7. Dia istimewa

1571 Kata
Usai pintu tertutup rapat, Xanza menurunkan Anna dari gendongannya dan membaringkan gadis itu penuh kehati-hatian, seolah takut jika dia akan terbangun dari tidurnya—efek dari usapan lembut tangan Xanza di wajahnya saat gadis itu tiba-tiba pingsan.  Setelah dirasa posisi Anna telah nyaman dan aman, laki-laki rambut perak itu menarik selimut tebal yang teronggok di sudut kasur dan merentangkannya di tubuh Anna hingga sebatas d**a. Setelahnya, Xanza mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, mengendus sesuatu yang tidak lazim. Kemudian menghela napas lelah, pasalnya usai berdiam diri di ruangan tempat berdiskusi itu, Xanza berniat untuk kembali ke kamarnya. Namun urung kala tak sengaja melihat Anna melangkah aneh menuju belakang kastel diikuti oleh sesuatu. Tadinya dia tidak ingin memedulikan Anna, sudah cukup dengan menolongnya di hutan tempo lalu dan mengiringnya ke mari, tapi aroma berbahaya yang menguar di sekitar Anna mengalahkan ego kelelakiannya. Membuatnya mengikuti gadis itu serta sebilah pedang untuk berjaga-jaga. Tatapan Xanza kembali jatuh di wajah Anna yang sesekali mengerutkan kening dalam tidurnya—kentara sedang menonton pertunjukan tak menyenangkan di alam mimpi.  "Tidurlah dengan nyenyak." Xanza berujar pelan sembari menaruh telapak tangannya di kening Anna yang mengerut. Hanya sebentar, hingga kerutan itu kembali normal seperti biasa. Tidak ada ekspresi berarti yang ditujukan Xanza. Hanya raut datar tanpa ekspresi.  Karena merasa tugasnya telah selesai, laki-laki rambut perak itu berniat untuk pergi dari sana, sebelum sisi liar di tubuhnya mengambil alih. Karena bagaimana pun juga, dengan mencium aroma khas Anna, cukup membuat Xanza merasakan pusing, terlebih jika kulit tubuh mereka saling bersentuhan. "Terima kasih." Tangan Xanza yang tengah memutar kenop langsung terjeda mendengar nada lemah itu.  "Untuk?" Xanza menimpali tanpa menatap lawan bicaranya. Sedang satu tangannya masih berada di pegangan pintu, tak memutarnya, pun mendorongnya. Anna sedikit meringis saat merasakan ngilu di dadanya, sebelum bersandar di kepala ranjang dan menatap punggung Xanza.  "Karena telah menolongku dari lubang itu." Anna berujar pelan dan mengalihkan pandangannya. "Dan tadi, kau tidak membunuhku," lanjutnya sambil menoleh ke arah Xanza yang tak kunjung membalikkan badan, atau memang enggan. "Belum." Suara dalam dan serak itu terdengar nyaring di pendengaran Anna. "Mungkin belum," lanjutnya terdengar yakin dan pasti. Anna menghela napas mendengarnya. Merasa bingung dan heran atas respon laki-laki yang belum dia ketahui namanya ini. Walaupun dia baru beberapa kali bersinggungan dengannya, Anna tahu jika laki-laki rambut perak itu ialah orang baik meski aura yang menguar di tubuhnya terasa mengerikan dan mengintimidasi. Xanza kembali memutar kenop pintu, siap untuk melangkah dari kamar ini, namun Anna lagi-lagi membuka suara. "Bisakah kau tetap di sini?" tanyanya tanpa keraguan.  Xanza memegang kenop pintu dengan erat, lalu memutar tubuhnya dan menatap Anna datar. "Katakan." "Ya?" "Katakan apa yang sedang kau pikirkan sekarang ini." Anna sempat mengerjap takjub mendengar delapan kata yang meluncur di bibir Xanza. Kendati demikian dia tetap berlaku biasa, meski tubuhnya merespon buruk—gemetaran dengan keringat dingin mengucur deras. Demi apa pun, aura Xanza seperti di pertemuan pertama mereka.  Tampak lembut dan k**i di saat bersamaan. "Aku takut tidur sendirian, takut jika mimpi itu kembali datang. Jadi, bisakah kau menemaniku hingga aku terlelap?" Katakanlah jika Anna sedang mencari perhatian atau akal bulus belaka, tapi perihal mimpi dan kejadian beberapa saat tadi, Anna benar-benar merasakan ketakutan yang begitu kental. Mungkin ini disebut terlalu berani dan percaya diri, yang kemudian berujung pada penyesalan. Karena usai mengatakan keinginannya, tanpa disangka-sangka, Xanza menutup pintu itu dengan rapat, lalu menghampiri Anna tanpa kata dan membaringkan tubuhnya di samping gadis itu yang sontak menepi—memberi ruang untuk Xanza. Bukan ini yang dimaksud Anna. Dia hanya ingin Xanza menemaninya bercerita mengenai apa saja hingga matanya terlelap tanpa sadar. Bukan tidur bersama di ranjang yang sama. Anna bukan gadis kecil lagi, dia tahu mana yang patut dan tidak, apa lagi mereka bisa disebut asing. "Aku lelah dan harus bangun pagi-pagi." Xanza berujar pelan seolah dapat membaca kegamangan Anna.  "Tidak punya waktu untuk bercerita," lanjutnya berhasil membuat Anna melotot tak percaya. "Kau bisa membaca pikiran orang, ya?" sentak Anna sambil memiringkan kepalanya demi melihat ekspresi Xanza. Kemudian menyesal karena laki-laki itu juga melakukan hal yang sama—menoleh dan menatap Anna dari samping dengan jarak  lumayan tipis. "Tidak," jawab Xanza setelah berdiam beberapa saat dan kembali ke posisi semula. Anna menggigit bibir bawahnya dengan tangan mencengkram selimut. "Sepertinya tadi itu aku sedang ngawur, kau tidak perlu repot-repot menuruti ucapanku ... Kau boleh kembali ke kamarmu," kata Anna menyuarakan kekalutannya. "Aku melakukan ini bukan karenamu." Laki-laki rambut perak itu menjawab dengan mata yang sudah tertutup.   "Hah, lalu?" "Karena makhluk yang sedari tadi mengawasimu." ***** Anna melirik jam yang menempel di dinding, kemudian menghela napas berat usai melihat jarum jam yang menunjuk angka satu. Sedangkan sejak mendengar ucapan Xanza mengenai makhluk yang mengawasinya, Anna sontak saja membulatkan mata, menatap sekeliling yang tidak tampak janggal sedikit pun. Sedang laki-laki yang telah lelap itu tidak terusik sama sekali dengan Anna yang bergerak gelisah. Tadinya Anna ingin menanyakan perihal makhluk yang dimaksud Xanza. Namun melihat bagaimana tenangnya wajah itu yang tengah terpejam, Anna merasa tak tega dan mengurungkan niatnya. Kini ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil mencengkram selimut. Sedang Xanza di sampingnya tampak lelap dengan napas teratur. Terlihat damai dan lembut, ekspresi wajah yang kerap ia tampilkan nyaris tak terlihat. Anna langsung mengalihkan pandangannya, merasa lancang telah menatap orang yang tengah pulas.  "Dia paranormal atau indigo, ya?" bisik Anna pada dirinya sendiri, lantas melirik Xanza, sebelum meraup wajahnya secara kasar.  Di satu sisi Anna takut untuk tidur, tapi di sisi lain ia sangat mengantuk. "Tidurlah." Anna terkesiap mendengar suara serak yang berasal di sampingnya. Tanpa menoleh pun ia tahu pemiliknya. "Aku menjagamu," lanjutnya sambil menggerakkan kepalanya, kemudian memutar tubuhnya agar menghadap Anna yang masih duduk bersandar. "Selama aku di sini, makhluk itu tidak akan mengganggumu lagi." Xanza menambahkan. Ucapan Xanza sedikit mengobati kekalutan Anna. Dengan gerakan ragu-ragu, Anna memperbaiki posisinya agar nyaman, yang tentunya berusaha agar tidak terlalu dekat dengan laki-laki itu.  Yang dirasakan Anna saat ini wajar bagi manusia yang tidak terbiasa dengan hal mistis dan makhluk-makhluk yang tak kasat mata, meski mereka hidup secara berdampingan.  Setengah jam berlalu, ruangan itu terdengar lebih senyap, hanya deru napas dan sesekali gerakan Anna di tengah tidur lelapnya.  Xanza yang  sedari tadi tidak tidur, kini menegakkan tubuhnya dan duduk di pinggir ranjang. Menatap sekeliling, mencari makhluk yang mengganggu Anna dan mempermainkan ilusinya. Tatapan Xanza jatuh pada cermin yang menggantung. Menatap cermin itu beberapa saat, lalu kembali menatap Anna. Tangannya terulur, memegang ubun-ubun gadis itu sejenak, sebelum menyapukannya di wajah Anna hingga telinga. Setelah dirasa aman dan tidak akan mengusik ketenangan gadis itu, Xanza pun berdiri sambil memasukkan ke dua tangannya di saku mantel. Langkah Xanza berhenti tepat di depan cermin, menatap pantulan wajahnya dalam remang-remang. Sudut bibir laki-laki itu berkedut samar, lalu m******t bibir bawahnya sejenak.  Ekspresi Xanza berubah datar saat pantulannya di cermin itu perlahan-lahan berubah bentuk. Permukaan cermin perlahan bergetar dan mengeluarkan bunyi, seperti perpaduan besi dan baja. Xanza tak berpindah dari posisinya, tetap fokus ke cermin seolah sedang menonton pertunjukan. Bau amis pekat menguar begitu saja seiring cairan hitam keluar dari sisi-sisi cermin, membuat Xanza mengerutkan hidung. Perlahan, pantulan Xanza berubah total, menyerupai asap hitam. Dan tanpa di sangka-sangka, di tengah-tengah asap itu terulur tangan berkuku panjang dan sekejap mata sudah mencengkram leher Xanza. Mendapat serangan tiba-tiba, Xanza tentu tak tinggal diam. Ia mencoba melepas cengkraman di lehernya, mengibaskan tangannya di tengah asap hitam itu dan mencengkram tangan yang mencekiknya meski nihil—bak menggenggam angin. "Ck. Merepotkan," keluh Xanza. Meski di hadapannya wajah makhluk itu sudah terpampang jelas.  Tampak kepala tanpa rambut, hanya ada mata yang tak lagi memiliki bola mata, serta jidat yang di tengah-tengahnya usai ditusuk dan sudah membusuk dengan cairan hitam pekat meleleh, juga makhluk menjijikan lainnya, serta belatung meliuk-liuk menggelikan. "Kenapa mengganggunya?" tanya Xanza dengan tajam. Bibir yang tidak berbentuk itu terbuka, menampakkan lendir kental dan menetes menyusuri tangannya yang mencekik Xanza. "Aku menyukainya hhhhhh." Makhluk itu mendesis seperti ular dan semakin menitikkan liurnya hingga membasahi mantel Xanza. "b*****h menjijikan," hardik Xanza dan langsung melayangkan tangannya yang bebas ke arah cermin. Makhluk di dalam cermin itu mendongak, merasakan kesakitan saat Xanza memecahkan kaca. "Katakan yang sebenarnya atau kau akan berakhir seperti abu!" ancam Xanza sambil mencengkram cermin yang tak lagi berbentuk itu, darah yang menetes di sela-selanya semakin mengucur membasahi dinding. Sudut bibir tak berbentuk makhluk itu mengernyit miring, kemudian mendesis k**i, "Makhluk seperti kalian tidak akan bisa menghancurkan dendam ... akhhh ... kejahatan ada karena kebaikan ... Shhhhh akh ... asal kau tau Tuan, tidak sedikit makhluk yang awalnya baik, kini bertopeng, dan menusuk dari belakang ... hhhhhhh, bentuk ketidakadilan  ... dia selanjutnya ... mati ... Dam—akhh ... Ned." Xanza menepati ucapannya. Karena makhluk itu perlahan berubah menjadi abu, sebelum raib bersama angin yang berembus melewati sela-sela jendela. Xanza menatap tangan dan mantelnya yang tidak terdapat apa-apa seperti beberapa saat lalu yang dipenuhi cairan hitam amis serta air liur yang bercampur belatung.  Laki-laki itu menghela napas panjang, menoleh ke arah Anna yang tampak pulas.  "Damned," gumam Xanza, memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak akan pernah terjadi. Kening laki-laki itu mengerut dalam, lalu kembali menatap Anna.  Gadis itu benar-benar membawa petaka. Begitulah pikir Xanza yang tengah membasahi bibirnya, berdiri tegap tanpa melepas pandangannya. Menyusuri setiap inci wajah itu hingga ujung kaki. Sedang selimut yang menutupi tubuh gadis itu sudah berpindah tempat—terongggok menyedihkan di lantai. Lagi-lagi Xanza menghela napas berat. Hadirnya sudah membawa banyak kekacauan.  "Ayah bilang dia istimewa," gumam Xanza dengan sorot dingin, tak terdapat belas kasih sedetik pun.  "Haruskah aku melenyapkannya lebih awal?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN