Luca menatap wajah istrinya yang sedang menunggu kecupannya, jantungnya berdebar kencang ingin segera merasakan bibir merah mungil yang terbuka sedikit di hadapannya. Namun dengan susah payah dia harus menahan dirinya. Wanita ini masih belum mengaku kalau dia adalah Vienna. Dia ingin memaksa wanita itu mengakui kalau selama ini dia berbohong. Karena itu dia melepas pegangan tangannya dari wajah Vienna, lalu malah masuk ke dalam kamar, agar wanita itu merasa terganggu. Setelah lama menunggu dan merasakan pegangan tangan Luca malah terlepas, Vienna segera membuka matanya lagi. Wajahnya terasa panas. “Astaga apa yang barusan aku lakukan, kenapa aku malah menutup mataku tadi? Kenapa aku malah bersiap untuk menunggu kecupannya?” makinya dalam hati. Dengan malu, dia segera mengambil segelas

