10

1534 Kata
Siang hari sekitar jam dua Kayla pulang ke rumah, setelah hari yang melelahkan dia habiskan di sekolah. Kevin selalu bertindak seperti sahabat yang baik, dia tidak pernah membuat Kayla mengingat akan sosok Om Arsen. Namun, dia selalu mendengar keluh kesah Kayla dengan sepenuh hati. Dia tidak akan pernah memaksa Kayla membalas cintanya. Cukup memastikan gadis yang disukainya dalam keadaan baik-baik saja. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Kevin simpati. Melihat wajah Kayla yang murung, tak bersemangat sama sekali. “Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja?” Kayla bertanya balik. Melempar senyum tipis pada Kevin. Senyuman palsu tentunya. “Kamu semalam tidak tidurkan? Aku melihat lampu kamarmu yang menyala,” sahut Kevin. Dia selalu menyempatkan melihat lampu kamar Kayla dari balkon lantai dua. Memastikan Kayla sudah tidur atau belum. Kemudian Kayla bercerita pada Kevin bahwa semalam sang mama meminta pendapat Elika untuk menerima lamaran dari Om Arsen. Dia berpikir semalaman dan tidak menemukan jawaban. Hatinya masih sangat mencintai pria itu dan kini dia belum ikhlas jika mamanya ingin segera bertunangan dan akan menikah dalam waktu dekat dengan pria tampan yang memikat hatinya. “Apa yang harus aku lakukan Vin?” tanya Kayla suaranya lirih sangat putus asa. “Mengakui perasaanmu pada Mamamu?” jawab Kevin memberikan pendapatnya pada Kayla. Dia sangat tahu, dirinyalah satu-satunya tempat Kayla mengutarakan semua masalahnya. “Terus?” tanya Kayla pelan. Takut membayangkan reaksi mamanya jika mendengar pengakuan darinya. “Mungkin mamamu akan mengerti dan mengalah untukmu!” sahut Kevin menebak, menurutnya Tante Elena adalah ibu yang baik yang bersedia melakukan apa pun untuk Kayla, putri dan anggota keluarga satu-satunya yang ia miliki. “Tapi, aku ingin Mama juga bahagia,” kata Kayla bersungguh-sungguh. “Kalau itu maumu, kamu harus mulai melupakan Om Arsen, dan menganggapnya sebagai Papa, menyangyanginya sebagai calon Papamu bukan sebagai kekasih!” jelas Kevin menasihati Kayla, yang tampak memelas. “Baiklah, akan aku coba,” jawab Kayla sambil menuntun sepedanya memasuki halaman rumah. Kevin memperhatikan Kayla dari belakang, Dia tahu rasa cinta gadis itu kepada calon papanya benar-benar menyita seluruh waktunya. Akhir-akhir ini Kayla sering murung di kelas. Kevin takut Kayla tidak fokus lagi dengan ujian akhir yang sudah di depan mata. Tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya mendengarkan semua curahan hatinya, itu adalah hal sederhana yang mungkin bisa membantu Kayla. Kevin kembali berjalan menuntun sepedanya ketika Kayla sudah masuk ke dalam rumah. Wajah sendu Kayla selalu terbayang ketika dia membuka dan menutup mata. Kasihan! *** Malam harinya, Mama Elena mengajak Kayla makan malam di sebuah Resto. Dengan memakai gaun berwarna peach dan lipstik warna senada, sepatu hightheels yang tidak terlalu tinggi membuat kaki jenjang terlihat lebih indah. Wanita itu terlihat sangat cantik dan menawan. Mama Elena berjalan berdampingan dengan Kayla, menuju meja yang berada di tengah ruangan, di sana ada Om Arsen yang sudah menanti. Terlihat sangat tampan dengan kemeja warna gelap dan jas hitam yang dikenakannya, sepatu hitam mengilat juga melengkapi penampilannya, tak lupa dia menyemprotkan parfum mahal berbau maskulin khasnya. Rambutnya tersisir rapi menampakkan keningnya. “Ma, apa ini hari spesial?” tanya Kayla heran. Bisikannya pelan tak ingin di dengar Om Arsen. “Om Arsen mengajak, mama datang kesini sayang,” sahut mama Elena masih fokus menatap pangeran tampannya. Matanya tak berkedip, pria itu terlihat lebih tampan dari biasanya. Mama Elena duduk, di ikuti Kayla. Meja bundar tak terlalu besar memberi kesan hangat di jamuan makan malam spesial undangan dari Tuan Arsen Damarest seorang duda kaya raya dan juga pengusaha yang sukses sejak masih berusia 22 tahun. “Apa hanya kita pengunjung di sini?” tanya Kayla keheranan mengamati suasana resto yang begitu sepi. Hanya ada mereka bertiga di sana. Beberapa pelayan dengan baju seragam menyambut mereka bersiap menerima titah. Om, Arsen hanya tertawa sambil menatap Kayla. Gadis itu sangat lucu menurutnya. Elena hanya tersenyum tipis, melihatnya terlihat lebih manis. Tak berapa lama pelayan datang membawa hidangan makan malam yang sudah di pesan, salmon dan brokoli, puding , juga Es krim serta minuman dingin. Yang tertata di hadapan mereka. “Mari makan,” ajak Om Arsen dan masih terus menatap mama Elena. Dia memang selalu mengagumi kecantikan wanita itu. “Ayo, Kayla di makan,” suruh mama Elena. Melihat Kayla yang masih diam. Dengan lesu Kayla mengambil es krim lalu memakannya, berada di antar mamanya dan Om Arsen memang menjadikannya seperti pengganggu saja. Mereka berdua saling menatap, berbalas senyum, dan saling memberikan kode-kode menggelikan satu sama lain. Membuat Kayla jengah. Ingin menghilang saja dari tempat itu. Sejenak dia menyesal menuruti kemauan mamanya untuk menemaninya makan malam ini. “Om Arsen, kata Kevin kalau aku ingin melihat mama bahagia aku harus mulai melupakanmu, aku akan berusaha melupakanmu, semoga saja aku bisa!” batin Kayla. “Kayla,” panggil Om Arsen membuyarkan lamunan gadis itu. Menghentikan pikirnya yang melayang entah ke mana. “Iya,” jawab Kayla gelagapan sambil menatap pria tampan yang sedang melihat ke arahnya. Bibirnya mencoba tersenyum pura-pura bahagia di depan dua orang dewasa itu. “Malam ini di depan kamu, om ingin melamar mama kamu,” kata Om Arsen. “Elena maukah kamu menjadi istriku, menghabiskan waktu denganku, menjalani susah dan senang bersama?” ucap pria itu sambil membuka sebuah kotak merah berisi cincin berlian di desain khusus untuk kekasihnya. Mama Elena menatap Om Arsen, seolah tak percaya, dia tersenyum takjub malam ini apa yang sebenarnya sangat ditunggunya menjadi kenyataan. Dalam hati kecilnya dia ingin segera menikah dengan pria itu. Namun, dia selalu memikirkan Kayla yang mungkin saja tidak bisa menerima orang baru yang tiba-tiba menjadi papa tirinya. Sedangkan Kayla, terdiam sedih. Senyum palsunya mengembang tetapi hatinya luluh lantak, ini akhir dari kisah cinta pertama dengan pria sepuluh detiknya. Berakhir, hanya luka yang ia dapat. Tak ada ungkapan, tak ada penolakan dan tak ada balasan. Miris. “Sudah berakhir, mulai hari ini aku akan menganggapmu sebagai seorang papa, semoga aku bisa, aku akan berhenti menyakiti diriku sendiri karena mencintaimu. ” Batin Kayla. Mama Elena menatap Kayla dengan senyum manisnya, gadis itu membalas senyuman dengan lebih lebar, menyembunyikan perasaan sebenarnya. Senyum palsu sebagai tanda dia menyetujui hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. “Iya, aku mau,” ucap mama Elena di ikuti wajah kelegaan pada Om Arsen. Mereka berdua tampak sangat bahagia sekali. “Syukurlah,” kata Om Arsen lalu memakaikan cincin itu di jari mama Elena. Memberikan kecupan di kening wanita itu. Kayla tersenyum getir, menggigit bibirnya untuk mencegah air matanya. Kakinya dingin dan gemetar, ingin menangis, tetapi ia tahan. “Kayla, hore sebentar lagi aku akan menjadi papamu,” sorak Om Arsen begitu bahagia. Ini pertama kalinya Kayla melihat ekspresi begitu bahagia dari pria itu. Sangat bahagia, akhirnya dalam waktu dekat bisa mempersunting wanita yang dicintanya. “Selamat ya Om, Mama, selamat ya,” kata Kayla dan air mata menetes di pipinya sudah tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Satu tangannya mengusap pipi, menghapus air mata. Mama Elena memperhatikan Kayla yang tersenyum tetapi juga meneteskan air mata. Dia menatapnya keheranan. “Kamu menangis sayang?” tanya mama Elena khawatir. Merengkuh wajah Kayla dengan kedua tangannya. “Tidak, Kayla hanya terharu saja,” jawab Kayla asal tidak mau mamanya curiga dan khawatir di hari bahagianya ini. Kemudian melepas lembut genggaman tangan mama di wajahnya. Mama Elena tersenyum bahagia, begitu pula Om Arsen, malam ini menjadi puncak kebahagiaan mereka berdua. Masa depan yang bahagia sudah menanti mereka. Setelah makan malam, Om Arsen mengantarkan calon istri dan anaknya pulang ke rumah, sepanjang perjalanan di dalam mobil mereka terus menebarkan senyum dan ceria lewat aura wajah mereka. Sedangkan Kayla menangis di dalam hati, tidak sabar ingin sampai di rumah dan menumpahkan keluh kesahnya pada Kevin. Sedih dan hancur sekali hatinya malam ini. Mobil sampai di depan rumah, setelah membuka pintu untuk mama Elena Om Arsen membuka pintu untuk Kayla. Mereka saling beradu tatap. Senyuman pria itu masih sama, sangat memesona dan membuat Kayla bergetar. Kayla membalas senyuman pria itu dengan singkat lalu berjalan terlebih dahulu. Membuka pintu dan berjalan cepat ke kamarnya. Air mata sudah menggenang dan akan menetes. Sesampainya di kamar, gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menghunjamkan wajahnya ke bantal dan mulai menangis, mengeluarkan semua air matanya. “Mama, semoga mama bahagia dengan Om Arsen. Kayla ikut bahagia kalau mama bahagia. Dan buat Om Arsen, maaf Kayla yang lancang berani jatuh cinta dan mencintaimu. Mulai hari ini Kayla akan berusaha melupakanmu.” Batin Kayla sambil menangis getir. Di ruang tamu mama Elena dan Om Arsen sedang duduk, merencanakan hubungan mereka ke depannya. Namun, Om Arsen mengingat hal yang tak biasa pada di Kayla. “Apa Kayla tidak apa-apa, kulihat dia sangat sedih,” tanya Om Arsen ingin tahu. “Aku juga merasa seperti itu, akhir-akhir ini Kayla lebih sering diam,” sahut wanita itu tak kalah heran, Kayla memang selalu murung beberapa hari belakangan ini. “Apa karena masalah di sekolahnya?” tanya Om Arsen menebak. “Bisa jadi, sebentar lagi ujian akhir, mungkin dia sedikit terbebani karena hal itu,” jawab Mama Elena ragu. “Ya sudah, aku pulang dulu, lusa aku ajak Ayra dan Beryl kemari. Mereka akan senang jika aku memberitahu, kamu adalah ibu baru bagi mereka,” jelas Om Arsen dengan senyum penuh keyakinan. Mama Elena, tersenyum ragu tidak yakin calon anak angkatnya akan menerimanya dengan senang hati. Mengingat saat undangan makan malan di rumah pria itu dulu. Sikap anaknya sangat tidak bersahabat. “Sampai ketemu,” Mama Elena berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan ke pada pria yang baru saja melamarnya. Dia yakin apa pun yang terjadi di depan nanti, dia akan menjalani semuanya dengan pria itu. Sementara itu, di dalam kamar setelah puas menangis Kayla bangkit dari tidurnya. Kemudian dia mengungkapkan semua kesedihannya lewat tulisan di buku diary kesayangannya. Berharap semua beban dan kesedihan yang mengganggunya akan segera pergi dan tak membebaninya lagi. Bersambung ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN