Dua tahun berjalan, kini Vienna memiliki perkebunan sayuran yang cukup besar. Ternyata yang berawal dari Lisa, muncul orang-orang desa lain yang menginginkan sayuran segar dari perkebunan Vienna. Kini Vienna sudah memasok sayuran untuk kafe Liam dan juga supermarket di pusat desa.
Dia mendesah sedikit takut. Bagaimana jika karena usahanya yang tiba-tiba berkembang tanpa dia kehendaki itu, membuatnya terdeteksi oleh keluarganya? Kalau suaminya… dia yakin kalau pria itu tidak akan mempedulikan dia. Luca Christiano adalah playboy sejati, hanya saja Vienna begitu bodoh dengan polosnya meminum obat perángsáng dari papa Toni, sehingga dia bisa jatuh dalam pelukan pria itu.
Menyesal, Vienna sangat menyesal, seharusnya dia bisa meninggalkan rumah itu lebih cepat. Tapi jika mengenai percintaan mereka, Vienna bingung. Walau sudah dua tahun. Pandangan mata Luca yang menatapnya di altar pernikahan, atau kenangan sekilas saat malam pertamanya, sangat membius Vienna. Dia tidak bisa melupakannya. Bayangan itu sering muncul dalam mimpinya, dan dia merasa sangat bersalah masih mengingat suaminya itu.
"Hoi, kamu ngapain!" tegur Lisa menepuk pundak temannya. Vienna terlonjak kaget karena tidak menyadari sahabatnya sudah datang untuk mengambil jatah sayurnya pagi itu.
Vienna kini sudah memiliki beberapa anak buah yang sudah menyiapkan dalam kotak sayuran segar untuk Lisa.
"Ah aku sangat suka melihat hijau-hijau begini," ujar Lisa mengaggumi kebun Vienna. Rumah kaca Vienna besar dan memanjang ke belakang. Dengan deretan rapi sayuran yang berbeda tahap pertumbuhannya, memang rumah kaca Vienna sangat cantik. Suhu dalam ruang kaca ini juga diatur sedemikian rupa sehingga sayurannya segar sempurna.
"Eh kalau aku kirim ke kota boleh tidak?"
"JANGAN!" teriak Vienna tiba-tiba, mengagetkan Lisa yang segera berbalik menatapnya. Vienna langsung takut kalau nanti pihak keluarganya tahu dia dimana.
"Hah? Kenapa?" Lisa mendekati Vienna yang terlihat takut.
"Ada apa Yan?" Vienna tersadar dan tersenyum.
"Nggak apa-apa, aku hanya belum siap buat seperti itu. Nanti kalau ada masalah bagaimana?" Vienna segera beralasan. Lisa mencubit gemas pipi Vienna.
“Kamu terlalu banyak takut, santai saja, sama seperti waktu aku pertama minta sayuranmu untuk toko rotiku, atau buat Liam. Buktinya, semua orang menyukai sayuranmu kan.” Vienna segera melepaskan diri dari cubitan Lisa dan menyentuh pipinya dengan kesakitan.
“Yah… pokoknya aku nggak mau dulu,” tegasnya sambil membetulkan kacamatanya.
“Aku selalu heran denganmu, mengapa kamu memakai kacamata aneh seperti itu?” tanya Lisa, kesal dengan sahabatnya yang mengenakan kacamata bergagang tebal berwarna hitam. Kacamata itu sangat menutupi kecantikan mata abu-abu milik Vienna. Sahabatnya itu mendekati Vienna lalu mengambil jarinya.
“Karena ini ya?” tanya Lisa mengagetkan Vienna yang segera menarik tangannya. Sampai sekarang Vienna tidak mengerti mengapa dia tidak melepas cincin pernikahannya. Awalnya terasa sulit karena cincin itu sangat pas di jemarinya. Namun, cincin itu pernah terlepas saat dia mencuci piring, tapi Vienna segera mengenakannya lagi.
“Ah ini, aku memakai cincin ini, agar tidak ada yang menggangguku. Aku paling malas jika ada yang tiba-tiba mendekatiku.” Vienna memandang cincin pernikahan. Bayangan wajah Luca segera terbayang dan dia segera mengalihkan perhatiannya pada sayurannya lagi.
“Seperti apa dia?”
“Apaan sih?” Vienna segera menghindar. Dia tidak mau membicarakan Luca. pria itu hanya masa lalu, tidak perlu diingat-ingat.
“Pria yang menyematkan cincin ini ke jarimu, seperti apa rupanya?” desak Lisa sangat penasaran. “Aku hanya mau tahu siapa yang membuat hatimu membeku seperti sekarang. Aku tahu ada beberapa pria di pusat desa menyukaimu bahkan pernah meminta bantuanku untuk menyatakan cintanya padamu, tapi sepertinya semua kamu tolak” ujar Lisa menyelidik.
“Ah, bukan begitu aku hanya fokus untuk mengurus rumah dan sayuranku, aku tak punya waktu untuk percintaan yang tidak penting.
“Memang susah bicara dengan orang cantik, percintaan adalah pilihan bukan seperti aku yang harus mengemis-ngemis cinta.” Lisa mendesah sedih.
"Ish, bukan begitu, aku benar-benar hanya akan serius pada pekerjaanku." Lisa menatap wajah sahabatnya sungguh-sungguh.
"Ganteng ya? Baik orangnya? Seperti apa warna rambutnya atau matanya, apakah hitam? Atau coklat yang hangat?" Lisa segera menyebutkan ciri khas Liam, dan membayangkan bola mata Liam saat pria itu tersenyum kepadanya. Dia mengerang sedih, kapan pria itu mau membuka hatinya, kemarin dia seperti menyukai seseorang, tapi kini, dia seperti tidak tertarik dengan wanita. Dan yang lebih menyedihkannya, Lisa tetap dianggapnya sebagai sahabat.
"Hijau…matanya tajam dan berwarna hijau." Lisa terperangah ini pertama kalinya Vienna menceritakan isi kepalanya.
"Wah hijau, sangat unik ya, aku juga suka mata warna hijau. Tapi, bagiku tetap bila mata coklat hangat yang sangat aku rindukan. Vienna menutup mulutnya, tersadar kalau dia baru membicarakan Luca. "Ini sudah 2 tahun berlalu, mengapa aku masih juga belum bisa melupakan mata hijaunya itu," keluhnya dalam hati.
Luca kini juga berubah, dia yang dulu yang masih sering bermain di dunia malam, kini hanya fokus bekerja. Perjanjian dengan keluarga Hart sudah selesai dan proyek bersama mereka akan dimulai. Awalnya Luca takut ayah Vienna akan mencari anaknya dan membatalkan perjanjian saat tahu anaknya hilang. Tetapi ternyata pertanyaannya hanyalah basa-basi belaka. Saat Luca mengatakan Vienna di rumah, dan Luca tidak mau istrinya keluar dari rumah. Pria tua itu tidak curiga sama sekali, atau bahkan tidak peduli?
Siang ini dia akan meninjau kota tempat rencananya perumahan mewah baru yang perusahaan Luca akan buat. Traktor dan buldozer akan mulai datang untuk meratakan tanah. Setelah meninjau sekilas dia akan pulang kembali ke rumah.
Walau kini kehidupannya seakan membosankan, tapi ternyata dia menyukainya. Tidak ada drama, tiba-tiba ada wanita yang datang mengaku hamil anaknya, atau mantan pacar yang merengek minta kembali kepadanya. Pura-pura menikah dengan bahagia dengan Vienna adalah ide yang terbaik. Walau Luca sendiri sebenarnya tersiksa saat malam datang dan kenangan malam pertama mereka muncul tanpa diundang sama seperti malam ini.
Luca kembali memimpikan Vienna yang berlari sambil tertawa menyusuri lorong. Sedikit demi sedikit bajunya dia sudah lucuti. Tawanya bergaung di lorong kastil Luca. Pria itu masih mengingat itu semua seperti baru terjadi kemarin.
Vienna yang cantik berhenti berlari dan menunggunya di tengah tangga dengan terengah-engah, bibirnya yang mungil tersenyum menunggunya. Dan saat dia datang dia langsung mèlùmàt bibir itu.
Vienna tertawa dan menatapnya, dengan wajah memerah, dia sudah terbaring di bawah tubuhnya yang juga polos. Dalam mimpinya Luca seakan terbang dari adegan sebelumnya ke adegan berikutnya. Kini Vienna sudah pasrah menunggu Luca.
“Sabar sayang, aku akan segera datang,” ucap Luca mendesah dan bersiap. Dia mencium bibir Vienna yang membengkak karena hisapannya tadi dan memulai penyatuan itu.
Terlihat ada rasa sakit luar biasa ada di bawah sana, wanita itu terlihat ingin membatalkan semua ini. Keningnya berkerut kesakitan, walau Luca melakukannya dengan selembut mungkin, wanita itu menjerit liar dan mendorong suaminya agar pria itu melepasnya.
Tapi Luca segera memegang tangannya dengan erat. Luca kembali menahan gelora dalam dirinya yang sudah mau meledak dan kembali mencumbu Vienna dalam mimpinya. Saat mendengar desah dan erangan terlepas dari bibir istrinya, dia kembali mencoba penyatuan itu. Jeritan istrinya memekakkan telinga, wanita itu seakan mengamuk, tapi kembali Luca mengecupnya dengan sabar. Mimpi ini terlalu nyata, Luca terlalu merindukan istrinya.
“Sayangku, tahan sebentar, aku tak pernah menyangka aku yang pertama, maafkan aku,” bisik Luca waktu itu pelan untuk menenangkan istrinya yang mengamuk.
Dia ingat dia terus mencium Vienna dengan lembut sambil terus menahan dirinya agar tidak memaksanya, sampai sakit menusuk itu lama kelamaan menghilang, gairah Vienna kembali dan memandang langsung ke mata suaminya yang tersenyum padanya. Hatinya bergetar, dan penyatuan itu dimulai.
Luca tak pernah menyangka, ternyata istrinya masih suci. Saat melihat kenakalannya tadi, Luca berpikir dia mungkin entah yang keberapa. Dia terus memperdalam dirinya, dan membuat tanda di sekujur tubuh istrinya.
Wanita itu mengerang dan menggeliat sambil menggigit bibir bawahnya. Sampai akhirnya Luca tak tahan lagi dan menegang bersama istrinya. Rasanya sangat luar biasa, Luca tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Dia mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Luar biasa, kamu luar biasa, sayang," Luc berkata lembut dalam mimpinya. Tanpa sadar ada air mata yang mengalir dalam mimpinya.
"Vienna, aku merindukanmu," desahnya jujur saat terbangun dalam mimpinya. Hatinya kosong dan terasa pilu. Selalu begitu setelah memimpikan malam pertama mereka yang panas, kesepian langsung merasuk di hati Luca.
"Sudah dua tahun berlalu, dan aku masih juga belum bisa melupakannya, sejak kapan aku menjadi seperti ini?" keluh Luca sambil mengusap wajahnya.