Mata coklat Liam menatap tajam tangan Vienna, pria itu segera menangkap tangan Vienna dan menatap cincin yang melingkari jari manisnya lekat-lekat.
“Eh…” Vienna tergagap tidak siap dengan pertanyaan Liam.
“Aku…pernah menikah,” jawab Vienna setelah beberapa saat. Liam segera melepaskan tangan Vienna dan menatapnya bingung.
“Pernah?”
“Dia sudah tidak ada dalam hidupku lagi,” jawab Vienna. Liam terkejut baru menyadari kalau Vienna adalah seorang janda. “Apakah karena itu dia tampak selalu menjaga jarak padanya? Karena Vienna belum bisa melupakan mendiang suaminya?” pikir Liam dalam hati.
“Oh...sekarang kamu ada aku, ingat kalau ada apapun, masalah apapun juga, kamu harus segera menghubungiku, oke?” ujar Liam kagok, tanpa sadar kakinya sudah melangkah ke arah pintu keluar. Pandangannya kepada Vienna segera berubah.
“Oke, aku kembali dulu, hari sudah larut, kamu juga pasti mau beristirahat kan?” ujar Liam segera berbalik dan menuju mobilnya. Vienna menghela napas merasakan perubahan sikap Liam. “Janda, yah status dia bisa dikatakan seperti janda, tak semua orang menyukai janda,” desahnya dalam hati.
Sejak kejadian dengan wanita yang tiba-tiba membuatnya jijik itu, Luca semakin terobsesi dengan pencarian Vienna. Dia semakin frustrasi karena entah kenapa tubuhnya tidak bisa menerima wanita lain selain istrinya itu. Dia pernah kembali mencoba, namun hal yang sama kembali berulang. Dia tiba-tiba mual dan jijik dengan wanita itu. Luca sempat berpikir, karena kemiripan dengan istrinya maka dia merasa mual, tapi dengan wanita lain yang sangat berbeda dari Vienna pun dia tetap merasa tidak berselera. Ada yang aneh pada dirinya.
“Mengapa tubuhku jadi setia hanya dengan wanita tidak tahu diri itu?” pikir Luca sambil menatap foto pernikahan mereka di dinding. Foto itu dipajang di kastilnya, di ruang tengah, di kamar tidur, agar tidak ada yang curiga kalau Vienna tak pernah ada.
Dia tidak hanya cantik, tapi ada sesuatu yang membuat Luca benar-benar terperangkap oleh pesona Vienna. Dia mendesah kesal lalu kembali ke kamarnya. “Sampai kapan dia menghilang? Sampai kapan aku begini?” pikir Luca sedih.
Perkebunan Vienna sedikit demi sedikit mulai bertumbuh, dan dia mulai bisa mengkonsumsi hasil perkebunannya sendiri. Dengan cara hidroponik, semua sayurannya segar dan bebas pestisida. Lisa berjalan di antara lorong selada.
“Aku tak pernah menyangka, kalau kamu bisa berhasil membuat perkebunan seperti ini Yan, jujur saja, saat kamu cerita kalau kamu akan membuat perkebunan hidropobik, aku pikir kamu akan gagal.” Vienna tertawa pelan.
“Hidroponik, dan aku nggak langsung berhasil, kamu lupa, aku pernah buang satu kali pembelian bibit?” Lisa mendengus pelan.
“Hodroponik, apalah itu, iyah kamu pernah gagal, tapi ini luar biasa. Aku nggak akan terkejut jika nanti kamu bisa menjual hasil sayuranmu ini. Siapa tahu kamu bisa memasok untuk restoran Liam.” Vienna kembali tertawa.
“Hidroponik, dan aku hanya akan menanam apa yang aku mau makan.“
“Aku mau juga, boleh nggak? Sepertinya sayuran ini segar sekali.” Vienna mendengus tidak percaya. Lisa menoleh dan mengalihkan pandangannya dari sayuran di hadapannya.
“Lho, aku tidak bercanda, aku serius, aku mau ini dan ini, sepertinya enak buat salad,” ujar Lisa serius menyentuh tanaman dihadapannya. Vienna terdiam dan menatap Lisa dengan bingung.
“Serius kamu mau?”
“Serius, aku mau makan salad besok pagi… dan siang… dan malam.” Lisa mendengus sedih.
“Aku harus menurunkan berat badanku, Liam sepertinya sedang menyukai seseorang. Dia jadi lebih sering mandi.” Hati Vienna mencelos, dia teringat dengan pandangan aneh Liam waktu itu. Dia sangat menyukai Lisa, jangan sampai wanita itu membencinya. Dia menatap Lisa yang mungil.
“Kamu cantik, dan tidak perlu menurunkan berat badan. Tubuhmu sempurna.” Lisa mencibir.
“Tubuhmu yang sempurna, aku apalah? Depan belakang rata, dan pendek, aku persis anak SMP. Kapan Liam bisa melihatku sebagai seorang wanita,” dengusnya sedih. Vienna tidak menjawab, dia segera memanen sayuran yang dipilih Lisa tadi dan memberikannya kepada Lisa.
“Besok kita shopping dan makeover, aku tahu baju yang pas untukmu,” gumam Vienna tersenyum. Memang sudah lama dia ingin mendandani Lisa. Sahabatnya itu tersenyum dan memeluknya dengan senang.
“Janji ya, aku senang kamu pindah ke sini, Yan. Aku memiliki sahabat yang walaupun cantik, tapi baik hatinya,” ucap Lisa serius. Hati Vienna juga terasa hangat. Dia juga sangat bersyukur dapat pindah ke desa ini dan memiliki sahabat seperti Lisa. Dia merasa dicintai dan dihargai. Sesuatu yang tak pernah dia rasakan seumur hidupnya.
…
Malam itu, Luca mencoba lagi. Tidak mungkin jika dia terjebak dengan jerat Vienna, dia harus bisa mengatasi rasa muaknya, semua wanita itu sama. Tidak ada bedanya.
Dia menatap sekeliling bar dan mencari mangsanya. Dengan wajah tampan, mata hijau yang memikat, Luca segera membuat hampir seluruh wanita di bar itu menoleh.
Luca mendengus, dan duduk di meja bar. Sambil menunggu. Tak lama, ada wanita datang mendekatinya.
"Well tampan, bagaimana kamu bisa sendirian?" Wanita itu menyentuh pundak Luca dengan jari telunjuknya dan menyusuri lengan kekar pria itu dengan kekaguman. Luca mendengus dan menerima minumannya dari bartender, pria itu tahu minuman Luca tanpa memesan.
"Kalau sendirian, ... bolehkah ... aku menemanimu?" Wanita itu mendesah berbisik ke telinga Luca. Pria itu menoleh dan menilai. Rambutnya keriting berwarna merah, alisnya hitam dengan bibir bergincu merah menyala. Wanita bermata hitam jelaga itu tersenyum dan menatap manja kepada Luca. Tapi pria itu mendengus.
"Maaf, saya tidak tertarik." Senyuman wanita itu segera berubah. Dia mendengus kesal. Dia segera menepis rambut panjangnya dengan kesal lalu berdiri meninggalkan Luca.
Bartender tertawa dan mendekati Luca. "Cantik dia, hanya… terlalu berani." Luca mendengus sambil menenggak minumannya dengan sekali teguk.
"Sudah bosankah kamu dengan istrimu itu sampai kamu kembali bermain disini?" tanya Timmy separuh mengejek. Luca mendengus kesal. Dia menatap temannya itu sambil menerima segelas baru darinya.
"Harus ada selingan. Hidup tak boleh monoton," ujarnya dengan angkuh. Tidak ada yang boleh tau kalau Vienna melarikan diri darinya. "Apalagi jika ketahuan setelah malam pertama dengannya, entah bagaimana gosip yang akan beredar nantinya," pikir Luca dalam hati memutar tubuhnya dan memandang ke sekeliling bar.
"Ada gadis baru tuh, cantik, sudah ada beberapa pria mendekati tapi belum ada yang hoki." Temannya menunjuk ke arah ujung bar. Ada seorang wanita berambut pendek hitam, dengan baju yang sangat kekurangan bahan.
"Nilainya?" Timmy mendengus. Dia teringat penilaian Luca terhadap istrinya dulu. Wanita yang luar biasa cantiknya itu dia nilai 7, standar penilaian Luca memang terlalu tinggi.
"Buatku aku berikan nilai 8, tapi… dengan standarmu aku tak tahu lagi," jawab Timmy kembali mengisi gelas Luca yang kosong.
Pria itu menatap ke ujung bar. Wanita itu merokok sambil menenggak minuman dengan cepat. Luca mencoba peruntungannya. Dia berdiri lalu memenggak minumannya lagi.
"Aku coba lihat, apakah dia pantas mendapat nilai 8." Timmy tertawa lalu melambaikan tangannya kepada Luca. Pria itu mulai merasa kepalanya agak ringan saat melangkah mendekati wanita itu.
Dia duduk dengan tenang dan meminta Timmy mengisi gelasnya lagi.
"Aku tak tertarik, apapun yang kamu akan katakan, aku tak tertarik," ujar wanita itu begitu merasakan Luca duduk disebelahnya
"Siapa namamu?" tanya Luca mengabaikan ucapan wanita itu, tapi wanita itu juga mengabaikannya. Luca langsung merasa tertantang, mungkin kemarin karena wanita itu terlalu bersemangat, sehingga Luca kehilangan nafsu, "Tapi kalau seperti ini mungkin dia bisa…" pikirannya terputus saat wanita itu menatapnya.
Warna mata wanita itu abu-abu persis istrinya, walau rambutnya pendek tapi entah kenapa di langsung teringat akan istrinya. Luca menggertakkan giginya.
"Ini tidak boleh dibiarkan, kamu Luca Christiano, playboy yang bisa mendapatkan siapa saja yang kamu mau, kenapa sekarang hanya wanita itu yang ada di kepalamu, bódóh!" maki Luca dalam hatinya kepada dirinya sendiri.
"Kenapa? Aku jelek ya?" Dan saat mendengar kata-kata itu langsung membuat hati Luca mencelos, karena kata-kata itu persis yang dikatakan Vienna. Dia segera berdiri dan meninggalkan bar. Sahabatnya Timmy dengan heran segera memanggilnya, tapi pria itu dengan cepat meninggalkan bar.
"Dasar gila, kenapa aku tidak bisa melepaskan Vienna dari kepalaku?" makinya saat masuk ke mobil. Mendengar dengusan Luca, Javier segera mengerti dan membawa tuannya kembali ke rumahnya.