"Jangan sentuh aku, Mas! Aku jijik sama kamu. Aku tidak sudi di sentuh dengan laki-laki yang tangannya sudah menyentuh wanita lain." Renata berkata tegas.
Sejak tadi dia menahan air matanya untuk tidak jatuh. Dia memilih untuk pergi meninggalkan rumah, untuk menenangkan dirinya. Sungguh, ini permasalahan terbesar dalam hidupnya.
Renata bergegas bersiap-siap untuk pergi. Dia segera mengganti pakaiannya. Rangga tampak ketakutan, dia takut kalau Renata akan pergi dari hidupnya.
"Kamu boleh pukuli aku sesuka hatimu, asalkan kamu jangan pergi dari hidupku!" Rangga memohon. Saat itu, dia justru yang terlihat lemah. Dia juga berlutut di kaki Renata.
"Bangunlah, Mas! Tidak ada gunanya kamu melakukan itu. Semua tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi. Kamu sudah menodai pernikahan kita. Tidak ada lagi yang perlu aku pertahankan. Jika masalah ekonomi, aku masih bisa menerimanya. Tapi, aku tidak akan terima. Jika kamu berselingkuh."
"Bukannya bagus, Mas? Ini 'kan yang ibu kamu mau. Memiliki seorang menantu yang bisa memberikan keturunan untuk kamu. Lebih baik kamu segera menikahi dia, dan ceraikan aku!" Renata berkata sinis.
Renata menarik kopernya yang berisi beberapa pakaiannya. Dia akan meninggalkan rumah itu, untuk beberapa hari. Rangga mencoba untuk mencegahnya. Namun, Renata mengancamnya untuk melaporkannya ke polisi. Jika dia melarang Renata pergi.
Renata belum bertindak apapun, bukan karena dia lemah. Hanya saja, dia sedang memikirkan balasan apa yang tepat untuk suami pengkhianatnya itu. Dia lebih memilih menenangkan diri, berpikir secara jernih.
Rangga hanya bisa menatap lesu wanita yang masih dia cintai. Ucapannya pada Melia selama ini, bukanlah sebenarnya. Ada perasaan menyesal di hatinya.
"Kenapa Melia harus mengirimkan pesan ke ponselku sih? Dan naasnya kenapa Renata terpikir melihat ponselku."
Rangga mengacak-ngacak rambutnya. Dia tampak stres memikirkan rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk.
"Aku tidak ingin bercerai darinya. Akulah pemenangnya. Aku tidak rela, jika dia di miliki laki-laki lain. Argh ... kenapa ini harus terjadi sih?"
Rangga berniat mendatangi apartemen Melia, memastikan kalau Melia memang sedang hamil. Pikirannya saat itu benar-benar kacau.
"Ups, sorry," Reno meminta maaf.
"It's, ok. Saya yang sedang melamun," jawab Rangga.
Mereka bertabrakan di depan pintu lift, saat Rangga ingin keluar dari lift, dan Reno baru saja ingin pulang.
"Untung saja, gue udah balik. Kalau gak, kacau sudah rencana Melia. Pasti pikirannya sedang kacau, mendengar Melia hamil. Ah, untung saja Melia tidak meminta gue yang bertanggung jawab, karena gue hanya ingin menikmati tubuhnya saja." Reno berkata dalam hati. Dia juga tersenyum licik.
"Mau ngapain lagi si, Ren—"
Mata Melia membulat sempurna, dia terkejut melihat Rangga sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Dia mengira, kalau Reno kembali lagi.
"Siapa Ren yang kamu maksud? Apa tadi sebelum aku, ada tamu laki-laki yang datang?" Tanya Rangga menyelidiki, menatap penuh tanya.
"Ah, tidak. Aku kira kamu Reni temanku. Tadi temanku, baru saja pulang dari sini. Semalaman aku sakit, hingga akhirnya aku meminta Reni menemani aku di apartemen. Ternyata, aku tidak sakit. Aku sedang hamil anak kamu, Mas," jawab Melia bohong.
Dia langsung bergelayut manja, menarik Rangga masuk. Melia sengaja merayu Rangga, agar Rangga tidak curiga lagi padanya.
