Bola mata temannya mengikuti kemana Vienna pergi, dengan mendesah tajam akhirnya dia menatap kembali sahabatnya. “Aku lepas.” Lisa menutup mulutnya yang langsung terbuka dengan tangannya. Dia duduk tegak di sofa putih baru di rumah temannya itu. Semua di rumah ini baru, bahkan temannya pun juga terasa berbeda. Temannya itu lalu duduk di sebelahnya. “Bukan masalah besar, Aku melepaskannya hanya karena aku menumpahkan tinta kemarin, jadi aku harus membersihkannya, nanti aku juga akan mengenakannya kembali,” dusta Vienna lancar sambil memegang ujung rambutnya. Sahabatnya memiringkan kepalanya. “Menurutku tak perlu, kamu sudah ada Luca yang akan mengganti cincin itu,” kikik Lisa menggoda Vienna yang langsung mengelak. Dia kembali berdiri dan menuju dapur. Lisa mengikutinya dan kembali terpe

