Setelah rapat selesai, aku bergegas untuk kembal ke ruanganku. Aku tak sabar untuk segera bertemu dengannya di sana. Sebelum masuk, aku berbincang sejenak dengan Katrin yang masih sibuk di mejanya. “Istri saya nggak keluar kan, Rin?” tanyaku pada Katrin. “Nggak kok, Pak. Bu Ayya masih di dalam. Bu Ayya baru bangun tidur waktu saya masuk nawarin minuman. Bu Ayya minta dibuatin es teh tawar karena katanya haus banget. Saya juga bawain camilan yang ada di pantry.” “Makasih banyak ya, Rin. Saya masuk, ya.” Kuputar perlahan gagang pintu ruanganku. Tsurayya tengah duduk di kursi kerjaku. Kepalanya bertumpu pada kedua tangannya yang dilipat di atas meja. Aku sengaja berdeham agar dia menyadari kehadiranku. Tsurayya perlahan mengangkat kepalanya. Dia tesenyum menyambut kedatanganku. “Udah sel

