bc

Aku (Bukan) Drakula

book_age12+
731
IKUTI
3.5K
BACA
possessive
family
love after marriage
arrogant
manipulative
tragedy
bxg
mystery
coming of age
friendship
like
intro-logo
Uraian

WARNING 21++

(Memuat konten b******h, perkelahian, dan sejenisnya)

"Sewaktu-waktu kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!"

Masih dengan posisi yang sama, Xanza menyipitkan mata. "Aku tidak menghamilimu, Anna." Jeda. "Tapi belum," katanya dengan ekspresi tak berarti.

"Mulutmu kotor sekali." Anna memundurkan tubuhnya dan ditahan oleh laki-laki berparas tampan itu. "Xanza, lepaskan. Aku akan berusaha memaafkan kekurang ajaranmu kali ini, jadi lepas."

"Aku tidak butuh maafmu." Laki-laki itu menunduk dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Anna yang sontak mundur. "Aku hanya butuh kepatuhanmu ... jangan berteman dengannya!"

••••••••••••

Anna Gradison sangat terpukul saat menemukan keluarga dan orang-orang di desanya tewas dengan luka yang tak lazim. Demi keselamatannya, Anna kabur dari sana dan tersesat di kota aneh bernama Vulganira, Kota yang selalu ditutupi awan hitam dan dihuni oleh manusia pucat. Di sana Anna bertemu dengan lelaki bermata tajam, dingin, dan tampan, Xanza Vandlez.

Anna berniat mencari tahu tentang kota itu serta penyebab kematian keluarganya, tapi sebuah fakta membuatnya terpukul saat mengetahui jika kota itu dihuni oleh drakula dan Anna bagian dari golongan itu meski tak sepenuhnya.

"Anna adalah manusia suci yang memiliki darah setengah drakula. Hanya dia yang bisa membantu kita membebaskan adikku dengan cara mengorbankannya di Blood Sucker."

Anna semakin sakit hati saat mendengar ucapan Xanza Vandlez dengan ayahnya, yang ingin menjadikan Anna sebagai tumbal di golongan drakula terkutuk, yaitu Blood Sucker. Akankah Anna rela mengorbankan dirinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Tragedi di sebuah Desa
Di heningnya malam, seorang gadis melangkah lunglai usai turun dari bus kota menuju desanya. Jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas, tapi gadis itu baru dapat pulang karena kegiatan di kampus yang begitu pesat. Suasana hening dan dingin bukan hal biasa lagi kala gadis itu berjalan di tengah-tengah desa, tapi entah kenapa kali ini terasa begitu berbeda. Suara binatang nokturnal yang bersahut-sahutan dengan bunyi berbeda semakin menimbulkan kesan menggelitik. Biasanya di jam segini masih ada orang yang beraktivitas—memeriksa keadaan desa. Namun kali ini gadis itu sama sekali tak melihat adanya pergerakan manusia selain dirinya. Bahkan semakin jauh dia melangkah, ia semakin dibuat heran dengan suhu dingin bagai menusuk kulit—tak seperti biasanya.  Desa tempat tinggal gadis bernama Anna Gradison itu memang jauh dari kota. Desa ini berada di pinggiran kota yang dikelilingi hutan lebat, meski begitu selama hampir dua abad, desa ini terjaga keamanan dan kenyamanannya, terbukti dengan lahirnya Anna di sini karena keluarganya enggan meninggalkan desa itu. Suara langkah kakinya sendiri bagai potongan mengerikan di Indra pendengaran Anna, ditambah suara derit ranting pepohonan yang saling bergesekan akibat embusan angin, membuat bulu kuduk Anna mengembang seketika. Menahan rasa takut yang tiba-tiba menyerang dan pemikiran-pemikiran negatif yang  tercetus, Anna mulai mempercepat langkahnya hingga sampai di  depan rumahnya. Senyum lega dan senang terbit di bibir Anna, tanpa membuang waktu lagi, ia langsung berlari menuju teras rumah. Tapi keanehan kembali menyerang Anna, biasanya malam-malam begini pagar rumahnya akan terkunci, tapi kali ini berbeda. Pagar rumahnya sama sekali tak terkunci, nyaris terbuka lebar. Yang lebih mengejutkan lagi, Anna melihat bercak merah di besi pegangan pagar itu. Dengan langkah terburu-buru, Anna masuk ke dalam rumahnya yang pintunya pun terbuka lebar. Akan tetapi, hal yang sangat tidak pernah Anna bayangkan kini terpampang jelas di hadapan. Cairan merah mengental berceceran di lantai yang terlihat mulai mengering, serta perabot-perabot yang tidak pada tempatnya. Anna langsung berlari mencari keberadaan Ibunya di segala penjuru ruangan dengan tubuh bergetar hebat seiring  cairan bening yang sialnya keluar begitu banyak di pelupuk mata. Pemikiran buruk terus menyerangnya tanpa ada celah pemikiran baik untuk masuk. "IBU!  DI MANA KAU?" Anna terus berteriak memanggil Ibunya sembari mengecek satu persatu ruangan yang ada di rumah itu. Namun hasilnya nihil. Anna tak juga menemukan ibunya di rumah yang telah diobrak-abrik itu. Anna tak menyerah begitu saja, dia berusaha berpikir keras—kira-kira kemana ibunya pergi dan beranggapan bawah telah terjadi pencurian di rumahnya. Tapi ingatannya kembali ke cairan merah yang berceceran di ruang tamu, yang sedikit pun tak memberikan kesempatan pada Anna untuk berpikir jernih. Mencoba berpikir di situasi menakutkan ini merupakan hal sulit bagi siapa pun, termasuk Anna, dia terus berusaha mencari solusi yang kemudian jatuh pada ponsel yang ada di saku celananya. "Ibu, angkatlah," bisik Anna dengan tangan bergetar. Dia terus berusaha menghubungi ponsel ibunya yang sialnya berdering di atas meja makan.  Saat sedang berpikir keras, Anna dikejutkan dengan suara raungan memekakkan di luar rumah yang berasal dari rumah tetangganya. Mendengar hal itu Anna sontak memeluk dirinya sendiri, raungan itu terdengar menakutkan dan sarat akan kesakitan.  "Mrs. Ansom, apakah kau ada di sana?" panggil Anna sambil mengetuk pintu rumah tetangganya. Namun tidak ada sahutan, saat melihat ke dalam, suasana rumah itu tak jauh berbeda dengan rumah Anna yang berantakan dengan cairan serupa berceceran.  Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Anna berniat lari ke rumah tetangganya yang lain, tapi ekor matanya tak sengaja menangkap sosok di samping rumahnya yang sedang bersandar di pohon mangga. Dengan langkah terseok, bibir bergetar, dan tubuh melemas, Anna mencoba mendekati sosok itu yang tidak terlihat jelas karena minimnya pencahayaan.  "Tidak! Ini tidak mungkin! Ibu ... IBUUUUUUU!" Anna berteriak histeris saat melihat jelas siapa sosok yang tengah bersandar di pohon itu. Tubuh Ibu Anna bersandar tanpa tenaga dengan balutan pakaian robek di mana-mana. Bibir wanita paruh baya itu membiru dengan sekitar mata yang menghitam. Saat Anna memeluk tubuh Ibunya, ia merasakan dingin teramat sangat, seolah di tubuh itu tidak terdapat sel-sel sumber penopang kehidupan di pembuluh darah. "La-lari A ... Anna, la-larilah." Ibu Anna berucap terbata-bata, nyaris tak terdengar di telinga Anna, jika saja tempat itu tak sesunyi sekarang ini. "Ibu ... Apa yang kau katakan! Jangan tinggalkan aku ibu!" Raung Anna sambil mendekap erat tubuh Ibunya yang tak lagi berdaya. "Me-mereka datang Anna," kata Ibu Anna seperti sebuah peringatan. Anna menggeleng tak karuan dengan berurai air mata.  "Aku akan memanggil ambulans, Bu. Bertahanlah, kau pasti baik-baik saja," kata Anna penuh tekad dan bermaksud beranjak untuk mengambil ponselnya yang ia taruh di dalam rumah. Tangan lemah Ibu Anna menyentuh wajah putrinya yang sepucat kertas. Sudut bibirnya berkedut dengan mata berkaca-kaca, kentara terlihat sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.  "Kamu harus tetap hidup dengan baik tanpa Ibu Anna. Kamu harus hidup sampai waktu itu tiba dan mengetahuinya sendiri." Cairan bening lolos di sudut mata wanita paruh baya itu. Anna yang melihatnya semakin meraung tertahan sambil memangku kepala ibunya. "Me-mereka ada dua golongan Anna. Datanglah di golongan putih, yang bisa menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya ... kau bagian dari mereka." Napas Ibu Anna tersengal-sengal usai berbicara, lalu sedetik kemudian tangannya di wajah Anna jatuh begitu saja seiring dengan berhentinya detak lemah di tubuhnya. Anna berteriak keras dengan tangisan pilu. Sedang angin semakin berembus kencang seolah ikut merasakan kesedihan gadis itu. Detik itu Anna merasakan kehancuran di hidupnya dan kehilangan sosok yang menjadi tiang kokoh sebagai pegangannya selama hidup. Sesaat Anna berpikir untuk menyusul sang Ibu, tapi ucapan Ibunya beberapa menit yang lalu kembali terngiang ibarat lonceng peringatan. "Kamu harus tetap hidup dengan baik tanpa Ibu Anna. Kamu harus hidup sampai waktu itu tiba dan mengetahuinya sendiri." Ucapan Ibu Anna seperti sebuah clue atau petunjuk, membuat Anna menelan pahit rasa sakit dan keinginan kuat untuk mengakhiri hidupnya. Anna pikir ia harus tetap hidup demi mendiang Ibunya.  Setelah merasa tenang, Anna membaringkan tubuh Ibunya di bawah pohon itu dan memetikkan bunga yang ia ambil di teras rumahnya—bunga yang dirawat dengan sayang oleh Grad, Ibu Anna. Lalu Anna menaruh bunga itu di atas kepala dan digenggaman Ibunya. "Beristirahatlah dengan tenang Ibu," bisik Anna sambil mencium kening Ibunya untuk terakhir kali, seiring dengan cairan bening yang kembali meluncur di ujung matanya hingga ikut menetes membasahi pipi sang Ibu. Sesaat Anna terpaku oleh luka di leher ibunya. Luka membiru seperti dicengkeram dan dua titik bulat berwarna merah dan kebiruan.  Belum pulih Anna dari keterkejutan, dia kembali dibuat tak bereaksi kala tubuh sang Ibu mengeluarkan sinar, lalu perlahan naik di udara dan lenyap bersama abu berwarna kristal. Yang pasti, usai melihat tubuh tak bernyawa sang Ibu menguap di udara—dalam bentuk tak lazim, Anna sontak menjauh dari tempat itu, lalu berlari ketakutan. Sedangkan di sebuah kota yang jauh dari jangkauan Manusia, seorang perempuan cantik tersenyum penuh arti di atas kursi kekuasaannya. "Sepertinya aku harus menaklukannya," ucapnya sembari menyesap minuman merah kental di gelasnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

The Naughty Girl

read
101.3K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.0K
bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K
bc

My Sweet Enemy

read
49.1K
bc

T E A R S

read
317.7K
bc

Bad Prince

read
518.3K
bc

LAUT DALAM 21+

read
299.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook