Anna terus berlari dan sesekali singgah di rumah tetangga atau rumah-rumah yang dia lewati, tapi kejadian serupa kembali ia dapat. Semua penghuni rumah itu tewas dengan luka serupa—seperti yang terjadi pada Ibunya.
Suara burung hantu yang menakutkan serta lolongan anjing malam yang saling bersahutan mengiringi langkah Anna. Gadis itu terus berlari sambil menangis terisak, tak peduli kemana dia akan pergi. Saat itu Anna hanya berpikir untuk menemukan orang yang dapat membantunya atau kembali ke kota untuk meminta bantuan, mengingat jika dia lupa mengambil ponselnya saat kabur dari desa. Namun berlari di tengah gelap yang hanya diterangi cahaya bulan purnama merah bukanlah sesuatu yang mudah. Anna kerap tersandung batu atau tanaman liar, dan baru sadar jika langkahnya tidak menuju jalanan kota.
Saat tersadar, Anna merasa linglung dan ketakutan yang begitu kental. Napasnya tersengal dengan tubuh bergetar. Sesaat Anna mengedarkan pandangannya ke penjuru hutan. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, tumbuh baik dalam bentuk tak beraturan, mengelilinginya bak terkepung. Saat itu Anna merasa dunianya berputar, bagaikan sebuah tarian persembahan yang diiringi alunan musik dari suara makhluk hidup di pekatnya malam.
"Ya Tuhan, ada di mana aku?" ringis Anna sambil menatap sekelilingnya.
Di tengah rasa takut dan panik, Anna kembali dikejutkan saat mendengar suara dedaunan diinjak dan embusan napas yang menggelitik kulit. Di tengah-tengah kepanikannya, Anna menangkap suara bisikan mengerikan.
"Ssshhhhh ... aku menunggumu."
"Sssshhh ... datanglah ke mari darah manis."
"Ashhhhhhhh ... ketakutanmu membuat rasa laparku semakin besar."
"Siapa di sana?" teriak Anna sambil menatap awas sekelilingnya. Suaranya bergema beberapa saat. Bahkan ketika Anna berteriak, dia merasa jika penghuni hutan itu terdiam sunyi, sebelum kembali bersahutan membelah pekatnya malam.
Pertanyaan Anna hanya dijawab embusan angin yang menimbulkan gesekan antar pohon, menimbulkan bunyi berdenging yang ngilu.
Didorong oleh rasa takut yang mencekik, Anna kembali berlari tak tentu arah. Semakin dia melangkah, maka semakin jauh pula semesta membawanya menembus ke dalam hutan dan terus disinari bulan purnama merah, bagaikan ikut tersenyum melihat ketakutan gadis itu di tengah pekatnya malam yang mencekam.
"Apakah aku akan mati malam ini?" bisik Anna pada dirinya sendiri usai tersandung tanaman liar di hutan itu. Anna tidak tahu pasti di mana dia sekarang. Mendengar sendiri deru napasnya pun sudah cukup mengerikan.
Tanpa Anna sadari bayangan putih bersinar menyerupai manusia terus ikut andil dalam pelariannya. Sosok itu tak henti mengawasi pergerakan Anna dari jangkauan yang tidak dapat dilihat oleh Anna. Serta ikut andil dalam menyelami perasaannya.
"Jangan takut. Aku bersamamu." Suara bisikan lembut dan menenangkan itu menghentikan langkah Anna. Ia mengedarkan pandangannya berharap dapat menembus gelap gulita meski mustahil.
"Sepertinya aku berhalusinasi," bisik Anna. Lalu melangkah mendekati sebuah pohon besar yang menjulang di hadapannya. Anna merasa ia perlu berisitirahat barang sejenak hingga menjelang pagi, dan berharap ia dapat melihat mentari serta tetap hidup.
Namun, karena pekatnya malam, Anna tidak tahu jika di dekat pohon itu terdapat lubang cukup besar yang dalam, hingga satu kakinya terperosok ke dalam, lalu menarik yang satunya hingga benar-benar jatuh ke dalam sana.
Anna terus berteriak ketakutan di dalam lubang besar itu, berharap ada yang menolongnya walau terdengar tak masuk akal. Anna juga berusaha memanjat pinggir lubang itu, tapi sama sekali tak membuahkan hasil, mengingat keadaan tubuhnya yang mulai melemah.
"Ibu, maafkan aku," bisik Anna sebelum gelap menjemputnya.
******
Kicauan burung sriganti mengusik kesadaran Anna yang berangsur pulih. Cahaya matahari yang lolos dari sela-sela rimbunnya pohon, kini menyinari wajah Anna yang tampak segar meski tak menutupi raut lelahnya. Saat sadar jika hari telah pagi, Anna sontak membulatkan mata dan menatap sekeliling, tapi pandangannya jatuh pada sepasang mata tajam bak bersinar dengan tatapan begitu dingin. Anna mengerjap tak percaya atas penglihatannya, di depannya kini berjongkok seorang lelaki berperawakan tegap, menggunakan mantel hitam tebal, serta payung hitam di genggamannya.
Lelaki itu berkedip perlahan, tak kunjung melepas tatapannya pada wajah Anna.
"Si-siapa kau?" tanya Anna. Bulu kuduknya berdiri saat menyadari jika laki-laki di depannya ini terlihat sangat pucat. Wajah lelaki itu jelas sangat tampan, tapi Anna tidak menemukan adanya senyum di wajah itu. Datar tanpa ekspresi, ibarat membekukan.
Tanpa disangka-sangka, Anna kembali terisak saat mengingat tragedi yang menimpanya tadi malam, juga ketakutan-ketakutan yang dia telan hingga jatuh tak sadarkan diri di dalam lubang itu.
Tersadar, Anna kembali menatap laki-laki di depannya dengan binar sedih. "Apakah kau yang menolongku dari lubang itu?" tanya Anna sambil menunjuk lubang tempat ia terjatuh tadi malam, berjarak satu meter dari tempat dia bersandar di pohon saat ini.
Laki-laki itu bergeming tanpa melepas tatapannya. Anna nyaris tak mampu bernapas normal dibuatnya. Takut jika napasnya dapat membuat laki-laki di depannya ini melakukan hal yang tidak-tidak.
"Apa kau malaikat pencabut nyawa?" Anna kembali terisak setelah reda beberapa saat.
"Apakah kau akan mencabut nyawaku?" Anna kembali bertanya sembari mengigit bibir bawahnya, meski begitu tangisnya tetap pecah. Sedih karena mengingat kini dia sebatang kara dan tersesat di hutan, juga sedih karena hidupnya akan berakhir.
Laki-laki itu sedikit pun tak bergerak dari posisinya, begitu pun dengan objek pandangannya.
"Ya, ya, kau pasti malaikat pencabut nyawa. Lagi pula kau cukup tampan untuk ukuran seorang malaikat yang akan mengakhiri hidup manusia." Air mata Anna tak lagi keluar, meski mata gadis itu masih berkaca-kaca.
Anna mendongak demi melihat jelas wajah laki-laki yang dia anggap sebagai malaikat pencabut nyawa itu. Alis tebal, mata tajam nyaris tanpa kelembutan, serta bibir merah yang tertutup rapat, dan diperlangkap rahang kokoh, begitulah kira-kira yang dilihat Anna.
"Cukup menyedihkan ketika aku harus melihat wajah tampan sepertimu di detik-detik kematianku." Anna tersenyum miris, lalu memukul kepalanya hingga beberapa kali, membuat laki-laki di depannya mengernyit aneh, meski hanya beberapa detik.
"Sepertinya aku sudah gila," gumam Anna. "Aku gila karena mengajak Malaikat pencabut nyawa mengobrol." Kemudian Anna tertawa hambar, nyaris pilu.
"Kenapa diam saja? Merasa aneh dengan manusia yang akan kamu cabut nyawanya, begitu?" Anna meraup wajahnya secara kasar.
"Ayo! Cabut nyawaku sekarang juga agar aku tidak merasakan rasa sakit dan takut ini! Cabut nyawaku!" Raung Anna sambil memukul bertubi-tubi d**a laki-laki itu.
Sudut mata laki-laki itu berkedut, merasa terusik dengan tingkah laku Anna. Kemudian tanpa disangka-sangka dia menangkap pergelangan Anna dan menguncinya.
Anna langsung mematung dengan bola mata membulat, dia merasa tenggorokannya seperti dicekam oleh sesuatu hingga sulit mengeluarkan suara.
Tatapan lelaki itu tertuju pada bola mata Anna, lalu turun ke hidung, dan berhenti di bibir Anna. Perlahan laki-laki itu memajukan tubuhnya, sedang satu tangannya menyingkap rambut yang menutupi leher Anna, lalu memiringkan kepalanya mendekati leher Anna.
Jarak hidung laki-laki itu dengan kulit leher Anna hanya berkisar beberapa senti. Menghirup aroma khas dari tubuh Anna, aroma yang memanggil-manggil makhluk sepertinya. Tapi secepat dia menangkap aroma khas itu, secepat itu pula aroma itu menghilang tergantikan aroma pahit.
Laki-laki itu tersadar, tidak seharusnya dia m*****i golongannya dengan merasakan aliran di tubuh gadis itu.
Laki-laki itu sontak berdiri dan menatap Anna seperti ingin membunuhnya. Sedang Anna beringsut takut, hingga laki-laki itu mundur, kemudian merapatkan payung di genggamannya, lalu melangkah masuk ke dalam hutan sampai tak terlihat oleh Anna.
Anna mengerjap takut, masih terasa jelas aura dingin dari laki-laki itu serta suhu tubuhnya yang menyerupai es.
Sebenarnya, siapa laki-laki itu?