Si wanita cantik memandang jalanan yang pernah ia lalui ini dengan raut wajah yang berubah sendu dan penuh kesedihan. Sekali lagi dia harus datang ke tempat penuh luka ini. Tempat yang membuatnya bahagia sekaligus tempat yang menjadi luka terdalam bagi hidupnya yang kecil dan tak berharga bagi siapa pun.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di sebuah kawasan rumah mewah dan elit. Penjagaan di sana juga terbilang sangat baik dan ketat. Apalagi kamera pengawas yang terpasang di sana-sini juga merupakan bukti kuat bahwa di sana memang aman dan terjaga dengan baik.
"Oh bonekaku! Kenapa kau terlalu terburu-buru ha!" Si pria gemulai berlari dengan nafas sesak mengejar langkah si wanita cantik.
"Berhentilah bertingkah seperti wanita, Andro! Kau itu laki-laki tulen dan juga seorang bodyguard," keluh si wanita cantik dengan nada kesal dan marah. Matanya berputar-putar dengan malas namun tetap saja dia terlihat elegan dan indah di pandang mata.
Wanita cantik dan manis itu dengan sembarangan melempar sepatu yang tadi dikenakannya dan mengganti sepatu itu dengan sandal rumahan. Tidak lupa ia juga berjala menuju dapur untuk mencari meinuman dingin guna meringankan tenggorokannya yang terasa kering dan sakit.
Di belakangnya bodyguard yang bernama Andro itu mengikuti si wanita cantik dengan sabar, kemana pun kaki si wanita melangkah Andro akan mengikuti dengan sepenuh hatinya.
"Mau bagaimana lagi? Jika aku menjadi laki-laki tulen maka semua orang tidak akan lengah. Tapi dengan aku seperti ini setidaknya aku bisa tahu siapa yang ingin mencelakai dirimu," keluh Andro juga sembari melepas penyamaran yang digunakannya selama di luar untuk menjaga si wanita.
Andro yang tadinya berpenampilan seperti wanita maupun dari gerak dan cara bicaranya kita berubah sepenuhnya menjadi laki-laki tulen, tubuhnya yang bergerak gemulai sudah kembali tegak dan sombong persis seperti seorang bodyguard yang seharusnya.
"Hais sudahlah, susah berbicara dengan orang seperti kau. Sana kau pergi! Aku mau istirahat sebentar," usir wanita cantik itu sembari mendorong Andro menjauh darinya. Dengan wajah lelah penuh keluhan si wanita melangkah ke lantai atas menaiki tangga melingkar satu demi persatu.
Sesampai di lantai atas, sekali lagi si wanita mendorong Andro menjauh darinya. Si wanita benar-benar terlihat malas dan kesal mungkin karena dipaksa untuk datang ke tempat yang benar-benar tidak diinginkannya sama sekali.
Si wanita memutar matanya malas saat melihat Andro, si bodyguardnya itu tidak ingin pergi meninggalkan dirinya sama sekali. Ketika si wanita cantik memasuki kamar yang diperuntukkan baginya itu. Seketika dia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur king size yang terletak di tengah ruangan. Dia menghembuskan nafas lelah dan malasnya sembari berguling-guling di tempat tidur.
"Kenapa di sini rasanya tidak nyaman sedikitpun, padahal aku harus terus melanjutkan hidupku. Lagipula tidak ada seorang pun yang akan ingat dengan kehadiranku di sini." Wanita itu menatap langit-langit kamar yang ditempatinya.
Beberapa kenangan menyeruak masuk ke dalam pikirannya sebelum berganti dengan kenangan buruk yang membuatnya melarikan diri dan tidak ingin kembali ke sini lagi
Ya, dia adalah Angela yang sudah menghilang beberapa tahun ini. Farrel adalah orang yang menyelamatkannl Angela dan juga Farrel adalah orang yang bisa membuat Angela berpikir rasional dalam melanjutkan hidup.
Farrel mencoba mengobati sakit yang dirasakan Angela dengan mendekat secara perlahan dimulai dengan berteman hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan.
