Pondok Cemara

1087 Kata
Pagi-pagi sekali, rumah Oma Cam sudah ramai. Berbagai tamu datang memanggil dan memberikan barang atau mengambil sesuatu dari rumah. Vienna yang terbiasa bangun siang terbangun dengan kaget dengan suara ramai di luar. Dia dengan kepala sedikit pusing keluar dari kamarnya. Pemandangan di luar seramai suara yang di dengar. Ada orang mengantarkan telur dan sayuran. Ada yang memberikan s**u dan keju. Lalu terdengar suara wanita yang ceria walau suaranya kecil seperti mencicit. Wanita itu bertubuh mungil, mirip seperti gadis SMP, rambutnya yang panjang dikepang dua. Matanya bulat berwarna biru tua dengan banyak bintik-bintik kemerahan di wajahnya. Wanita itu manis dan lucu. Dia sedang menerima s**u dan keju dan hampir menabrak Vienna yang berdiri di belakangnya. “Oh...maaf, kamu pasti Ayana ya? Boleh aku panggil kamu Yana?” ucap wanita itu dengan cepat. Vienna menatapnya dengan bingung, lalu mengangguk pelan. “Aku Lisa, aku pemilik toko roti di desa. Setiap pagi aku membantu Oma menerima barang untuk restoran Liam.” serunya sambil mendorong keranjang berisi sayuran yang sudah agak layu dan telur. Dia memberikan s**u dan keju ke tangan Vienna dan bergegas ke belakang rumah. Vienna mengikuti wanita mungil itu ke belakang. Di belakang rumah Oma ternyata banyak sekali orang lalu lalang di taman yang indah. Ada meja dan kursi yang ditata dengan rapi. Ternyata mereka mempunyai restoran disini. Vienna menatap kesibukan itu dengan terpesona. Lisa dengan cepat berjalan ke arah pria jangkung yang langsung menjadi pusat perhatian Vienna. Liam mengenakan kaus putih yang memperlihatkan otot tubuhnya, dia dengan senyum lebar menerima bahan makananan dari tangan Lisa. Dia terkejut saat melihat Vienna ada di belakang Lisa. “Lho kamu kenapa bangun? Kami terlalu berisik ya?” tanya Liam mengambil s**u dan keju dari tangan Vienna. Wanita muda itu mengangguk sambil menatap ke sekelilingnya. “Kami buka restoran nanti untuk makan siang. Walau kecil tapi restoranku lumayan rame lho.” Liam mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dengan bangga. Entah bagaimana, akhirnya dari pagi Vienna dan Lisa sibuk membantu Liam membuat persiapan masak untuk jam makan siang nanti. Vienna yang awalnya kaku, akhirnya menjadi luluh dengan sikap Lisa dan Liam yang sangat ramah. Saat matahari sudah diatas kepala mereka, akhirnya semua persiapan selesai dan waktu untuk membuka restoran sudah datang. Liam segera kembali ke rumah utama dan membersihkan diri. Lisa mengikutinya sambil menarik Vienna juga ke rumah utama. Sekarang wanita itu sudah bertindak seakan mereka sahabat dari kecil. Wanita itu terus saja bicara tentang segala macam masalah di desa. Hingga saat mereka masuk ke rumah utama, Vienna sudah sudah seperti mengenal semua orang-orang di desa itu. "Kau tau, Elena itu sebenarnya menyukai Liam, dia terus saja memberikan tomat gratis ke Liam, tapi dasar Liam tidak peka, tomatnya dia terima, tapi yang memberikan tidak." Wanita mungil itu tertawa terbahak-bahak. Vienna tersenyum, sebenarnya agak kasihan dengan cinta bertepuk tangan Elena, wanita malang yang terus menerus Lisa ceritakan. "Kalau kamu, sudah punya pacar?" tanya Lisa tiba-tiba. Pikiran Vienna langsung ke mata hijau Luca saat pria itu menciumnya di altar pernikahan mereka. "Astaga apa yang aku pikirkan, pernikahan itu seharusnya sudah dia lupakan, tapi kenapa tiba-tiba aku ingat-ingat lagi?" pikir Vienna menggelengkan kepalanya agar bayangan Luca lepas dari benaknya. "Aku juga nggak punya, sepertinya aku selalu dianggap seperti anak kecil," desah Lisa yang menganggap gelengan Vienna sebagai tidak. Tapi Vienna tidak mengoreksi wanita itu, karena memang dia tak punya pacar, lain dengan suami. "Bagaimana ya agar pria melihatku sebagai wanita," cicitnya sedih. Wanita mungil itu menatap Vienna dengan kagum. "Andai aku secantik kamu, pasti Liam akan melihatku," ujar Lisa lebih kepada dirinya sendiri, namun Vienna mendengarnya. "Kamu... menyukai Liam?" "Apa yang bisa tidak disukai dari pria itu?" desah Lisa sambil menatap Liam yang baru turun dari tangga. Pria itu memainkan rambutnya yang masih separuh basah dengan tangannya agar kering. "Lisa, kamu masih disini?" Namun mata Liam menatap dengan terpesona ke arah Vienna. Entah kenapa dari kemarin, matanya tak bisa melepaskan pandangan dari wanita itu. “Dia cantik sekali.” Liam masih mengagumi wanita itu saat Lisa menghampirinya. Sahabat dari kecilnya itu menatapnya dengan mata birunya yang besar. “Kamu sudah mau berangkat, ayo kita berangkat bersama.” Sahabatnya tersenyum manis dan merangkul tangannya. “Ah, kamu seakan kita mau kemana saja. Kita hanya ke sebelah saja. Kamu mau pakai baju seperti ini?” tanya Liam sambil menatap Lisa yang masih mengenakan pakaian pagi. “Nggak, aku akan pulang ganti baju, sebentar tunggu aku!” Wanita itu mau berlari menuju pintu saat Vienna memanggilnya. “Lisa, boleh aku ikut?” Lisa menoleh dengan bingung. Vienna berdiri dan mendekati Lisa. “Aku mau membeli baju, aku tak punya baju selain ini,” bisik Vienna. Lisa tersenyum senang. “Liam, kamu berangkat sendiri deh, aku mau shopping!” Lisa mengajaknya ke pasar dan memberinya saran cara berpakaian agar sama seperti orang kota. Dengan semangat wanita itu memberikan satu persatu pakaian untuk Vienna coba. Lisa merasa seperti memiliki boneka barbie besar untuk didandani. Vienna yang awalnya kebingungan dengan semangat Lisa, akhirnya ikut terbawa antusiasme Lisa. “Ternyata rasanya menyenangkan juga memiliki teman, teman yang sungguh-sungguh menerimaku apa adanya, bukan karena aku seorang Hart,” pikir Vienna tak bisa berhenti tersenyum saat memegang kantong belanjanya. “Menyenangkan juga belanja, sudah lama aku tak belanja. Kau tahu, aku bisa belanja di bagian anak-anak lho,” ucap Lisa dengan serius. Vienna tertawa mendengarnya. Lisa memajukan bibirnya karena kesal. “Habis ini kita kemana?” tanya Lisa saat mereka keluar dari toko baju. Vienna menatapnya lalu tersenyum. “Aku mau memotong rambut.” Lisa lalu menatapnya dengan heran. Rambut Vienna indah sekali berwarna pirang madu bergelombang indah di punggungnya. "Jangan, rambutmu cantik sekali," tolak Lisa dengan kagum menyentuh rambut Vienna yang halus. "Aku merasa gerah, aku juga akan mengecatnya, aku ingin merasakan memiliki rambut berwarna hitam." Wajah Lisa semakin horor, warna rambut Vienna sudah sangat pas dengan wajahnya, sayang sekali jika berubah menjadi hitam? "Kamu serius?" "Serius," ujar Vienna tersenyum yakin. Sambil mendesah, Lisa menggamit tangan Vienna dan membawanya ke salon. Dengan sedih dia melihat rambut panjang Vienna dipotong sebahu, dan dicat hitam. Selesai semua itu, wanita muda itu bangkit dan mendekat ke Lisa. "Bagaimana, aku berubah tidak? Lisa terperangah, Vienna sangat berubah, wajahnya tetap cantik, tapi rambut hitam sangat memperjelas warna bola mata dan warna kulitnya yang pucat. "Wah kamu cantik sekali." Tapi ucapan Lisa malah membuat Vienna cemberut. "Bagaimana aku tetap dikatakan cantik, aku sudah memotong rambut kesayanganku. Bahkan mengubah warnanya, apa lagi yang aku harus lakukan agar tidak dikenali?" pikir Vienna sedih dalam hati. "Ada toko kacamata?" Lisa mengangguk bingung, baru kali ini ada wanita yang terlihat sedih saat dipuji cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN