09

1761 Kata
Sesampainya di rumah, Om Arsen membantu Kayla membawa belanjaan masuk ke dalam. Pria itu tidak membiarkan Kayla mengangkat tas belanjaan sendirian. Dia berpikir cepat atau lambat Kayla akan menjadi anak tirinya harus belajar menyayangi gadis itu mulai saat ini. Rasa sayang sudah tumbuh di hati Arsen. “Sini biar aku yang bawa,” kata Om Arsen sambil meraih tas belanjaan dari tangan Kayla. “Iya,Om,” jawab Kayla menurut. Memberikan tas belanja dan berjalan mengikuti pria itu dari belakang. Setelah meletakkan tas belanjaan di meja dapur, Kayla masuk ke ruang kerja mamanya. Memberitahu bahwa dirinya sudah sampai di rumah. “Ma,” panggil Kayla. “Iya, sayang,” jawab mama Elena. Berhenti sejenak menatap layar laptop lalu menoleh ke sumber suara. Putrinya sudah berdiri di pintu. Wajahnya terlihat lelah, tetapi senyum tersungging di bibirnya. “Aku sudah beli bahan makanan yang Mama minta, ayo masak sekarang,” pinta Kayla manja, sudah dua hari mamanya terus berduaan dengan benda canggih yang selalu ia nomor satukan. “Mama, masih harus menyelesaikan ini,” sahut mama Elena memperlihatkan desainnya yang belum jadi. Dia lelah dan ingin memasak untuk putrinya. Namun pekerjaannya tak membiarkan hal itu terjadi. “Yaaahhh,” jawab Kayla kesal. Bibirnya cemberut manyun. “Ajak, Om Arsen masak bersama, Dia jago masak Mi instan!” usul mama Elena bersemangat. Tak ingin Kayla kecewa atau sedih. “Baiklah, Ma,” sahut Kayla pelan. Mengerti kebiasaan mamanya, semua itu ia lakukan untuk bertahan hidup. Kayla berjalan pelan menuju ruang keluarga, sofa panjang itu adalah tempat favorit pria sepuluh detiknya. Dari belakang Kayla memperhatikan pria itu, dari rambutnya saja dia bisa menebak kalau pria itu sangat tampan. Pundaknya yang lebar sangat kekar. Begitu menggoda. “Om Arsen,” panggil Kayla lembut seraya duduk di samping pria itu. “Iya, Kay,” jawabnya tanpa menoleh. Asyik melihat drama action di layar Televisi. “Mama menyuruh Om Arsen masak mie instan, nanti Kayla yang bantu,” jelas Kayla bersemangat sekali kembali berduaan dengan lelaki itu. “Oke lah, ayo kita masak Kayla!” jawab Om Arsen menyambut ajakan Kayla, meninggalkan acara yang sedang ia saksikan. Kemudian beranjak dari duduknya. Kayla berjalan ke dapur lebih dulu di ikuti Om Arsen. Mengambil dua mie instan kuah rasa original, s**u dan keju. Menu sederhana yang paling bisa dia masak. “Panaskan air dulu!” perintah Om Arsen. Memperhatikan Kayla yang bingung, di depan kompor. “Baiklah,” jawab Kayla lalu mengambil panci. Kemudian mengisinya dengan dua gelas air. Panci di letakkan dan kompor di nyalakan. Sembari menunggu air mendidih, Kayla berniat membuatkan minum untuk pria tampan yang sedang berdiri di sampingnya. Kayla melompat mencoba meraih tempat gula yang berada paling atas. Sulit dari jangkauan tangan Kayla. “Kenapa mama taruh di sini sih! Kayla kan enggak bisa meraih!” gerutu Kayla kesal. Kayla kembali melompat berharap bisa meraihnya. Sedangkan pria yang berdiri di sampingnya menatap ke arah gadis belia itu, dadanya yang ranum bergerak mengikuti setiap lompatannya. Membuat pria itu berkali-kali menelan ludah dan menikmati pemandangan yang sangat langka itu. Mungkinkah Arsen menyukai Kayla, atau itu hal yang wajar karena dia seorang pria. “Om, bantuin Kayla!” pinta Kayla cemberut karena Om Arsen tidak segera membantunya. Dia hanya berdiri dan diam mengamatinya tanpa melakukan sesuatu. “Sini,” Om Arsen berdiri di belakang Kayla dan mengambil kotak gula dengan tangannya, membuat d**a kekarnya menempel pada bahu Kayla. Dan tangannya bersentuhan dengan tangan gadis belia itu. Jantung Kayla berhenti sejenak, sentuhan d**a kekar Om Arsen di punggungnya seperti aliran listrik yang membuat tubuhnya tersentak dan gemetar. Dia meletakkan satu tangan di d**a untuk menahan jantungnya yang berdebar sangat cepat. “Maaf Kayla,” ucap Om Arsen sambil memegang satu lengan Kayla karena takut gadis itu akan jatuh. Membuat mereka saling bertatapan lama. “Iya, Om,” jawab Kayla lirih seraya menunduk menahan malu. Tidak ingin debar di dadanya di ketahui pria yang begitu tampan itu. Melihat air yang sudah mendidih, Kayla memasukkan dua bungkus mie beserta bumbu dan s**u lalu keju, begitulah arahan dari Om Arsen. Sambil menunggu matang Kayla membuat secangkir kopi robusta asli untuk Om Arsen. Setelah menunggu beberapa saat dan matang, Kayla menuangkan mie ke dalam dua mangkuk. Kemudian, dengan nampan besar dia membawanya ke ruang keluarga dimana Om Arsen sudah menunggunya di sana. “Ini Om,” tawar Kayla meletakkan dua mangkuk mie di meja dan secangkir kopi hitam yang mungkin di sukai lelaki itu. Kayla hanya menebak. “Iya, taruh di situ dulu, masih panas,” sahut Om Arsen. Tak mengindahkan tawaran Kayla dan asyik mengusap layar ponselnya. Sembari menunggu mie nya dingin Kayla pamit untuk mandi. Dia sudah tidak tahan dengan keringatnya sendiri, berada di dapur dan memasak bukanlah kebiasaannya. “Om, Kayla mandi ya, gerah banget!” pamit Kayla. “Iya,” jawab Om Arsen acuh. Sekitar lima belas menit Kayla sudah selesai mandi, dia mengenakan baju yang menurutnya cocok untuk membuat Om Arsen selalu menatapnya. Tak lupa ia mengaplikasikan bedak tipis di pipinya. Dengan semangat Kayla keluar dari kamar dan akan segera makan berdua dengan Om Arsen. Namun, mama Elena ternyata sudah duduk di samping Om Arsen, bergelayut manja di dadanya. Membuatnya beringsut dan lemas. Tak bersemangat lagi. “Mama,” panggil Kayla pada mamanya. Suaranya yang bernada tinggi mengagetkan dua orang yang sedang bermesraan di sofa ruang tengah rumah itu. Membuat Kayla bungkam sedih tidak bisa menerjemahkan apa yang dia rasakan. Tangannya mengepal kesal. “Sini, sayang, makan mienya,” ajak mama Elena ramah. Dia melepas tangannya dari lengan pria yang sedang duduk di sampingnya itu. “Iya, Ma,” jawab Kayla lirih tidak bersemangat. Bayangannya untuk makan berdua saja dengan Om Arsen pudar. Karena mama Elena sudah berada di sana. Duduk manja di sebelah pria yang di cintainya. Kayla mengambil mangkuk mienya, mulai mengunyah suap demi suap. Sesekali dia melirik ke arah mama Elena yang sedang di suapi oleh Om Arsen. Sangat lembut dan perhatian, idaman setiap wanita. “Kenapa mama tiba-tiba datang, tidak memberi kesempatan padaku untuk makan berdua dengan Om Arsen. Dan aku juga ingin disuapi! Mama merusak semuanya!” batin Kayla. “Ma, Kayla mau tidur ya?” pamit Kayla lesu tidak kuat harus melihat mamanya bermesraan dengan pria yang ia dambakan. Matanya sayu, menahan cemburu. “Iya, sayang,” sahut mama Elena senyum menghiasi wajahnya. Dengan langkah lemas Kayla berjalan menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Selimut ia gunakan untuk menutupi wajah. Bayangan mama Elena dan Om Arsen beterbangan di otaknya membuat dia semakin terluka saja. Dan enggan memikirkan nasib cintanya yang sudah kandas tak ada harapan. “Aku tidak tahan jika seperti ini terus! Aku tidak bisa melihat mama sangat mesra dengan Om Arsen! Itu membuatku sedih!” gumam Kayla lirih. Masih bersembunyi di balik selimut. Kayla berusaha untuk tidur, berbagai posisi ia coba, terlentang, tengkurap, miring ke kanan dan miring ke kiri. Namun, matanya tak kunjung terpejam. Kantuk tak juga menghampirinya. “Huufft!!” gerutu Kayla menendang selimutnya kasar. Ingin marah tak jelas! Gadis itu membuka pintu ingin bermain di rumah Kevin. Namun, ketika dia membuka pintu di terkejut. “Aaaaaaaa ...,” teriaknya melihat mamanya dan Om Arsen sedang berciuman mesra di siang bolong. Suara Kayla membuat dua orang yang saling merindukan dan diburu nafsu itu terkejut dan langsung melepaskan ciuman mereka. Tidak menyangka Kayla akan ke luar dari kamarnya. "Maaf," ucap Kayla singkat dan ketus lalu berjalan keluar rumah begitu saja, menyimpan rasa cemburunya. Dia berlari kecil menuju pintu rumah Kevin yang tepat berada di depan rumahnya. Tok ... Tok ... Tok.... Kayla mengetuk pintu rumah Kevin pelan, adegan memalukan tadi masih bersarang di benaknya. Ceklek! Kevin membuka pintu untuknya. Dia selalu ada waktu dan tempat untuk Kayla. "Masuk Kayla," suruh Kevin. Kayla mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Kevin. "Tumben kesini," ucap Kevin. "Enggak betah di rumah !" jawab Kayla jujur. "Kenapa?" tanya Kevin menyelidik biasanya temanya itu sangat betah di rumah dan tidak suka melakukan kegiatan di luar rumah, itu yang dia tahu. “Aku enggak betah Mamaku bermesraan dengan Om Arsen, pria yang aku cintai, aku cemburu!” Batin Kayla. "Bosan di rumah," jawab Kayla asal, tidak mungkin memberi tahu alasan sebenarnya. "Baguslah, aku bisa tanya tentang sesuatu yang aku ingin ketahui," sahut Kevin bersemangat. "Kamu mau tanya apa?" tanya Kayla penasaran sambil menatap sahabatnya itu. Dia terlihat seolah baru saja menemukan harta karun. Kedua manik matanya berbinar tak biasa. "Ayo ke atas!" usul Kevin beranjak dari duduknya. Kevin mengajak Kayla naik ke lantai dua, di balkon rumahnya. Kayla mengikutinya dari belakang tak sabar dengan apa yang akan di tanyakan Kevin. Mereka berdua duduk di sofa nyaman yang ada di sana. Angin yang bertiup memberi kesejukan, menebarkan rasa nyaman. Membuat Kayla lupa sesaat dengan rasa cemburu dan rasa cinta yang mengganggu hatinya. "Aku tadi lihat kamu di taman," ucap Kevin membuka pembicaraan. "Kok, enggak panggil aku?" tanya Kayla mengarahkan pandangan ke arah temannya itu. Tak ada curiga sama sekali di pikiran Kayla. "Enggak enak, tadi yang di taman itu siapa?" Kevin balik bertanya tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya lama-lama. Pria dewasa dengan baju mahal dan mobil mewah berduaan di taman dengan gadis yang ia sukai. "Tadi itu Om Arsen," jawab Kayla datar. Tak ada penekanan di nada suaranya. "Kamu cinta ya sama Dia?" tanya Kevin menyelidik. Ingin mendengar dari orangnya langsung. Kayla bengong tidak menyangka Kevin akan menanyakan hal seperti itu. Diam sejenak, merangkai alasan dan kata yang tepat untuk menyanggah ucapan Kevin. "Jujur ya, Kay baru pertama kali aku lihat Kamu seperti itu, menatap dengan cara yang tidak biasa!" ucap Kevin kesal membuang pandangannya. Tatapan Kayla ke pria itu penuh cinta. Kayla menunduk bisa merasakan nada kesal pada suara sahabatnya itu. Bimbang antara mengakui atau menolak tuduhan temanya itu. Dia menimbang-nimbang, antara jujur dan berbohong termasuk konsekuensinya. "Dia pria yang kamu sukai kan!" jelas Kevin tegas suaranya yakin tak ter elakkan Kayla terdiam, benar-benar malu untuk menjawab dan mengakuinya. Kedua ujung bibirnya turun. Terbungkam. "Jawab Kay, biar aku tak berharap lagi sama Kamu!" paksa Kevin sedikit marah meski dia tak berhak untuk melakukan itu. Gadis itu menunduk, kembali memikirkan jawaban yang tepat. Tidak mudah membuka rahasia besar yang selama ini ia simpan sendiri. Malu mengakui jika dia mencintai kekasih mamanya. "Sepertinya tebakanku benar kamu menyukai Om, Om itu kan?!" celetuk Kevin puas penuh nada ejekan. Kayla masih menunduk. Tak bersuara. "Tebakan kamu benar Vin, pria yang membuat aku jatuh cinta adalah Om,Om itu! Dan sialnya Dia kekasih Mamaku! Aku tidak betah di rumah! Aku cemburu mereka bermesraan di depan mataku! Aku sedih dan aku tidak berani berbagi masalahku dengan Mama," jelas Kayla seraya meneteskan air mata mengeluarkan beban di hatinya. Kevin menepuk pundak Kayla, Dia menyesal candanya akan membuat gadis yang ia cintai menangis. Air mata Kayla tak mau berhenti menetes. “Aku tak habis pikir dengan kamu Kay, banyak teman laki-laki yang menyukaimu, mengejarmu termasuk aku, tapi selera kamu malah Om, Om, maaf Kay kali ini aku tidak bisa membantumu, aku hanya akan bersedia mendengarkan ceritamu.” Batin Kevin. "Terus apa yang akan Kamu lakukan selanjutnya?" tanya Kevin ingin sekali memeluk Kayla, tetapi dia canggung karena belum pernah sama sekali. "Aku ... Tidak ... Tahu.... " Jawab Kayla sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Air matanya sudah banjir di pipi. Bersambung. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN