Esok malamnya.
"Sayang, kamu ikut aku ya ke pesta!" Suara bujukan lembut terdengar di dapur di rumah mewah Farrel. Kali ini Farrel tengah mengikuti langkah kaki Angela kemanapun Angela melangkah pergi.
"Malas, kalau ada yang mengenali aku bagaimana? Kalau ada yang memberitahu Paman kalau aku masih hidup bagaimana?" Angela memutar matanya malas sembari berjalan menjauh dengan terus menyibukkan diri mengambil ini dan itu untuk membuat jus.
"Ayolah, Sayang! Aku jamin tidak akan ada yang mengenal dirimu lagi,aku juga jamin mereka hanya akan penasaran saja. Lagipula saat kau pergi dulu kau masih kecil dan lucu sekarang wajahmu terlihat berbeda dari yang dulu." Farrel terus melancarkan rayuan mautnya pada Angela, Farrel berharap Angela akan luluh dan mengikutinya.
"Kenapa kau ingin sekali aku pergi?" tanya Angela kesal dengan wajah malas sembari memutar matanya lagi.
"Aku ingin memamerkan keindahan langka dengan wajah manis nan anggun ini di depan semua orang. Aku ingin semua orang tahu kalau aku memiliki kekasih cantik dan juga pintar " Farrel terlihat bangga saat mengatakan tentang Angela.
Mata indah Farrel berpijar dengan kebahagiaan luar biasa. Jelas di dalam sana ada cinta dan juga kebanggan yang hanya diberikan untuk Angela, membuat Angela hampir saja luluh.
"Kau ingin memamerkan diriku? Memangnya kau pikir aku ini barang?" tanya Angela sinis dengan bibir mencebik namun senyum lembut di bibir Angela membuat Farrel ikut tersenyum manis.
"Bukan, tunanganku bukan barang tapi tunanganku adala permata dengan harga ratusan juta dolar. Ayolah Sayang! Ikut aku pergi ke sana, kau tahu 'kan kalau aku orang baru di sini jadi aku belum memiliki teman ataupun kenalan baik. Apa kau ingin aku duduk sendirian tanpa ada yang menemani?" Farrel menampilkan raut wajah sedih.
Hal ini sukses membuat Angela akhirnya luluh, "Huff, baiklah. Aku akan ikut bersama kamutapi kamu harus janji tidak akan meninggalkan aku di pesta itu sendirian." Angela menunjuk hidung Farrel membuat Farrel mengangguk senang.
Entah kenapa Angela merasa tidak nyaman dan tidak ingin pergi meninggalkan rumah ini, Angela merasa ada sesuatu yang akan terjadi tapi dia tidak tahu hal apa itu. Angela merasa takut namun melihat wajah menyedihkan Farrel dia jadi tidak tega.
"Terima kasih, Sayangku!" Farrel terlihat senang sembari memeluk Angela dan memberikan ciuman kecil di pipi dan kening Angela.
**
Angela melangkah dengan senyuman cantik yang selalu tersungging di bibirnya. Wajah cantiknya menjadi incaran mata dari orang-orang yang ikut hadir di acara amal besar yang diadakan sebuah perusahaan ternama.
Hari ini, dia datang menemani Farrel yang baru saja yang notabenenya adalah pengusaha sukses baru di bidang real estate. Angela sebenarnya merasa risih dan tidak nyaman ketika ditatap seperti itu namun dengan senyuman kecil Angela tetap membalas sapaan yang diucapkan orang-orang yang hadir padanya.
Tangan Angela bahkan dengan erat melingkari lengan Farrel jelas untuk menegaskan status yang dimilikinya agar semua orang tidak melihat dirinya seperti itu lagi. Angela benar-benar tidak nyaman dan ingin menyembunyikan diri.
Ada yang menatapnya dengan iri dan juga ada yang menatapnya dengan penuh harapan.
"Aku menyesal membawamu ikut serta dalam acara ini," keluh Farrel dengan wajah cemberut saat matanya menangkap wajah-wajah lapar para pria di pesta ini.
"Bukan aku yang salah! Aku sudah menolakmu untuk pergi tapi kau yang terus memaksa. Sekarang terima saja nasibmu memiliki tunangan yang terlalu sempurna sepertiku," ucap Angela bangga, sesekali ia masih melempar senyum pada orang yang melihatnya.
"Ya, kenapa tunanganku sangat sempurna seperti ini? Dia pintar memasak, pintar dalam bekerja dan juga sangat mandiri!" keluh Farrel lagi.
"Hahahaha," Angel tertawa kecil, dia berusaha menyembunyikan tawanya dengan bersembunyi di bahu Farrel tapi tetap saja orang-orang masih melihat ke arahnya.
"Gara-gara kau sih," tuduh Angel sembari mencubit pinggang Farrel keras.
Farrel yang dicubit keras hanya bisa berusaha menyembunyikan suara teriakannya.
"Sakit yank," keluh Farrel pelan. Tangannya sibuk menggosok tempat bekas cubitan Angel.
"Sakit? Tau rasakan? Makanya jangan sembarangan main-main sama aku!" sindir Angel nampak kesal, ia memalingkan wajah dan melipat kedua tangannya di d**a.
Hal ini sukses membuat Farrel semakin gemas dan ingin mencium pipi Angela dengan penuh kasih sayang.
Angela yang sedang bercanda mesra dengan Farrel tidak sadar bahwa ada empat mata tajam yang menatapnya dari kejauhan.
"Itu Angela bukan sih!" tunjuk Marco ke arah Angela, tangannya menyentuh bahu Alvin sahabatnya.
"Angela mana? Angela keponakanku 'kan udah lama mati, mayatnya saja tidak dapat ditemukan karena telah habis dimakan hiu," sahut Alvin tanpa melihat.
Ia sibuk bermain dengan ponsel dan minuman di tangannya. Cairan merah itu bahkan ikut bergoyang seiring tangannya yang bergerak ke sana ke mari.
"Aku yakin itu Angela, aku 'kan waktu itu sering bertemu dia di rumah. Apalagi pas dia minta ini dan itu," tunjuk Marco lagi dengan penuh keyakinan.
"Bedanya sekarang dengan dulu Angela sekarang dia lebih terlihat dewasa dan juga semakin cantik. Pria di sebelahnya adalah Farrel anak Hutomo yang dinyatakan sebagai pendatang baru paling sukses di bidang real estate saat ini," jelas Marco lagi sembari memegang bahu Alvin.
"Mana?" tanya Alvin yang juga ikut penasaran, matanya melihat ke arah jari Marco menunjuk.
"Tu cewek yang waktu itu aku katakan padamu di bandara waktu itu bodoh, wanita yang kau katakan kalau kau merasa kenal padanya" Marco kembali ingat pertemuan mereka di bandara waktu itu.
"Aku lupa!" Alvin kembali memutar cairan di dalam gelasnya secara asal.
"Waktu kita di bandara kemarin dan kau mengatakan kalau kau merasa kenal dengan dirinya." Marco kembali mengingatkan Alvin.