Pagi itu Luca bangun pagi dengan kepala pusing. Mimpinya semalam membuatnya tidak bisa tidur kembali. Luca merasa konyol karena terus terbayang wajah Vienna. Malam itu malam ulang tahun pernikahan mereka. Dia merasa kesal sendiri karena membuang tempat di kepalanya dengan mengingat tanggal itu.
Vienna sudah sukses melarikan diri, usaha untuk mencari wanita itu sudah lama terhenti. Karena Luca sama sekali tidak ada petunjuk. Luca hampir gila karena mencari wanita itu, dia juga kehilangan kemampuannya untuk mendapatkan wanita yang baru.
Luca berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Dia menatap wajahnya yang kini lebih tirus. Matanya yang hijau membalas menatapnya kembali. Dia menatap bulu-bulu kasar yang ada di wajahnya. Dulu Luca selalu mencukur sehingga licin, kini dia tak peduli lagi. Dia langsung membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke lokasi proyek perusahaannya yang baru.
Perjalanannya agak jauh sehingga, Luca yang kurang tidur, tertidur di jalan. Dia terbangun saat mobil berhenti karena ada rombongan pengantin lewat. “Dasar orang kampung, menikah sampai membuat jalan tersendat seperti ini,” pikir Luca dengan gusar bangkit menegakkan duduknya.
Pria itu menatap sekilas wanita yang lewat di sebelahnya. Entah karena dia sangat merindukan istrinya atau karena dia baru memimpikan Vienna lagi, wanita yang baru saja lewat sangat mirip dengan Vienna. Hanya saja wanita itu berkacamata hitam dan berambut hitam.
Sepertinya pulang dari pekerjaan onsite ini, Luca harus segera ke psikiater, dia terlalu sering memimpikan istrinya itu. Psikiater pasti dapat membantunya untuk menghilangkan obsesinya kepada Vienna.
Lisa menggandeng tangan Vienna dengan senang, Ini pertama kali Vienna mau ikut parade ke rumah pengantin. Lisa bertugas untuk mengirim seserahan dari toko rotinya ke pengantin perempuan. Untungnya Vienna mau membantunya untuk membawa puding. Tangan dia sendiri sudah penuh dengan cake cantik berwarna putih yang dipenuhi bunga-bunga.
“Makasih ya mau temani aku membawa seserahan ini. Unik kan kita seperti ini. Nanti pihak wanita menilai seserahan ini, apakah mereka mau terima atau tidak, coba kamu lihat wajah pengantin prianya tuh, gugup sekali kan?” Lisa terkikik melihat pria gempal berkulit pucat yang terlihat sangat gugup berjalan di belakang mereka.
Pria itu memang terlihat sangat gugup, rambut pirangnya menempel di keningnya, karena dia berkeringat sampai basah kuyup. Vienna agak kasihan melihatnya. Tapi apa yang dikatakan Lisa benar, ini sangat menyenangkan. Mengikuti tradisi seperti ini, membuatnya merasa penting dan menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Vienna senang karena merasa dibutuhkan.
“Kau tahu, Richard, nama pengantin pria itu, pernah menyatakan cintanya padaku dulu.” Lisa terkikik lagi. Vienna terbelalak dan menatap pria itu lagi.
“Lalu?”
“Ya, tidak ada lalu. Aku menolaknya langsung. Cintaku hanya untuk Liam.” Vienna memutar bola matanya.
“Liam Levon, tidak ada hari selain membicarakan dia.” Lisa mendesah sambil tersenyum lebar.
“Soalnya dia ganteng banget, bola matanya coklat karamel, dan sangat hangat. Ah andai dia menyadari perasaanku.” Lisa mengerutkan wajahnya. Vienna menatap sahabatnya, dan tanpa sadar ikut menghela napasnya panjang. Sahabatnya sudah jauh berubah sejak 2 tahun yang lalu. Wanita di sebelahnya sudah melepas bando yang kekanak-kanakkan yang dia suka kenakan. Rambutnya yang tebal kecoklatan panjang sepunggung dengan indahnya. Dia mengenakan riasan tipis hanya untuk menyembunyikan bintik-bintik di wajahnya, tidak seperti dulu yang sangat tebal. Wajahnya yang imut kini terlihat segar dan manis.
Vienna merasa Liam tahu kalau Lisa memang menyukainya, hanya saja pria itu memilih untuk tidak menanggapinya. Entah kenapa Liam tidak mau membuka hatinya untuk Lisa. Padahal menurut Vienna, mereka adalah pasangan yang sangat sesuai.
Mereka sampai di rumah pengantin. Wajah pengantin pria semakin pucat saat dia mengetuk pintu. Tak lama keluar pria dengan wajah yang sengaja dibuat seram. Namun nyali Richard yang sudah gugup semakin menciut, suaranya hilang dan dia seperti mau menangis.
“Ngerti kan kenapa aku tidak terima dia, pria itu harus jantan. Tegas dan berwibawa, ya kan Yan?” Lisa menyenggol Vienna yang sedang memandangi cincinnya.
Wanita itu tiba-tiba teringat dengan pernikahannya sendiri. Luca yang gagah menunggunya di tengah altar, dia berdiri tegak dan memandangnya dengan berani. Vienna yang sebenarnya tidak merasa nyaman dan ingin melarikan diri saat itu juga, tiba-tiba merasa aman karena pandangan bola mata hijau Luca yang tak terputus.
Tangannya terasa hangat saat Papa Toni menyerahkan tangannya ke tangan Luca. Vienna ingat dia begitu gugup dan berdebar saat menyadari pria yang di hadapannya begitu tampan. Dia juga pencium yang hebat. Vienna kembali membayangkan ciuman pria itu yang membuatnya lupa sesaat, ketika mereka selesai mengucapkan janji. Tanpa sadar Viena menyentuh bibirnya.
“Ya kan Yan?” ulang Lisa sambil menyenggol Vienna yang melamun.
“Eh, iya. Pria harus jantan dan gagah,” balasnya sambil tersenyum gugup. “Seperti Luca.”
Suara di dalam benaknya tiba-tiba terdengar membuat Vienna mendengus kesal.
Luca melihat deretan traktor yang sudah siap bekerja. Pagar beton juga harus mulai dikerjakan untuk memagari tanah mereka. Para pegawainya menerbangkan drone supaya Luca dapat seksama melihat ujung-ujung tanah mereka.
“Pagar harus selesai dengan tempo secepat-cepatnya. Kalau tidak, nanti pasak kita bisa dipindah lagi. Kalian tahu orang bisa saja berbuat seperti itu kan?” ujar Luca tegas setelah puas melihat pemandangan dari drone.
“Baik pak, dalam beberapa bulan semua akan selesai sesuai dengan rencana.” pemimpin proyek menundukkan kepalanya kepada Luca. pria itu sudah menjilatnya dari pertama dia datang. Luca sebenarnya sudah muak dengan pria tua itu.
“Oke, dengan penduduk sekitar tidak ada masalah kan?” tanya Luca kepada Javier, tapi pria tua itu yang kembali menjawab.
“Tidak ada masalah sama sekali Pak. Mereka sangat mendukung proyek ini. Karena dengan adanya proyek perumahan ini, Desa Maple pasti akan terkena imbasnya. Peningkatan lowongan pekerjaan akan memberikan dampak yang baik bagi desa.” Pria itu terlihat sangat bangga sekali. Luca mendengus, sudah pasti akan memberikan dampak baik. Luca akan membangun sebuah kota satelit disini. Desa yang terbelakang akan segera maju dikarenakan Luca. Tiba-tiba perutnya bergetar. Luca dengan malu menutup perutnya dan menatap asistenya. Javier tersenyum simpul mengerti dan menunduk.
“Pak Luca sudah selesai inspeksi, kita akan segera kembali ke kota. Terima kasih atas waktunya.” Javier menunduk sedikit lalu Luca segera berbalik dan berjalan ke mobil. Tapi Bapak tua itu segera mengejarnya.
“Bapak lapar kan? Ayo saya antar ke restoran yang sangat terkenal disini. Banyak wisatawan yang datang khusus untuk menikmati hidangan di restoran ini. Hanya satu-satunya di negara kita pak. Kalau bisa, nanti bapak bujuk pemiliknya untuk membuka cabang di kota kita, pasti investor lain akan ikut,” jelas pria itu dengan bangganya.
Luca mendengus. Dengan mendengar Luca akan membuat kota baru, investor sudah mengantri untuk menanamkan modal. Luca tidak membutuhkan restoran kecil ala desa untuk membawa investor ke kotanya. Lihat saja keluarga Vienna, ayah Vienna segera menjual anaknya agar dia diperbolehkan membangun Mall di kota Luca nanti.
Tapi perutnya memang sudah melilit, dia merasa sangat lapar karena dari semalam dia tidak makan. Mungkin tak ada salahnya melihat restoran itu.
“Oke, tidak ada salahnya, mari kita ke restoran itu.” Javier menatap Luca dengan heran sesaat lalu menunduk.
“Oke, nama restorannya The Levon’s, Bapak pasti akan kembali lagi. Masakan mereka sangat lezat.
“Javier, kamu dengar? The Levon’s,” dengus Luca separuh mengejek. Javier menunduk dan membuka pintu mobil. Luca masuk ke dalam mobil tanpa sadar kalau hidupnya akan segera jungkir balik kembali.