Dengan takut Javier mendekati tuannya, sudah seminggu upaya untuk menemukan istri baru tuannya tidak mendapatkan hasil. Wanita itu bagaikan hilang ditelan ombak. Dari semua sisi sudah dicari. Bahkan dari kartu kredit, telepon semua dilacak tapi tidak ada pergerakan. Wanita itu pergi tanpa membawa sedikitpun potongan petunjuk untuk dapat diselidiki oleh Javier.
Selama ini tuannya tidak terlalu ambil pusing, dia kembali bekerja setelah marah-marah di hari pertama. Namun, hari ini Javier harus melakukan laporan mingguannya. Bagaimana caranya dia bisa menyampaikan kalau dia benar-benar tidak dapat mencari istri tuannya?
"Jadi dengan PT Mobo semua sudah beres?" Luca menatap asistennya yang entah kenapa hari ini lebih gugup dari biasanya.
"Sudah pak, semua sudah ditandatangani. Besok berkas akan dikembalikan. Kerja sama sudah mulai dilakukan di unit paling kecil." Javier berkata dengan bangga, karena dia yang mengurus PT Mobo dari diskusi awal. Tapi tanggapan Luca mengecewakan, pria dingin itu hanya melambaikan tangannya seakan bosan. Lalu menunggu pekerjaan berikutnya.
Namun, pekerjaan berikutnya adalah mengenai Vienna Hart yang menghilang. Javier mencoba melihat ke dalam bola mata hijau milik Luca, bagaimana perasaan tuannya saat itu, tapi Luca seperti bawang, banyak sekali lapisannya. Emosinya sama sekali tidak dapat ditebak.
"Mengenai Nona Hart." Tanpa sadar Luca segera menoleh dan menunggu berita dari Javier. Hatinya mencelos hanya dengan mendengar nama wanita itu disebut.
"Dia tidak kembali ke rumahnya, tidak ada tanda-tanda kalau dia kembali ke rumahnya. Dokumen perjalanan, uang di bank, alat telekomunikasi sudah saya periksa. Tapi tidak ada sama sekali pergerakan."
"Jadi maksudmu?"
"Yang kami punya terakhir adalah rekaman CCTV saat dia keluar dari gerbang mengenakan kemeja...bapak dan celana,—"
"Aku tahu itu, aku sudah lihat videonya. Jadi maksudmu, setelah seminggu aku beri kamu waktu mencarinya, kamu tidak juga dapat menemukannya?" Luca tanpa sadar sudah meninggikan suaranya. Javier akhirnya tersadar. Pria itu baru terlihat emosinya saat sedang membicarakan Vienna, istrinya.
"Kami sudah coba segalanya pak, namun nihil. Mungkin jika kami boleh bertanya kepada keluarganya atau ke pihak berwajib, kita,—"
"Jangan gila kamu, apa yang akan terjadi dengan kerja sama kita dengan PT. YF akan hancur nantinya. Pihak YF tidak boleh tahu, ingat itu Javier. Jika kamu cukup bodoh untuk membiarkan pengantinku kabur, kamu tidak cukup bodoh untuk memberitahukannya pada dunia kan?" Javier tergagap sambil menggeleng menjawab.
"Ti-tidak akan, a-aku akan memastikan kalau tidak ada yang me-mengetahui kalau Nona Hart tidak ada." Luca mendengus kesal dan menatap Javier.
"Lakukan pencarian lagi pelan-pelan, jangan sampai ada yang tahu. Untuk sementara bilang saja Vienna aku kunci di rumah." Javier mengangguk hormat lalu meninggalkan Luca yang menggaruk rambut hitamnya yang lebat dengan frustrasi.
"Kemana dia pergi, apalah bercinta denganku begitu buruk sampai dia pergi begitu saja sebelum pagi datang?" tanya Luca frustrasi dalam hati.
…
Vienna terkekeh nakal dan menerima ciuman suaminya lagi. Pria itu mulai memposisikan dirinya, dan debar jantung Vienna semakin tak beraturan. Dia sudah menunggunya dari tadi, tubuhnya seakan berteriak meminta.
Dia kembali menggigit bibir bawahnya saat Luca membuka lututnya dan mengecup mesra. Vienna semakin tidak tahan, napasnya menjadi berat, suaminya pecinta yang hebat, sebelum belum dimulai, dia sudah kalah duluan. Pria itu tertawa senang melihat Vienna yang sudah mendapatkan pelepasan pertamanya.
Vienna terbangun ditengah malam. Rambutnya yang gelap menempel di wajahnya yang mungil karena keringat. "Mimpi apa aku barusan?" jeritnya jijik dalam hati. Namun bayangan mimpinya itu tampak sangat nyata. Dia bahkan masih merasakan kecupan Luca di bibirnya.
"Astaga. Vienna, kamu sangat menjijikan!" pekiknya dalam hati lalu memeluk tubuhnya. Jangan sampai aku memikirkan pria itu lagi. Jangan sampai aku memimpikan itu lagi.
Dia kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya yang nyaman. Matanya menatap nyalang ke langit-langit rumah. Terdengar sayup-sayup suara binatang malam bersahutan. Damai dan nyaman. Kehidupan pedesaan ternyata sangat damai.
Rumahnya sudah ada listrik dan air. Dan usahanya untuk membersihkan Pondok Cemara sudah terlihat memberikan hasil. Binatang-binatang yang menumpang tidur dirumah itu sudah diusir semua. Dia tinggal mengecat rumah itu lalu mengisinya dengan perabot. Vienna tak sabar untuk tinggal di rumahnya sendiri.
Bukan berarti tinggal di rumah Oma Cam tidak menyenangkan, sangat menyenangkan malah. Baru kali ini Vienna merasa dicintai dan dihargai. Tapi dia harus mengikuti rencananya untuk hidup mandiri. Uang simpanannya juga sudah mulai terkikis, dia harus cepat mencari uang untuk kehidupannya di depan.
Tapi, tiba-tiba bayangan bola hijau itu kembali. "Bagaimana kabar Luca sekarang ya?" pikirnya sambil kembali menutup mata. Entah kenapa, malam itu Vienna bisa tiba-tiba teringat dengan suaminya.
Di rumahnya, Luca sedang membawa wanita yang dia temui di bar tadi. Wanita itu berambut pirang bergelombang, persis seperti Vienna. Hanya saja matanya berwarna biru gelap. Wajahnya sebenarnya cantik, tapi polesan. Wanita itu terkekeh menggoda Luca dengan jarinya yang berkuku merah. Wanita itu sudah separuh polos, saat Luca mengajaknya ke kamar. Tapi entah kenapa bayangan Vienna muncul, dan Luca tidak bisa membawanya ke kamar mereka.
“Sangat bodoh, untuk apa memikirkan dia!” pikir Luca dalam hati. Lalu kembali mengecup bibir wanita di hadapannya. Wanita itu mengerang dan merangkulkan tangannya ke leher Luca.
Luca akhirnya membawa wanita itu ke kamar yang lain. Dengan tawanya yang menjijikan, wanita itu mulai menggeliat sambil melepaskan kain yang tersisa tubuh bagian atasnya. Tapi anehnya Luca sama sekali kehilangan gairahnya, semua erangan dan tawa dari wanita itu membuatnya muak. Dia menatap wanita itu dengan jijik.
“Ada apa sayang, kamu tidak mau menyerangku sekarang?" desah wanita itu sambil meraba tubuh Luca dengan penuh kerinduan. Tubuh pria itu hangat dan keras, wajahnya yang tampan menatapnya dengan dingin. Kemana pria yang menggodanya tadi? Wanita itu menjadi bingung dengan perubahan sikap Luca.
"Sayang, kemarilah, aku kedinginan?" undangnya lagi mendesah sambil menarik kemeja Luca. Tapi pria itu tiba-tiba mendorongnya.
"Maaf, sebaiknya kamu pulang saja. Aku kehilangan minat." Luca segera pergi meninggalkan wanita itu. Terdengar jeritan dan makiannya dari balik pintu. Luca segera memanggil Javier untuk mengurus wanita jáláng itu.
Luca segera kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Rasa jijik melanda dirinya. Dia merasa kotor dan semua gairah yang ada di bar tadi menghilang dan berganti dengan rasa muak. "Ada apa denganku, mengapa aku jadi seperti ini?" pikirnya sambil menatap bayangan dirinya di cermin.
"Síál kamu Vienna, semua ini gara-gara kamu!" Makinya dengan kesal.
Selama pencarian Vienna masih belum menemukan hasil, Luca tidak bisa tenang. Wanita itu harus ditemukan. Harus. Luca harus tahu kenapa wanita itu melarikan diri darinya? Apakah ada kesalahan yang dia lakukan? Atau ada yang harusnya Luca lakukan tapi dia tidak lakukan? Luca ingin bertanya langsung kepadanya, "Kenapa kamu pergi setelah mereka melewati malam yang luar biasa?" desahnya marah pada bayangan Vienna di benaknya.
Sedikit demi sedikit, dengan usaha Vienna yang pantang menyerah, rumah yang dinamakan Pondok Cemara itu mulai terlihat seperti rumah mungil yang cantik. Letaknya yang agak naik diatas bukit membuat rumah ini sangat menyenangkan untuk ditinggali karena Vienna akan memiliki lahan yang banyak untuk membuat kebun sayuran.
Sudah menjadi impiannya sejak merencanakan pelarian dirinya, kalau dia akan membuat kebun kecil untuk kebutuhan hidupnya. Dia akan kembali menekuni minatnya seperti jurusan kuliahnya dulu, sebelum papanya merebut cita-citanya.
Sore itu Liam datang untuk membawakan makanan untuk Vienna. Mulai hari ini Vienna sudah resmi tinggal di Pondok Cemara. Sebenarnya Liam sudah memperlambat semua proses kepindahan Vienna. Dia tidak mau Vienna pindah dari rumahnya. Namun setelah beberapa bulan, Pondok Cemara sudah siap.
Vienna mencari Lisa, namun batang hidup temannya itu tidak terlihat. Dia menatap Liam yang membawa makanan yang sepertinya tidak akan bisa Vienna habiskan dalam seminggu.
"Apa aja nih?"
"Sop kacang merah, roti Lisa, ayam panggang dan salad buah. Ada berbagai lauk lainnya yang oma masukkan disana." Vienna menerima kantong-kantong berisi makanan itu dan meletakkan di dapur. Liam mengikutinya dan mulai mengagumi rumah Vienna. Wanita itu berhasil menyulap rumah itu menjadi rumah yang cantik.
Tidak dapat dipercaya kalau ini adalah rumah yang sama beberapa bulan yang lalu. Kini rumah itu terlihat sangat nyaman dan hangat. Tidak sebesar rumah Liam, tapi nyaman. Pria itu menatap Vienna yang sibuk menata kotak makanan ke lemari pendingin.
"Kamu benar tidak apa-apa tinggal sendirian disini?" tanya Liam kembali mencoba merubah keputusan Vienna.
"Sudah pasti, aku sudah tidak sabar."
"Tapi rumah pasti terasa sepi, biasa kita kan bersama-sama makan dirumah. Tinggal sendiri tidak menyenangkan lho, nggak ada teman berbicara." Liam mendekati Vienna sambil menatap bola matanya yang abu-abu cantik.
Vienna tersenyum sambil mendesah senang.
"Justru itu yang aku tunggu-tunggu. Jangan salah sangka, aku sangat menyukai tinggal bersamamu dan Oma, tapi tinggal di rumahku adalah impianku dari dulu." Liam mendesah kalah.
"Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku, oke. Kapanpun, kalau kamu merasa kesepian, kamu harus berjanji, kalau kamu akan menghubungiku oke?" ujar Liam mendesak.
Vienna tidak akan kembali ke rumah Oma Cam, dia mau tinggal sendiri, dia ingin bebas hidup mandiri, dia sudah menunggu seumur hidupnya untuk itu, Tapi dia tidak mengatakan apa-apa pada Liam, dia hanya mengangguk sambil menepuk pundak pria itu.
"Lisa mana?" Liam menghela napas, pria itu tidak mau ada Lisa, dia hanya ingin bersama Wanita cantik dihadapannya malam ini.
"Dia sibuk, ada pesanan kue buat ulang tahun." Liam berbohong. Vienna mengangguk tiba-tiba merasa canggung hanya berdua dengan Liam, terlebih karena pria itu terus memandangnya dengan pandangan aneh.
"Wah sayang, aku mau memperlihatkan rumahku padanya," ucap Vienna kikuk. Liam mendekat dan mencoba menyentuh pipi Vienna. Tapi Vienna segera menghindar dan menutup wajahnya dengan tangannya.
Hati Liam mencelos karena wanita dihadapannya seperti ketakutan melihatnya, dia mendesah kesal, namun pandangannya tertumpu pada cincin yang melingkari jari manis Vienna.
“Ayana, kamu sudah menikah?”