11

1434 Kata
Beberapa hari setelah hari lamaran. Om Arsen, mengajak kedua anaknya datang ke rumah Elena, calon istrinya. Mereka terlihat lebih ramah daripada sebelumnya. Kedua anak itu bersikap baik pada mama Elena dan Kayla. Namun, entah kenapa Kayla tetap tidak menyukai Ayra, gadis kecil berumur enam tahun itu terlihat galak, apalagi mata sipitnya yang mengarah ke atas di bagian ujungnya, membuat Kayla selalu waspada. Suaranya juga keras meskipun dia anak kecil. Setelah pertemuan makan malam dengan kedua anak itu, Om Arsen dan mama Elena mulai mencari tanggal pernikahan untuk mereka berdua, tentu saja atas persetujuan nyonya Bella yang merupakan ibu tiri dari Om Arsen. Wanita itu menyetujuinya, wajahnya ceria ketika mendengar rencana pernikahan ke dua putra nya itu. Dia berharap itu menjadi pernikahan terakhir putranya itu. Arsen, adalah anak suaminya dari istri pertama. Dia sendiri istri kedua dari papa Arsen dan tidak memiliki anak sama sekali, sehingga Nyonya Bella selalu menyukai Arsen selayaknya anak kandung. Namun, kadang rasa sayangnya berlebihan dan terus ikut campur rumah tangga Arsen. Itu salah satu faktor yang membuat terjadinya perceraian dengan istri pertamanya. Ujian Akhir sudah selesai, Kayla sudah merasa lega dan kini hanya fokus menunggu hasil ujian yang akan keluar satu minggu lagi. Sekolah pun sekarang tidak mewajibkan siswanya untuk berangkat setiap hari. Namun, mereka sudah sibuk mempersiapkan untuk masuk Sekolah Menengah Atas. Begitu pun Kayla dan Kevin sudah akan mulai mendaftar di sekolah yang mereka inginkan. Pernikahan mama Elena dan Om Arsen sudah di depan mata, tinggal satu bulan lagi. Sedikit demi sedikit Kayla mulai melupakan pria sepuluh detiknya itu. Atas saran dan bantuan dari Kevin akhirnya dia bisa fokus pada ujian akhir dan tidak terlalu memikirkan sakit hatinya. Meski setiap malam dia terus bergadang mencurahkan isi hatinya di buku diary miliknya. Namun, perlahan dia bisa mengatur hatinya dan tidak memuja pria itu lagi. Memaksa dirinya untuk segera melupakan pria itu. Hingga suatu sore saat Kayla pulang dari rumah Kevin, mamanya sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah sedih dan penuh tanya. Rautnya tak biasa, tidak menampakkan keceriaan sama sekali. Gadis itu berjalan pelan memasuki rumah dengan langkah ragu. Bibirnya terkatup karena takut. Kayla semakin tercengang ketika melihat buku diary miliknya berada di tangan kanan Mama Elena, entah bagaimana bisa mamanya menemukan buku itu di tumpukan paling bawah dan dia tertarik membuka buku milik Kayla. Belum pernah sebelumnya. “Apa maksudnya ini Kayla?” tanya mama Elena dengan suara tingginya tidak pernah Kayla mendengar mamanya berbicara seperti itu. Satu tangannya bersedekap di d**a. Wajahnya serius menampakkan rasa kesal dan marahnya. Nafasnya berat karena menahan emosinya. “Dari mana Mama mendapatkannya!” sahut Kayla tidak percaya menatap nanar ke arah Diary miliknya yang ada di tangan kanan mamanya. Ribuan ungkapan cinta untuk Om Arsen kembali di ingatnya dan Mama Elena mengetahuinya. Parah! “Mama tanya apa maksud tulisan kamu itu,Nak?!” bentak Mama Elena membalas tatapan Kayla dengan tajam dan penuh tanya. Suaranya terlihat bergetar di teriakan yang Kayla dengar. Menahan marah karena sangat menyayangi Kayla. Satu-satunya yang ia miliki. Penyemangat hidupnya. “Apa sekarang penting Ma, pernikahan Mama dan Om Arsen tinggal satu bulan lagi! Apakah penting membahas ini! Sudah Ma, ini sudah terlambat dan jangan dibuka lagi! ” jawab Kayla mengambil paksa buku diary yang ada di tangan mamanya. Air mata sudah menggenang di kelopak mata bawahnya. Kemudian kakinya melangkah ke belakang. Takut. Mama Elena diam, tubuhnya bergetar, bibirnya mengatup tak mampu menjawab perkataan anaknya. Bimbang ingin marah dan menyalahkan, tetapi tak kuasa. Ingin membenarkan pun juga tidak mungkin Kayla sudah lancang berani mengagumi calon papa tirinya. Dan memuja pria itu dengan berlebihan. Dia sendiri sedih membaca diary mengungkap semua perasaan cinta Kayla pada calon papanya. Lelaki yang sudah bertunangan dengannya dan sebulan lagi akan menikahinya. Ternyata sangat di kagumi putrinya dan menjadi cinta pertamanya. “Sekarang, apa yang harus mama lakukan?” tanya Mama Elena dengan suara pelan tak bertenaga. Hati dan otaknya belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa anak gadisnya ternyata menyimpan perasaan terhadap calon papanya. Tubuhnya perlahan ambruk ke lantai. Lemah! “Menikahlah, Ma,” jawab Kayla singkat sambil menggigit bibir bawahnya, tidak menyangka rahasia besar yang dia sembunyikan, di ketahui mamanya semudah ini. Hanya karena kecerobohannya meletakkan buku pribadinya di tempat biasa, tidak menyembunyikannya di dalam lemari baju atau di bawah kasurnya. Kayla sungguh menyesal karena sifat cerobohnya itu. “Maafkan mama, sayang, tidak mengetahui dari dulu, itu pasti berat untukmu!” sahut Mama Elena bangkit lalu menghampiri putrinya, memeluk Kayla. Mereka berdua sama-sama menangis. Kayla membalas pelukan mamanya, menghunjamkan wajahnya, di sanalah tempat bersembunyi ternyaman untuk Kayla. Pelukan wanita itu mampu membuat Kayla merasa aman. Tangannya melingkar erat di bahu mamanya. Semakin erat menguatkan hatinya. “Mama, sebenarnya aku ingin memberi tahu sejak lama, saat-saat aku jatuh cinta pertama kali ingin aku ceritakan padamu dengan indah. Namun aku tidak bisa membagi kisah itu denganmu, karena pria yang membuat aku jatuh hati ternyata kekasihmu. Maaf Ma!” batin Kayla. “Mama, akan membatalkan semuanya, Kayla,” kata mama Elena lirih sambil terisak dalam pelukan putrinya. Tidak ingin menyakiti putrinya lagi. Kini dia juga tahu alasan Kayla selalu marah-marah tak jelas! Karena rasa cemburu yang dirasakannya. Kayla tidak mampu menjawab dia terus memeluk mamanya, sangat sedih tidak ingin mamanya membatalkan pernikahannya dengan Om Arsen. Jika itu terjadi, mamanya akan kehilangan semangat dan Kayla tidak akan pernah melihat senyum mamanya yang sangat bahagia seperti saat bersama dengan Om Arsen. Bagaimana pun pernikahan itu harus terjadi dan sang mama harus bahagia. Kayla melepaskan pelukan, menatap lekat wajah mamanya yang basah dengan air mata, sedih dan kecewa tergurat di bibir dan matanya. Gadis itu menghirup nafas panjang, mencoba menguasai dirinya. Merangkai kata untuk meyakinkan Mama Elena agar tetap melangsungkan pernikahannya. “Jangan Ma, Mama dan Om Arsen saling mencintai, kalian akan bahagia jika menjadi sepasang suami istri,” ucap Kayla terbata-bata air mata tak mau berhenti menetes terus membanjiri pipinya. Suaranya pelan tetapi jelas. "Terus, kalau mama melanjutkan pernikahan dengan Om Arsen dan Kamu tidak bisa melupakan cintamu dengan Dia apa yang harus mama lakukan? Bukankah itu menyakitimu!” kata mama Elena marah, putrinya itu tidak mengerti juga bahwa dialah yang sangat disayangi dan utamakan oleh wanita itu. Untuk apa dia bahagia jika anak gadis yang sangat di sayanginya menderita tak bahagia. Kayla terkesiap tak mampu menjawab ucapan mamanya. Karena selama ini memang belum sepenuhnya berhasil menghapus pria itu dari hati dan otaknya. Dia sendiri juga ragu akankah bisa melupakannya atau tidak. Meski dia selalu bilang sudah melupakannya. Namun, pesona lelaki itu masih menghantui Kayla. “Di sini tertulis dengan jelas betapa kamu sangat mengagumi Om Arsen, bahkan Kamu menikmati saat Dia memberikan nafas buatan untukmu, ingin menjadi es krim yang dia makan, ingin menjadi bantal tidurnya, bahkan kamu masih mengingat bibir manisnya Kayla!” ungkap mama Elena menirukan kata-kata di buku diary milik Kayla. Marah dengan sikap putrinya yang sok dewasa dan tidak mau menurut. Merasa paling benar! Gadis itu ketakutan, mamanya bereaksi di luar dugaan. Nada suaranya tinggi, ekspresinya marah dan bulir-bulir air mata mulai mengalir membasahi pipinya lagi. Keningnya berkerut terlihat begitu emosi. “Kamu sangat memuja pria itu kan! Kamu ingin hidup bersamanya kan, saat ini hatimu sangat merindukan Om Arsen dan ingin menemuinyakan! Di sini tertulis dengan jelas setiap kali Kamu berdebar karena perlakuan Om Arsen padamu!” tegas mama Elena membuka rahasia diary Kayla. Suaranya penuh penekanan karena marah. “Cukup Ma,” teriak Kayla merebut diary itu dan berlari ke kamarnya. Kemudian membanting pintu dengan sekuat tenaga. Melempar tubuhnya ke atas kasur. Di dalam kamar Kayla terus menangis, dia sangat merasa bersalah. Gadis itu terus berpikir bagaimana mengembalikan keadaan seperti semula. Kalau sampai pernikahan mamanya batal semua adalah kesalahannya. Tidak! Kayla tidak ingin itu terjadi. . . . Setelah Kayla masuk ke kamar, mama Elena dengan sisa tenaganya berjalan pelan menuju kamarnya. Membaca buku diary milik Kayla benar-benar menghabiskan seluruh energinya. Lembar demi lembar menunjukkan dengan jelas betapa Kayla sangat mencintai calon papanya seperti rasa cinta kepada seorang kekasih. Bagaimana dia tak menyadari itu dan baru mengetahui setelah membaca isi diarynya. Setelah duduk sejenak di ranjang. Mama Elena berniat pergi ke kamar Kayla dan ingin mendapatkan jalan keluar dari masalah ini. Dia tidak suka debat dan marahan dengan putrinya terlalu lama dan berlarut-larut. Itu menyiksanya. Mama Elena keluar kamar. Pergi ke dapur lalu meminum segelas air putih. Berusaha menguasai emosinya. Dengan ragu dia melangkah ke arah kamar Kayla. Menghirup nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Berharap bisa menenangkan hatinya dari berbagai luapan emosi yang bercampur di hatinya. Ingin terlihat tenang di hadapan putrinya. Tok ... Tok ... Tok .... Mama Elena mengetuk pelan pintu kamar anaknya, tetapi tak ada sahutan dari Kayla. Tok ... Tok ... Tok.... Mencoba mengetuk lebih keras sambil memanggil Kayla dengan suara selembut mungkin. Namun, Kayla tidak membuka pintu kamarnya, hanya tangisan anak itu yang terdengar meski samar. Dengan berat hati, mama Elena kembali berjalan ke kamarnya. Mencoba bersabar dan memahami apa yang di rasakan putrinya saat ini. Bersambung. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN