14. Di Panti Asuhan.
Malam itu juga Arsen meminta pada Bu Widia dan Pak Rio agar dia mengasuh Kayla. Karena secara tidak sengaja gadis itu sebulan lagi akan menjadi anak angkatnya. Namun, hal buruk terjadi membuat kedua insan yang sudah memiliki kemistri dan saling menyayangi satu sama lain harus menjalani jalan takdir yang tidak sesuai rencana. Mereka berdua sama-sama bersedih, menangis dan kehilangan orang yang dicintai. Bulir-bulir air mata terus menetes dari pipi Kayla. Dan Arsen juga sembab tak menyangka harus secepat ini di tinggalkan wanita yang dicintainya.
“Sekarang, Kayla tidak punya siapa-siapa lagi Om,” ucap Kayla sambil menunduk. Adegan pertengkaran dengan mamanya kembali terlintas di pikirannya. Wajah cantik sang mama ketika menunjukkan perhatian tadi pagi benar-benar menyiksa Kayla karena dia terus mengacuhkan wanita yang paling berarti dalam hidupnya itu. Kini mamanya sudah pergi meninggalkannya, tak kan ia dengar lagi suara omelan mamanya. Tak kan ada lagi kecupan di kening sebelum ia tidur. Tak ada lagi wanita, malaikat pelindungnya yang akan bersedia melakukan apa pun untuk menjaganya.
“Jangan menangis Kayla, aku akan selalu menjagamu, Nak,” ucap Arsen sambil meraih pundak Kayla yang duduk di sampingnya. Sopir pribadinya terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan sesekali memperhatikan gadis kecil dan bosnya yang terlihat sangat sedih. Membuatnya hanya bisa diam dan ikut larut dalam suasana berkabung yang mereka rasakan. Tampak jelas kesedihan gadis itu tergurat dari bibirnya dan juga tetesan air mata yang mau berhenti mengalir dari matanya yang merah dan sembab.
“Tadi pagi mama masih baik-baik saja, tapi sekarang dia sudah pergi untuk selama-lamanya, Om,” keluh Kayla dengan suara pelan terbata-bata. Gadis itu terus membasahi pipinya dengan air mata. Usapan halus di pundaknya tidak mampu menenangkan kesedihannya.
Om Arsen hanya diam, hanya bisa mendengarkan ucapan gadis itu. Hatinya ikut tersayat mengingat calon pengantinnya sudah tiada. Namun, dia sadar kesedihannya tak sebanding dengan Kayla yang kehilangan mamanya, satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki. Kini dia berjanji akan merawat Kayla layaknya anaknya sendiri menjadikannya manusia yang berkualitas dan mandiri. Perlahan dia memeluk Kayla dengan erat tidak ingin Kayla menangis lagi.
Mobil sampai di gerbang utama rumah Arsen. Pintunya terbuka secara otomatis. Mobil terus berjalan melewati taman dan berhenti di depan pintu. Pria itu mengajak Kayla turun dari mobil. Kemudian berjalan pelan masuk ke dalam rumah. Ternyata nyonya Bella sedang duduk di ruang tamu bersama kepala pelayannya. Pandangan penuh tanya tersirat di raut mukanya melihat putranya datang bersama seorang gadis remaja yang sedang menangis. Apalagi dia tahu seharusnya anaknya itu masih di luar kota mengurus pekerjaannya. Kenapa secara mendadak sudah tiba di rumah.
“Kenapa Dia ke sini?” tanya nyonya Bella seraya berdiri dan mendongakkan kepalanya seolah tidak suka melihat orang lain memasuki rumahnya. Kepala pelayan yang sedang berbincang dengannya berdiri dan mengisyaratkan untuk ke belakang. Tidak sopan menyaksikan majikannya marah mengenai urusan pribadinya.
“Kayla akan menginap di sini malam ini,” jelas Arsen tak mengatakan alasan sebenarnya. Dia mengedipkan mata agar nyonya Bella bersikap lebih ramah pada gadis itu. Kayla sudah berhenti menangis suara teriakan nyonya Bella membuatnya takut dan beringsut, ingin berlari, dan merindukan suara lembut mama Elena ketika menyambutnya pulang ke rumah.
Arsen mengajak Kayla masuk dan memberitahu pelayan agar mengurusnya. Gadis itu tak sempat mandi, belum makan dan terlihat tidak terurus.
Sementara itu, Arsen kembali menemui nyonya Bella, memberitahu wanita itu tentang nasib malang yang menimpa calon anak angkatnya. Nyonya Bella mendengarkan dengan saksama, tetapi ekspresinya sangat datar tidak menunjukkan antusias sama sekali.
“Aku ingin merawatnya seperti anakku sendiri,” ucap Om Arsen dengan kesungguhan. Berharap wanita yang sangat di hormatinya itu memberi ijin agar Kayla bisa tinggal di rumah ini. Dan selalu bisa dalam pengawasannya.
“Kalau Kamu ingin merawat anak itu, tinggalkan kedua anak kandungmu dan pergi dari sini!” kata nyonya Bella penuh keberanian. Ucapan mama tirinya itu membuat dia tercekat tak mampu berkata tidak mungkin dia meninggalkan kedua anaknya. Begitu pun nyonya Bella meski wanita itu sangat kejam tapi wasiat almarhum sang papa agar selalu tunduk dengan ibu tirinya itu, membuat ia tidak bisa membantah. Meskipun terlihat kuat dari luar pria itu selalu penurut di depan mamanya.
“Baiklah, Ma, biarkan Kayla tinggal di panti asuhan, dia sendirian Ma, tidak punya keluarga sama sekali,” jelas Om Arsen sedikit memohon dan tidak mungkin membiarkan Kayla hidup di jalanan. Pilihan yang tepat adalah menyuruh Kayla tinggal di panti asuhan miliknya yang berada di samping rumahnya meskipun berbatasan dengan pagar tinggi.
Tanpa menjawab nyonya Bella berbalik dan meninggalkan Arsen yang masih menunggu jawabannya. Melihat tindakan mamanya yang tidak menolak itu artinya dia menyetujui Kayla tinggal di panti asuhan milik keluarga Damaresh.
Om Arsen pergi menemui Kayla. Ternyata gadis itu sedang berdiri mematung seolah mendengar semua perbincangannya dengan nyonya Bella. Menatap nanar ke arahnya belum satu kesedihan ia lewati kesedihan lain sudah menantinya di depan. Sendiri hidup dalam kesendirian.
“Kayla tenang, ya, aku janji akan menjagamu,” Kata Om Arsen setelah berdiri di hadapan Kayla. Pria itu memperhatikan Kayla, pandangannya kosong dan tak bisa menebak apa yang ia pikirkan.
Kayla berpikir sejenak, ingin rasanya kabur, tetapi dia tidak tahu ingin kabur ke mana, tidak punya tempat tujuan. Haruskah kembali ke rumah Kevin. Tidak mungkin dia hanya akan menjadi beban untuk keluarga sahabatnya itu. Akhirnya Kayla memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu.
“Om, aku mau tinggal di panti,” ucap Kayla mencoba tersenyum sebisa mungkin. Bersikap dewasa mengerti keadaan pria baik di hadapannya yang ingin tetap menjaganya. Padahal jika pria itu ingin bersikap masa bodoh dan membiarkan ia begitu saja itu sangat mudah. Namun pria itu memilih peduli dan tetap bersedia menjaganya. Kayla sangat bersyukur untuk hal itu.
Setelah mendengar ucapan gadis itu, Araen merasa lega dan mengantar Kayla ke kamarnya.
“Kayla, kamu harus tidur, istirahatkan badan dan pikiranmu, masih banyak yang harus kita lakukan besok,” pinta Om Arsen sembari membuka pintu kamar untuk Kayla. Menepuk pundak gadis itu.
Kayla masuk ke kamar tamu di rumah mewah itu. Dinding dan lantainya di d******i warna putih begitu pun kain kasurnya berwarna senada. Gadis itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Melihat ke langit-langit. Sudah sangat lelah di menangis untuk hari ini. Lama-lama matanya terpejam membuatnya pergi ke alam mimpi dan bertemu sang mama.Di mimpinya itu mama Elena mengenakan baju serba putih, berdiri dan diam sebelum pergi menjauh wanita itu melempar senyum ke arah Kayla.
Sementara itu, setelah Arsen mengantar Kayla. Dia berjalan pelan menaiki tangga ke lantai dua, ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia melepas dasi dan jasnya. Kemudian merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Namun, dia kembali bangkit dari tidurnya setelah mendengar dering telefon yang berbunyi begitu keras mengisi ruangan. Ada panggilan dari Bu Widia yang nomornya baru tadi disimpannya.
“Hallo,” sapa Arsen.
“Hallo, Pak Arsen, maaf mengganggu,” sahut Bu Widia di seberang.
“Iya Bu, tak apa,” jawab Arsen berdehem mengeraskan suaranya.
“Saya dapat kabar dari polisi bahwa hasil autopsi akan keluar besok, dan mereka meminta kita untuk datang ke kantor,” jelas Bu Widia.
“Baik Bu, terima kasih sudah memberitahu besok saya akan mengajak Kayla ke kantor polisi,” jawab Ansel seraya meraup kasar wajahnya dengan tangan kirinya.
“Itu saja Pak, selamat malam,” pamit Bu Widia.
“Selamat malam,” ucap Arsen lalu menutup telepon.
Arsen meletakkan ponselnya. Matanya enggan terpejam memikirkan tentang hari esok, hasil autopsi penyebab meninggalnya wanita yang sangat dicintainya.
***
Pagi hari Kayla terbangun lebih awal. Suasana rumah masih sepi ada satu pelayan yang sudah terbangun dan sedang melaksanakan tugasnya. Gadis itu meraih ponselnya, lalu menghubungi Kevin. Dia menumpahkan semua kesedihannya pada sahabatnya itu. Namun, Kevin tak dapat berbuat banyak, anak laki-laki itu hanya bisa mendengarkan saja tidak mungkin dia meminta kepada mamanya agar Kayla tinggal di sana. Kevin sangat putus asa dan membenci dirinya sendiri mengenai hal itu, saat Kayla butuh bantuan tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa.
Kayla terus berada di dalam kamar, tidak berani keluar sampai Om Arsen menjemputnya. Takut berpapasan dengan nyonya Bella yang sepertinya tidak sedikit pun merasa kasihan padanya. Air matanya kembali menetes melihat baju kebaya warna coklat yang ada di tasnya.
Mama kenapa secepat ini Kau pergi, bahkan kita belum sempat memakainya, Mama! Batin Kayla sambil menangis dia masih belum bisa menerima kalau mamanya sudah tiada.
Ponsel Kayla berbunyi, ada panggilan dari Om Arsen.
“Hallo,” sapa Kayla.
“Kayla, bersiaplah pagi ini kita akan ke kantor polisi, hasil autopsi sudah keluar,” kata Om Arsen yang ada di kamarnya di lantai dua.
“Baik, Om,” jawab Kayla lalu mematikan telefon.
Kayla mandi dengan cepat. Air dingin membuatnya kembali segar dan menyapu air mata yang membasahi pipinya. Meski kesedihan dalam hatinya tak berkurang sedikit pun. Setelah mandi gadis itu memilih baju warna hitam di dalam tasnya. Kemudian dia keluar kamar dan menunggu Om Arsen di ruang tamu.
Tak berapa lama pria itu datang muncul dari lantai dua dengan langkahnya yang tegap penuh wibawa, tetapi raut wajahnya murung dan pucat. Semalaman dia hanya tidur sebentar, tidak bisa terpejam, hatinya bersedih sangat merasa kehilangan.
“Kayla, makan dulu!” ajaknya dengan suara lembut.
Kayla berdiri, lalu berjalan pelan ke ruang makan bersama pria itu. Kemudian duduk berdua bersama Om Arsen. Anggota keluarga yang lain belum tampak sama sekali. Sandwich sudah tersaji di sana. Kayla mulai memakannya suap demi suap dan sesekali melirik pria yang ada di hadapannya dia tampak gelisah.
“Apa yang membuat Om sangat gelisah?” tanya Kayla memperhatikan pria itu.
“Tidak!” tukasnya.
Suasana menjadi hening! Kedua orang itu berusaha sangat keras untuk tetap mengunyah makanan di piring mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ayo Kayla, kita ke kantor polisi sekarang,” ajak Om Arsen.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju mobil mewah milik Arsen yang sudah menunggunya di depan pintu. Sopir pribadi sudah siap mengantar mereka. Kemudian mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang menuju kantor polisi. Dalam perjalanan Om Arsen tidak banyak mengobrol dengan Kayla pria itu sibuk menelefon sekretaris pribadinya agar menyelesaikan pekerjaannya dan menunda beberapa janji untuk hari ini.
“Om, Kayla mau cerita,” kata Kayla setelah pria di sampingnya berhenti mengotak-atik ponselnya. Ada hal yang mengganggu pikirannya dari semalam dan segera ingin ia utarakan pada satu-satunya orang yang dia percaya.
“Iya, Kayla aku akan mendengarkan ceritamu,” sahutnya dengan suara yang lembut seperti biasanya. Matanya menatap Kayla penuh perhatian ingin sekali melakukan sesuatu yang bisa menghibur gadis itu.
“Sebenarnya, aku curiga ada yang sengaja mencelakai Mama Om, kenapa Mama naik ke lantai dua, jarang sekali aku dan mama naik ke lantai dua Om, tapi kenapa Mama jatuh dari lantai dua! Kayla curiga ada yang mencelakai Mama Om!” ucap Kayla dengan nada marah. Air mata kembali menetes membasahi pipinya. Dia belum bisa menerima kalau sang mama sudah tiada.
“Tenang Kayla, om akan menyelidiki kematian Mamamu, bukan cuma Kamu yang merasa kehilangan, om juga sangat merasa sedih atas kepergian Elena yang tiba-tiba, sangat terpukul,” ucap pria itu ada air mata di sudut kelopak matanya.
Kayla mengangguk, mengusap air mata lalu melihat ke arah luar sedangkan Om Arsen menunduk kembali melihat layar ponselnya. Seperti biasa si sopir hanya diam tidak berani menyahut percakapan majikannya.
Tak berapa lama sampailah mereka berdua di kantor polisi. Sebelum turun dari mobil Om Arsen memakai kaca mata hutam untuk menyembunyikan mata bengkaknya. Pak Rio dan Bu Widia sudah tiba di sana terlebih dahulu. Kemudian seorang polisi memanggil dan mengajak kita semua masuk ke dalam sebuah ruangan. Ada meja panjang lengkap dengan kursi di samping kiri dan kanannya.
Mereka berempat duduk di kursi di sisi yang sama sedangkan dua polisi duduk di hadapan mereka dengan beberapa kertas di tangan.
Hening!
“Selamat siang, bapak dan ibu yang telah hadir di sini, pada siang ini saya akan menyampaikan hasil autopsi penyebab meninggalnya Ibu Elena Beatrix yang berumur 32 tahun. Dari hasil autopsi yang kami periksa kemarin kita ketahui bahwa penyebab meninggalnya ialah karena patah tulang leher yang mengakibatkan meninggal seketika,” kata polisi itu sambil menatap kertas di tangannya suaranya sangat tegas dan jelas.
Hening!
“Selanjutnya, mengenai hal-hal yang mencurigakan ialah sidik jari yang kita temukan di bagian tangan korban dan di bagian pegangan tangga itu adalah milik orang yang sama, tapi kita belum tahu sidik jari itu milik siapa tentu saja bukan milik Bu Widia saksi kunci yang menemukan korban pertama kali, bukan juga milik nona Kayla,” jelas polisi itu.
“Lanjutkan penyelidikan Pak!” perintah Om Arsen tegas.
Hening!
Semua mata tertuju pada Arsen.
“Baiklah, kita akan melanjutkan penyelidikan, meski kemungkinannya sangat kecil untuk mencari pembunuhnya, karena kami tidak memiliki bukti apa pun selain sidik jari itu,” jelas polisi itu.
“Iya Pak, tuntaskan kalau perlu saya akan menyewa detektif swasta untuk membantu penyelidikan,” kata Om Arsen dengan suara tingginya tidak terima penyebab kematian calon istrinya karena di bunuh, siapa yang tega membunuhnya! Ke empat orang itu kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kayla menggeleng tak percaya selama ini mamanya sangat tertutup dan tidak memiliki musuh itu yang dia tahu.
Setelah itu polisi memberi tahu akan mulai memanggil saksi satu per satu, dan memeriksa CCTV di dekat TKP. Untuk jenazah korban bisa dibawa pulang dan segera di kebumikan.
Mereka berempat keluar dari ruang itu dan segera ke rumah sakit untuk segera melakukan pemakaman. Sebelumnya, tadi pagi Arsen sudah menyiapkan tanah pemakaman untuk wanita itu.
Pemakaman berlangsung singkat hanya di hadiri Bu Widia, Pak Rio, dan satu orang uztad dan petugas pemakan. Kayla terus menangis dalam pelukan Bu Widia, sementara itu Arsen terus berpikir siapakah yang tega membunuh calon istrinya? Tak ada satu pun bayangan tersangka di dalam benaknya. Begitu pun Kayla dia tidak pernah merasa mamanya memiliki musuh.
Siapakah pembunuhnya?
Bersambung.