Vienna terbangun saat ada nenek-nenek dengan lembut mengguncangkan tubuhnya. “Non, bangun Non, dah sampai,” ucapnya berulang kali. Vienna membuka matanya dan menatap nenek itu dengan bingung. Dia terlalu letih akan kegiatannya semalam sampai dia tertidur di bis. Vienna segera bangun dan mengambil tas hitam kumalnya.
Nenek itu dengan wajah khawatir memandang Vienna saat wanita muda itu turun dari bis. Dia menatap cucunya dan kembali menatap Vienna.
“Non, hari sudah malam, Non, tahu mau kemana?” tanya nenek tua itu dengan ramah. Vienna masih belum bisa benar-benar konsentrasi karena baru bangun dan sangat lapar. Dia baru ingat terakhir yang dia makan adalah saat semalam di pesta, dan itu sedikit sekali. Nenek itu memegang tangannya dengan lembut menyadarkannya dari kebingungannya.
“Sa-saya mau ke pondok cemara. Saya pemilik pondok cemara yang baru.” Dia melihat langit yang gelap. Karena terlambat keluar dari rumah Luca, waktu Vienna juga bergeser, yang seharusnya dia sampai pada siang hari, malah jadi sampai malam hari seperti ini. Dia tidak tahu apa-apa tentang daerah ini.
"Pondok cemara? Tapi rumah itu sudah lama kosong, kamu yakin nggak salah alamat non?" Wanita tua itu menatap heran kepada Vienna.
"Oma," panggil Liam dari belakang, dia berlari dengan cepat. Dalam hati dia bersumpah akan lebih memperhatikan waktu. Hampir saja dia terlambat menjemput omanya. Dia dengan terengah-engah sampai di sebelah omanya lalu menyadari kalau omanya sedang berbicara dengan wanita aneh yang mengenakan kemeja pria dengan celana panjang olahraga. Wanita itu sangat cantik, rambutnya kusut namun matanya yang besar berwarna abu-abu yang sangat indah.
“Liam, kamu lihat ada perubahan di pondok cemara tadi saat lewat?” Pria itu segera menggeleng cepat. Pondok Cemara tadi terlihat gelap dan sedikit mengerikan seperti biasa.
“Gelap dan mengerikan seperti biasa,” jawabnya bingung sambil menatap wanita yang menawan di hadapannya, namun wanita itu selalu menunduk dan menghindari pandangannya.
“Saya pemilik Pondok Cemara, kalau boleh saya ikut sampai ke Pondok Cemara?” Liam segera menatap wanita itu dengan cermat. “Apakah wanita ini sudah gila? Apakah dia bermaksud untuk tinggal di Pondok Cemara malam ini?” pikir Liam mendengus mendengar kegilaan wanita itu.
“Boleh, tentu boleh Non,” jawab Oma dengan suara bergetar, dia menyerahkan tasnya ke Liam lalu menggandeng Vienna lalu menariknya menuju mobil Liam.
Wanita itu diam saja saat mereka di mobil. Entah bagaimana akhirnya Omanya malah duduk sendiri di belakang, dan wanita itu malah jadi duduk di depan bersama Liam di depan. Liam masih mengamati wajah wanita itu yang seperti boneka, begitu mulus bagaikan porselen sampai dia hampir melewati Pondok Cemara kalau tidak omanya berteriak memperingatkan.
Dengan malu dia menghentikan mobil dan berhenti di pintu gerbang Pondok Cemara yang gelap dan hampir rubuh. Vienna bergidik melihat keadaan rumah yang dia beli secara online itu. Foto dan keadaannya sangat berbeda. Dia mendesah dan memaksa dirinya untuk turun. “Ini hidupku yang baru, aku harus bisa tinggal di rumah ini,” ucapnya menyemangati dirinya.
Liam juga ikut turun dan bertolak pinggang menatap rumah gelap di tengah padang itu. Wanita muda itu turun dan membuka pintu gerbang yang tak terkunci. Pohon cemara bergoyang tertiup angin, terlihat gelap dan mengerikan saat malam. Liam bersiul saat melihat ada anjing liar keluar dari belakang pohon.
