"Secara tidak langsung, aku ini pembunuh, ya?" Xanza diam, memilih untuk tidak menanggapi kesimpulan Anna mengenai dirinya sendiri. Pandangannya beralih ke langit, sambil meneguk ludah samar. Harum tubuh gadis di sampingnya ini benar-benar menguji kesabaran. "Rasanya aku seperti manusia yang hilang arah." Anna kembali bersuara, tangannya menggenggam besi jendela berbentuk vertikal itu. "Jika kondisi ini aku alami saat Ibu masih hidup, mungkin aku tidak akan terlihat menyedihkan dan setolol ini." "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Xanza, menebak isi kepala Anna yang langsung mempertemukan dua bola mata mereka. "Aku ingin tau semuanya. Semua keanehan-keanehan yang aku alami selama di sini, di kota ini, terlebih mengenai darahku yang menjadi incaran makhluk-makhluk menyeramkan itu,

