Pukul 09.20, Bu Widia bertamu ke rumah Mama Elena. Ingin berbicara mengenai sekolah lanjutan untuk Kayla dan Kevin. Mamanya Kevin adalah seorang perawat dan kebetulan hari ini dia berangkat sif malam. Siang hari ia gunakan untuk mengurus keluarganya, termasuk meminta pendapat mamanya Kayla dalam memilih sekolah yang tepat untuk anaknya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Perlahan Bu Widia mengetuk pintu rumah tetangganya itu. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Dia kembali mengetuk pintu sambil menyebut nama sang pemilik rumah, tetapi tetap saja tidak jawaban dari dalam. Kemudian, dia mencoba memutar daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Membuka pelan pintu rumah itu sembari memanggilnya.
Hening! Bu Widia melemparkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu rumah itu. Betapa terkejut Bu Widia melihat wanita pemilik rumah, sudah tak sadarkan diri di ujung tangga dengan posisi terlentang dan mata terpejam. Seketika dia segera berlari menghampiri Elena, lalu dengan kedua jari tangannya memeriksa detak jantungnya di pergelangan tangan Elena. Bu Widia menggeleng tak percaya, histeris karena ternyata wanita si pemilik rumah sudah meninggal dunia.
“Aaaa ...,” teriaknya sembari mencari ponsel yang ada di saku celananya. Merasa ada kejanggalan dari kematian tetangganya, Bu Widia menelefon polisi menyuruh mereka agar segera datang ke alamat yang ia sebutkan. Selain menelepon polisi Bu Widia juga memanggil Kevin untuk datang ke rumah itu, menemaninya.
Tak berapa lama Kevin pun datang, remaja itu terkejut melihat mamanya Kayla sudah meninggal dunia dan Kayla, tidak berada di rumah.
“Jangan sentuh apa pun!” perintah Bu Widia pada putranya yang sedang berjalan men dekat.
“Iya, Ma, apa yang terjadi dengan Bu Elena Ma?” tanya Kevin sambil berdiri terpaku melihat orang tua sahabatnya itu.
“Mama tidak tahu, Vin, tapi mama sudah telefon polisi,” jawab Bu Widia.
“Bukankah tadi pagi Bu Elena masih menyapu halaman depan?” tanya Kevin gemetar karena dia sepertinya melihat wanita itu menyapu pekarangan depan saat dirinya sedang bersiap lari pagi. Sekitar jam tujuh pagi.
“Iya, Mama juga tadi membeli soto bersama, Bu Elena dan dia masih sehat dan baik-baik saja,” sahut Bu Widia dengan raut sedih.
Bukankah sangat mencurigakan hanya berselang dua jam wanita itu di temukan sudah meninggal. Begitulah pikir Bu Widia. Ada yang janggal dengan kematian tetangganya ini.
Polisi datang, lebih cepat dari perkiraan. Kemudian masuk dan memeriksa jenazah wanita itu. Bu Widia sebagai orang yang pertama kali menemukan jenazah, dimintai keterangan untuk mengungkap penyebab kematian Elena Beatrix yang secara tiba-tiba. Begitu pun Kevin.
Para warga yang mendengar dan melihat kedatangan polisi merasa penasaran, dan mulai mendatangi tempat kejadian perkara. Menyaksikan polisi memasang garis polisi dan memasukkan tubuh tak bernyawa itu ke dalam kantong jenazah. Mereka berbisik menerka mengungkapkan pendapat mengenai penyebab kematian wanita itu.
“Cepat telefon Kayla!” suruh Bu Widia pada Kevin. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya mengingat nasib Kayla yang kini sendirian. Sebatang kara.
“Iya, Ma,” jawab Kevin meraih ponsel di saku celana lalu mencari nama sahabatnya di buku telefon yang ada di ponselnya.
Kevin mencoba menghubungi nomor Kayla yang sulit tersambung, hingga akhirnya Kayla mengangkat telefon darinya.
“Hallo,” sapa Kayla.
“Cepat pulang sekarang juga!” perintah Kevin dan segera menutup telefonnya. Tidak memberi kesempatan pada Kayla untuk bertanya. Kevin tidak setegar itu memberitahukan kabar kematian mama Elena pada sahabatnya. Merasa sedih, senyuman ceria Kayla yang baru saja kembali terlihat, akan menghilang karena mendengar kabar kematian mamanya. Tidak tega, itu yang di rasakan Kevin.
Kevin menunggu Kayla, dia duduk di samping mamanya yang sedang dimintai keterangan oleh polisi. Dia melihat ke arah orang-orang yang memenuhi halaman, berharap Kayla segera muncul di antara orang-orang yang sudah berkerumun. Kemudian di antara para warga yang sedang berkerumun di pekarangan, Kayla hadir, berjalan membelah keramaian dan berlari menuju teras.
Keringat membasahi keningnya. Wajahnya menatap penuh tanya pada Kevin dan Bu Widia. Wajahnya pucat pasi, ketika melihat ke dalam rumah. Menggeleng tidak percaya hal itu terjadi. Mamanya sudah meninggal, jenazahnya sudah di masukkan ke dalam kantong berwarna kuning yang memperlihatkan bagian kepalanya. Sehingga Kayla langsung tahu bahwa jenazah itu adalah mamanya yang sudah tidak bernyawa.
Kayla berteriak. “Aaaa ...,” sambil duduk di lantai perlahan, kedua kakinya kuat menopang berat tubuhnya.
Kayla menangis sejadi-jadinya, Kevin menuntunnya untuk duduk di kursi sebelahnya dan menenangkan. Namun, gadis itu bukannya diam, tetapi menangis semakin menjadi membuat orang yang melihatnya tak tega. Dan bisa merasakan betapa dia sangat terpukul mendapati mamanya sudah tiada.
Bu Widia memeluk Kayla, dia pun menangis, kini gadis itu sebatang kara. Dia mengusap air mata Kayla terus menetes di pipi. Suara gadis itu berteriak memanggil mamanya terdengar sangat pilu.
Kayla tidak percaya mamanya akan secepat itu meninggalkannya. Yang semakin membuatnya bersedih, tadi pagi dia sangat kasar dan mengabaikan mamanya. Tak ada sedikit pun sikap baik yang di tunjukkan. Penyesalan semakin memenuhi isi hatinya.
“Mama, kenapa mama pergi secepat ini,” teriak Kayla dalam isak tangisnya. Senggukannya membuat pundaknya naik turun. Masih tidak bisa menerima bahwa sang mama sudah pergi meninggalkannya.
Polisi meminta ijin kepada perangkat RW dan RT untuk membawa jenazah Bu Elena dan akan segera di autopsi. Namun, sebelum mereka membawa jenazah masuk ke dalam mobil. Kayla mendekat melihat tubuh mamanya. Ada luka lebam di pipi kirinya.
Sementara polisi menduga kalau dia meninggal karena terjatuh dari lantai dua dan mengakibatkan cedera yang serius di otaknya yang membuatnya meninggal seketika. Kayla masih menatap dan menggeleng tak percaya, mamanya kini sudah tiada. Pergi selamanya meninggalkan dirinya sendirian di dunia ini.
Polisi mengangkat kantong jenazah berwarna kuning masuk ke dalam mobil. Tak membiarkan siapa pun mencegahnya berlama-lama memeriksa jenazah itu agar segera di ketahui penyebab kematiannya.
Setelah mobil yang membawa jenazah pergi, warga satu per satu meninggalkan pekarangan rumah Kayla. Pak RT dan Pak RW juga pamit pulang, hanya beberapa polisi yang masih memeriksa tempat ke jadian perkara. Mencari bukti atau sesuatu benda yang mungkin bisa membantu mengungkap penyebab kematian wanita muda keturunan Belanda itu.
Kayla sudah berhenti menangis, tatapannya kosong. Benar-benar tidak percaya mamanya sudah meninggal dunia. Kini dia hidup sendiri, tanpa ada sanak saudara yang bisa di hubungi. Siapa yang akan merawat dan bertanggung jawab padanya sekarang dan ke depannya?
Bu Widia mengajak Kayla untuk istirahat di rumahnya. Begitu pun Kevin menyuruh Kayla untuk tinggal di rumahnya. Namun, Kayla tak mendengarkan sama sekali. Pandangannya kosong. Wajah ceria yang biasanya terpancar kini terlihat muram tanpa semangat. Matanya tak berbinar sama sekali.
“Kayla, ayo istirahat dulu di rumah tante,” ajak Bu Widia sambil mengusap punggung gadis itu memberikan kekuatan.
Kayla menggeleng lemah dan tidak membuka mulutnya sama sekali.
Hari mulai sore, petugas polisi sudah meninggalkan tempat kejadian perkara. Mereka mengatakan kalau hasil autopsi sudah keluar akan segera diberitahukan.
Bu Widia dan Kevin terus membujuk Kayla tetapi dia tetap tidak mau meninggalkan rumah. Kematian ibunya yang mendadak benar-benar menimbulkan berbagai tanya di otaknya. Membuat dia kehilangan semangat dan tidak bisa menatap hari esok.
Melihat Kayla yang seperti itu, Kevin berinisiatif memberi tahu Om Arsen tentang kejadian ini. Pria itu pasti belum tahu. Kevin mengambil ponsel Kayla yang ada di tasnya. Dia mencari nomor Om Arsen di buku telefon dan segera menghubunginya. Beberapa kali panggilan tidak dapat tersambung. Dan setelah tersambung Kevin memberitahu mengenai kejadian naas uang menimpa Bu Elena tak lupa ia menceritakan keadaan Kayla saat ini.
Pria itu tidak percaya mendengar berita duka yang baru saja di sampaikan Kevin. Dan dia juga memberi tahu akan segera pulang karena hari ini sedang berada di luar kota. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih karena sudah memberi tahu kabar ini padanya.
Setelah memandangi rumahnya yang kosong, Kayla masuk dan mengambil beberapa baju tak lupa dia mengambil kebaya couple yang diperlihatkan ibunya tadi pagi. Air matanya kembali menetes. Dia melirik ke arah meja makan di situ ada soto ayam kesukaannya. Kayla semakin menangis mengingat kejadian tadi pagi bahkan dia tidak menyentuh sama sekali makanan yang sudah di sajikan mamanya. Menu favoritnya ketika sarapan. Dia sadar pagi tadi dirinya sungguh keterlaluan.
“Tante Widia, Kayla menginap di rumah tante ya malam ini?” ucap Kayla terisak lalu memeluk wanita itu. Suaranya pelan dan lemah.
“Iya, sayang,” jawab Bu Widia sambil memelukinya dengan erat. Kemudian ikut menangis melihat keadaan Kayla, yang mulai hari ini akan hidup sendiri. Dia tidak tahu banyak mengenai keluarga papanya yang ada di Indonesia sedangkan keluarga mamanya jauh di Belanda.
Bu Widia menuntun Kayla pelan berjalan ke rumahnya. Kevin sedang menyiapkan kamar untuk temannya itu. Sungguh kasihan dia melihat Kayla, memikirkan nasib gadis itu setelah orang tua tunggalnya meninggal dunia.
Sesampainya di rumah Kevin, gadis itu langsung mengurung diri di kamar yang disiapkan untuknya. Sedih, sesal, kecewa berpadu dalam hatinya menciptakan bulir-bulir air mata yang terus menetes dari ujung mata membasahi pipinya tiada henti.
Malam, pukul sembilan, Om Arsen datang ke rumah Bu Widia. Tepat lima jam setelah dia mendengar bahwa calon pengantinnya telah tiada. Setelah menyelesaikan pekerjaannya dia menggunakan pesawat pribadinya untuk segera kembali dan menemui Kayla. Bayangan kesedihan yang di rasakan Kayla menghantuinya. Ingin segera menemui Kayla dan memberikan pundaknya untuk memikul kesedihan calon anak tirinya itu.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Kayla, ada Om Arsen,” kata Kevin sambil mengetuk pintu kamar Kayla. Dia berharap Kayla segera membuka pintu. Setidaknya Om Arsen adalah orang yang sangat dekat dengan Kayla yang Kevin tahu.
Kevin menunggu pintu terbuka, masih berdiri sambil mengetuk pelan. Dia juga sedih tak ada senyuman di bibirnya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan Kayla muncul di balik pintu. Wajahnya tampak kusut, rambutnya berantakan dan matanya masih memerah. Gadis itu berjalan mengikuti Kevin dari belakang menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Bu Widia, Pak Rio suami Bu Widia, dan Om Arsen yang sedang mendengar cerita dari mamanya Kevin mengenai kronologi ditemukannya Mama Elena yang sudah tidak bernyawa.
Om Arsen melihat ke arah Kayla yang baru saja muncul dari arah salah satu kamar. Wajahnya sendu sedang di rundung penyesalan dan Kesedihan. Matanya memancarkan sedih yang amat dalam. Air matanya sudah kering, enggan menetes untuk malam ini.
Kayla membalas tatapan Om Arsen, pria yang di cintai mamanya. Melihatnya, Kayla seolah merasakan kehadiran mamanya. Pria itu tampak sedih matanya memerah dan seolah menahan tangisan terlihat dari ujung kedua bibirnya yang tertarik ke bawah.
“Om Arsen, mama sudah pergi,” ucap Kayla pelan sambil menghambur dalam pelukan pria itu. Menangis sesenggukan meluapkan kesedihan yang ia rasakan. Pria itu juga ikut menangis merasakan kesedihan yang sama. Calon wanita yang akan dinikahinya pergi meninggalkan dunia ini tanpa firasat dan pesan.
Pria itu membalas pelukan Kayla. Saling menenangkan satu sama lain. Kevin, Pak Rio dan Bu Widia menatap mereka penuh haru. Sementara itu di benak mereka kematian wanita itu yang mendadak masih menjadi misteri dan menimbulkan banyak tanya di benak mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa penyebab meninggalnya Mama Elena? Kita tunggu hasil autopsi ya?
Bersambung.