Setelah memantapkan hati, Anna bertekad untuk keluar dari hutan ini, bagaimana pun caranya. Setidaknya hingga titik penghabisan kemampuannya. Tadinya Anna sempat menyesal tidak mengikuti laki-laki yang dia anggap Malaikat itu. Penyesalan itu baru hadir setelah beberapa menit kemudian. Lagi pula Anna tidak seberani itu mengikuti laki-laki, apa lagi di tengah-tengah hutan lebat seperti ini.
Bermodalkan ke dua kaki yang dipaksa untuk berdiri dan pengetahuan minim perihal hutan, Anna berharap usahanya tidak menemui kegagalan. Sesungguhnya dia takut mati mengenaskan di tengah hutan, belum lagi jika dia harus bertemu penghuni hutan mengerikan atau hewan buas.
Anna mulai menerka-nerka ke mana dia harus melangkah. Sebab, berada di tengah hutan tanpa arah yang jelas dan tujuan yang pasti, itu cukup membuatnya frustasi. Yang pada akhirnya pun Anna mengikuti insting—dengan membelah hutan ke arah yang berlawanan matahari terbit.
Di tengah perjalanan, Anna tak jarang dikejutkan oleh hewan-hewan yang kebetulan lewat atau dia temui. Seperti kelinci, rusa, dan yang lebih mengerikannya ialah serigala. Entah karena Anna bernasib baik atau karena bayangan putih menyerupai manusia itu membuatnya tetap terlindungi.
Anna nyaris mati kehausan dan kelaparan jika tidak menemukan pohon pir yang sedang berbuah, juga sebuah danau kecil yang di tengah-tengahnya terdapat batu mengapung. Cukup aneh, tapi Anna tak mempedulikannya, terpenting dahaganya terobati.
Setelah makan buah dan minum air secukupnya, Anna mengistirahatkan tubuhnya di pinggir danau itu sambil mencelupkan kakinya ke danau.
"Aku merasa seperti ada yang mengawasiku," gumam Anna sambil celingak-celinguk mencari keberadaan sosok yang diperkirakan mengawasinya. Sedangkan sosok yang memang mengawasinya itu hanya tersenyum penuh arti, sebelum menghilang dalam sekejap mata karena harus melakukan sesuatu akibat perbuatan Anna yang dianggap tidak sopan oleh penunggu danau dan penunggu pohon pir itu.
Usai melepas penat dan dahaga, Anna kembali melanjutkan perjalanan tanpa arahnya itu. Hingga menjelang sore, Anna tiba di sebuah pinggiran hutan di tengah hutan. Aneh? Tentu. Di depan Anna terdapat hutan yang tampilannya sangat gelap nyaris tidak terlihat adanya sinar matahari yang menembus hutan itu, sedangkan hutan tempat Anna berdiri, sinar matahari sedang terik-teriknya. Anna merasa sedang di sebuah penyebrangan di dua alam yang berbeda meski dalam lokasi yang sama. Anna menatap tanah yang ditumbuhi rumput liar, keadaan tempat Anna berpijak tidak berbeda dengan tanah di hutan depannya ini, yang membedakannya ialah pohon-pohon yang terlihat lebih padat dan tua serta gelap.
Tanpa berpikir panjang, Anna melangkahkan kakinya masuk ke hutan itu. Sedangkan bayangan putih yang menyerupai manusia itu terpekik tertahan melihat keputusan Anna.
"Kamu tidak akan bisa kembali jika sudah masuk ke sana," gumam bayangan itu yang tentunya tidak dilihat oleh Anna. ""Tapi kamu memang harus ke sana," lanjutnya.
Saat menginjakkan kaki di hutan itu, Anna merasakan aura yang berbeda. Di hutan itu terasa jauh terasa lebih dingin dan mencekam. Tapi karena sudah kepalang tanggung, Anna tetap melanjutkan langkahnya dan berpikir jika akan turun hujan.
Sedangkan bayangan yang mengikuti Anna itu perlahan lenyap dibawa angin, meninggalkan Anna bersama ketidaktahuannya perihal hutan itu.
*****
"Kapan kau kembali?" tanya lelaki pemilik rambut berwarna merah kecokelat-cokelatan itu.
"Tadi malam." Laki-laki itu segera turun dari atas tembok pembatas sambil memperbaiki kerah mantelnya. Kemudian dia mendongak, menatap awan gelap pekat, yang sudah dia saksikan dalam satu abad terakhir.
"Menemukan sesuatu?"
Laki-laki dengan rambut warna perak istimewanya itu terdiam usai menurunkan pandangan. Lalu menyorot temannya dengan sorot dingin khasnya.
"Wow. Jadi kau menemukan sesuatu?" Laki-laki itu bertepuk tangan, ikut turun dari tembok, bergabung dengan sahabatnya.
"Kapan terakhir kau bertemu manusia?"
Mata sipitnya membentuk garis lurus, membalas tatapan sahabatnya dengan sorot curiga. "Tadi pagi, di kota seberang. Hei, ayolah! Aku itu guru, tentu setiap harinya bertemu dengan manusia," ujar laki-laki itu santai sembari merangkul pemilik rambut berwarna perak.
"Tadi malam aku bertemu manusia."
"Wow. Aku terkejut," ujar si pemilik rambut kecokelatan yang bernama Warzad. Dia menyorot sahabatnya malas. "Apakah itu info yang mengejutkan? Kita berbaur dengan makhluk seperti mereka, Xanza. Sepertinya karena terlalu lama di sana membuat kemampuan otakmu berkurang!" Warzad berdecak dan meninggalkan pemilik rambut perak yang terdiam.
Xanza Vandlez, nama laki-laki itu. Pemilik rambut perak yang bagian depannya jatuh menutupi dahi. Tampan, tapi tak cukup menyenangkan. Raut datar, sorot mata tajam, serta bibir yang mustahil menyunggingkan senyum, menjadi alasan kenapa dia disebut tidak menyenangkan sebagai ukuran laki-laki tampan.
"Aku tidak peduli," gumam Xanza, lalu membentangkan payung hitamnya, dan memasukkan satu tangannya ke saku mantel.
Di lain tempat, Anna sedang kebingungan saat tiba di sebuah pinggir jalan yang di seberangnya terdapat tembok besar dan tinggi yang di depannya di kelilingi bunga mawar hitam. Sebenarnya bukan itu yang aneh, melainkan perihal keberadaan pemukiman di tengah-tengah hutan belantara. Sepengatahuan Anna, dia tidak pernah sekali pun mendengar adanya kehidupan manusia di tengah hutan. Karena dinginnya udara hampir membekukan Anna, dia pun menyebrang dan mendorong pintu yang terdapat di tengah tembok besar itu tanpa berpikir panjang.
Saat telah membuka pintu itu, Anna terkejut bukan main. Di depannya terdapat jalan besar layaknya tol, meski tak selebar tol yang kerap dia lalui sepulang dari kampus. Yang lebih mengejutkannya lagi, di sana terdapat kendaraan roda empat walau hanya terlihat beberapa, juga gedung-gedung tinggi, meski tidak setinggi gedung di kota yang diketahui Anna. Suasana klasik lebih kental di tempat itu dengan suhu udara yang menusuk kulit.
Di samping itu, Anna mulai melangkahkan kakinya berharap menemukan orang yang dapat membantunya.
Ada yang aneh dari kota ini. Orang-orang yang berada di sana terlihat memiliki tubuh yang lebih tinggi dan tegap, baik perempuan maupun laki-laki. Anehnya mereka semua menggunakan mantel tebal, juga topi, Anna pikir hal itu dikarenakan oleh temperatur udara. Selain itu, orang-orang di tempat itu memiliki warna kulit putih pucat.
Namun saat Anna menyapa seorang perempuan yang sebaya dengannya, Anna tak mendapatkan respon yang baik. Perempuan itu menyorot Anna dengan raut aneh, lalu melenggang pergi.
Karena tak kuat menahan dinginnya udara di tempat itu, yang hampir menyerupai dinginnya udara di malam hari di tengah hutan tadi, Anna pun melangkah menuju sebuah taman yang berbentuk lorong. Setiap sisi lorong taman itu ditumbuhi berbagai macam bunga. Anna terus melangkah menyusuri lorong itu hingga sampai di sebuah kastel mewah bergaya klasik. Tidak ada Hiruk-pikuk di sekitar kastel, hanya terdapat beberapa mobil yang terparkir di depan kastel itu. Sedangkan manusia, Anna tak melihat satu pun selain dirinya.
"Dia datang," ucap seorang laki-laki dari dalam kastel yang melihat kehadiran Anna dari jendela atas bagian paling tinggi dari kastel itu.