12

1355 Kata
Semalaman Kayla tak beranjak sedikit pun dari kamarnya, mengurung diri menghindari sanga mama, hingga pagi hari, dengan malas Kayla berjalan ke kamar mandi. Hari ini dia berencana pergi ke sekolah untuk kembali menghindari pembicaraan dengan Mama Elena. Malu, sedih, marah ia rasakan berpadu di dalam hatinya. Membuatnya tak b*******h menjalani hari ini. Tidak berani berjumpa sang mama. Air dingin mulai membasahi tubuhnya, dengan perlahan dia mulai menyapukan sabun, bau harumnya sedikit memberi kesegaran di otaknya yang sedang runyam. Gadis itu mulai mencuci mukanya, memberikan sedikit pijatan pada pipinya. Kelopak matanya yang sudah menjadi kecokelatan karena berhari-hari tidur terlalu larut di usap dengan hati-hati. Kemudian dia akhiri dengan membilas seluruh tubuhnya dengan air kran yang mengalir di atas kepalanya. Begitu menyegarkan. Setelah memakai piama handuknya, Kayla keluar dari kamar mandi, dan ternyata sang mamanya sudah berdiri di depan pintu, berkacak pinggang seolah bersiap memarahinya. Namun, tatapannya hangat dan tidak mengerikan sama sekali. Ingin membuka obrolan dengan putrinya itu. “Kamu mau ke mana Kayla, sepagi ini sudah mandi?” tanya mamanya dengan suara lembut. Ingin berdamai dengan Kayla keheranan dengan Kayla yang mandi sepagi ini tak biasa di lakukannya. Kayla diam, dan berlalu tanpa menjawab pertanyaan sang mama. Dia masih merasa kesal dan malu sehingga enggan berbicara dengan Mama Elena. Sedangkan mamanya menatap penuh tanya kepada anak gadisnya yang masih mengacuhkan pertanyaannya. Masih ada kemarahan di sorotan kedua netranya, begitu yang dilihatnya. “Kayla mama sedang bicara padamu, Nak!” protes Mama Elena sambil mengikuti Kayla dari belakang. Masih berusaha sabar karena ingin segera baikkan dengan putrinya. Tak betah jika saling acuh dan diam berlama-lama. Putrinya itu satu-satunya teman mengobrol. Kayla masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu, sangat marah dengan dirinya sendiri bukan dengan mamanya. Dia segera memakai baju seragamnya dan bersiap untuk sekolah. Satu-satunya tempat yang bisa ia kunjungi di pagi hari, untuk menghindari mamanya. Malu, sebenarnya dia sangat malu dengan apa yang telah ia lakukan. Sangat lancang berani mencintai calon papa tirinya. Bukan rasa cintanya yang salah, karena cinta tak pernah salah, tetapi kepada siapa rasa cinta itulah yang menjadi akar masalah saat ini. Hingga dirinya tak berani menampakkan diri di hadapan mamanya hanya sekedar berbicara atau saling menatap satu sama lain. Gadis itu keluar dari kamar, memakai baju seragam sekolah, lengkap dengan tas dan ponsel, tak lupa diary yang membuat mala petaka ia bawa dalam tasnya. Sudah tidak ingin di rumah, takut jika harus berbicara dengan mamanya. Takut karena dia sadar dengan perbuatannya yang tidak tahu diri dan memalukan. “Kayla lihat ini! Mama sudah memesan kebaya couple untuk hari kelulusanmu nanti,” ucap mama Elena menghibur anak gadisnya. Memperlihatkan kebaya cantik nan elegan dengan kedua tangannya. Kayla menatap sekian detik, lalu berjalan ke arah pintu. Enggan menanggapi mamanya. Hanya sesal yang memenuhi hatinya. “Mama, Kayla tidak marah, Kayla hanya merasa malu dengan cinta Kayla ke Om Arsen, Kayla memang lancang! Beri waktu bagiku untuk menenangkan diri Ma, Kayla sayang Mama dan ingin Mama bahagia. ” Batin Kayla. “Kayla!” teriak mama Elena kesal berkali-kali di acuhkan oleh Kayla. Matanya menyipit menahan emosi. “Iya Ma,” jawab Kayla pelan menoleh ke arah mamanya yang masih menatapnya kesal. Degup jantungnya lebih cepat dari sebelumnya. Rasa terkejut dan takut membuat tubuhnya bergetar. Dan suaranya menghilang. “Jangan acuhkan mama, mama tidak suka itu!” jelas mamanya sambil mendekati Kayla dan memeluknya dengan erat. Wanita itu akan melakukan apa pun demi kebahagiaan putrinya. Bahkan nyawanya sekalipun. Diacuhkan oleh Kayla membuat hatinya teriris-iris dan kesepian. “Kayla ingin bertemu guru Kayla sebentar Ma, mau konsultasi mengenai sekolah lanjutan yang tepat untuk Kayla” kata Kayla beralasan. Sebenarnya dia sangat malu terhadap mamanya. “Baiklah, segaralah pulang jika sudah selesai,” ucap mama Elena mengerti. “Kayla berangkat ya Ma,” pamit gadis itu lalu menunduk tak berani melihat mamanya. “Iya, nanti pulang sekolah kamu harus mencobanya ya?” kata mama Elena sambil menunjuk kebaya warna coklat keemasan yang sudah ia pilih untuk hari wisuda putrinya nanti. Gadis itu menatap ke arah mamanya dan mengangguk pelan sambil melempar senyuman tipis. Kemudian berbalik dan membuka pintu. Kayla mengambil sepeda roda duanya lalu mulai menggayuh sepedanya menuju sekolah. Sepanjang perjalanan batinnya selalu mengucapkan beribu maaf kepada sang mama. Sesampainya di sekolah Kayla membawa sepedanya ke parkiran sekolah. Kemudian dia berjalan ke ruangan kelasnya dengan malas tidak bersemangat sama sekali. Dia sangat menyesal telah berani mencintai kekasih mamanya. Dia juga menyesal membuat mamanya semarah itu. Menyesal dan menyesal sekali. Sebenarnya dia tidak ingin mengabaikan mama Elena, dia hanya malu, dan tidak sanggup melihat mamanya bersedih jika sang mama ingin membatalkan pernikahannya dengan Om Arsen. Kayla semakin bingung dan tak tahu harus bagaimana. Kayla mengarahkan pandangannya menyapu seluruh ruangan kelas, hanya ada tiga orang temannya yang berada di sana. Sebagian besar memilih tidak berangkat sekolah, begitu pun Kayla. Namun, hari ini berbeda, dia memilih pergi ke sekolah untuk menghindari mamanya. Takut sekali mamanya membahas tentang isi diary nya lagi. Itu sangat memalukan. Gadis itu berjalan ke kantin sekolah ingin mengisi perutnya yang masih kosong dari semalam. Memesan soto ayam dan jus mangga. Nasi dengan sayur kol, mi, lalu di siram kuah bumbu kaldu dilengkapi irisan ayam dan di taburi bawang goreng adalah sarapan pagi favoritnya. Tadi pagi dia juga tidak melirik sekali pun menu makan pagi yang di sajikan sang mama, menyesal lagi! Itu yang dia rasakan. Kayla mulai mengunyah makanannya. Bayangan Om Arsen dan mamanya bergantian terlintas di otaknya. Dia sudah menyadari kesalahannya. Nanti sepulang sekolah, akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya di juga akan berusaha melupakan Om Arsen. Kayla sudah membulatkan tekadnya. Dan ingin membuat kedua orang yang dia cintai bersatu dalam ikatan pernikahan. Dengan penuh semangat Kayla menghabiskan soto ayamnya, dia yakin sang mama akan memaafkannya. Kini gadis itu kembali tersenyum membuang wajah murungnya karena sudah menentukan tindakan yang akan di lakukannya nanti. Selesai mengisi perutnya di kantin Kayla memutuskan untuk meminjam buku novel di perpustakaan sebelum kembali pulang ke rumah. Sambil berjalan pelan dia merangkai kata yang akan di ucapkan kepada mamanya nanti. Sesampainya di perpustakaan Kayla berjalan ke rak buku lalu memilih buku yang akan di pinjamnya. Beberapa siswa yang berada di perpustakaan menoleh ke arahnya dengan kesal ketika ponsel milik Kayla berbunyi dengan keras mengganggu mereka yang sedang fokus membaca. Dengan cepat Kayla menerima panggilan telefon dari Kevin dan segera keluar ruangan. “Hallo,” sapa Kayla. “Kayla, Kamu harus pulang sekarang!” teriak Kevin. “Memangnya kenapa?” tanya Kayla penasaran. “Cepat pulang!” suruh Kevin lalu mematikan telefon tanpa menunggu jawabannya. Kayla melihat layar ponselnya kesal. Aneh sekali Kevin meneriakinya lalu mematikan telefonnya begitu saja. “Apa-apaan si Kevin main mati in telefon seenaknya saja!” gerutu Kayla sambil berjalan cepat kembali ke ruang kelasnya mengambil tas sekolahnya. Kemudian, dengan tergesa dia melangkah menuju parkiran. Kayla mengambil sepedanya di parkiran lalu menaikinya. Dengan pelan gadis itu menggayuh sepadanya. Kayla mengarahkan pandangan ke pergelangan tangan, jam masih menunjukkan pukul sepuluh kurang, baru dua jam dia berada di sekolah. Namun, dia harus segera pulang. Entah hal penting apa yang membuat Kevin berteriak kesetanan menyuruhnya untuk segera pulang. Berkali-kali ponselnya berbunyi. Dengan tangan kiri dia membuka pesan dari Kevin yang isinya menyuruh agar dia segera pulang. Kayla mulai menambah kecepatan menggayuhnya. Badannya mulai panas dan berkeringat firasat buruk hinggap di benaknya. Hal penting apa yang membuat Kevin menyuruhnya pulang berkali-kali. Setelah perempatan lampu merah Kayla belok kanan lalu memasuki gang menuju rumahnya. Tinggal berjalan lurus dan sampai di rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Kevin. Kayla merasa aneh karena gang rumahnya biasanya sepi tapi kini terlihat ramai. Gadis itu terus menggayuh sepeda sambil menyimpan rasa penasaran. Kayla menuntun sepedanya dan berjalan cepat. Semakin heran karena di depan rumahnya sudah banyak orang. Sepeda ia jatuhkan lalu berjalan membelah keramaian. Hatinya seolah menanggapi firasat buruknya. Kayla terus berjala, membelah kerumunan orang yang memenuhi pekarangan rumahnya. Ketika sampai di teras rumahnya dia melihat Bu Widia, mamanya Kevin sedang berbicara dengan polisi dan satu polisi lainnya sedang memasang garis polisi di pintu rumahnya. Apa yang terjadi? Kayla berjalan ke arah Bu Widia dengan penuh tanya. Wanita itu melihat ke arahnya. Wajahnya memerah seperti habis menangis dan pandangannya menyiratkan kesedihan. Bibirnya bergetar tak dapat berkata-kata. Gadis itu menoleh ke dalam rumahnya mengikuti pandangan Bu Widia. Penasaran dengan apa yang terlihat di dalam. “Tidak!” teriak Kayla tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di dalam rumah. Tubuhnya bergetar, air mata mulai mengalir membasahi pipinya dia tidak percaya hal yang sangat mengerikan dan di takutinya terjadi. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN