Luca terbangun karena merasa kehangatan sinar matahari yang mengenai wajahnya. Kicauan burung terdengar dari luar terasa asing bagi Luca. Tidak pernah terdengar suara kicauan burung di kastinya, Dia membuka matanya dan tersenyum menatap langit-langit dari kayu rumah Vienna. Rumah ini walau kecil dibandingkan kastinya, anehnya terasa sangat nyaman, Luca menggeliat meregangkan tangannya lalu duduk di sofa. Tidurnya nyenyak padahal dia hanya tidur di sofa, dia melirik ke arah pintu Vienna lalu tersenyum miring. Dia segera berdiri dan melangkah pelan menuju kamar Vienna. “Seperti apa wajahnya kalau tertidur ya?” pikirnya penasaran. Dia membuka pintu sambil berharap kalau pintu tidak terkunci. Pintu terbuka dengan mudah, Luca mendengus dengan senang. Dia masuk dan segera berjalan menuju tempa

