"Nona Tuan! Nona!" kata-kata kepala pelayan tidak sampai dengan cepat ia menyerahkan surat yang dipegangnya ke tangan Alvin dan pergi dari sana secepat mungkin.
Melihat tingkah kepala pelayan yang aneh dan tidak biasa itu pun Alvin akhirnya membuka isi surat itu. Hanya saja matanya tidak berkedip sedikitpun ketika membaca surat itu. Wajah Alvin tidak menunjukkan apapun yang membuat orang lain mungkin tidak tahu apa yang ia pikirkan.
Dengan acuh tak acuh dan tanpa peduli sedikitpun Alvin melempar dan membuang surat itu ke tong sampah yang berada didekatnya. Alvin melihat ke luar sembari mengambil nafas panjang sebelum melihat ponselnya kembali.
"Baguslah jika dia sudah mati jadi aku tidak perlu mengotori tanganku lagi," ujar Alvin tak peduli sama sekali. Alvin kembali melanjutkan panggilan teleponnya yang masih terhubung dengan Selena.
Alvin bahkan masih bisa tertawa senang saat membalas candaan yang dilontarkan Selena padanya tanpa memikirkan Angela lagi sama sekali.
Seolah-olah Angela tidak pernah ada di hidupnya dan Angela adalah orang lain yang tidak penting baginya sama sekali.
*
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun ini sudah tahun ketiga menghilangnya Angela dan munculnya berita tentang kematiannya yang tidak pernah di klarifikasi oleh Alvin sama sekali. Sehingga banyak orang yang meragukan kebenaran tentang kematian Angela.
Tidak ada lagi orang yang mengingat dirinya, tidak ada lagi orang yang menyebut namanya dan tidak ada lagi yang tahu seperti apa rupa Angela saat ini. Seolah tak pernah ada, kehadiran Angela dianggap sebagai angin lalu yang berhembus dibawa angin.
Pagi itu di bandara seorang pria tampan dengan langkah kaki gemulai berjalan mondar-mandir di sekitar ruang tunggu. Matanya melirik terus-menerus ke arah pintu masuk bandara menanti kehadiran seseorang yang ditunggunya sedari pagi tadi.
Pria gemulai itu menghembuskan nafas lega saat melihat seorang wanita cantik melangkah dengan anggun dengan kaca mata hitam yang bertengger di wajah cantiknya nan ayu.
"Bonekaku akhirnya datang juga," sapa manis pria gemulai itu pada wanita cantik yang berjalan santai ke arahnya.
Pria gemulai itu menghembuskan nafas lega setelah melihat wajah cantik dengan kaca mata hitam itu.
"Jika bukan karena tunanganku sekarang di sini, aku tak akan mau datang ke negara ini lagi," keluh si wanita dengan nada malas yang terdengar jelas.
Wajah cantiknya terlihat masam saat wanita itu mengeluh karena dipaksa dengan keras untuk ke sini.
Wajah cantiknya tertutup kacamata hitam namun tetap saja semua orang yang melihatnya akan melongo.
Body sempurna, rambut panjang yang tergerai serta kulit putih yang menjadi incaran setiap wanita dimiliki lengkap oleh gadis cantik ini.
Dengan kacamata hitam yang menutupi mata cantiknya dia melangkah meninggalkan bandara yang menjadi saksi kedatangannya.
"Heh kau ini." Pria gemulai itu menggelengkan kepalanya,"Kenapa benci sekali meninggalkan kota itu? Sesekali kau harus keluar dari zona nyamanmu itu." Si pria gemulai berjalan cepat mengikuti langkah kaki si wanita cantik yang terlihat begitu tergesa-gesa.
Seolah-olah ada orang yang akan melihat kedatanganya di negara itu lagi.
"Ya! Ya! Ya! Ya!" Wanita cantik itu mengangguk dengan cepat sambil terus melangkah. Jika percakapan diteruskan lebih jauh maka dia akan tetap berdiri di bandara ini.
"Ke rumah dulu atau langsung ke tempat tunanganmu?" tanya pria gemulai itu dengan suara penuh kegembiraan dan antusias yang besar.
"Apakah aku harus datang menemuinya? Apakah aku harus pergi secepatnya? Malas, aku sekarang ingin istirahat. Siapa yang menyuruhku datang menyusulnya." Dengan langkah tak peduli wanita itu berjalan semakin cepat.
"Kau ini!" Pria gemulai itu tak sanggup lagi berbicara, ia hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki si wanita cantik.
Di tempat yang sama, di arah yang tak jauh dari si wanita tadi seorang pria berhenti secepat yang ia bisa. Matanya tertuju ke arah tempat si wanita menghilang.
"Kenapa kau berhenti?" tanya seseorang pada Alvin yang menghentikan langkahnya dan melihat ke arah si wanita berlalu.
"Aku merasa kenal dengan gadis itu!" tunjuk Alvin pada punggung si wanita cantik. Sungguh Alvin merasa dia sudah pernah bertemu dengan si wanita walaupun dia sendiri tidak ingat kapan hal itu terjadi dan dimana dia bertemu dengan wanita itu.
"Wanita itu," tunjuk temannya dengan alis terangkat. Alvin mengangguk dengan cepat matanya tetap saja terarah pada punggung yang telah lama berlalu itu. Alvin merasa dia harus mengejar si wanita namun kakinya terasa malas hanya untuk sekedar menuruti apa yang diinginkan hatinya.
"Dia kan tunangannya si Farrel," balas temannya dengan acuh tak acuh. Temannya memang pernah melihat pria gemulai itu mengikuti Farrel dan ada juga seseorang yang pernah mengatakan padanya kalau pria gemulai itu ditugaskan untuk mengikuti tunangan Farrel nantinya.
"Aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat tapi aku lupa di mana?" ujar Alvin tampak berpikir dengan keras. Lelah berpikir dan tak menemukan jawabannya barulah ia melangkah keluar dari bandara mengikuti langkah kaki si wanita dan pria gemulai yang telah lama berlalu itu.
Mereka berdua tidak pernah menyangka kalau benang takdir akan mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berpisah. Angela sendiri tidak yakin dengan pilihannya yang datang ke sini tanpa berpikir beribu-ribu kali. Angela ke sini hanya untuk memenuhi keinginan hati Farrel sang tunangan yang sudah menjaga dan melindungi dirinya selama ini.