08

1313 Kata
Sabtu siang, tak seperti biasanya Om Arsen datang ke rumah. Karena Mama Elena sibuk dengan deadline kerjanya, dia meminta Kayla berbelanja di temani Om Arsen. Karena tidak mungkin dia berbelanja sementara desain yang harus ia selesaikan hari ini masih banyak yang belum tersentuh sama sekali. Seperti biasa jika hanya pergi berdua, Om Arsen selalu menyuruh Kayla duduk di depan di sampingnya. Itu dia lakukan dengan cara berjalan lebih dulu lalu membuka pintu depan untuk Kayla. Kayla sangat menyukai hal itu, karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang pergi berkencan. “Kayla, masuklah!” pintanya seraya melempar senyum manis ke arah gadis belia yang sedang berjalan ke arahnya. Kayla tak berpikiran buruk sama sekali. Rasa cemburunya sudah ia buang jauh-jauh. Tidak ingin bersedih memikirkan hal itu. “Baiklah, Om,” jawab Kayla, berlari kecil menghampiri pria itu dan duduk di mobil, bahagia sekali bisa jalan berdua dengan pria yang mengisi hatinya. Akhirnya bisa pergi berdua sama kamu Om, tanpa Mama, meski Cuma belanja aku bakal senang sekali. Batin Kayla sambil tersenyum sendiri. “Pakai sabuk pengamannya,” pinta Om Arsen. “Iya, Om,” jawab Kayla antusias. Kemudian mobil mulai berjalan membelah jalanan kota. Menuju pusat perbelanjaan. Kayla sesekali melirik pria yang duduk di sampingnya, bagaimanapun Kayla belum bisa melupakan Om Arsen. Yang ada dia selalu memuja pria itu setiap detik, dalam hidupnya. Dia lupa akan niat awalnya untuk melupakan pria kekasih mamanya itu. Yang jelas kini rasa cinta untuk Om Arsen semakin dalam dan rasa rindu seperti bom waktu yang akan membuat risau hatinya jika dalam satu minggu tak berjumpa dengan pria kekasih mamanya itu. Om Arsen menepikan mobilnya. Memarkirkan mobilnya lalu berhenti. Dia kembali membuka pintu mobil untuk Kayla, menggandeng tangan gadis itu lalu berjalan memasuki mall. Tangan Om Arsen sesekali bersentuhan dengan paha Kayla yang hanya memakai celana pendek, membuatnya harus menahan geli dan kadang tersenyum sendiri. Mereka benar-benar terlihat sedang berkencan, berdua bergandeng tangan dan senyum menghiasi bibir kedua orang itu. Kayla mulai memenuhi troli dengan bahan makanan yang biasa di belinya. Om Arsen dengan sigap selalu di sampingnya mendorong troli itu dan menjaga Kayla dari tatapan orang-orang yang penasaran dengannya. Maklum, kulit Kayla sangat putih, rambutnya yang hitam sangat cantik dan tubuhnya tinggi sampai membuat dia terlihat lebih dewasa dari umur sebenarnya. Dan cara berpakaiannya yang berani. Celana jeans pendek dan kaus lengan pendek dengan bagian kerah yang lebar memperlihatkan dadanya yang ranum. “Lain kali jangan memakai celana pendek!” perintah Om Arsen sambil melirik ke paha Kayla. Dia sendiri tergoda jika berlama-lama melihat bagian itu. “Memangnya kenapa Om, ini sangat nyaman dan Kayla suka,” jawab gadis itu datar tak peduli dengan tatapan-tatapan nakal dari laki-laki hidung belang yang melihatnya. “Dan jangan pakai kaos tipis ini!” suruh Om Arsen sambil menunjuk kaos Kayla yang menerawang. Rautnya terlihat sangat kesal. “Kenapa Om, ini ringan dan enak untuk cuaca panas seperti ini,” sahut Kayla bersemangat. Tidak tahu maksud di balik perintah dari Om Arsen. “Ya sudah terserah kamu saja!” jawab Om Arsen kesal berdebat dengan Kayla, selalu saja kalah. Hanya saja dia juga sangat menyukai Kayla mengenakan kaos itu tetapi dia tidak rela jika ada orang lain melihatnya. Pria itu mendorong trolinya menuju kasir, Kayla berjalan di sebelahnya. Setelah semua masuk ke dalam kantung plastik, Om Arsen membayarnya. “Kayla, ayo kita makan!” ajak Om Arsen. Menunjuk sebuah tempat makan yang ada di dekat situ. “Kayla mau makan es krim saja Om,” jawab Kayla sambil menggeleng, menolak ajakan Om Arsen. “Baik,” jawab Om Arsen lalu membeli beberapa kotak es krim dan berjalan ke parkiran. Kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Sayang sekali mereka terjebak macet. Dan harus berlama-lama berduaan di dalam mobil. “Macet ni Om,” ucap Kayla. “Sabar ya, maklum hari minggu,” sahut Om Arsen. “Panas,” keluh Kayla sambil mengusap keringatnya. Badannya mulai berkeringat, kaos tipisnya melekat di tubuh. Bahannya yang tipis membuat kulit tubuhnya terlihat sangat jelas. Membuat Arsen melihat ke arahnya sekian detik lebih lama. Kayla sangat mirip dengan Elena hanya warna rambutnya saja yang berbeda, jika rambut Elena berwarna sedikit cerah, rambut Kayla berwarna hitam gelap. Kayla mengipaskan tangannya dingin AC tetap membuatnya gerah. Di melihat kanan kiri, mencari tempat agar terhindar dari kemacetan ini. Kebiasaannya yang jarang keluar rumah membuatnya tidak bisa menahan emosinya ketika terjebak macet. “Om, kita ke taman yuk, makan es krim,” ajak Kayla. Menemukan ide bagus agar bisa berdua dengan Om Arsen. “Baiklah, kita tunggu sampai pertigaan ya?” jawab Arsen, matanya sekilas terpaku ke d**a Kayla yang terlihat begitu menawan menurutnya. “Iya,Om,” jawab Kayla masih sibuk mengerakkan t-shirtnya dan kadang meniup ke arah dadanya. Sungguh panas! Om Arsen melihat tingkah konyol Kayla, itu membuatnya tersenyum sendiri. Benar-benar menggemaskan sekali gadis itu. Dia menutup bibir dengan tangan kirinya tidak ingin Kayla melihatnya saat ia tertawa. Mobil mulai berjalan pelan, dan setelah di pertigaan Arsen membelokkan mobilnya ke taman Kota yang tidak jauh dari rumah Kayla. Pengunjung tidak terlalu banyak karena tempat parkir masih lenggang. “Sini ya,” kata Om Arsen sambil menghentikan mobilnya di parkiran. “Iya, Om,” sahut Kayla sambil membawa sekotak es krim dan keluar dari mobil. Mereka berjalan berdampingan, semua mata tertuju melihat keduanya. “Pakai ini!” kata Om Arsen sambil memberikan jaketnya pada Kayla, agar dadanya yang terbuka tidak bisa di nikmati orang yang melihatnya. “Apaan sih Om, panas!” tolak Kayla. “Ayo nurut Kayla,” ucap Om Arsen dengan suara berat dan serius membuat Kayla tidak bisa menolak. “Iya, Om,” sahut Kayla manyun dan menurut ketika Om Arsen memakaikan jaket itu di pundaknya. Mereka duduk di salah satu kursi di taman. Menikmati es krim sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang. Kayla juga memperhatikan pria yang duduk di sampingnya. Dia sedang sibuk makan es krim. “Manis sekali, duduk berdua menikmati es krim di taman kota bersama orang yang kita cintai, Om Arsen aku mau jadi es krim yang kamu makan,” batin Kayla nakal. “Kenapa kamu tersenyum sendiri Kayla?” tanya Om Arsen pada Kayla yang sedang sibuk berimajinasi. “Eh ..., tidak kok Om,” jawab Kayla terkejut. “Sebentar,” sahut Om Arsen sambil menunduk memperhatikan wajah Kayla. Kayla terdiam, berada sedekat itu dengan Om Arsen membuat jantungnya semakin berdetak kencang. Lidahnya kelu, bibirnya terkunci dan matanya terpejam. Om Arsen, membersihkan noda es krim di bibir Kayla dengan punggung tangannya. Membuat gadis itu berhenti bernafas karena gugup. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, sentuhan pria itu selalu membuat Kayla bereaksi berlebihan. “Haah ...,” suara Kayla membuang nafas seperti habis berlari kencang di kejar anjing. “Apa kamu tidak bernafas?” tanya Om Arsen heran. “Aku Cuma lupa bernafas Om,” jawab gadis itu sambil menggigit bibir bawahnya menguasai rasa gugupnya. “Lucu kamu!” celetuk Arsen sambil tertawa ceria, berbicara dengan Kayla selalu berhasil membuatnya bahagia. Om Arsen, sibuk dengan es krim nya, dia menikmati makanan dingin dan manis itu perlahan, sedikit demi sedikit. Membuat Kayla sering melihat ke arahnya. Tidak mau kehilangan momen itu, saat bibir Om Arsen menangkap es krim dari sendok dan mendorongnya masuk ke mulut , Kayla ingin sekali menggantikan es krim itu. Aku mau kok Om, jadi es krim yang kamu makan, Aku ingin lagi. Merasakan bibirmu yang lembut dan manis! Batin Kayla. “Kayla kenapa kamu menatapku seperti itu! Membuatku canggung saja! Jangan bilang kamu naksir aku, aku ini calon papamu!” batin Arsen. Setelah menghabiskan es krim mereka berdua kembali ke mobil, ingin segera pulang. Kayla selalu menatap pria itu dengan kagum. Semakin lama semakin sering, membuat Arsen beberapa kali melihat tatapan gadis itu yang menurutnya bukan tatapan biasa, tatapan cinta dan penuh arti. “Kayla? Mengapa tatapanmu tidak biasa, mamamu saja tidak pernah menatapku sedalam dan selama itu!” batin Arsen penuh tanya. “Jangan menatapku seperti itu!” kata pria itu mengagetkan Kayla yang sedang tenggelam dalam khayalannya. Nada suaranya tinggi dan tegas! “Maaf, Om,” bisik Kayla menyadari ada yang lain dari Om Arsen. Dia menunduk menghindari bertatap mata dengan Om Arsen. Pria itu tidak menjawab permintaan maaf Kayla. Namun dia menatap Kayla penuh tanya. Membuat Kayla menyesal terlalu berani menatapnya tanpa sembunyi atau mencuri pandang. “Kayla! Bodoh sekali kau! Jangan ulangi lagi!” batin Kayla mengumpat sadar bahwa dirinya sangat ceroboh. Bersambung. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN