Angin berembus kencang dan masuk melalui jendela yang terbuka lebar, gorden putih yang menjadi penghalang bak ingin lepas dari gantungan. Pohon yang berdiri tak jauh dari sekitar jendela itu terhempas tak beraturan seolah meraung keras atas gerakan udara, seperti ingin meluluhlantakannya.
Di tengah-tengah badai itu, terdapat seorang gadis berbaring di atas ranjang empuk dengan mata terpejam, tampak nyaman andai tubuh dan bibirnya tak menunjukkan raut gelisah.
Keningnya mengerut dalam, setiap inci dari wajahnya menunjukkan ketidaksenangan, air yang keluar dari pori-porinya semakin memperjelas jika gadis itu tidak baik-baik saja dalam tidurnya.
Bibirnya bergetar dan sesekali mendesis dan menggumamkan kalimat-kalimat rancu-penuh ketakutan, kecemasan, bak di ujung kematian.
Sedang tangannya di sisi tubuh seakan-akan melakukan perlawanan, mencengkram selimut tanpa ampun.
Di tengah remang-remangnya ruangan yang disertai murka langit yang menggelegar, serta derit suara gesekan antar kulit pohon yang menciptakan bunyi ngilu, juga raungan dan nyanyian penghuni kegelapan-semakin memperlengkap gambaran keadaan gadis itu.
Hingga bertepatan dengan kilat menyambar yang disusul suara petir, gadis itu tersentak bangun dengan napas tak beraturan.
Ke dua matanya menyorot ruangan penuh was-was, kemudian pandangannya jatuh pada jendela yang terbuka lebar menampakkan pertunjukan malam yang mengerikan untuk ukuran seorang gadis yang tak terbiasa akan hal itu.
"Ternyata cuma mimpi," gumamnya sarat akan lega. Mengusap wajahnya dengan ke dua tangan dan mencoba untuk menepis tontonan mengerikan yang muncul di mimpinya.
Terlalu mengerikan jika disebut nyata meski hadir dalam mimpi.
Tidak banyak yang dilihat Anna dalam mimpinya itu. Sebab tampak abstrak, tapi cukup jelas untuk membuatnya ketakutan hingga sulit meraup oksigen.
Tampak seperti sebuah penyelamatan diri dari pembunuhan. Darah di mana-mana dengan bau amis yang kental serta raungan mengerikan menyiksa telinga. Anna seperti melihat dirinya di mimpi itu.
"Itu hanya mimpi. Tidak lebih." Anna berujar pelan untuk menepis rasa takutnya.
Kemudian karena terganggu akibat angin malam yang menyusup membelai kulit, Anna perlahan bergerak dari ranjang dan melangkah ke jendela untuk menutupnya.
"Ssshhhhhh ... Gadis manis, kemarilah."
Suara itu membuat Anna terpaku. Menoleh kanan-kiri untuk mencari sumber desisan itu.
Usai menutup jendela dan gorden, Anna berniat untuk kembali tidur dan berharap esok harinya itu hanya sebuah mimpi. Namun dia urung melakukannya ketika mendengar suara lain yang memilukan.
"Anna ... pergi, Nak, pergi! Jangan ke sana ...."
Anna terbelalak dengan napas tercekat. Itu suara ibu.
"Anna ibu kesakitan, Anna."
Raungan yang terdengar bergema di pendengaran Anna sontak membuatnya mengangkat tangan tuk menarik rambutnya sendiri.
"Baguss ... shhhshhhahhh ... raut putus asa itu yang aku lihat ... kauu membuatku semakin lapar ...."
Anna memutar tubuhnya demi menangkap objek asal suara mengerikan itu, tidak nyaring, terdengar seperti bisikan, namun terasa dekat hingga membuat Anna merasakan aura hangat yang menerpa sekitar lehernya.
"Anna, keluarlah Nak. Keluar ... kau berbeda, kau istimewa ... ANNA KELUAR!"
Anna tersentak dari rasa takut, kemudian mengusap wajahnya frustasi dengan air mata yang menetes tanpa henti. Demi Tuhan, Anna tidak pernah merasakan rasa putus asa dan rasa takut yang mengerikan seperti saat ini. Membuatnya seolah dicekik oleh angin dan suara-suara aneh bagaikan menusuk telinganya.
Tanpa berpikir panjang, Anna melangkahkan kakinya menuju pintu dan menuruni tangga dengan ritme pelan meski kuat tekatnya untuk berlari dan menjauh dari sana, nahas sesuatu tak kasat seperti menahan langkahnya tuk menuruti logika.
"Ibuuu, aku takut," ringis Anna di sela-sela tangisnya sambil menyusuri jalan setapak yang kiri kanannya terdapat pilar-pilar besar.
Anna tahu di mana dia harus melangkah, namun sisi lain di dirinya menarik tubuh itu untuk berbelok ke kiri dan menyusuri semak kecil yang kemudian berhenti di sebuah pohon besar dan tinggi.
Anna terkesiap. Tak lagi merasakan sesuatu yang berat menahan dirinya. Suasana mencekam yang sempat menggerogoti hati dan jantungnya kini perlahan sirna, menyisakan isak yang tertahan.
Kendati demikian, Anna merasakan kebingungan meski rasa takut belum sirna. Dia sedang tidak berada di kastel, lebih tepatnya mungkin di sekitar luar kastel itu, begitulah kesimpulan Anna yang dibantu pencahayaan lampu minim yang tergantung di tiang besi di ujung jalan setapak itu.
Saat menoleh ke belakang, Anna dikejutkan dengan sosok berpakaian hitam yang tengah menyorotnya tajam dan penuh perhitungan.
"Kau ...."
Lantas tatapan Anna berhenti di rambut laki-laki itu. Berwarna perak. Terlalu menonjol di tengah-tengah keremangan.
"Sedang apa di sini?" Anna maju beberapa langkah, namun segera bergeming saat laki-laki itu menggerakkan benda berkilau di tangannya.
Bukan payung yang pernah dilihat Anna di hutan tempo lalu, melainkan sebilah pedang berkilau yang menakutkan.
Anna meneguk ludah susah payah dan menaikkan tatapannya ke wajah Xanza. "A-apa yang kau lakukan di sini?" Anna bertanya susah-payah dan segera memalingkan wajahnya.
Tatapan laki-laki itu seperti ingin melenyapkan. Wajahnya yang tampan sama sekali tak membantu binar mengerikan yang terpancar di bola mata coklat miliknya.
Anna mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh benda kasar. Pohon besar tadi.
"Diamlah." Suara berat dan dingin itu membuat Anna terkesiap dalam ketakutan. Dia sontak mendongak untuk melihat tatapan Xanza yang terpaku di wajahnya.
Anna menggerakkan tangannya sebagai bentuk penghalang jika Xanza yang maju mendekatinya melakukan sesuatu yang buruk, sebab dengan cara laki-laki itu menatapnya serta pedang yang tersemat di tangannya, sama sekali tak membuat Anna mampu berpikir jernih.
"Ternyata kau memang Malaikat pencabut nyawa," lirih Anna dengan suara tercekat. Masih tak mengalihkan pandangannya dari wajah Xanza yang
semakin dekat.
"Sebelum kau mencabut nyawaku, bolehkah aku meminta satu permintaan?" Anna menegakkan tubuhnya yang sempat melemah, kemudian memaksakan senyum tipis meski pipinya basah akan air mata.
Xanza mengurungkan langkahnya yang tinggal satu langkah hingga jarak mereka benar-benar menipis. Kening laki-laki itu mengerut samar meski sesaat. Merasa terusik melihat cara gadis itu berbicara serta matanya yang menyorot pilu.
"Setelah kau mencabut nyawaku nanti ...." Anna menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat kepalanya-menatap Xanza. "Tolong berikan aku pemakaman yang layak dengan bunga-bunga cantik di atasnya ... Bisakah kau melakukan itu untukku?" Anna kembali terisak dengan bibir bergetar pucat.
"Kenapa?" Nyatanya Xanza kalah oleh keinginannya untuk bertanya.
Tangan satunya yang bersembunyi di saku celana, kini terulur untuk menyentuh kulih wajah Anna, sebelum turun menyusuri rambut—menepisnya lembut, sebelum berhenti di leher gadis itu. Xanza sempat terpaku melihat kulit putih Anna yang tampak bersinar. Kemudian tanpa kesadaran penuh, dia meneguk ludah, menahan dahaga yang tiba-tiba menyerang.
"Karena Ibu tidak mendapatkan pemakaman yang layak," lirih Anna, sedikit meringis merasakan nyeri dari gesekan seperti benda tajam di lehernya meski sebuah tangan besar yang menyentuhnya
"Beristirahatlah," bisik Xanza , sejenak mengalihkan pandangan, lalu kembali menatap mata dan bibir gadis itu, sebelum mengayunkan pedang yang sedari tadi dia cengkram kuat, seiring dengan mata Anna yang terpejam, disusul tubuhnya yang melemah dan jatuh di pelukan Xanza yang spontan menangkap gadis itu yang tak berdaya.
*******
Wajah-wajah yang penuh kekhawatiran dan kekesalan tampak di depan kamar Anna. Pasalnya setelah menghadiri diskusi yang digelar Vandlez, maka yang hadir saat itu langsung kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Selain Ganza yang izin keluar terlebih dahulu dengan alasan mengantuk. Nyatanya putra ke dua Vandlez itu tidak serta merta ke kamarnya, melainkan menuju kamar Anna yang terletak di lantai dua, kamar yang paling ujung dan jarang disentuh penghuni kastel ini.
"Ibuuu, dia baik-baik saja, kan? Ayolah, siapa pun tolong katakan jika Anna baik-baik saja. Jangan buat aku berpikir yang tidak-tidak tentang obrolan kalian tadi!" ujar Ganza panik. Sebab dia mulai menerka-nerka apa yang akan terjadi saat mendengar jika gadis itu membawa pengaruh negatif bagi golongan Holy serta warga Vulganira.
Ganza tidak sebodoh itu untuk menangkap maksud dari diskusi tadi, yakni tidak menutup kemungkinan Anna akan dilenyapkan. Hingga membuatnya buru-buru keluar untuk menemui gadis itu dan menyuruhnya segera pergi dari sini.
Namun saat menyambangi kamar gadis itu, Ganza sama sekali tak menemukannya, selain pintu kamar yang telah terbuka lebar.
"Andai tadi aku langsung ke kamarnya, dan mengabaikan masakan Lucia bodoh itu," ringis Ganza sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang Ibu.
Nyonya Vandlez tak kalah paniknya saat Ganza tiba-tiba menggedor pintu kamarnya serta memanggil semua orang yang tengah berisitirahat.
"Jadi bisa kau jelaskan?" sentak Nyonya Vandlez ke arah suaminya yang tengah bersandar di pembatas tangga sembari bersidekap d**a, sesekali mengusap matanya yang mengantuk.
"Sepertinya kau dalam masalah, Tuan," bisik Wazard dan dihadiahi decakan oleh Vandlez. Keadaan laki-laki itu tak jauh berbeda dengan Vandlez, dia cukup terkejut saat Ganza masuk ke kamarnya dan menanyakan keberadaan Xanza.
"Aku tidak habis pikir kenapa menyayangi tiga laki-laki bodoh di rumah ini!" Nyonya Vandlez berujar lirih sambil mengusap bahu Ganza.
"Bisa-bisanya kau menyarankan agar gadis itu dilenyapkan, kemana hati nuranimu, huh? Ternyata anak dan ayah sama saja," rutuk Nyonya Vandlez. Berhasil membuat Vandlez meneguk ludah susah payah.
"Sayang, aku hanya memberinya sebuah pilihan, antara mempertahankan gadis itu hingga kita menemukan solusinya, atau melenyapkannya dan masalah dianggap selesai. Yang menentukannya ya Putramu," kata Vandlez membela diri sambil mengusap belakang lehernya, karena jika istrinya angkat suara, maka masalah akan menjadi lebih rumit.
"Bagaimana jika Xanza memilih pilihan terakhir?" bisik Wazard yang berdiri di samping Vandlez.
"Aku mengenal Putraku, Ar." Vandlez berujar santai sembari menguap lebar. Nyonya Vandlez yang melihat jika suaminya tampak santai, sontak saja melayangkan tatapan mematikan.
"Jika terjadi sesuatu dengan gadis itu ...." Nyonya Vandlez menunjuk suaminya garang, kemudian melanjutkan, "Kau dan Putraku yang irit bicara itu akan aku asingkan ke goa mematikan di Pulau Exile," kata Nyonya Vandlez tak main-main.
Sesuai namanya, Pulau Exile atau Pulau pengasingan ialah sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan besar yang dihuni oleh makhluk laut mematikan serta tempat bersemayamnya makhluk-makhluk yang kehidupan abadinya diwarnai kegelapan. Pulau itu sendiri tidak memiliki kehidupan, kerap disebut pulau mati atau kematian, sering dijadikan tempat penghukuman bagi kaum Drakula Holy yang melakukan kesalahan fatal, salah satunya membunuh manusia yang tak bersalah.
Sudut bibir Vandlez berkedut samar mendengar ancaman istrinya. Tidak merasa terintimidasi sedikit pun, karena pada dasarnya dia tahu pilihan yang akan diambil oleh Putranya.
"Jika bocah tengik—maksudku Xanza, melukai Anna, maka aku yang akan mematahkan lehernya menggunakan tanganku sendiri," kata Ganza berapi-api sambil mengangkat tangannya yang mengepal ke udara. Sedang orang-orang di sekitarnya tampak mengerjap tanpa membuka suara.
"Kenapa diam?" kata Ganza sambil melirik Ibu dan Ayahnya.
Sedang Nyonya Vandlez menggaruk pelipisnya bingung, meringis pelan sambil menatap Vandlez yang kini mengedikkan bahu, kemudian melangkah menuruni tangga disusul oleh Wazard.
Merasa aneh, Ganza memutar tubuhnya menghadap ayahnya yang sontak membuatnya bergeming dengan bibir terbuka.
"Leher siapa yang ingin kau patahkan?" Xanza menatap adiknya dengan raut datar, kemudian berlalu dari hadapan laki-laki itu dan membawa gadis yang terkulai lemas di gendongannya dan membaringkannya penuh kehati-hatian.
Semua itu tidak luput dari perhatian Zera yang tidak membuka suara sejak tadi.
Ganza tercekat sambil mengejar langkah Xanza meski langsung terdiam saat pintu kamar Anna tertutup tepat di depan wajahnya.
"Zera, kau lihat, Kakak bodohku tidak membunuhnya," ucapnya sambil tersenyum lebar, kemudian berlalu dari sana sembari bersiul pelan.
Zera bergeming dengan tatapan tak lepas dari pintu kamar Anna yang di dalamnya terdapat Xanza dan gadis itu.