“Sepertinya listriknya belum nyala, dan pemanasnya belum pernah dicoba selama aku ingat.” Liam memandang ke arah Vienna dengan gaya sok tahu. Vienna menatapnya sambil mengeraskan hatinya.
"Aku sudah beli rumah ini, aku harus tinggal di sini, aku tak ada tempat lain untukku disini." Vienna berkata dengan dingin.
"Non, bahaya kalau malam ini tinggal disini, bagaimana kalau ke rumah kami dulu. Besok pagi, Liam baru membantumu merapikan isi rumah?" teriak Oma dari dalam mobil. Vienna masih mengeraskan hatinya dan menggeleng kepala, ketika ada tikus besar merayap melewati kakinya. Wanita itu segera melompat sambil menjerit bersembunyi di belakang Liam. Pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Sudah aku bilang kan Pondok Cemara ini sudah banyak penghuni liarnya, sudah ayo kamu ikut kami saja, besok pagi akan aku bantu mengusir semua penumpang gelapnya," ujar Liam masih sambil tertawa, dengan seenaknya dia menggandeng tangan Vienna kembali ke mobil.
Vienna menatap rumah barunya yang gelap. "Mungkin saran pria ini yang terbaik, malam ini aku tinggal di rumah mereka dulu." pikirnya dalam hati.
"Oke Ayana, kamu boleh tinggal di rumah Oma semau kamu mau. Besok Liam akan membantumu. Sekarang kita istirahat dulu, kita membersihkan diri lalu makan malam yuk." Vienna segera menggeleng, dia tidak mau berhutang budi, dan terlebih juga, dia tidak mau terlalu dekat dengan orang-orang di desa ini.dia takut penyamarannya terbongkar.
“Oh tak apa-apa aku nggak lapar kok.” Tepat setelah Vienna selesai berbicara, perutnya berbunyi dengan keras. Liam segera kembali tertawa terbahak-bahak lagi. Dia dengan santainya merangkul Vienna.
“Kamu nggak lapar, tapi cacing di perutmu lapar tuh,” ujarnya tertawa terus sampai keluar air mata. Omanya dengan kesal memukul belakang kepalanya dengan tas tangannya.
“Diam kamu, dah nggak ada alasan, kamu jelas lapar. Ayo kamu harus ikut ke rumah kami!” perintah Oma Cam dengan tegas segera merangkul Vienna dengan kencang, seakan takut Vienna kabur lagi. Liam terbatuk menghentikan tawanya sambil memegang belakang kepalanya yang sakit.
“Sakit, oma,” rengeknya manja sambil kembali masuk ke mobil.
Vienna mendesah, sepertinya memang dia harus ikut mereka dulu, Vienna menyadari kalau rumah itu memang butuh banyak perbaikan. Dia menurut lalu kembali naik di kursi penumpang di sebelah Liam yang tersenyum lebar. Pria itu memiliki mata coklat besar yang ramah.
“Hari ini aku buat sup kacang merah, aku harap kamu suka.” ucapnya memperlihatkan susunan giginya yang rata. Vienna mengangguk dengan kikuk.
“Terima kasih atas undangannya.”
“Ku harap Ella membuat roti,” sambung Oma Cam dari belakang.
“Sudah pasti, sup kacang merah hangat dengan sebongkah roti yang baru di panggang. Sangat lezat. Kamu pasti akan sangat menyukainya, Roti Ella lezat sekali, Aku Liam, kamu ngomong-ngomong siapa namanya?” Pria itu melirik lagi ke arahnya sambil terus menyetir di jalan yang berbatu.
“Ayana, Ayana Nelo.”
“Ayana, nama yang cantik secantik orangnya,” goda Liam memperlihatkan lagi senyuman dengan lesung pipinya. Terdengar dengusan omanya dari belakang.
“Hentikan itu Liam, jangan macam-macam.” Pria itu tertawa lalu kembali menyetir ke dengan pandangan lurus ke depan. Jendela mobil dibuka, sehingga udara pedesaan yang sejuk dan segar masuk.Vienna menutup matanya dan menghirup udara segar itu dalam-dalam. “Menyenangkan. Semoga di hidup baruku ini, aku bisa menikmati udara segar seperti ini selamanya,” pikirnya dalam hati tanpa sadar tersenyum.