Farrel juga menjalani proses yang sangat panjang dengan perjuangan yang berat untuk bisa membuat Angela kembali bersemangat dan mampu melanjutkan semuanya tanpa memikirkan semua hal buruk itu lagi.
"Kenapa aku harus ikut ke sini? Jika bukan karena Farrel yang memaksa aku tak akan ingin datang ke sini," keluh Angela dengan mata tertutup. Angela butuh ketenangan agar bisa melupakan kejadian buruknya di sini.
Angela juga penasaran dengan keadaan Andre dan keluarganya, apakah Alvin menyakiti mereka atau malah memberikan hadiah karena sudah membantu dirinya tanpa mengotori darahnya dengan darah Angela.
Entahlah Angela sendiri tidak tahu harus melakukan apa? Atau haruskah dia mengirim seseorang ke rumah Andre untuk menanyakan kabar dan keadaan mereka namun Angela takut mereka juga telah melupakannya seiiring berjalannya waktu.
Sedangkan Alvin yang sedang bersama seorang wanita, ia nampak sedang menikmati waktu berdua. Semua pakaian yang tadinya melekat di tubuh mereka berdua sudah bertebaran di mana-mana.
"Nnnnh jangan di sana, Sayang! Kenapa kau suka sekali bermain dengan tempat itu?" keluh si wanita dengan rambut pirang sepinggang. Tubuhnya meliuk-liuk dengan gerakan erotis yang memaksa seseorang untuk terpikat dengan dirinya. Dia terlihat sudah profesional dan juga sangat berpengalaman dalam memikat pria.
Semua terlihat jelas dari gerakan tubuhnya yang terus meminta untuk disentuh dan dimanjakan.
Terlihat menggoda memang, apalagi dengan erangan erotis yang keluar dari bibirnya yang terkesan dibuat-buat dan tidak alami sama sekali. Dia terus berusaha mendesah untuk meningkatkan gairah Alvin yang begitu bersemangat di bagian bibir bawahnya yang merekah. Dia ingin segera memulai pertempuran di antara mereka namun Alvin tampaknya hanya ingin bermain-main dan mengulur-ulur waktu selama mungkin yang ia bisa.
Alvin tidak peduli dia tetap bermain dengan bibir bawah si wanita, jarinya mendorong keluar masuk dengan cepat mengikuti ritme permainannya yang sengaja menyiksa dan asal senang itu saja.
"Entahlah, mungkin karena dia aku menjadi kecanduan seperti ini. Setiap kali mengingat kejadian malam itu, apalagi mengingat miliknya meremas milikku, aku menjadi tak tahan." Alvin mengingat kenangannya bersama Angela. Kenangan mereka hari itu membekas jelas diingatan Alvin membuatnya tidak bisa melupakan hari indah itu sama sekali.
Apalagi Alvin merasa hari itu dia dan Angela bagai angsa yang bermain bahagia dengan indahnya di dalam kolam cinta di bawah langit malam yang terang dan penuh cahaya.
Kisah cinta semalam mereka waktu itu membuat Alvin sulit untuk melupakan hal itu, Alvin benar-benar terbuai oleh tubuh dan suara Angela hingga dirinya tidak mampu untuk memuaskan dirinya melewati orang lain lagi. Alvin berusaha mencari pengganti Angela namun sekali pun dia tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya. Hal itu membuat Alvin kesal dan frustasi hingga akhirnya sering bermain dengan wanita-wanita yang datang kepadanya.
Tapi Alvin tidak terlalu memikirkan semua itu, bagi Alvin hal itu bukan karena dia menyayangi Angel tapi karena kenikmatan yang disuguhkan gadis polos itu. Kenikmatan dan suguhan manis yang tidak pernah Alvin peroleh dari wanita-wanita yang pernah ia mainkan sesuka hati tanpa peduli dengan keinginan wanita-wanita itu padanya.
Pernah sekali, ketika Alvin telah puas dengan Selena. Alvin meninggalkan Selena sendirian dan pergi meninggalkan Selena di rumahnya begitu saja dengan sepotong cek dengan angka tujuh digit di atasnya. Dan Selena juga terlihat tidak mempermasalahkan semua itu asal Alvin terlihat puas dengan layanan yang ia berikan.