Bab 4. Curiga

1383 Kata
"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang wanita cantik itu?" tanya Shaka pada Aldo–asistennya. Bukankah semua wanita itu memang cantik? Lagipula, bukan pertama kali dia melihat wanita cantik. Bahkan yang tanpa mengenakan busana di hadapannya. Mereka selalu menunjukkan kecantikan mereka di hadapannya. Dengan suka rela merangkak naik ke ranjang, untuk memuaskan sang Casanova. "Untuk kali ini, lebih baik Anda lupakan saja!" Jawab Aldo dengan perasaan takut. Dia yakin, setelah ini bosnya akan marah padanya, dan benar saja. "Maksud kamu apa menyuruh saya melupakannya? Apa sebegitu berat 'kah mendapatkan dia? Untuk itu, kamu tidak perlu takut. Apa kamu meragukan saya menaklukkan hati wanita?" sarkas Shaka. Dia juga menatap tajam Aldo, menunjukkan tidak suka. "Maaf, Tuan. Bukan seperti itu. Untuk hal itu, saya tidak meragukan lagi. Tapi, Tuan–" Ucapan Aldo terhenti. Dibuat semakin penasaran saja Shaka olehnya. Hingga akhirnya mau tidak mau, Aldo pun menceritakan semuanya tentang Renata. Sesuai informasi yang dia dapatkan dari orang suruhannya. Dia menjelaskan, kalau Renata wanita sudah memiliki suami. Suaminya seorang pengusaha juga. Hanya saja tidak sehebat Shaka dan juga Renata. "Tidak jadi alasan, jika cinta sudah bermain!" Ucap Shaka sambil menyeringai licik. Aldo terkejut mendengarnya. Mengapa bosnya membahas masalah cinta? Apa mungkin, ini yang dikatakan jatuh cinta pandangan pertama? Apakah bosnya benar-benar mencintai wanita itu, hingga begitu ngotot ingin mengejar wanita yang sudah memiliki suami? "Sebaiknya jangan, Tuan." "Memangnya, siapa kamu? Berani mengatur hidup saya. Mama saya saja tidak pernah mengatur saya," jawab Shaka ketus. Aldo sangat mengenal bosnya itu. Jika sudah menginginkan sesuatu, selalu ingin terwujud. Aldo hanya bisa menghela napas panjang dan geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh bosnya itu. Bagaimana tidak? Shaka terlihat senyum-senyum sendiri. Entah apa yang sedang dia pikirkan. "Mengapa Anda tidak mencari wanita lain saja, Tuan? Wanita yang belum memiliki suami atau mungkin seorang gadis. Pastinya tidak akan mendapatkan masalah." Aldo mencoba mengingatkan. "Justru berhubungan dengan istri orang, lebih menantang. Memacu adrenalin," kata Shaka sambil terkekeh. Hari ini Melia dan Rangga kembali ke Jakarta. Renata berencana ingin menjemput suaminya di Bandara seperti biasanya. Namun, kali ini Rangga menolaknya. Dia menyuruh Renata menyambutnya di rumah. "Tidak seperti biasanya, Mas Rangga menolak aku menjemputnya. Biasanya, dia selalu meminta aku menjemputnya di Bandara," gumam Renata. Dia baru saja menerima panggilan telepon dari suaminya. "Ah, sudahlah. Mungkin benar apa katanya, dia tidak ingin merepotkan aku. Lebih baik aku menyambutnya di rumah, menyiapkan semuanya sebelum dia pulang." Dia pun bergegas ke dapur, dan mulai memasak. Membuatkan makanan kesukaan suaminya. Setelah itu, mandi, dan bersiap-siap menyambut kedatangan suami tercintanya. Pesawat yang membawa Rangga dan Melia sudah mendarat sempurna di Jakarta. "Mas, nanti kita makan dulu ya sampai di Jakarta! Tadi 'kan kita gak sempat makan dulu di sana. Mas sih, minta nambah terus. Jadinya, kita terburu-buru deh ke Bandara," kata Melia manja, dan Rangga terlihat melebarkan senyuman. Entah mengapa dia begitu bahagia mendengarnya. Mereka kini sudah tidak malu menunjukkan kemesraan di depan umum. Rangga pun sudah tidak bersikap dingin lagi dengan sekretarisnya itu. Status Melia kini bukan hanya menjadi sekretaris saja, dia juga menjadi pemuas ranjangnya. Saat tidak bersama sang istri. "Iya, Sayang. Kamu mau makan di mana?" Rangga bertanya sambil mengusap pipi Melia mesra, merayu Melia agar tidak merajuk lagi. "Ah, Mas. Kamu so sweet banget sih. Membuat aku semakin cinta," seru Melia. Dengan beraninya dia juga memberikan kecupan di pipi kiri Rangga. Melia terlihat begitu bahagia. Tidak peduli, kalau sikap yang dia lakukan itu menyakiti hati sesama wanita. Dia sudah menjadi "Pelakor", di rumah tangga Rangga dengan Renata. Seperti janjinya pada kekasih gelapnya. Ya, bisa dikatakan hubungan mereka sekarang seperti pasangan kekasih. Bahkan lebih, layaknya suami istri yang baru saja menyandang status pengantin baru. Kini mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan di kota asal mereka. Mereka terlihat mesra. Rangga tidak menolak Melia bergelayut manja padanya. Dia pikir, Mall tersebut jauh dari tempat tinggalnya. Istrinya pun saat ini sedang berada di rumah. Renata juga bukan tipe wanita yang gila shopping. Meskipun dia memiliki uang yang banyak. Dia hanya berbelanja, jika membutuhkannya. "Kok Mas Rangga belum sampai juga ya? Katanya, tadi pesawat pukul 12.00. Harusnya 'kan jam 15.00 sudah sampai rumah?" Renata pun akhirnya menghubungi suaminya, untuk memastikannya kembali. Namun, ponsel suaminya tidak aktif. Rangga lupa mengaktifkan ponselnya kembali, saat dirinya turun dari pesawat. "Apa pesawatnya delay ya? Makanya, ponselnya gak aktif. Sekarang, lagi penerbangan ke Jakarta?" Ada perasaan yang tidak biasa, yang dirasa Renata. Namun, dia memilih membuang perasaan curiganya kembali. Tetap berpikir positif, kalau suaminya tidak mungkin mengkhianati cintanya. Hingga akhirnya dia memilih untuk menunggu suaminya pulang. "Sayang, kita pulang yuk! Istri aku pasti sudah menunggu. Aku tidak ingin dia curiga. Next, kita belanja lagi ya!" Ajak Rangga, dan akhirnya Melia mengiyakan. Meskipun perasaannya sedikit kesal. Tapi, paling tidak. Dia merasa cukup senang, karena sudah membeli barang-barang yang dia inginkan. "Ternyata, enak juga punya kekasih bos. Tidak perlu lagi cari sampingan. Aku pun, melakukannya dengan laki-laki tampan dan muda. Bukan dengan laki-laki tua dan gendut," kata Melia dalam hati. Bukan hanya mengajak Rangga makan, berbelanja saja. Dia juga merayu Rangga, untuk mengantarkan dia pulang ke kosannya. "Kenapa sih kita harus berpisah? Padahal, aku masih ingin memeluk kamu," gerutu Melia. Benar-benar wanita tidak tahu malu. Harusnya dia sadar, siapa dirinya. "Sabar, besok kita bertemu kembali. Ya udah ya, aku pulang dulu.Aku sudah telat banget sampai di rumah." Rangga meminta pengertian Melia. Tapi, dia tidak memikirkan perasaan sang istri yang kecewa. Bagaimana tidak. Dia sudah telat datang enam jam dari jadwal seharusnya dia sampai di rumah. Makanan yang sejak tadi sang istri siapkan, sudah dingin. Renata pun sampai ketiduran, dan tidak makan karena menunggu dirinya pulang. Tepat pukul 21.00 WIB, Rangga baru saja sampai di rumah. Kali ini pun, dia memilih naik taksi. Tidak meminta supir menjemputnya. Dia khawatir, supirnya akan mengadu pada sang istri. Kala melihat dirinya bermesraan dengan Melia di dalam mobil. Suasana di rumah tampak sepi, sang ART sudah masuk ke kamar, dan sang istri pun berada di kamar. Rangga membuka pintu kamar secara perlahan, dan melihat sang istri yang sedang tertidur nyenyak. Dia memutuskan untuk tidak membangunkan sang istri. Membiarkan sang istri tertidur nyenyak. Namun, suara gemercik air dari dalam kamar mandi membuat Renata perlahan membuka matanya. Pandangannya kini menatap ke arah jam dinding di kamarnya. Tidak lama kemudian, Rangga keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. "Kok bangun?" tegur Rangga. "Kamu baru pulang, Mas? Kok telat banget sih sampai rumahnya? Memangnya, kamu ke mana dulu?" Serentetan pertanyaan terlontar dari bibir Renata. "Iya. Sewaktu tadi sampai di Bandara, Mas bertemu kawan lama. Terus, dia mengajak Mas ke Kafe untuk mengobrol. Saking keasyikan ngobrol, Mas sampai lupa pulang deh," jawab Rangga bohong dengan santainya. Sayangnya, Renata tidak percaya. Dia melihat kebohongan di mata suaminya, saat memandangnya. "Mas, gak sedang bohongi aku 'kan?" Wajah Rangga berubah pucat, jantungnya pun berpacu cepat kala itu. Namun, dia berusaha untuk tenang. Tidak ingin istrinya curiga. "Ma—maksud kamu apa? Mengapa kamu berkata seperti itu? Ngapain juga Mas bohong, gak ada untungnya. Ya udah ah, Mas mau tidur. Mas cape, malas berdebat." "Suami capek kerja, malah dicurigai," gerutu Rangga. Cepat-cepat dia memakai pakaiannya, kemudian berbaring di ranjang. Renata tercengang mendengar penuturan suaminya. Tidak biasanya, suaminya bersikap seperti itu. Rasa curiganya semakin menjadi. Dia tatap wajah suaminya yang kini sudah memejamkan matanya. Dia seperti tidak mengenal sosok laki-laki di hadapannya. Tidak ada keromantisan yang ditunjukkan suaminya. Bahkan, suaminya tidak meminta maaf atas keterlambatan dirinya pulang. Suaminya juga tidak biasanya, tidak memakan masakannya. Selama ini, meskipun Rangga pulang larut malam. Rangga selalu ingin makan masakan istrinya. Dia rela menahan rasa laparnya, agar bisa makan masakan istrinya di rumah. Dengan perasaan kecewa, Renata akhirnya turun dari ranjang. Kemudian berjalan keluar, menuju meja makan. Dia tatap makanan yang masih terlihat utuh di meja makan. "Ya Tuhan, apa yang terjadi pada suamiku? Mengapa sikapnya berubah padaku? Apa dia kini sudah memiliki wanita lain, selain aku?" Kini, air matanya menetes satu persatu. Dia merasa kecewa dengan sikap suaminya. Tidak ada kecupan mesra dari suaminya. Biasanya, suaminya selalu menunjukkan sikap rindunya padanya. Setelah pulang dari perjalanan dinas. Tapi kali ini, suaminya justru menyakiti hatinya. Satu persatu makanan itu dia masukkan ke dalam kulkas. Kemudian dia kembali lagi ke dalam kamar. Dia tidak ingin ART-nya melihat dia bersedih. Renata pun memilih tidak makan. Rasa laparnya lenyap sudah. Padahal tadi, dia menundanya karena ingin makan bersama suaminya. Karena Rangga selalu ingin ditemani, kala makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN