"Sayang, aku berangkat sekarang ya. Kemungkinan hari ini aku pulang malam, karena pekerjaan aku banyak yang pending belum diselesaikan. Enggak apa-apa 'kan, Sayang? Maaf ya!" Kilah Rangga. Dia juga tampak bersikap romantis, memberikan kecupan di pipi Renata.
"Iya, Mas, gak apa-apa. Aku paham. Ya udah, Mas, berangkat sana! Nanti Mas kesiangan lagi sampai kantor. Aku pun mau siap-siap. Ada pelanggan baru butik, yang ingin bertemu aku," ujar Renata sembari mencium tangan suaminya.
Setelah melepas kepergian suaminya, Renata bergegas ke kamarnya. Dia ingin langsung bersiap-siap untuk berangkat ke Butik.
Renata sudah terlihat cantik, siap untuk berangkat. Seperti biasanya, dia mengendarai mobil sendiri. Sama halnya dengan Renata, Shaka pun sudah siap untuk berangkat. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Renata.
Shaka sampai lebih dulu. Dia memang sangat antusias untuk bertemu dengan Renata.
"Silakan duduk dulu, Tuan Shaka! Ibu Renata belum datang. Mungkin sebentar lagi dia sampai di sini. Pasti saat ini sudah dalam perjalanan menuju ke sini," ucap Asri kepada Shaka.
Sudah hampir tiga puluh menit, wanita yang dinanti belum juga datang. Aldo sampai dibuat tidak percaya. Dia sangat tahu bosnya itu. Bosnya paling tidak suka menunggu. Mulutnya akan terus mengomel, jika hal itu terjadi. Dan kali ini Aldo sungguh takjub dengan kegigihan bosnya.
Akhirnya, orang yang dinanti sampai. Asri langsung memperkenalkan Shaka kepada Renata. Renata terlihat ramah, seperti biasanya kepada pelanggannya. Shaka tidak berkedip memandang wanita di hadapannya saat berjabat tangan, membuat sang asisten berdehem menyadarkannya.
"Maaf," ucapnya. Dia tampak menggaruk-garukkan tengkuknya yang tidak gatal. Sungguh terlihat bodoh dia saat itu.
"Iya, tidak apa-apa. Bagaimana, kalau kita mengobrolnya di ruangan saja. Biar lebih leluasa, membahasnya." Renata menawarkan. Tentu saja Shaka sangat senang. Inilah yang dia nantikan. Dia ingin lebih dekat dengan Renata.
Renata mengajak Shaka dan Aldo ke ruangannya. Kini Renata sudah duduk di kursi kebesarannya, berhadapan dengan Shaka dan juga asistennya.
"Sebelumnya, saya minta maaf. Karena kemarin saya tidak bisa datang ke Butik. Kebetulan, suami saya sedang libur. Jadi, saya tidak enak meninggalkannya. Rencananya, Tuan ingin memesan apa di Butik ini?" Kata Renata kepada Shaka.
Hal itu membuat Shaka cemburu mendengarnya. Meskipun dirinya sudah tahu, kalau wanita pujaannya itu sudah bersuami. Shaka mulai menjelaskan keinginannya, mendatangi Butik Renata. Dia ingin, Renata membuatkan lima buah gamis untuk mamanya sebagai sampel. Dia meminta Renata sendiri yang mendesainnya.
Renata mulai mendesain, apa yang Shaka inginkan. Shaka menaruh kagum pada sosok Renata. Baginya, begitu sempurna sosok wanita di hadapannya. Dia akan memperjuangkannya.
"Bagaimana desainnya? Apa ini cocok?" Renata berkata sambil menunjukkan gambar yang dia desain kepada Shaka. Tangan Renata begitu lihai membuat sebuah design.
"Sempurna. Sangat cantik seperti yang mendesain," puji Shaka membuat sang asisten spontan berdehem. Sontak membuat Shaka langsung memberikan tatapan tajam kepada asistennya.
Wajah Renata langsung memerah, dan merasa canggung. Karena bagaimanapun dia adalah wanita bersuami. Dia harus menjaga hati dan sikapnya untuk suaminya.
Renata langsung mengalihkan ke pembicaraan lainnya. Dia hanya ingin fokus pada pekerjaannya. Apa yang dia lakukan, semata-mata untuk urusan bisnis.
"Sepertinya, saya tertarik ingin membuka usaha Butik. Saya ingin menawarkan Nyonya Renata bekerja sama dengan saya. Apa Nyonya Renata bersedia?" Kata Shaka.
Sepanjang pertemuan terlihat hanya Shaka yang berbicara. Sedangkan Aldo hanya diam. Shaka mulai menjelaskan, kalau dia ingin Renata bertemu dengan mamanya untuk membahas masalah kerja sama Butik ini. Kelak, Renata akan menyuplai semua produknya ke Butik yang akan Shaka buat untuk mamanya. Dia juga menawarkan harga yang sangat tinggi. Sungguh menarik perhatian Renata.
Bagi Renata, ini sebuah rezeki yang tidak terduga. Renata tidak akan menolak kerja sama yang sangat menguntungkan ini. Dia tidak tahu, kalau laki-laki di hadapannya diam-diam memiliki tujuan lain. Hingga akhirnya, mereka sepakat akan menjalin kerja sama.
Setelah perbincangan cukup lama. Akhirnya Shaka dan asistennya pamit pulang. Renata mengantarkan mereka turun. Sabtu ini Shaka ingin memperkenalkan Renata pada mamanya.
"Yes, akhirnya berhasil," ucap Shaka. Tingkahnya sungguh seperti anak abege yang sedang jatuh cinta. Dia senang bisa bertatap muka cukup lama dengan Renata.
"Apa Anda yakin, Tuan, melakukan kerja sama dengan Nyonya Renata? Ingat, Tuan! Dia itu wanita bersuami. Apa nantinya Anda tidak takut patah hati melihat dia bersama suaminya," kata Aldo mengingatkan bosnya.
"Memangnya, kenapa kalau dia sudah bersuami? Di luar sana, banyak juga wanita yang berselingkuh meskipun sudah memiliki suami dan juga anak. Jangan panggil Shaka, jika tidak bisa mendapatkannya. Apa kamu meragukan saya?" Jawab Shaka sinis.
Aldo memilih diam, tidak menanggapi ucapan bosnya lagi. Orang sedang jatuh cinta sulit di mengerti. Shaka meminta Aldo mengantarkan dia ke rumah orang tuanya. Saat ini Shaka memilih tinggal di Apartemen miliknya, agar dia bebas mengajak wanita untuk memuaskannya.
"Mengapa aku merasa ada yang aneh dengan sikap Tuan Shaka kepada ibu. Tatapannya tidak biasa," kata Asri dalam hati.
Lamunan Asri terhenti, karena Renata memanggilnya. Renata mengajak Asri menemaninya bertemu dengan mamanya Shaka. Sebagai seorang asisten, tentu saja Asri siap siaga.
"Oh iya, Ibu harus bicara sama Bapak. Bapak suka gak mengizinkan, kalau Ibu pergi di hari libur," seru Renata.
Sungguh Renata dibuat tercengang. Tanpa susah payah Rangga langsung mengizinkannya.
"Makasih ya, Mas, sudah mendukung aku. Biasanya, kamu selalu melarang aku," kata Renata kepada suaminya.
Jelas saja dia langsung mengizinkan. Karena ini kesempatan dia bertemu dengan kekasih gelapnya.
"Aku 'kan suami yang baik. Kamu saja selalu mendukung karier aku. Masa iya, aku melarang kamu. Apa lagi ini proyek besar untuk kamu. Semoga kamu semakin sukses ya, Sayang," sahut Rangga. Dia pintar sekali mengambil hati Renata, untuk menutupi perselingkuhannya dengan Melia.
Mobil yang membawa Shaka baru saja sampai di rumah orang tuanya. Dia menyuruh Aldo pulang, karena malam ini dia ingin menginap di rumah orang tuanya. Dia ingin membahas kerja sama Renata dengan mamanya.
Shaka memasuki rumah, dan mencari keberadaan mamanya. Ternyata, saat itu sang mama sedang memasak di dapur. Shaka meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, sebagai tanda meminta ART yang melihatnya diam. Shaka berjalan mengendap-endap, ingin memberi kejutan kepada mamanya. Dia langsung menutup mata mamanya dengan tangannya dari belakang.
"Siapa sih, main tebak-tebakkan segala?" sang mama menggerutu. Dia mencoba mengenali wangi parfum yang dia hirup.
"Shaka, lepas! Kamu ini sama orang tua main beginian," tegur Mama Rossy.
Shaka langsung melepaskan. Dia juga tampak tertawa.
"Kok mama bisa tahu sih, ini aku," sungut Shaka.
"Jelas tahu 'lah. Dari bau ketiak kamu, mama sudah tahu," jawab sang mama asal.
Mama Rossy tertawa, Melihat sang anak yang langsung mencium ketiaknya. " Wangi ah, gak bau."
"Tumben banget kamu datang ke sini siang-siang begini. Memangnya, kamu gak kerja? Biasanya juga kamu lupa sama mamanya," cecar sang mama.
"Aku ingin membuatkan mama butik baju muslimah," jawab Shaka to the point. Sontak membuat sang mama langsung membulatkan matanya.
"Hah! Baju muslimah? Apa mama gak salah dengar? Sejak kapan mama mengenal pakaian model gamis?"