Kota Satelit

1201 Kata
Sudah lama Liam mengetahui bahwa tanah kosong di sebelah desa mereka akan dibangun perumahan yang baru. Namun dia baru tahu kalau perumahan itu akan menjadi seperti sebuah kota satelit baru yang akan mengubah kehidupan mereka. Pak Brian adalah kepala proyek kota tersebut. Pria sombong itu berulang kali bercerita betapa penting dan besarnya proyek yang dia tangani kini. Liam biasanya mendengarkannya dengan sebelah telinga. Tapi kali ini dia membawa seseorang yang memang terlihat berbeda. Pria itu terlihat sangat mahal dan tidak dapat dianggap main-main. Luca membaca menu dan menentukan pilihannya dengan cepat. Dia sangat lapar, perutnya mulai terasa perih. Dia berbisik pada Javier, dan pria itu segera mengikuti pelayan ke dapur. “Tolong jangan lama, Tuan saya sangat lapar, Saladnya dahulu boleh di keluarkan.” Javier berbisik pada pelayan sambil menyelipkan lembaran 20 dolar pada kantung pelayan. Pemuda yang diberikan segera mengangguk cepat. 20 dolar adalah upahnya sehari. Dengan semangat Jesse berteriak kepada Liam agar pesanan pria itu di dahulukan. Liam mendengus kesal, dia tak suka pekerjaannya diatur. Namun melihat wajah Jesse yang bersemangat membuatnya mengalah dan mengikuti keinginan pemuda itu. Salad yang dihidangkan pertama sebenarnya terlihat biasa saja. Luca sebenarnya agak kecewa, karena sebelumnya Pak Brian sudah bercerita panjang lebar tentang perkebunan hidroponik yang menjadi sumber pemasok utama untuk bahan salad ini. Dengan mendengus Luca mengambil suapan pertamanya dan langsung jatuh cinta. Semua yang diucapkan oleh Pak Brian tidak berlebihan. Salad ini memang sangat lezat dan segar. Warna dan sayurannya benar-benar dalam kondisi sempurna. Tanpa sadar pria itu sudah menghabiskan semangkuk penuh dan memesan lagi, Luca baru pertama kali memakan salad selezat itu. Dengan senang Jesse memberikan pesanan itu, Liam mendengus bangga saat mendengar pujian yang diberikan. Dia segera membuat salad yang kedua yang langsung habis dalam waktu yang cepat. Baru kali ini Luca makan dengan puas, karena selain salad, semua masakan yang dihidangkan juga sesuai dengan selera Luca. Pria itu tersenyum puas dan menepuk pundak Pak Brian dengan senang. Wajah Pria itu memerah karena bangga sambil berharap Luca akan mengingatnya. Dia menutup pintu mobil Luca dengan hormat lalu melambai sampai mobil Luca tak terlihat. Setelah debu dari mobil itu hilang dia segera kembali ke dalam restoran. “Liam, terima kasih atas masakan yang enak, terutama atas saladmu yang luar biasa. Pak Luca sangat senang sekali, Dia sangat menyukai saladmu,” puji pria paruh baya yang bertubuh gempal itu. Senyuman Liam semakin melebar. Dia sangat bangga karena pujian pria tadi. Pria itu terlihat bukan sembarangan, pujiannya pasti bukan main-main. "Dia kan akan bangun kota baru, kamu bisa bangun cafe keduamu disana tuh." Liam menatap bapak tua di depannya. Pria itu menatapnya dengan penuh harap. "Hmm, akan aku pikirkan. Ide Pak Bryan tidak buruk juga," pria itu tertawa senang sambil menepuk pundak Liam lalu beranjak pulang. Liam mendengus menatap pria itu melambai kepadanya sambil menatap tumpukan sayur yang menjadi bahan utama masakannya. Dia tersenyum dan segera beranjak menuju Pondok Cemara. Vienna sedang mengatur suhu udara dalam rumah kacanya saat Liam datang. Sejak pertanyaannya tentang cincin kawin Vienna, pria itu terasa menjaga jarak. Tapi Vienna menyukai itu, dia takut Lisa akan membencinya jika ada sesuatu terjadi antara mereka. Pria itu melambai dengan senyuman lebarnya lalu Vienna membalasnya. Dengan kaki panjangnya, Liam segera sampai tempat dimana Vienna berdiri dengan cepat. "Hai, kamu masih disini saja." Pria itu menyapa Vienna dengan hangat. Vienna mengangguk lalu menuju lorong tanamannya yang lain. "Eh, tau nggak, tadi aku kedatangan tamu penting." Vienna mengambil lap dan membersihkan kotoran yang sedikit mengotori wadah sayuran hidroponiknya. Liam mengikuti Vienna sambil melanjutkan ceritanya. "Mereka adalah kontraktor untuk membangun kota sebelah." Vienna tiba-tiba berhenti dan menatapnyq sehingga Liam terkejut dan berhenti berjalan juga. "Kontraktor?" tanya Vienna dengan jantung berdebar. "Iya, tanah kosong yang ada di desa kita akan dibangun menjadi sebuah perumahan." Liam menatap heran Vienna yang menjadi serius memperhatikannya. Dia masih saja mengenakan kacamata konyol bergagang hitam tebal itu. Matanya yang cantik jadi menghilang. Juga rambutnya yang hitam pendek, jika dulu dia sangat cantik kini dia menjadi cukup cantik. "Oh, kamu kenal dekat dengan kontraktor itu?" Vienna bertanya dengan suara lembutnya. Luca memiringkan kepalanya. Mungkin wanita ini ingin mengubah penampilan dirinya. Namun, dari suara yang lembut dan santun, orang tahu kalau Vienna berbeda. "Nggak begitu, bapak tua itu hanyalah salah satu langgananku," jawab Liam santai. Vienna merasa lebih tenang mendengar kata bapak tua disana. "Bapak tua, bukan pria tampan," pikirnya dalam hati. "Nah, aku kesini mau cerita tentang rencana bapak itu, dia memintaku untuk membuka restoran keduaku di kota itu, tadi mereka makan saladmu, dia suka sekali sayuran dari perkebunanmu, Yan," ujar Liam dengan membusungkan d**a, berharap mendapat pujian atau respon senang dari Vienna. Tapi entah kenapa pujian itu malah membuat Vienna menjadi berdiri terpaku kembali. "Buat restoran kedua?" Liam mengangguk dengan semangat. Vienna kembali merasa takut, hatinya mencelos. Dia menatap Liam yang bersemangat dihadapannya. Pria itu tidak setinggi Luca, wajahnya sama seperti Lisa berbintik-bintik. Rambutnya yang kecoklatan tebal dan terbelah dua. Hidungnya tinggi dengan bibir yang tebal. Matanya yang coklat hangat menatap Vienna dengan penuh harapan. Vienna tahu apa maksudnya datang tiba-tiba ini. Dia mendesah dan kembali berjalan. "Ayana, jangan begitu, kamu pasti bisa, kamu awalnya juga takut memasok sayuran untuk restoranku, tapi ternyata kamu sanggup kan? Malah pengirimanmu yang tak pernah terlambat." Liam berusaha untuk membujuk Vienna yang langsung terasa menarik diri. "Aku tidak bisa janji, perkebunanku hanya sekecil ini, dan sudah memasok di berbagai tempat. Aku takut tidak bisa memenuhi quotamu nanti." Liam mendengus kasar, lalu mendekati Vienna dan tiba-tiba menyentuh pundaknya, menahan wanita itu untuk pergi. "Ayana, kita bisa buat rumah kaca lagi di bagian belakang Pondok Cemara itukan juga tanahmu, bukankah pada awalnya kamu memang mau membuat dua rumah kaca?" Vienna mendesah kesal. "Kenapa dulu aku menceritakan semua itu pada Liam!" keluhnya menyesal. "Ish… mau, tapi nanti maksudnya, nggak sekarang juga." "Yana, sudah dua tahun berjalan, sudah seharusnya kamu memang membuat rumah kaca yang kedua. Hidup itu memang harus semakin berkembang, bukan menciut." Semangat Liam semakin berapi-api. Napasnya menderu dan mereka saling bertatapan dengan tangan Liam masih ada di pundak Vienna. Muncul rasa yang dulu pernah Liam coba hilangkan kepada Vienna saat dia melihat cincin Vienna. Awalnya dia pikir Vienna melarikan diri dari suaminya, tapi karena tak pernah muncul selama 2 tahun ini, berarti pria itu memang sudah tidak ada di hidup Vienna. Pria itu menjadi yakin untuk kembali mendekati wanita di hadapannya ini. "Yana," panggilnya begitu lembut, membuat Vienna tiba-tiba bergidik. Dia segera mencoba melarikan diri tapi pundaknya ditahan erat oleh Liam. "Aku pikir kamu tahu, perasaanku padamu…" Pria itu mendesah pelan tanpa melepas pandangannya ke bola mata abu-abu di hadapannya. "Aku nggak ngerti, ada apa sih Liam? Lepaskan aku," pinta Vienna yang tidak digubris oleh Liam. Pria itu malah menyentuh ujung dagunya. Dan membuat Vienna menatap bola matanya saja. Wanita itu mendesah pelan. "Aku…" "Permisi, apakah ini Pondok Cemara?" tanya suatu suara dari belakang mereka. Liam menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ternyata asisten bos Pak Brian. Pria itu masuk diikuti dengan pria yang terlihat penting tadi. Vienna menggunakan kelengahan Liam untuk melepaskan diri dari pria itu. Tapi dia hampir menjatuhkan dirinya ke lantai saat menyadari siapa yang datang. "Luca...itu Luca Christiano, bagaimana dia bisa sampai kesini?" tanya Vienna dalam hati dengan jantung yang tiba-tiba berdebar secepat kereta api berlari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN