Pagi ini, aku sudah bersiap untuk segera berangkat ke toko. Aku pun membawa baju dan juga pakaian dalam ganti. Handuk dan perlengkapan mandi tak lupa kumasukkan ke dalam tasku. Aku tak sabar bertemu dengan suamiku—Athaya. Dengan sangat hati-hati aku menuruni tangga dan berjalan menuju ke ruang makan. Semua orang sudah berkumpul di sana. Rupanya Mas Gibran juga ikut sarapan bersama. Semalam, aku memang mendengar suara pintu ditutup dari kamarnya. “Sarapan dulu, Nak,” ucap Papa. Aku tak menjawab, namun segera mendudukkan diri di sebelah Mama. “Ayya mau ke mana? Kok jam segini sudah rapih?” “Toko,” jawabku singkat. “Ayya belum cuti untuk persiapan persalinan?” tanya Papa. Aku berkilah dengan menganggukan kepalaku. “Kenapa nggak cuti? Sebentar lagi Ayya kan mau melahirkan. Gimana hasil p

