Aku langsung masuk ke kamar dan tak menghiraukan lagi Athaya yang berjalan beberapa langkah di belakangku. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Kukunci pintu kamar dari dalam dan tak membiarkan siapapun masuk, termasuk Athaya. Masa bodoh di mau tidur di mana. Athaya mengetuk pintu dengan pelan. Berkali-kali dia memohon agar aku membukakan pintu untuknya, namun aku menolak. Entah kenapa aku masih merasa begitu kecewa setiap kali teringat sikapnya tadi, meskipun dia sudah memberikan penjelasan yang sangat jelas. “Ay, buka dulu pintunya. Kita selesaikan malam ini.” Tangannya masih belum menyerah untuk mengetuk pintu. “Ay, aku mohon buka pintunya.” “Nggak, Mas. Malam ini, terserah kamu mau tidur di mana. Aku mau sendirian dulu.” “Oke kalo itu mau kamu. Aku di kamar atas, ya. Bilang

