Mereka sudah kembali ke hotel. Andai saja malam ini tidak ada acara pertemuan makan malam, Rangga pasti akan memilih pulang ke rumah bertemu istri tercintanya.
"Saya mau istirahat dulu. Jam enam sore nanti kita berangkat ke acara. Kalau sekarang kamu mau shopping atau healing dulu, silakan!" Rangga berkata, kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak butuh jawaban dari sekretarisnya itu.
Dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuh dan pikirannya, rasanya begitu lelah. Namun, sebelum tidur. Dia ingin melakukan panggilan video terlebih dahulu dengan sang istri, untuk melepas rasa rindunya pada sang istri.
"Assalamualaikum," sapa Rangga. Dia terlihat senang, bisa memandang wajah cantik istrinya di layar ponselnya.
"Waalaikumsalam. Mas, sudah selesai ya pekerjaannya? Sudah bisa pulang dong?" Kata Renata menunjukkan wajah manjanya. Hal ini yang membuat Rangga selalu merasa gemas, saat memandang wajah istrinya.
"Belum. Sabar dulu ya! Malam ini, Mas ada pertemuan dulu. Ada acara makan malam dengan klien. Sekarang mau istirahat dulu, mumpung masih ada waktu beberapa jam lagi. Jam enam sore Mas baru berangkat. Oh, iya. Maaf ya, Mas gak bisa belikan kamu oleh-oleh. Enggak apa-apa, ya? Soalnya, Mas lagi malas jalan-jalan," jelas Rangga.
Renata tersenyum. Tentu saja dia tidak akan mempermasalahkan oleh-oleh. Semua sudah dia miliki. Kalaupun dia mau, dia bisa membelinya. Inilah salah satunya yang membuat Rangga tidak bisa berpaling dari istri cantiknya. Renata tidak pernah menuntut padanya, dia selalu pengertian.
Setelah melakukan panggilan video selama sepuluh menit, mereka mengakhiri panggilan video mereka. Rangga ingin beristirahat sejenak, rehat pikirannya yang masih begitu kacau. Andai saja malam itu tidak terjadi, dia tidak akan merasa gelisah seperti ini.
Suara ketukan pintu terdengar, dengan perasaan malas akhirnya Rangga beranjak turun. Dia ingin melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kamu? Ada apa mengetuk pintu kamar saya?" tegur Rangga.
Bukannya menjawab. Melia justru berjinjit dan dengan berani langsung mencium bibir Rangga. Dia juga mendorong tubuh Rangga mengarahkan masuk ke dalam secara perlahan.
"Aku ingin mengulangi lagi, Mas. Sejak tadi aku teringat terus dan nggak bisa memejamkan mata," bisik Melia dengan sensual. Bukan itu saja, dia juga mencium leher Rangga membuat tubuh Rangga meremang.
Hingga akhirnya, terjadi kembali. Benteng pertahanan Rangga begitu lemah saat Melia mendorong tubuhnya ke ranjang dan melucuti pakaiannya.
"Kamu nggak perlu khawatir, Mas. Istri kamu nggak akan tahu. Saat bersama dia, kamu tetap akan menjadi suaminya," kata Melia berusaha meyakinkan Rangga bahwa semua akan baik-baik saja meski hubungan terlarang itu mereka jalani
"Nakal ya kamu.”
Bukannya malu, Melia justru tersenyum.
"Habisnya enak, Mas. Kamu sudah berhasil membuatku melayang. Milik kamu besar banget dan kamu tahan lama di ranjang. Pantas saja istri kamu begitu tergila-gila padamu," puji Melia sambil melepaskan pakaian yang menempel di tubuhnya.
Mendapatkan pujian seperti itu, tentu saja seorang laki-laki berada di atas awan. Entah mengapa Rangga begitu senang, membuat dia terlena.
Dalam hatinya, Melia bersorak. Pada akhirnya Rangga menarik tangannya. Mereka b******u mesra, penuh gairah. Kini mereka melakukannya dalam keadaan sadar. Namun, tiba-tiba saja Rangga menghentikannya.
"Kok berhenti, Mas, kenapa?" tanya Melia terlihat kesal karena dia sudah menginginkan yang lebih.
"Saya gak punya pengaman," jawab Rangga.
"Ngapain pakai pengaman, Mas? Mungkin saja yang semalam sudah berkembang. Sekalian kita tes saja, Mas. Jika aku hamil, berarti benar, istri kamu itu memang mandul. Makanya, sampai sekarang tidak hamil juga." Melia berkata licik.
"Benar juga, apa yang kamu katakan," sahut Rangga dengan bodohnya.
Nafsu sudah membuatnya bodoh, tidak bisa berpikir rasional. Menjerumuskan dia ke jurang kehancuran. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh keduanya. Hawa panas menjalar dari dalam tubuh mereka. Rangga berkhianat! Dia berbagi peluh lagi dengan sekretarisnya.
"Mas, kamu perkasa banget sih. Aku sampai kewalahan," puji Melia dengan napas yang masih terengah-engah.
"Kamu juga hot banget. Gimana saya nggak seperti itu," puji Rangga balik sambil membaringkan tubuhnya di sebelah Melia.
"Semua demi kamu. Aku ingin memuaskanmu, Mas. Mas tahu tidak? Sebenarnya, sejak awal aku bekerja jadi sekretaris di kantor Mas, aku sudah jatuh cinta sama kamu," ungkap Melia berkata jujur. Dia kini memeluk tubuh Rangga, dan menatap laki-laki yang baru saja berbagi peluh dengannya.
"Masa? Kok saya nggak tahu?"
Sama halnya dengan Melia, dia juga masih mengatur napas dan juga jantungnya yang masih berpacu cepat.
"Iyalah, mana Mas tahu. Mas 'kan selama ini nggak pernah ngelirik aku. Mas bicara hanya sebatas pekerjaan, padahal aku udah pakai baju seksi. Aku juga kan nggak kalah cantik sama istri kamu, Mas."
Melia sudah tahu titik lemah Rangga. Selang berapa menit, dia menggoda Rangga kembali. Mereka melakukan kembali. Sampai akhirnya, tubuh keduanya sama-sama lelah dan mereka pun tertidur. Melia begitu nyaman terlelap dalam pelukan laki- laki yang dia cintai.
Seolah keberuntungan begitu berpihak padanya. Bisa menaklukkan hati Rangga, sungguh di luar dugaannya. Seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata.
"Mas—"
Melia merengek manja, meminta Rangga melepaskan pelukannya. Dia telah memasukkan Melia di kehidupannya. Menjadi orang ketiga di pernikahannya dengan Renata.
"Jam berapa ya sekarang?" tanya Rangga sambil melepaskan pelukannya. Suaranya terdengar serak, suara khas bangun tidur.
"Kita harus bersiap-siap sekarang, Mas! Aku kembali ke kamar dulu ya. Mau mandi dan siap-siap. Mas, malam ini aku tidur di sini aja, ya?”
Melia bangkit, lalu duduk di tepi ranjang. Dia menggulung rambutnya dan menjepitnya ke atas. Rangga tampak memperhatikan apa yang dilakukan Melia.
"Kamu sudah sering melakukannya, ya?" tegur Rangga tiba-tiba. Mungkin, dia baru menyadari kalau Melia sudah handal bercinta.
Jantung Melia seakan terhenti seketika. Dia terlihat gugup, wajahnya terlihat pucat.
"Jujur aja! Saya gak marah kok," kata Rangga lembut. Dia bukan lagi sosok Rangga yang bersikap dingin.
Jelas saja dia tidak marah, karena dia sekarang justru menikmatinya sensasi permainan ranjang dari Melia. Yang tidak dia dapat dari sang istri.
Melia langsung berakting memasang wajah mengiba. Dia juga berpura-pura menangis, mencari simpatik Rangga. Melihat wanita di hadapannya menangis, Rangga menjadi tidak tega. Dia langsung beranjak bangkit duduk dan memeluknya.
"Maafin aku ya, Mas. Aku sudah bohongin Mas kalau aku sudah gak perawan. Aku lakukan ini, karena aku mencintai kamu, Mas. Aku menginginkanmu, Mas. Aku rela dijadikan istri kedua, asalkan bisa mendapatkan cinta kamu," ungkap Melia diiringi isak tangis.
Rangga menghela napas panjang, merenggangkan pelukannya, dan memandang wajah Melia. Melia pun balas memandangnya.
"Tapi, yang kita lakukan ini salah, Mel! Saya punya seorang istri yang harus saya jaga hatinya. Dengan seperti ini, saya sudah memberikan noda di pernikahan kami. Dia pasti akan kecewa pada saya," ucap Rangga lesu.
Sekarang, dia merasa bingung.
"Kamu gak menyakiti dia, Mas! Karena dia nggak akan tahu hubungan kita. Saat bersamanya, kamu tetap suami dia seutuhnya. Kamu tetap bersikap baik padanya, tidak ada yang berubah. Dengan seperti itu, dia tak akan tersakiti."
"Ya, mungkin memang harus seperti itu. Rasa cinta saya padanya begitu besar. Sedangkan ke kamu, saya belum mencintai kamu. Hanya saja, saya bernafsu padamu," jawab Rangga jujur.
Seharusnya, Melia menyadari dan merasa malu. Cintanya pada Rangga bertepuk sebelah tangan. Tapi, dia justru semakin bersemangat untuk membuat Rangga mencintainya. Dia tidak peduli, walaupun saat ini Rangga hanya bernafsu padanya.
"Iya, aku paham. Mas tidak perlu terburu-buru. Biar cinta hadir karena terbiasa. Aku yakin, lambat laun Mas akan membuka hati Mas buat aku. Mas akan mencintai aku juga."
***
Sementara itu tepat di dalam kamar, Renata tampak sudah bersiap-siap untuk menghadiri acara pertemuan para pengusaha di Jakarta. Sayang sekali suaminya tidak bisa menemaninya. Dia datang di temani Asri–asistennya. Asri adalah asistennya. Disaat dia tidak datang ke butik, Asri 'lah yang akan menggantikan posisinya.
"Sri, Ibu jalan sekarang, ya! Nanti kamu tunggu di halte dekat rumah kamu, ya!"
Setelah menghubungi Asri, Renata melajukan mobilnya menuju tempat penjemputan Asri. Renata terlihat cantik. Selain cantik, dan memiliki sifat lemah lembut. Dia juga seorang wanita memiliki pemikiran yang luas dan cerdas.
"Ayo, Sri, masuk!"
Meskipun dia seorang bos, dia tidak bersikap sombong kepada semua karyawannya. Karyawannya pun tidak pernah memanfaatkan kebaikannya, dan menjadi kurang ajar. Mereka justru menyegani Renata. bersikap hormat karena Renata begitu baik pada mereka. Renata juga sering kali membantu karyawan yang kesusahan, membantunya secara cuma-cuma, ataupun dengan cara memberikan pinjaman. Jika nominal yang dibutuhkan tidak sedikit.
"Ibu Renata cantik banget, pasti Pak Rangga bangga banget punya Ibu. Dia nggak akan pernah bisa berpaling dari Ibu. Kalau sampai dia melakukan itu, dia adalah laki-laki paling bodoh di dunia ini karena udah menyia-nyiakan berlian yang sangat indah," ungkap Asri.
"Ah, kamu bisa saja merayu Ibu, Sri. Semua wanita itu cantik. Kalau ganteng baru cowok. Kamu pun cantik. Semoga aja ya, Sri, cintanya bapak gak pernah berubah ke Ibu. Kamu 'kan tahu Sri, kalau Bapak itu bisa dikatakan cinta pertama Ibu. Tapi, ibunya selalu menganggap Ibu wanita mandul karena sampai sekarang Ibu belum juga hamil. Kamu doakan aja ya, semoga Ibu bisa segera hamil. Biar mertua Ibu tidak menghina Ibu lagi." Renata berkata lirih. Dia merasa, dirinya belum bisa menjadi wanita yang sempurna, karena belum bisa merasakan hamil.
"Sabar ya, Bu! Asri doakan ya, Bu. Semoga Ibu bisa segera hamil. Biar Bapak gak ke goda wanita lain, dan Ibu tidak di hina mertua Ibu terus. Padahal, di luar sana. Banyak kok yang sudah puluhan tahun belum juga dikarunia anak. Tapi, rumah tangga mereka tetap harmonis. Semoga Ibu dan Bapak tetap harmonis juga."
Mobil yang membawa mereka sudah sampai di tempat pertemuan. Renata memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, mereka masuk bersama. Ternyata, sejak kedatangannya ada seorang pria yang tidak berhenti memandangnya. Dia terpesona dengan kecantikan Renata.
"Siapa ya wanita itu? Apa dia seorang pengusaha juga? Al, apa kamu bisa mencari tahu tentang wanita itu?"
Laki-laki itu bernama Arshaka Dirgantara. Dia hadir di acara ini karena dia adalah pengusaha muda yang sukses. Mungkin saja, dia yang akan menggantikan posisi Renata menjadi pengusaha hebat tahun ini.