"Pantas saja, aku ingin selalu dekat dengan kamu, Mas. Ternyata, aku sedang hamil anak kamu. Kapan kamu nikahi aku? Aku kira kamu tidak datang ke sini hari ini," kata Melia.
Mereka kini sudah duduk di sofa panjang yang berada di depan TV. Melia tampak meletakkan kepalanya di pundak Rangga dengan manja.
"Kamu yakin, kalau itu anakku?"
Ucapan Rangga membuat Melia terkejut, dia langsung berakting menunjukkan wajah sedih. Karena Rangga meragukan anak dalam kandungannya.
"Tega kamu, Mas, berkata seperti itu padaku. Padahal, kamu pun tahu kalau kita sering melakukannya. Bagaimana aku tidak hamil, selama ini kamu 'kan melakukannya tanpa menggunakan pengaman," sahut Melia ketus.
"Ya bisa saja. Kalau sebenarnya kamu melakukannya juga dengan laki-laki lain. Aku tidak habis pikir, mengapa kamu bisa hamil. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Sedangkan Renata sampai saat ini belum juga hamil." Rangga berkata.
Mendengar penuturan Rangga, Melia langsung marah. Padahal Rangga sudah berjanji padanya, tidak akan menyentuh istrinya. Dia juga mengatakan kalau dirinya tidak bernafsu.
"Bukan. Maksud aku, selama tiga tahun kemarin. Itu waktu yang sangat lama. Tapi, dia tidak juga hamil. Padahal dulu, kami sering melakukannya. Ya, seperti sama kamu sekarang ini," jawab Rangga. Dia meralat ucapannya.
"Itu tandanya, istri kamu memang benar mandul, Mas. Seperti yang dikatakan mama kamu. Bukankah ini waktu yang tepat untuk bercerai darinya? Mama kamu pasti senang, mendengar aku hamil anak kamu." Melia berkata, memanas-manasi Rangga.
"Tapi, aku sangat mencintai dia. Aku tidak ingin berpisah dengannya," jawab Rangga lesu.
"Bisa-bisanya kamu mengatakan masih mencintai dia kepadaku. Lantas, selama ini kamu menganggap aku apa? Setelah yang kita lewati selama beberapa bulan ini, sampai akhirnya ada benih kamu di rahim aku. Persetan masalah cinta. Kalau kamu benar-benar mencintai aku, seiringnya jalan pasti kamu akan bisa melupakan dia," sahut Melia.
"Entahlah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Renata pergi meninggalkan rumah, dia juga meminta cerai dariku. Dia tidak sudi menerima anak yang kamu kandung. Renata menolak di madu. Sungguh pilihan yang sulit. Aku tidak rela dia dimiliki laki-laki lain. Hanya akulah pemenangnya. Betapa sulitnya aku mendapatkan dia dulu," ungkap Rangga.
Cara mendapatkan Melia dengan Renata tentu saja sangat berbeda. Renata wanita terhormat. Dia meminta Rangga menikahi dia, jika Rangga serius padanya. Berbeda halnya dengan Melia yang hanya seorang w************n, demi mendapatkan dirinya.
"Pokoknya, aku gak mau tahu! Aku minta kamu segera menikahi aku. Jika tidak, aku akan menghancurkan reputasi kamu. Kalau perlu, perusahaan kamu. Apa kamu tega, membiarkan anak ini lahir tidak memiliki seorang ayah. Atau mungkin, kamu ingin aku menggugurkan anak ini?" Ancam Melia.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan menikahi kamu secepatnya. Aku ingin anak itu lahir dengan selamat. Aku tidak mungkin tega membunuh penerusku," jawab Rangga.
Bagaimana Melia saat itu? Tentu saja dia bersorak gembira dalam hati. Akhirnya, impian dia bisa menikah dengan bosnya dapat terwujud. Meskipun, harus dengan cara yang licik. Sebenarnya, dia yang memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Rangga. Ditambah saat itu Rangga dalam keadaan mabuk. Sebagai seorang sekretaris yang baik, seharusnya dia bisa mengingatkan bosnya itu. Bukan justru membiarkan terjerumus.
"Akhirnya, akulah yang menjadi pemenangnya. Siap-siap menjadi janda ya, Mbak! Secepatnya, suami kamu akan menjadi suamiku," ucap Melia di dalam hati.