan mereka, yang lebih menjadi ajang mencari jodoh orangtua mereka.
Vienna Hart, menurut Luca, merupakan yang tercantik dari semua gadis yang dipamerkan hari itu. Betapa terkejutnya ketika kakaknya mengatakan mereka akan bekerja sama dengan keluarga Hart.
Hari ini pengantinnya berjalan dengan gaun mewah bertabur kristal, rambutnya yang pirang madu terangkat membentuk gelung cantik dilengkapi tiara sehingga memperlihatkan lekuk lehernya yang lezat.
Matanya yang bulat berwarna abu-abu menatapnya dengan berani di balik cadarnya. Dia tertegun belum pernah ada wanita yang berani menatapnya langsung ke matanya selama itu. Kontak mata itu begitu intens, tanpa sadar membuat hati Luca bergetar.
Ayahnya dengan senyum miring memberikan tangan wanita itu ke tangannya dan mereka bersiap untuk mengikat janji. Janji diatas kertas, namun ketika pandangan mereka bertemu ketika mengucapkan janjinya, ada desir aneh di hati Vienna.
"Mengapa tatapan mata pria itu seperti membiusku?" tanyanya dalam hati saat pria itu menatapnya sambil memasukan cincin pernikahan mereka.
Luca memaki dalam hati karena jantungnya secara tiba-tiba berdetak kencang, "Ini norak sekali, ini pernikahan kertas, kenapa aku jadi berdebar-debar seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Tapi saat dia diberi kesempatan untuk membuka cadar dan mencium bibir wanita itu, Luca seketika menjadi ragu. Ciuman wanita ini terasa sangat nyaman. Luca ingin terus merasakan bibir itu sampai ia merasa dorongan halus di dadanya. Wanita itu yang melepaskan diri dari ciumannya.
Mereka berpandangan dan tanpa terasa Vienna menahan napasnya. "Mengapa dia bisa membalas ciuman pria ini? Dia hanya suami sehari, ingat rencanamu Vienna, kamu akan meninggalkannya malam ini," ucapnya dalam hati pada dirinya sendiri memperingatkan, agar tak terlalu terlarut dalam pernikahan tipu-tipu ini.
Tepuk tangan meriah menandakan upacara pernikahan telah selesai. Dia resmi menjadi istri Luca Christiano, Pria asing yang ciumannya ternyata begitu memabukkan.