Seperti pagi biasanya, saat adzan sholat subuh. Renata kerap membangunkan suaminya, mengajak suaminya sholat bersama. Dia bangunkan suaminya dengan penuh kelembutan. Namun, bukannya Rangga semangat untuk bangun. Dia justru berkata kasar pada Renata. Sontak hal itu membuat Renata terperanjat kaget.
"Mas, kamu berani membentakku?" Renata pun tak kalah meninggikan suaranya.
Mendengar hal itu, Rangga akhirnya terbangun.
"Ma--maafkan aku, Sayang. Aku gak bermaksud membentak kamu. Hanya saja tadi aku masih sangat mengantuk. Maaf, sudah membuat kamu kecewa," seru Rangga yang menunjukkan wajah menyesal.
"Aku perhatikan. Sejak kamu kembali dari perjalanan dinas tadi malam, sikap kamu berubah, Mas. Aku seperti tidak mengenal suamiku yang sekarang," sindir Renata.
Rangga menelan salivanya berkali-kali. Dia begitu takut, karena dia tidak ingin istrinya tahu perselingkuhannya dengan Melia. Rangga pun akhirnya berakting berpura-pura.
"Mungkin, semalam aku kelelahan. Karena di sana, aku kurang tidur. Sesampainya di Jakarta, aku langsung ngobrol dengan temanku. Akhirnya, aku pulang malam. Udah ah, jangan berpikir macam-macam! Lebih baik sekarang kita mandi dan sholat. Sebagai bentuk permintaan maafku pada istri tercintaku, hari ini aku gak ke kantor. Aku ingin menghabiskan waktuku berduaan sama kamu."
Rangga sudah bisa bernapas lega, karena akhirnya Renata memaafkan dia, dan bersikap seperti biasa. Setelah selesai sholat, istrinya pamit turun ingin memanasi semua makanan yang kemarin dia siapkan untuknya. Sedangkan dia justru memilih di kamar. Dia sedang asyik melakukan panggilan telepon dengan selingkuhannya.
"Mas Rangga sedang telepon sama siapa ya? Kok mesra banget," batin Renata.
Tidak ingin salah paham, Renata pun akhirnya langsung masuk ke kamar.
"Mas ...."
Jantung Rangga seakan melompat. Dia begitu terkejut, melihat istrinya yang kini sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya langsung berubah pucat. Tentu saja hal itu membuat Renata curiga. Rangga spontan langsung memutuskan sambungan telepon dengan Melia.
"Kamu sedang telepon sama siapa, Mas? Kenapa mesra banget? Jangan bilang, kamu selingkuh ya!" Renata berkata tegas. Dia juga menatap suaminya tajam.
"Ngaco kamu! Ini kamu lihat. Aku habis ngubungin sekretaris aku, untuk kasih tahu kalau hari ini aku gak datang ke kantor. Aku minta dia handle, kalau ada yang mencari aku. Mesra dari mananya? Ini pasti kamu salah dengar. Udah ah, aku malas bahasnya! Lebih baik sekarang kita makan. Udah matang 'kan? Aku udah lapar dari tadi."
Rangga langsung menggandeng tangan Renata, membawanya turun. Renata pun akhirnya tidak membahasnya lagi. Dia langsung melayani suami di meja makan. Bersikap biasa kembali.
"Masakan istriku memang gak ada duanya, meskipun dipanasin," puji Rangga.
Dia makan begitu lahap. Rangga kini menjadi sosok pembohong. Padahal, selama ini dia selalu berkata jujur pada Renata. Ini juga yang menjadi alasan, kenapa selama ini Renata memberikan kepercayaan penuh pada Rangga.
"Hari ini kamu jangan ada kegiatan ya! Aku ingin menghabiskan waktu berduaan di rumah bersama kamu," kata Rangga di sela-sela waktu mereka makan.
Renata menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas."
Di tempat berbeda, Melia merasa kesal. Karena Rangga tidak datang ke perusahaan. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya berduaan sama istrinya. Bahkan kini Rangga menonaktifkan ponselnya, karena tidak ingin diganggu dengan siapapun.
Tentu saja Melia merasa tidak terima. Dia mengingkari perjanjiannya pada Rangga. Melia justru ingin menguasai Rangga. Dengan beraninya, siang ini dia hendak menemui Rangga di rumahnya. Dia ingin berpura-pura membawa berkas yang harus ditanda tangani segera.
Sejak kejadian pagi tadi, Rangga terus mengambil hati istrinya. Dia selalu bersikap mesra seperti biasanya. Hingga Renata melupakan apa yang sempat terjadi.
"Mas, nakal ih! Kalau nanti Bibi lihat gimana?" ucap Renata manja.
Tiba-tiba saja, Rangga langsung membalikkan tubuh Renata. Kemudian mencium bibirnya. Al hasil membuat Renata panik, dan langsung memukul-mukul minta suaminya menghentikannya.
"Ya udah. Kalau gitu kita lanjut di kamar aja. Mas kangen," bisik Rangga.
Renata tampak tertawa bahagia, saat Rangga menggendongnya ala bridal style menuju kamarnya. Renata terlihat melingkarkan tangannya di leher Rangga. Dia juga tersenyum bahagia. Suaminya selalu pintar membuat dia bahagia.
"Buka dong, Sayang! Mas ingin lihat tubuh indah kamu," pinta Rangga.
Nafsunya sudah menggebu-gebu. Tidak ingin membuang waktu lama. Dia kini sudah dalam keadaan polos. Pergulatan panas pun terjadi. Dia berhasil membuat istrinya melayang, karena keperkasaan dia di ranjang.
Dan kini dia tersenyum, kala berhasil membuat istrinya terbaring tak berdaya karena ulahnya. Tiba-tiba saja suara ketukan pintu kamarnya terdengar.
"Mas–" Wajah Renata terlihat panik.
"Sudah, biar Mas saja yang buka. Kamu langsung ke kamar mandi aja, bersihkan tubuh kamu," sahut Rangga dan Renata menganggukkan kepalanya.
Setelah memakai pakaiannya kembali, Rangga langsung membuka pintu kamarnya. Benar saja, sang ART sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Bi Sumi tampak malu-malu. Sebenarnya, tadi dia ragu untuk mengetuk pintu kamar majikannya. Dia mendengar suara percintaan majikannya.
Bi Sumi pun sempat turun, untuk memberitahu Melia. Kalau kedua majikannya sedang beristirahat di kamarnya. Dengan licik, Melia meminta Bi Sumi segera membangunkannya. Karena ada berkas yang harus segera di tanda tangani.
"Ada apa, Bi?" tanya Rangga ramah.
Bisa dikatakan, Rangga sosok majikan yang ramah. Dia mau mengobrol dengan ART. Apalagi Bi Sumi bekerja dengannya sudah cukup lama, sejak dia menikah dengan Renata. Sikapnya sangat berbeda. Tidak seperti saat di perusahaan. Rangga bersikap dingin, dan tegas. Dia ingin disegani semua karyawannya, termasuk Melia–sekretarisnya.
"Ada Mbak Melia di bawah, Pak," jawab Bi Sumi.
"Apa? Melia datang?"
Rangga begitu terkejut mendengarnya. Melia benar-benar nekat.
"Iya, Pak," jawab Bi Sumi lagi.
Tak ingin Bi Sumi curiga, Rangga pun akhirnya menyuruh Bi Sumi mengatakan pada Melia untuk menunggunya.
"Siapa, Mas?" tanya Renata yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Jantung Rangga berpacu lebih cepat. Padahal dulu, saat dirinya tidak memiliki kesalahan. Dia tidak setakut itu.
"Ehm, Melia. Kata Bi Sumi, ada berkas yang harus aku tanda tangani. Aku ke bawah dulu ya, Sayang," kata Rangga kepada sang istri.
Renata dibuat terkejut, melihat suaminya pergi begitu saja. Dia sempat memanggilnya. Namun, suaminya tidak mendengar dia bicara. Saat dia hendak mengejar suaminya, suaminya sudah turun ke lantai bawah.
"Enggak biasanya Mas Rangga berpenampilan cuek seperti itu. Menemui sekretarisnya hanya menggunakan celana boxer. Tidak berganti pakaian dulu," gumam Renata.
Rangga kini sudah bersama Melia. Melia tampak senang bisa bertemu kekasih hatinya, meskipun harus berpura-pura. Namun, ada perasaan kesal di hatinya. Dia yakin kalau Rangga baru saja selesai bercinta.
"Mel, ayolah, jangan bersikap aneh-aneh! Nanti istri aku bisa curiga. Lebih baik sekarang kamu pulang, kita ketemu besok!" Rangga bicara sepelan mungkin. Dia tidak ingin istri atau ART-nya mendengar percakapan dia dengan Melia.
"Aku kangen, Mas. Aku kangen di kantor, kamu di rumah malah asyik bercinta dengannya," ucap Melia manja.
"Dia itu istri aku. Kewajiban aku memberi nafkah. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat! Lebih baik sekarang kamu pulang atau kembali ke kantor," balas Rangga berkata tegas.
Rangga menegang, karena Renata menemui mereka berdua secara tiba-tiba. Dia tidak menyangka, kalau Renata menghampiri mereka. Renata merasa curiga, karena tidak mendengar suara suaminya dengan sekretarisnya. Renata juga sempat memperhatikan penampilan sekretaris suaminya saat datang, dan dia merasa tidak suka. Meskipun ini bukan pertama kalinya, dia bertemu. Melia sudah cukup lama bekerja pada suaminya. Renata sempat protes pada Rangga. Namun, akhirnya dia mengerti penjelasan dari suaminya. Dia pun percaya, suaminya tidak akan tergoda.
"Lain kali, kalau kamu butuh tanda tangan saya. Tunggu saja sampai saya datang ke perusahaan. Saya paling tidak suka, kehidupan pribadi saya terganggu. Kamu tau? Kedatangan kamu ini, jadi menggangu waktu istirahat saya dengan istri saya. Sudah sana pulang!" Rangga mengusir Melia, dia berakting bersikap tegas di depan Renata.
"Sialan! Dia ngusir aku di depan istrinya. Terlihat sekali dia begitu takut pada istrinya. Awas aja kamu, Mas! Aku akan membuat kalian berpisah!"
Shaka baru saja sampai di butik milik Renata. Dia hendak memesan beberapa baju muslimah, untuk maminya. Sebenarnya, dia tidak benar-benar ingin membelikan maminya gamis. Tujuan dia sebenarnya yaitu ingin mendekati Nyonya Rangga. Gila! Cinta membuatnya gila! Dia begitu nekat mengejar cinta wanita bersuami. Tantangan baru baginya, menjadi seorang "Pembinor."
"Maaf, Tuan Sakha. Ibu Renata hari ini tidak datang ke butik. Apa ada yang bisa saya bantu? Saya akan mencoba menggantikan posisinya," ucap Asri.
"Maaf, saya hanya ingin memesan berdasarkan desain bos kamu. Saya ingin bertemu dengan dia. Tolong kamu hubungi dia sekarang! Saya akan sabar menunggunya," sahut Shaka. Aldo yang saat itu berada di samping bosnya, hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bucin bosnya pada wanita bersuami.
"Katakan pada bos kamu! Saya akan bayar pesanan itu sangat mahal. Karena ini untuk hadiah orang paling spesial di hidup saya," timpalnya lagi. Tentu saja Asri semakin tidak enak hati. Dia pun akhirnya mengiyakan. Dia akan mencoba menghubungi bosnya itu.
Ponsel Renata berdering, membuat Renata meminta Rangga menghentikan aktivitas bercinta mereka.
"Siapa sih? Ganggu saja," desis Rangga.
Renata menjadi tidak enak hati. Suaminya pasti merasa kesal. Saat sedang nafsu melambung tinggi. Kini harus terhempaskan, karena dering ponselnya.
"Maaf, Mas, aku angkat telepon dari Asti dulu ya! Aku takutnya ada yang penting," ucapnya dan mau tidak mau Rangga pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia berusaha menetralkan perasaan hatinya.
Akhirnya dia memilih memakai celana boxernya, dan keluar dari kamar untuk menghisap sebatang rokok.
"Maaf, Sri, Ibu gak bisa ke Butik. Bapak pasti tidak mengizinkan Ibu pergi. Karena Bapak sedang tidak ke perusahaan. Tolong sampaikan permintaan maaf Ibu padanya. Gimana, kalau besok saja? Insya Allah kalau besok, Ibu akan usahakan bisa."
Astri menyampaikan permintaan maaf kepada Shaka. Mendengar penjelasan dari Asri, hatinya terasa panas.
"Ckk. Emang enak jatuh cinta pada wanita beristri."
Shaka menatap tajam ke arah asistennya. Dia tahu, kalau asistennya pasti sedang menertawakan dia dalam hati karena mengejar cinta wanita bersuami.
"Berani sekali kamu menolak pesona Arshaka Dirgantara. Kita lihat saja nanti setelah ini," kata Shaka dalam hati. Dia pun tersenyum smirk.