Sabtu malam, Om Arsen datang ke rumah Mama Elena. Sebagai tanda sudah membaiknya hubungan mereka. Mobil mewahnya sudah terparkir rapi di depan rumah wanita yang dicintainya. Siap mengantar mereka berbelanja, memanjakan mata dengan barang-barang mewah yang mahal. Tebak Arsen, dia cukup mengerti tentang hal-hal yang di sukai wanita. Belajar dari mantan istrinya yang selalu bersemangat jika diajak ke mal.
Dengan terpaksa, Kayla mengikuti ajakan mamanya untuk menemani kencannya malam ini. Sedih? Tentu! Itu yang dirasakan Kayla. Cemburu? Jelas! Mereka berdua seperti sepasang burung merpati yang saling memuja satu sama lain. Hancur dan pedih bercampur jadi satu memenuhi hati dan benak gadis belia itu. Di satu sisi dia ingin di posisi mamanya, mendapatkan cinta dari pria itu. Namun, di sisi lain dia merasa enek melihat kemesraan mereka yang berlebihan.
Kali ini, Kayla duduk di kursi belakang sendiri. Om Arsen membukakan pintu depan untuk mama Elena. Dengan begitu setiap tatapan penuh cinta dan adegan perhatian dari Om Arsen untuk mamanya terlihat jelas di mata kepala Kayla. Sangat pilu! Hatinya panas meradang, tak kuat! Namun, dia tetap menahannya dengan tetap memasang wajah datar dan senyum palsu. Kadang dia melihat keluar jendela untuk mengatasi gemuruh cemburu yang memburu di hatinya.
Apalagi saat di perempatan lampu merah yang cukup lama menurut Kayla. Padahal hanya empat puluh detik, tetapi itu seperti di neraka! Om Arsen dengan lembut menyibakkan rambut mama Elena lalu menatap wanita itu dengan lama dan dalam. Sangat terpesona. Entahlah mereka berdua sudah mengenal lama, tetapi masih saling terpesona satu sama lain.
Mobil terus berjalan dengan kecepatan sedang. Jengah! Itu yang di rasakan Kayla. Kemudian mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Kayla dengan bergegas melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. Enggan melihat adegan mesra antara Om Arsen dan Mama Elena.
Kedua orang dewasa itu berjalan di depan, diikuti Kayla. Om Arsen berhenti pada sebuah gerai perhiasan. Mengajak kekasihnya dan calon anak tirinya masuk ke dalam berniat membelikan salah satu berlian mahal untuk wanita yang ia cintai. Soal uang itu bukan maslah besar untuknya, bahkan pria itu sampai bingung bagaimana menghabiskan uang yang dimilikinya.
"Pilihlah yang kamu suka!" tawar Om Arsen dengan suara lembut. Matanya menatap satu persatu kalung bertakhta berlian yang terpajang dibalik kaca transparan.
"Apa ini tanda Om Arsen akan segera bertunangan dengan Mama?" batin Kayla masih terus memantau pergerakan sepasang kekasih itu. Hatinya menciut, kesempatannya untuk mendapat balasan cinta semakin lama mengikis dan mungkin akan habis tak tersisa. Tak ada peluang baginya untuk mendapatkan cinta dari Om Arsen.
Mama Elena memperhatikan satu per satu, tetapi setelah setengah jam berada di sana tidak ada satu pun barang mewah itu yang dia ambil. Dia ragu dan tidak ingin mendapatkan berlian mahal itu secara cuma-cuma.
"Apa kamu sudah menentukan pilihanmu?" tanya Om Arsen, dia masih setia menemani mama Elena.
Melihat raut Mama Elena yang sungkan, Om Arsen memilihkan salah satu kalung bertakhta berlian wana biru muda berbentuk hati. Dan langsung membayarnya. Wanita cantik itu terdiam. Tak dapat menolaknya. Kayla hanya memperhatikannya dari jauh.
"Ayo Ma, kita pulang!" ajak Kayla yang sudah merasa bosan. Tidak menoleh ke arah dua orang itu sama sekali.
Mama Elena mengangguk. Kemudian mengisyaratkan pada Om Arsen agar menuruti keinginan putrinya. Dengan berat hati Arsen menurut meski kecewa sebenarnya dia sudah menyiapkan makan malam spesial yang romantis sebagai permintaan maafnya. Namun, dia segera membatalkannya.
Mereka bertiga lalu kembali ke mobil dengan segera. Mobil mulai melaju dengan cepat dari pada saat berangkat. Mama Elena, Om Arsen dan Kayla saling diam tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mama Elena mulai merasakan curiga pada sikap Kayla yang lain dari biasanya. Sebelumnya Kayla sangat penurut, jarang berteriak, sopan dan tidak pernah kasar. Namun akhir-akhir ini dia berubah 180 derajat menjadi kasar, mudah marah dan tidak sopan.
Sesampainya di rumah, Kayla yang diam saja langsung berjalan memasuki rumah lalu menuju kamarnya. Acuh dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Om Arsen dan Mama Elena mencoba memahami gadis belia itu.
"Besok aku akan menjemputmu pagi-pagi, siapkan baju hangat!" pinta Om Arsen. Matanya berkedip sedikit menggoda wanitanya yang sedang terpaku memikirkan putrinya.
"Baiklah," jawab Mama Elena sambil tersenyum. Dia percaya lelaki itu akan selalu membahagiakannya.
Om Arsen kemudian pamit pulang tanpa memberikan kalung berlian itu pada kekasihnya. Momennya sangat tidak tepat, dia sudah merencanakan sesuatu yang spesial untuk besok, sebagai tanda keseriusannya pada sang kekasih.
***
Setelah perjalanan sekitar dua jam lebih. Sampailah Om Arsen dan Mama Elena di sebuah Villa yang berada di puncak. Bangunan itu adalah salah satu aset milik Arsen Damaresh yang ada di wilayah itu. Memang tak sebesar rumah utamanya, tetapi vila-vila miliknya adalah salah satu sumber kekayaannya yang membuat uangnya semakin menggunung setiap harinya.
Kayla menolak untuk ikut. Selain dia tidak mau mengganggu, gadis itu juga tidak ingin tersulut dalam gejolak cemburu yang berkesinambungan dan tiada habisnya. Hanya memberinya luka dan perih. Tanpa mencari tahu alasannya Mama Elena tidak memaksa putrinya untuk ikut. Dia juga tak enak hati pada kekasihnya jika Kayla meminta pulang lebih cepat, seperti semalam.
"Aku akan menutup matamu, Sayang," pinta Arsen yang berdiri di depan pintu ruang tamu. Dia melingkarkan kain kecil yang panjang untuk menutup mata kekasihnya. Kemudian mengikat di bagian belakang kepalanya.
"Iya," jawab Mama Elena menurut. Matanya tertutup, Om Arsen menggandeng tangannya berjalan pelan melangkah dengan hati-hati. Tempat yang ditujunya adalah balkon lantai dua dengan pemandangan indah dan udara dingin yang sejuk.
Anak tangga demi anak tangga dipijak dengan arahan dari Om Arsen. Hati Mama Elena mulai menebak-nebak apa yang di siapkan pria itu. Setelah sampai di ujung tangga kini dia berjalan lurus dengan pelan. Pria itu masih setia di sampingnya.
Kemudian mereka berhenti. Suara angin yang bertiup mulai terdengar. Menyapa tubuh indah wanita cantik itu. Dress warna coklat muda selutut dan berlengan pendek membuatnya merasa dingin. Dia lupa tak mengenakan baju hangat.
"Siap!" ucap Om Arsen berdiri di belakang mama Elena ingin membuka kain penutup matanya.
Mama Elena mengangguk tidak sabar.
Kain terlepas, Elena membuka matanya. Bibirnya menganga takjub dengan pemandangan indah yang ada di depannya. Selama ini dia jarang sekali berlibur dan dulu saat menikah dengan papanya Kayla dia sudah tidak pernah lagi berjalan-jalan mengeksplor tempat wisata. Pernikahannya yang diam-diam tanpa restu membuatnya harus selalu di rumah.
"Wow indah sekali," pujinya kagum matanya tak henti-henti menatap pemandangan indah di puncak, di balkon vila milik Arsen Damaresh.
Arsen yang melihat wajah cantik itu, tak kuasa jika harus diam saja dia memeluk wanita itu dari belakang. Tangannya melingkar di perut sang kekasih. Wajahnya ia rebahkan di pundak Elena membuat pipi mereka saling bersentuhan.
Elena menurut, apa lagi saat tangan kekar pria yang berdiri di belakangnya merengkuh perutnya dengan erat. Tubuhnya yang dingin kini perlahan menghangat. Dan ketika bibir lembut pria itu mendaratkan ciuman hebat di bibirnya, Elena membalasnya, ciuman yang hangat, lembut lalu semakin kuat dan membuatnya semakin tenggelam dengan berbagai rasa yang ditawarkan pria itu.
Rasa cinta yang pernah mati kini hadir dan tumbuh di hati pria baru yang membuatnya benar-benar lebih terjatuh dalam keindahan cinta. Kedua manik mata sang duda membuatnya begitu takluk, dan enggan jika waktu yang sangat berharga ini akan berlalu begitu saja.
Semakin waktu berjalan, Arsen tak dapat menahan gejolaknya lagi hingga untuk ke sekian kalinya dia kembali mengajak sang kekasih memadu cinta.
Malam yang indah, ditemani udara dingin di puncak. Di atas ranjang besi dan kelambu kamar berwarna abu muda, mereka kembali beradu menyatukan cinta dengan peluk dan sentuhan mesra. Semua sudah tidak bisa dicegah lagi untuk ke sekian kalinya mereka terus memuja fisik satu sama lain ketika ada kesempatan.
Bersambung