"Akhirnya, aku hamil juga. Pasti Pak Rangga akan menikahi aku."
Dia terlihat begitu bahagia, saat melihat alat tes kehamilan yang baru saja dia gunakan menunjukkan dua garis merah. Inilah saat-saat yang dia nantikan. Setelah tiga bulan lebih menjalin hubungan dengan Rangga.
Hampir satu bulan lebih, Melia memutuskan untuk kembali pada Adreno-mantan kekasihnya sewaktu dia duduk di bangku kuliah. Hubungan dia dengan Reno sudah sangat jauh, Reno 'lah yang mengambil keperawanan Melia pertama kali. Namun, hubungan mereka akhirnya kandas. Dia memergoki Reno selingkuh dengan wanita lain. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Tapi akhirnya, Melia menerima Reno kembali. Dia mulai putus asa, karena dirinya tidak kunjung hamil. Dia khawatir, bosnya itu merasa jenuh padanya, dan akhirnya mengakhiri hubungan mereka. Melia melakukannya dengan dua orang laki-laki. Entahlah saat ini dia mengandung anak siapa. Benih Rangga ataukah Reno yang menjadi selingkuhannya.
"Baby, mengapa kamu lama sekali di dalam? Apa yang sedang kamu lakukan di dalam sana?" Reno bertanya.
Dia baru saja terbangun dari tidurnya, dan tidak menemukan Melia di sampingnya. Hingga akhirnya dia mencari keberadaan Melia. Perlahan Melia membuka pintu kamar mandi, wajahnya terlihat bingung.
"Kamu kenapa? Mengapa wajah kamu seperti itu?" Reno bertanya, kini dia menatap lekat wajah Melia.
"A—aku hamil," jawab Melia dengan ragu-ragu.
Akhirnya dia mendapatkan jawaban, atas apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Dia kerap merasa tubuhnya cepat lemas, mual, dan juga sering merasa sakit kepala. Dia mengira, kalau lambungnya sedang bermasalah, atau mungkin masuk angin.
"Apa? Kamu ha—hamil?"
Reno begitu terkejut mendengarnya, meskipun dia mengakui kalau dia sering melakukannya. Tapi, mendengar seperti itu. Dia merasa tidak terima. Dia merasa belum siap menjadi seorang Bapak, karena merasa belum mapan.
"Tenang saja! Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan meminta pertanggungjawaban kamu. Aku sudah pada tujuan akhir aku. Aku akan menikah dengan bosku. Dia berjanji padaku, akan menikahi aku. Jika aku bisa mengandung anaknya. Lagipula, aku yakin. Kamu pasti tidak menginginkan anak ini. Kamu belum mapan, dan aku tidak ingin hidup susah," jelas Melia.
"Ya, apa yang kamu katakan memang benar. Aku belum siap menjadi seorang Bapak. Tapi, aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku ingin, kita tetap menjalin hubungan. Meskipun nantinya kamu sudah menikah. Aku akan selalu ada, di saat kamu merasa kesepian," sahut Reno.
"Entahlah, aku belum bisa berpikir tentang itu. Lebih baik aku memberi kabar padanya, kalau saat ini aku sedang hamil anaknya. Aku yakin, dia pasti sangat senang mendengarnya. Ya sudah, aku hubungi dia dulu."
Melia langsung mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan chat ke nomor telepon Rangga. Setahu dia, Renata-istrinya. Tidak pernah peduli pada ponselnya. Dengan seperti itu. Dia tidak perlu takut, kalau sampai dibaca istri bosnya itu.
Pesan terkirim, dan saat itu Rangga sedang mandi. Sedangkan Renata sedang merapikan sprei ranjangnya. Entah kenapa, dia merasa terpanggil untuk membuka pesan itu. Mungkin, ini jawaban atas doa-doanya selama ini. Dia ingin tahu, mengapa suaminya menjadi berubah padanya.
Seperti disambar petir di siang bolong. Sakit tidak berdarah. Dadanya terasa sesak. Hatinya begitu sakit, saat membaca pesan dari nomor yang bertuliskan Melia. Nama yang tidak asing untuknya. Dia tahu, kalau nama itu adalah nama sekretaris suaminya di kantor.
Dia tidak menyangka, kalau selama ini suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya. Hancur sudah harapan Renata, untuk menua bersama Rangga hingga akhir hayat. Dia sangat membenci perselingkuhan.
Rangga tampak mengerutkan keningnya, saat melihat sang istri yang diam terpaku sambil memegang ponsel miliknya.
"Sejak kapan kamu peduli dengan ponselku? Oh, sudah mulai curiga, dan ingin tahu urusan aku?" tegur Rangga. Suara barito suaminya, menyadarkannya.
Renata menatap ke arah suaminya, dengan tatapan tajam. Dia begitu kecewa, pada sosok laki-laki yang mendampingi dia lebih dari tiga tahun lamanya. Padahal dulu, laki-laki itu yang berjuang mengejar cintanya, dan laki-laki itu yang tetap mempertahankan dia di kala ibu mertuanya menyuruhnya bercerai karena dirinya tidak kunjung memberikan keturunan untuknya.
"Jadi ini alasan sikap kamu berubah, Mas? Aku ingin kita bercerai!" Kata Renata tegas.
"Sampai kapanpun aku tidak mau bercerai dari kamu. Aku mencintai kamu!" Rangga menolak permintaan wanita yang masih dia cintai.
"Aku tidak paham, cinta seperti apa yang sebenarnya kamu miliki? Jika kamu mencintai aku, kamu tidak akan menyakiti aku. Seharusnya kamu sadar, Mas. Kamu sudah menghadirkan wanita itu di hidup kamu, dan bahkan saat ini dia telah mengandung anak kamu. Kamu berkhianat, dan aku tidak akan pernah memaafkan kamu."
Mata Rangga membulat sempurna.
"Ma—maksud kamu apa?" Tanya Rangga memastikan.
"Bacalah! Kamu bisa lihat, pesan apa yang dikirim sekretaris sekaligus selingkuhan kamu," ucap Renata sinis.
Dia langsung memberikan ponsel Rangga kepadanya. Renata berusaha untuk tegar, dia tidak boleh lemah. Justru, dia harus bersyukur. Karena akhirnya Tuhan mengungkap apa yang selama ini terjadi pada suaminya. Renata menatap kebencian, kepada laki-laki yang masih berstatus suaminya.
"Sudah tahu 'kan jawabannya? Sekarang aku minta sama kamu, ceraikan aku! Aku tidak sudi di madu, dan menerima anak dari perselingkuhan suamiku."
"Tidak! Aku tidak akan pernah melakukan itu. Kamu akan tetap menjadi istriku, sampai kapanpun."
"Cih! Egois sekali kamu. Menginginkan keduanya dalam hidup kamu. Apa selama ini service aku di ranjang, tidak sehebat dia?" sindir Renata.
"Bukan seperti itu, Sayang. Kamu tetap yang terbaik untukku. Hanya saja aku ingin memilik anak. Setelah anak itu lahir, aku akan mengambilnya darinya, dan menceraikan dia. Aku hanya akan menikahi dia untuk sementara. Aku tidak ingin terpisah denganmu. Anak itu akan menjadi anak kita, kita berpura-pura kalau kamu sedang hamil kepada mama," jelas Rangga dengan enaknya. Tanpa memikirkan, kalau apa yang dia perbuat telah melukai hati wanita yang masih dia cintai.
"Apapun alasannya, aku tidak terima! Tidak sepantasnya kamu melakukan itu, di luar persetujuan aku sebelumnya. Kamu sudah berzina, berselingkuh dariku. Kamu pikir, aku bodoh? Jika aku tidak mengetahui perselingkuhan kamu ini. Aku yakin, kamu pasti masih menutupinya sampai saat ini. Jika kamu tidak mau menceraikan aku, aku yang akan menggugat cerai kamu!" Renata mengancam.
"Sekuat tenaga, aku akan membuat kamu tidak bisa terlepas dariku."
"Kamu itu aneh ya? Kamu yang berselingkuh, kamu juga yang tak ingin pisah dariku."
Rangga tetap pada pendiriannya. Hingga akhirnya Renata akan membalas rasa sakit hatinya. Dia ingin Rangga merasakan, betapa sakitnya yang dia rasakan selama ini. Sejak Rangga berselingkuh.