Bab 7. Mendekati Renata

1013 Kata
Mama Rossy langsung menatap lekat wajah anaknya, dia menaruh curiga. "Alasannya apa kamu ingin membuatkan Mama butik pakaian Muslimah?" tanya Mama Rossy yang masih menatap anaknya. Shaka menarik tangan sang mama ke ruang keluarga, untuk berbincang. "Shaka jatuh cinta sama pemilik Butik Muslimah itu. Dia itu memiliki Pabrik Garment juga. Renata seorang designer, dan Shaka tertarik dengan design yang dia buat. Dengan kerja sama ini, Shaka bisa dekat sama dia. Mama pun bisa berkenalan dengan calon menantu mama," jelas Shaka. "Kenapa harus begini segala sih? Kamu 'kan bisa langsung tembak dia. Masa iya, playboy kaya kamu gak bisa menaklukkan cewek. Kamu itu ganteng, pengusaha hebat. Gak mungkin dia menolak kamu," sahut sang mama. "Masalahnya, dia memiliki suami. Itu yang menjadi tantangannya. Merebut Renata dari suaminya," ucap Shaka dalam hati. Dia tidak mungkin mengatakannya sekarang pada sang mama. Yang terpenting sekarang baginya, sang mama mau mendukungnya dengan berkenalan dengan Renata. Shaka terus merengek merayu sang mama, membuat Mama Rossy menjadi pusing. Dia sangat paham anaknya. Jika memiliki keinginan, selalu ingin terwujud. "Ya udah, iya. Mau ketemunya kapan dan di mana?" tanya Mama Rossy kepada sang anak. "Sabtu ini aku sudah buat janji dengannya, untuk bertemu mama. Dia akan datang ke sini." Berbeda dengan Renata yang terlihat masih sibuk membuat design, Rangga–sang suami justru sedang bermesraan di kantornya. Saat ini sekretaris penggodanya berada di pangkuannya. Melia terlihat mengalungkan tangannya di leher Shaka. Bibir keduanya sudah menyatu. Tangan Rangga tentu saja sudah berkelana. Rangga menjadi kecanduan. "Pelan-pelan, Mas," rengek Melia manja. Rangga mengabaikannya. Nafsunya memang selalu menggebu-gebu, jika bercinta dengan Melia. Dia selalu melakukan dengan kasar. Dibalik kenikmatan yang Melia rasakan, dia juga menjerit kesakitan. Rangga semakin mempercepat permainannya. Keringat sudah bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Dinginnya AC tidak mampu mengalahkan hawa panas dalm tubuhnya. Renata sudah sampai rumah. Seperti biasanya, sang suami belum juga pulang. Padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Rangga juga sering mengabaikan panggilan telepon darinya. Dia benar-benar melupakan Renata, dan pada akhirnya Renata lebih memilih diam daripada nantinya dia bertengkar dengan suaminya. "Pukul 10.00 pagi. Perumahan Alam Surya Jl. Cendrawasih No.1." Tulis Shaka di pesan chat untuk Renata. "Kenapa dia bisa tahu nomor telepon aku ya? Apa Asri memberitahunya?" Gumam Renata. Beberapa menit kemudian, Shaka menghubungi Renata. Dengan cepat Renata langsung menerima panggilan telepon dari Shaka. Tidak sulit bagi seorang Shaka, menaklukkan hati seorang wanita. Hanya saja dia harus melakukan hal yang berbeda pada Renata. Lambat laun, Shaka menjadi akrab dengan Renata. "Ngobrol sama siapa kamu malam-malam?" tegur Rangga yang baru saja kembali. Raut wajahnya terlihat kesal, karena Rangga memang seorang pencemburu. Terlebih dirinya mengakui kalau istrinya sangatlah sempurna. "Maaf, Tuan Shaka. Suami saya sudah kembali. Saya akhiri dulu ya perbincangannya," ucap Renata. Tentu saja dia harus mengerti. Dia harus menyadari posisinya. Renata langsung menjelaskan siapa Shaka. Ada perasaan curiga di benak Rangga. Namun akhirnya, dia lebih memilih mengabaikan perasaannya. Karena dia sudah kepalang janji menuruti keinginan Melia untuk shopping. Hari ini adalah hari pertemuan Renata dengan Mama Rossy. Dia akan di dampingi Asri-sang asisten. Dia sudah terlihat cantik dan anggun. "Mas, aku berangkat duluan ya!" Pamit Renata. Dia juga tampak mencium tangan suaminya. Rangga terlihat cuek, melihat kepergian istrinya. Dia justru fokus bersiap-siap untuk menemui selingkuhannya. Sampai saat ini, dia masih menutupi perselingkuhannya dengan Melia. Seperti biasanya, Renata akan menjemput Asri di tempat biasa, dan baru setelah itu menuju rumah Shaka. Mama Rossy sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya yang sejak tadi mondar-mandir gak jelas di hadapannya. "Seperti setrikaan aja kamu. Udah langsung tembak aja," seru Mama Rossy. "Ma, Renata itu wanita yang berbeda. Untuk mendekatinya butuh cara yang berbeda," jawab Shaka. "Beda apanya? Sama-sama wanita," sahut sang mama. Shaka masih memilih menutupinya dari sang mama. Dari segi usia, usia Renata lebih muda dari Shaka. Shaka sudah berkepala tiga. Namun, jika dilihat dari wajah dan penampilan. Usia Shaka tidak kalah muda, dia seperti masih berusia 24 tahun. Mobil yang membawa Renata sudah sampai di kediaman orang tua Shaka. Sebuah rumah yang sangat mewah. Renata dan Asri dapat melihat, betapa kayanya laki-laki yang akan melakukan kerja sama dengan Butiknya. "Ma, udah rapi belum? Anak mama udah ganteng 'kan? I love mama," ucap Shaka. Dia juga memberi kecupan di pipi sang mama. Wajah Shaka terlihat begitu senang, melupakan sejenak status Renata yang sudah menikah. Renata dan Asri sudah menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian, Mama Rossy datang bersama Shaka. Asri terpesona melihat ketampanan Shaka, memakai pakaian kasual seperti itu. "Pantas saja anakku begitu tergila-gila pada wanita ini. Dia wanita yang cantik, cerdas, dan anggun." Mama Rossy memuji Renata dalam hati. Dia juga memuji hasil karya buatan Butik Renata, yang pasti karena designer yang handal yaitu Renata. "Teman-teman Mama pasti suka. Rencananya kapan, Kak, mau buat butiknya?" tanya Mama Rossy kepada sang anak. "Secepatnya. Aldo sudah mulai mencari tempat yang strategis. Semuanya, akan Aldo urus. Mama terima beres. Kita kontrak seumur hidup ya Nyonya Renata! Butik Mama saya, kalau gak di supply dari Nyonya Renata gak akan bisa." "Ya kamu nikahi aja designernya, susah-susah banget," sahut Mama Rossy. Membuat wajah Renata memerah seketika. "Ma--maaf, saya sudah menikah, Bu!" Jawab Renata. "Apa? Kamu sudah menikah?" Mama Rossy begitu terkejut mendengarnya. Akhirnya, dia tahu alasan anaknya tidak bisa menjadikan Renata kekasihnya, dan mengatakan Renata wanita yang berbeda. Suasana sempat canggung. Shaka mencoba mengalihkan pembicaraan tadi, dengan membahas pembicaraan tentang kerja sama. Dia masih harus bersabar, mengungkap perasaannya pada Renata. Untung saja pembahasan tadi tidak membuat Renata membatalkan kerja sama. Renata sudah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Mama Rossy dan juga Shaka. Dia akan menyuplai produk-produknya. Mama Rossy dengan bangga akan memperkenalkan produk-produk Renata ke teman-teman sosialitanya. "Hebat kamu, Ren. Masih muda, tapi sudah sukses. Benar-benar sempurna. Pasti bangga banget yang menjadi suami kamu," puji Mama Rossy membuat Shaka cemburu. Hatinya terasa panas. "Belum, Bu. Saya belum sempurna. Saya belum menjadi wanita yang sempurna. Mohon doanya ya, Bu! Semoga saya bisa segera hamil, memberikan keturunan untuk suami saya," kata Renata. "Iya, Ibu do'akan semoga segera terkabul keinginan kamu," sahut Mama Rossy. "Apa-apaan sih Mama? Segala mendoakan Renata seperti itu. Aku akan merebut Renata dari suaminya. Aku yang akan membuat dia hamil anakku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN