06

1447 Kata
Satu minggu kemudian. Mama Elena dan Om Arsen sudah kembali baikkan, hal itu membuat kekasih mama itu hampir setiap hari datang ke rumah saat sore tiba dan berada di rumah hingga malam. Membuat Kayla merasa senang, karena sering bertemu dengan pria itu. Diam-diam mengamati dari jauh hingga rasa kagum dan cinta semakin menumpuk setiap harinya. Kayla juga semakin dekat dengan pria sepuluh detiknya itu. Hampir setiap hari dia mencurahkan isi hatinya di buku diary miliknya. Penuh pujian dan rasa bangga pada Om Arsen. Pria tampan dengan tubuh kekar yang menggoda dan penuh pesona sudah menempati tempat spesial di hatinya. Puluhan puisi penuh rasa kagum dan suka tercipta untuk pria itu. Membuat hatinya semakin tidak bisa lepas dari jerat terlarang karena pria itu adalah calon papa tirinya. Cepat atau lambat rasa cinta antara mama Elena dan Om Arsen akan membawa mereka pada sebuah ikatan pernikahan. Saat itu tiba apa yang akan di lakukan Kayla? Bukankah rasa cinta itu akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sore ini pria itu datang ke rumahnya, tetapi mama Elena sedang keluar untuk berbelanja. Terpaksa dia yang harus menemani pacar mamanya itu. Dan sebenarnya Kayla merasa senang bisa berduaan dengan Om Arsen. Bisa menatapnya dengan puas dan menyimpan aromanya sebanyak mungkin, menciptakan ukiran kenangan tang hanya ada di dalam otaknya. Itu cukup membuat Kayla bahagia. "Ini di minum," tawar Kayla, mengulurkan segelas jus jeruk pada lelaki itu. Matanya melirik ke arah bibir Om Arsen yang tebal dan menggoda. "Terima kasih, Sayang," sahutnya dengan suara berat sambil tersenyum ke arah gadis itu. Tangannya meraih segelas jus jeruk itu. Sedikit menempel pada tangan calon anak tirinya itu. Yang seketika jantung Kayla berdegup sangat cepat, sentuhan Om Arsen benar-benar menimbulkan reaksi tak biasa. “Om Arsen senyummu sungguh indah! Apa?? tadi kamu memanggilku sayang, aku benar-benar luluh, biarlah sebelum kamu menjadi papa tiriku aku akan terus mencintaimu, maaf aku tidak bisa menahan perasaanku karena kamu begitu menggoda” batin Kayla memperhatikan pria di sampingnya dengan mencuri pandang takut ketahuan. "Apa Om mencintai Mamaku?" Tanya Kayla menyelidik. Memastikan adakah kesempatan untuknya atau tidak. "Iya, Om sangat mencintai Mamamu," jawab pria itu sambil tersenyum ke arah Kayla. Dia meletakkan gelasnya dan tangannya berada di sandaran sofa seolah merangkul Kayla. "Apa tidak ada kesempatan bagi wanita lain, membuat Om Arsen jatuh cinta?" Selidik Kayla, nada suaranya pelan dan terus menatap wajah pria itu. "Maksud kamu?" tanya Om Arsen, tidak memahami pertanyaan Kayla. Bibirnya menganga sambil menatap tajam Kayla. “Cukup Kayla! Jangan bertanya yang tidak-tidak! Bagaimana kalau Mamamu tahu! Apa kamu tidak takut jika Mama Elena mengetahui semuanya?” batin Kayla, menggelengkan kepala menepis semua pikiran buruk yang ada di benaknya. “Tidak kok Om,” ucap Kayla sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mengusai dirinya agar berhenti dan tidak melakukan hal bodoh yang bisa membuat pria ini curiga akan perasan yang selama ini di pendamnya. "Om, sangat mencintai Mamamu, dia wanita yang sangat menawan," jelas Arsen. Bola matanya mengarah ke kiri membayangkan sesuatu yang indah tentang mamanya. Terlihat jelas di sudut bibirnya, simpul senyum bahagia karena rasa cinta pada mama Elena. "Oh," jawab Kayla singkat tidak bersemangat. Bibirnya terkatup rapat, hatinya berat. Rasa cemburu perlahan memenuhi hati dan pikirannya. Wajahnya menjadi datar dan sendu. Sungguh! Rasa cemburu benar-benar tidak enak! "Cukup susah buat om mendapatkan cinta Mamamu, jadi om tidak akan menyia-nyiakan Dia," jelas pria itu penuh ketegasan. Ujung matanya naik ke atas menandakan dia benar-benar bahagia, rasa cintanya terbalas. "Jadi kapan Om mau nikah in Mama?" tanya Kayla lesu. Matanya beralih melihat keluar jendela lalu terpejam. Tidak kuat mendengar jawaban apa yang akan didengarnya. "Om masih menunggu jawaban Mamamu, tenang saja nanti saat Elena sudah bersedia di ajak menikah, Kamulah yang akan Om beritahu terlebih dahulu," jelas kekasih mamanya itu sangat antusias sambil memeluk Kayla erat. Bibirnya tersenyum lebar penuh keyakinan keinginannya itu pasti akan terwujud. Kayla melepas pelukan itu dengan kasar. Kemudian berdiri lalu berlari ke kamarnya. Membuat Arsen bertanya-tanya apa kesalahannya dan terdiam bingung apa yang harus ia lakukan. "Kayla, tunggu!" pinta Arsen, tetapi Kayla tidak mendengar ucapannya dan terus berlari ke kamarnya lalu mengunci pintu. Tidak ingin seorang pun datang dan mengetahui perasaannya. Kayla membenamkan wajahnya di batal. Air matanya pecah. Rasa sedih dan putus asa bergejolak dalam hatinya. Kedua tangan mengepal memukul kasur yang tidak bersalah. Hancur! Hatinya luluh lantak mengingat reaksi Om Arsen yang begitu mencintai mamnya. Tak berapa lama, mama Elena pulang dengan membawa tas penuh bahan makanan. Titik-titik keringat membasahi keningnya. Cuaca panas dan rasa lelah membuat pipinya bersemu merah, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Mama Elena meletakkan bahan makanan di meja dapur. Tergesa ingin segera memasak dan menghidangkan suatu menu untuk Kayla dan juga untuk Arsen. "Lena," panggil Arsen lembut sembari menghampiri wanita cantik itu. Berdiri tepat di sampingnya. Menatapnya canggung. "Iya, sayang," sahut Elena sambil tersenyum, menoleh ke arah pria itu. Matanya mengamati pria itu dari dekat. Sangat dekat! Elena pun sangat sadar bukan hanya kaya dan tampan, Arsen juga baik, lembut dan sangat mencintainya. Semua sikap dan sifatnya selalu bisa memukaunya meski sedikit misterius. "Tadi Kayla tiba-tiba berlari ke kamar, aku tidak tahu Dia marah atau mungkin aku membuatnya terluka?" tanya Arsen bingung. Bola matanya memutar, terlihat jelas Dia tidak tahu sebab Kayla meninggalkannya begitu saja. "Baiklah nanti aku akan bicara dengan Kayla," sahut Elena. Kemudian menepuk pipi Arsen lembut, mengisyaratkan untuk tidak khawatir dan semua akan baik-baik saja. Kemudian Arsen menemani Elena memasak di dapur, memeluk dan mengganggu wanita itu. Membuat Kayla yang mengintai dari pintu kamarnya semakin terluka. Apalagi saat melihat mereka berciuman mesra, hati Kayla patah menjadi beribu-ribu keping. Kembali terduduk lemas di belakang pintu. Cemburu! “Mama teganya kamu mengambil laki-laki idamanku, Mama aku terluka dan aku tidak bisa cerita kepadamu atau siapa pun! Mama kejam!” batin Kayla sambil mengepalkan tangannya. Nafasnya berat dia mengentakkan kakinya meluapkan rasa kesal dan cemburunya. Kayla pun kembali memandangi kemesraan mereka berdua. Semua sangat jelas! Mamanya dan Om Arsen saling tertarik, saling memuja dan saling mencintai. Ini akhir untuk perasaan cintanya! Kayla mengutuki dirinya sendiri. Sial! Sekalinya dia merasakan jatuh cinta, pada orang yang salah lalu dengan segera harus melupakan. Saat makan malam Kayla juga tidak mau makan bersama, mama Elena dan Om Arsen memanggilnya bergantian tetapi gadis itu tetap tidak mau keluar dari kamarnya. Selain cemburu harus menyaksikan keduanya bermesraan, Kayla juga tidak ingin mata bengkaknya menimbulkan banyak pertanyaan dari mamanya dan pria itu. Pukul sembilan malam, Arsen pamit pulang dari rumah kekasihnya, ada rasa tak enak hati melihat Kayla yang bersikap seperti itu, ini pertama kalinya gadis belia itu berlaku kasar padanya. Itu sangat mengganggu pikirannya. Setelah Arsen pulang, mama Elena masuk ke kamar putrinya dan bertanya tentang apa yang di ceritakan Om Arsen padanya. Ingin sekali mengetahui alasan putrinya bertindak seperti itu pada kekasihnya. "Kay, ada yang ingin mama tanyakan?" panggil mama Elena menghampiri putrinya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Dia tak menoleh sedikit pun, masih menatap layar gawainya. "Apa, Ma, " sahut Kayla datar. Kedua jempolnya, sedang mengetik membalas pesan entah dari siapa. "Apa kamu marah dengan Om Arsen?" tanya mama Elena sambil mengusap lembut kening putrinya. Memperhatikan ekspresi yang terpancar. "Aku tidak marah, Ma," jawab Kayla singkat. Tidak melihat ke arah mamanya sama sekali. “Aku tidak marah Ma, tapi aku tidak rela kalau mama menikah dengan Om Arsen! Aku juga cemburu dengan Mama yang berciuman dengan Om Arsen di dapur, di rumah ini setiap malam aku muak Ma, kenapa bukan aku yang di cintai Om Arsen! Kenapa bukan aku! Tapi Mama!” Batin Kayla berpura-pura sibuk menggeser layar ponselnya. "Kalau kamu tidak marah jangan seperti itu lagi ya, Om Arsen itu baik dan Mama juga sangat mencintainya," jelas mama Elena lalu tersenyum bahagia mengingat Om Arsen. Tak lupa dia mendaratkan satu kecupan penuh kasih sayang di kening putrinya. “Apa, Mama juga mencintai Om Arsen pupus sudah! Kayla jangan menangis, jangan sampai air matamu jatuh!” batin Kayla menguatkan diri. "Jadi kapan Mama mau menikah dengan Om Arsen?" tanya Kayla memberanikan diri dengan suara bergetar dan takut. Kedua tangannya mencengkeram seprai bersiap mendengar jawaban dari mamanya. "Itu yang ingin mama tanyakan padamu, Nak?" mama Elena balik bertanya. Wajahnya berubah serius. "Maksud Mama?" tanya Kayla menyelidik. Memperhatikan mamanya dengan saksama. "Apa kamu siap jika Om Arsen menjadi Papamu?" ucap mama Elena mengulang pertanyaannya. Raut mukanya lebih serius dari sebelumnya. “Apa-apaan ini! Aku tidak mau patah hati. Aku harus memberitahu Mama tentang perasaanku, Kayla ayo bilang sama Mamamu sekarang bilang kalau kamu mencintai Om Arsen! Sebelum semuanya terlambat ayo bilang!” batin Kayla. "Mama sebaiknya keluar dari kamarku," usir Kayla karena tidak tahu apa yang harus dia ucapkan antara menyetujui pernikahan mereka atau mengakui perasaannya pada pria kekasih mamanya itu. Sebelum Kayla berteriak dan marah, mama Elena keluar dari kamar putrinya dengan penuh tanya. Dia berjalan menuju pintu, untuk kedua kalinya Kayla berani membentak sang mama tanpa alasan yang masuk akal. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN