Rumah Oma dan cucunya itu tidak begitu jauh dari Pondok Cemara. Vienna menatap rumah pedesaan yang terlihat sangat nyaman. Liam segera membawa masuk tas-tas mereka. Vienna menghindari udara segar khas pedesaan sambil tersenyum. Wanita itu mengisi relung dàdànya dengan udara yang bersih sebanyak-banyaknya.
"Udara disini menang masih segar, jika dibandingkan dengan udara di kota, oh iya namamu siapa? Nama saya Caroline. Kami bisa memanggil saya dengan panggilan, Oma Cam." Wanita tua itu dengan susah payah mendekati Vienna sambil tersenyum.
"Namaku Vi... Ayana Nello." Dia menatap Oma Cam dengan yakin.
“Namanya cantik kan? sama seperti orangnya,” ulang Liam menggodanya kembali. Oma Cam mengayunkan tasnya lagi, tapi pria itu dengan sigap menyingkir dan lari masuk ke dalam rumah sambil tertawa.
“Disini kami hanya tinggal berdua. Orang tua Liam, anakku meninggal kecelakaan saat anak itu masih bocah. Dia kini berumur 30 tahun tapi kelakuannya masih seperti bocah.” Oma Cam menatap Liam dengan penuh kasih sayang. Vienna tersenyum mendengar penjelasan oma tua itu.
Wanita tua itu masuk sambil masih merangkul Vienna, dia meletakkan tasnya di meja samping pintu, lalu membuka pintu pertama dari pintu masuk.
“Ini kamar tamu, kamu bisa tidur disini, sampai kapan pun kamu mau, sebelahnya adalah toilet. Disini adalah kamar Oma, kamar Liam diatas, lebih baik kamu jangan ke kamarnya, kalau ada bangkai tikus pun dia tidak akan mengangkatnya,” ujar oma yang disambut tatapan takut dari Vienna. Wanita tua itu tertawa.
“Tidak ada tikus di kamarmu, kamu bisa tenang. Kamar Liam juga Oma bersihkan, tapi dalam sekejap mata kotor kembali, seperti oma cerita tadi, dia masih seperti bocah besar,” ucap oma tertawa. Vienna mengangguk sambil mengintip ke arah atas, dimana suara Liam bernyanyi sumbang terdengar.
“Dia sedang mandi, kamu juga sebaiknya mandi. Air panas ada kok.” Wanita tua itu lalu masuk ke kamarnya sendiri setelah melambai pada Vienna. Wanita muda itu dengan kikuk membalas lambaian tangannya lalu masuk ke kamarnya sendiri.
Kamar itu bernuansa kuning muda dan putih. Sederhana namun bersih dan cantik. Vienna meletakkan tasnya dan merebahkan diri di kasur dengan nyaman. Dengan malas, dia menatap ke langit-langit rumah yang berwarna putih bersih itu.
“Aku sudah sampai di desa ini, aku harus segera merapikan rumahku dan tinggal mandiri disana. Aku sudah tidak sabar!” pikirnya dalam hati lalu duduk di atas tempat tidur. Dia melepas jaketnya dan mencium aroma tubuh suaminya secara tidak sengaja.
“Ish, aku harus membuang kemeja ini,” pikirnya sambil membuka kancing kemeja itu. Namun Kilasan apa yang terjadi kemarin mulai merasuk di benaknya. Mata hijau Luca yang tampan dan menatapnya dengan penuh gairah, dan belaiannya yang membuat Vienna mendesah.
”Astaga apa yang aku pikirkan, kenapa aku malah jadi membayangkan apa yang terjadi semalam. Itu adalah kesalahan fatal, aku tidak boleh mengingat pria itu lagi. Anggap saja malam itu adalah perpisahan terakhir aku sebagai Vienna Hart, papa pasti memberikan sesuatu di minumanku kemarin. Aku langsung merasa panas begitu meminumnya,” pikir Vienna sambil melepaskan kemeja itu. Aroma kayu di kemeja itu membawa kilasan potongan apa yang terjadi dengannya semalam. Dia kaget dia dapat melakukan itu semua. “Untung kini aku sudah jauh darinya,” pikir Vienna lagi bersyukur lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Liam turun dari tangga dan menatap gadis berambut keemasan itu duduk di ujung meja. Omanya sedang memotong roti dan meletakkannya di piring wanita itu. Dia tersenyum tipis sambil mengucapkan terima kasih. Hanya dengan seperti itu Liam terpesona. Wanita itu bagai bidadari turun ke bumi, bagaimana bisa ada makhluk yang begitu mempesona.
“Liam, ambil mangkuk di dapur dan letakkan disini, hati-hati panas.
“Okay, apa sih yang nggak okay, buat omaku yang cantik dan baik hati serta tidak sombong,” ujar Liam sambil berjalan ke dapur. Omanya mendengus geli, tapi Vienna tidak merasa Liam berbohong. Walau sudah tua, tapi Oma Cam memang masih terlihat cantik. Bola matanya yang coklat muda sangat unik, terlebih senyumnya yang ramah, sangat menghangatkan hati Vienna.
“Untung Oma sudah hidup bersamamu 25 tahun, jadi Oma sudah tidak lagi tergoda dengan gombalanmu. Kamu harus hati-hati Vienna, Liam mulutnya manis berbisa, hati-hati terpanggut olehnya,” ucap Oma Cam menasehati. Vienna mendengus geli melihat reaksi timbal-balik oma dan cucunya yang unik ini. Mereka jelas sangat dekat dan sangat saling mengasihi.
“Oma jangan begitu, Vienna sangat cantik, aku pun tampan, jadi mengapa tidak boleh Vienna bersamaku?” tanya Liam sambil membawa mangkuk berisi sup kacang merah yang berasap.
Oma menatap Vienna, dan menatap jarinya yang bercincin. Namun Liam tidak menyadarinya. Hati Vienna mencelos dan menatap Oma dengan takut.
“Su-suamiku sudah tidak ada, tapi cincinnya tidak bisa dilepas.” desahnya seakan perlu menjelaskan. Oma Cam menggeleng.
“Kamu tak perlu menjelaskan sayang, masa lalumu, adalah milikmu,” jawab Oma Cam dengan tersenyum penuh arti. Liam mendekat dan meletakkan mangkuk di tengah meja.
“Nah, jadi kenapa aku nggak boleh mendekati Ayana?” tanya Liam sambi mengerutkan keningnya kepada omanya. Vienna merasa tidak nyaman masalahnya dibicarakan, tapi Oma malah menoyor kepala Liam.
“Karena kamu masih seperti bocah, kapan kamu terakhir membersihkan kamar, Liam?”
“Ish oma,” Liam mengelak dan duduk di kursi meja makan tanpa melihat ke arah omanya.
“Tuh, tandanya sudah seminggu diatas belum disapu kan?” Liam tertawa sambil mengambil roti.
“Kamu mau memakai mentega Yan? Untuk rotimu, kamu nggak apa-apa kan kupanggil Yana? atau Ay?” tanya Liam mengalihkan pembicaraan. Omanya mendengus dan mengambil mangkok kosong dan menuang sup lalu memberikannya pada Vienna.
“Yana, tidak apa-apa,” balas Vienna pelan. “Aku harus membiasakan diriku dengan nama baruku,”pikirnya dalam hari. “Ayana Nelo, itu namaku sekarang.”
Mereka membicarakan keseharian mereka, Oma Cam ternyata tadi ke kota untuk membeli bahan untuk restoran mereka, Liam adalah chef sekaligus pemilik restoran kecil di pusat desa. Vienna segera berjanji dalam hati untuk membantu mereka jika mereka membutuhkan, untuk membalas budinya.
Setelah kenyang. Vienna berdiri dan membantu Liam untuk mencuci piring. Sedangkan Oma Cam masuk ke kamarnya karena sudah sangat lelah. Liam mengecup kening omanya saat omanya melambai masuk ke kamar. Semua perhatian dan ungkapan penuh kasih sayang seperti itu sangat aneh bagi Vienna. Dia hanya sanggup melambai dengan kikuk saat oma tua itu masuk.
“Oma pasti lelah sekali, dia selalu begitu, tidak percaya kalau aku yang berangkat ke kota,” ucap Liam sambil mengangkat piring yang sudah dia cuci ke pengering. Sebenarnya semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh Liam dengan cepat. Hanya rasanya aneh, jika Vienna langsung masuk ke kamarnya juga. Jadi dia hanya membantu merapikan bangku dan menemani Liam di dapur.
“Oh, iya saya tadi tidur di bis, jadi tidak tahu apakah oma juga tidur atau tidak,” jawab Vienna kagok. Pria tampan itu menunduk dan menatap Vienna.
“Kamu juga pasti lelah. Masuk saja ke kamarmu, istirahat. Aku hampir selesai kok,” ucap pria itu tersenyum. Raut mukanya berbeda. Dia terlihat dewasa, tidak kekanak-kanakkan seperti tadi sewaktu ada omanya.
“Oh, oke. Terima kasih atas makan malamnya.” Vienna menunduk permisi.
“Yan… Ayana?” panggil Liam saat Vienna sudah berjalan beberapa langkah.
“Selamat datang di Desa Maple, semoga kamu senang disini. Besok aku akan mengurus listrik dan air di rumahmu ya.” Pria itu tersenyum mendekati Vienna. Dia hampir melupakan namanya lagi, Vienna mengangguk lalu kembali berjalan ke kamarnya.
“Ayana Nelo, wajahnya seperti pernah kulihat dimana?” pikir Liam sambil bertanya-tanya sendiri. “Tapi, yang pasti dia cantik sekali,” gumamnya sambil mendengus senang.