"Di tengah kesepian yang menerpanya, dia selalu berusaha tersenyum sepertiku, namun mengapa hatiku masih saja memikirkan sosok gadis yang ku temui di taman dengan derai air matanya," *** Bara Pertemuanku dengan Spica dan perkenalan kami kembali di taman seolah bagai takdir yang mendekatkan kami. Sejujurnya awal pertemuan pertama kami sangatlah kurang berkesan bagiku mengingat dia seperti pernah mengenalku dan Adit padahal pertemuan pertama kami di sekolah adalah ketika dia menjadi murid baru di sekolah. Setelah mengenalnya, rasa tidak nyaman itu berganti dengan rasa simpati. Spica bercerita bahwa ia pernah bertemu secara tidak sengaja denganku ketika ia diam-diam mengikuti papanya ke Bogor dan mengecek rumah barunya. Ia juga sudah pernah bertemu dengan Kak Mila dan ketika ia mengikuti d

