Kayla dan mama Elena mengalihkan pandangan ke arah Arsen. Benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sebelumnya. Apa yang diucapkan Ayra adalah tanda tanya besar bagi mereka. Suasana meja makan menjadi hening ketika Ayra dan Beryl meninggalkan meja makan lebih cepat. Meninggalkan rasa curiga di hati mama Ellena.
“Dimakan buahnya, ”tawar nyonya Bella ramah dan mengacuhkan celetukan cucunya tadi, seketika pias wajahnya berubah hangat penuh sambutan.
Om Arsen, terdiam entah apa yang dipikirkan pria itu, mama Elena dan Kayla tidak sanggup menebak. Bagi Kayla kekasih mamanya itu masih misterius banyak hal yang belum dia ketahui dari pria itu. Dan ucapan gadis kecil tadi mengganggu pikirannya, semakin menebak-nebak seperti apa sebenarnya sosok pria kekasih mamanya yang sangat kaya dan begitu tampan itu.
Dua wanita, tamu spesial Om Arsen menghabiskan makanan lebih cepat, mereka berdua ingin segera pulang dan berbicara tentang masalah ini. Pria itu dapat mengetahui ke tidak nyaman nan kekasihnya setelah ucapan Ayra tadi. Namun, dia tidak mungkin menjelaskan di depan nyonya Bella. Om Arsen memutuskan untuk mengantar pulang sepasang ibu dan anak baru kemudian menjelaskan semuanya.
"Aku antar kalian pulang sekarang!" kata Om Arsen sambil beranjak dari duduknya, raut wajahnya datar. Kayla tak tahu apa yang dipikirkan pria itu. Begitu pun mama Elena yang canggung untuk bertanya apa maksud perkataan anak kekasihnya tadi. Banyak pertanyaan menari di pikirannya membuatnya melamun dan tidak bersemangat.
Dengan pelan Kayla dan mama Elena berjalan menuju mobil Om Arsen. Mereka berdua patah hati karena ucapan Ayra! Satu kalimat yang menyedihkan. mampu menghancurkan bibit cinta dan percaya yang sedang tumbuh di hati mama Elena! Mereka kembali duduk di tempat yang sama di kursi belakang, tetapi suasana hati mereka berbeda karena tak bersemangat menggebu seperti ketika mereka datang!
Mobil mulai berjalan keluar pekarangan rumah, melewati rute yang sama, posisi duduk sama seperti tadi dengan suasana lain. Jika tadi hangat dan menyenangkan sekarang menjadi dingin dan mencekam. Bibir mama Elena terkunci enggan membuka suara. Hanya suara batuk yang di sengaja sesekali memecah kesunyian.
"Ehemmm," Kayla berdehem, membuat suara di keheningan matanya melihat sang mama lalu beralih menatap ke depan. Mereka sangat acuh dan sama sekali tidak ada niat untuk memulai pembicaraan.
"Ada apa Kayla?" tanya Om Arsen penuh perhatian. Dia menoleh ke belakang dan sekilas mencuri pandang mengamati mama Elena yang terdiam danbtak bergeming sedikit pun.
"Kenapa jadi sepi begini! Kayla jadi canggung kalau Mama dan Om Arsen saling diam seperti ini!" celetuk Kayla. Kedua tangannya melipat ke d**a sangat kesal.
“Ayo Ma! Tanyakan, aku juga ingin tahu apakah Om Arsen juga sering membawa wanita pulang ke rumah! Aku penasaran Ma!” Batin Kayla penuh harap.
Namun, keinginannya tak terjadi, dua orang dewasa itu masih diam seribu bahasa. Kayla menghembuskan nafas kesal. Kemudian menggigit bibirnya kecewa. Pandangannya mengarah ke luar jendela mobil, memperhatikan pemandangan tepi jalan.
Mobil sampai di halaman rumah, Kayla turun tanpa menunggu di bukakan pintu begitu pun mama Elena yang langsung membuka mobil dan keluar begitu saja. Meninggalkan Om Arsen yang belum menjelaskan tentang celetukan putrinya di meja makan tadi.
“Hey kalian ayo selesaikan masalah ini!” Batin Kayla sambil menutup pintu dengan kesal.
Namun, keinginan Kayla tak terjadi. Om Arsen tak memanggil mamanya yang tampak marah, sedangkan mamanya juga diam saja tidak meminta penjelasan dari pria itu. Membiarkan masalah itu berlarut tanpa kejelasan, menggantung tanpa jawaban.
***
Sejak malan itu Om Arsen tidak pernah datang ke rumah hingga hari ini Kayla harus datang ke sekolah pertama kali di semester dua. Seperti biasa Kevin menghampiri Kayla, karena jarak sekolah yang dekat mereka bersepeda bersama. Begitu pun saat pulang sekolah, teman lelakinya itu selalu menunggunya di depan gerbang sekolah.
Kring ... Kring ....
"Ayo pulang," ajak Kevin sambil membunyikan klakson sepedanya. Wajahnya memang selalu ramah terhadap Kayla.
"Ayo," jawab Kayla datar seperti biasa.
Semangatnya berkurang, sudah satu minggu lebih tidak bertemu vitamin hatinya. Kevin mengajaknya berhenti di taman dekat rumah, ada hal yang ingin di bicarakannya yang sangat penting dan mendesak.
Kevin menghentikan sepedanya lalu duduk di salah satu kursi yang kosong, cuaca cerah membuat taman ramai pengunjung. Banyak pohon besar yang rindang memberikan kesejukan bagi orang-orang yang ada di sana. Angin yang bertiup pun menyejukkan ketika berembus menerpa wajah-wajah.
"Kay," panggil Kevin gugup. Tangannya gemetar, dan kakinya yang bergidik membuatnya terduduk karena sangat grogi.
"Iya," sahut Kayla sambil menelan es kelapa mudanya. Dia memperhatikan gelagat aneh sahabatnya.
“Terima kasih ya, kamu selalu balas pesanku," ucap Kevin lalu tersenyum ke arah Kayla. Dia mengaitkan kedua tangannya agar tidak terlihat gemetar.
"Biasa kali, dari dulu memang begitukan?!" jawab Kayla mengarahkan pandangan ke sahabatnya itu. Matanya menyelidik dari ujung kaki hingga kepala. Mencium sikap tidak biasa dari temannya itu.
"Kay, aku suka sama Kamu," suara Kevin bergetar mengatakan kalimat itu. Angin yang bertiup seolah berhenti. Jantungnya memompa lebih cepat hingga suara dag-dig-dug seolah terdengar oleh semua orang yang berada di sana. Sungguh! Keberanian yang luar biasa dia bisa mengucapkan hal itu.
Kayla diam, tidak menyangka sahabatnya itu mengungkapkan perasaan di siang bolong seperti ini, benar-benar tidak romantis. Ada rasa tak enak hati dan canggung untuk menolaknya. Dia takut Kevin akan menjauh saat dia mengatakan yang sejujurnya, tetapi dia hanya menganggap Kevin sahabat, karena hatinya sudah tertaut dengan orang lain.
Kayla membuang semua rasa tak enak hatinya, memberi jawaban jujur pada sahabatnya itu. “Vin, maaf ya ...,"ucap Kayla terpotong.
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku cuma ingin kamu tahu saja," jelas Kevin tanpa ada rasa marah. Simpul bibirnya membentuk senyuman, entah senyum sedih atau kecewa yang jelas bukan senyuman bahagia.
"Emmm ...,"sahut Kayla pelan.
"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Kevin serius. Matanya menatap lurus, mencari jawaban dari sorot mata Kayla.
"Apaan kamu, kita lima belas tahun saja belum genap ngomong in cinta! Jangan dululah," sanggah Kayla sambil tertawa. Berbohong! Tidak ingin Kevin tahu bahwa saat ini dia sedang jatuh hati pada pria kekasih mamanya yang sangat tampan dan maskulin itu!
"Aku enggak tanya umur! Apa kamu pernah jatuh cinta?" Kevin mengulangi pertanyaannya menatap Kayla antusias. Rautnya menyelidik, terus mencari dan ingin menemukan jawaban. Kayla! Kevin tahu kalau Kayla berbohong mengenai jawabannya.
Kayla diam lalu menunduk. Berpikir merangkai kata, membuat jawaban.
“Tentu aku pernah jatuh cinta, dan baru sekali. Namun aku tak akan bilang padamu Kevin, Aku malu karena hanya dengan waktu sepuluh detik aku jatuh cinta dengan kekasih mamaku! Sebenarnya aku sedang merindukan pria itu, rindu suaranya, rindu bau parfumnya, rindu tawanya tetapi aku malu mengatakannya, bahkan aku tidak berani dan tidak mungkin cerita masalah ini pada mama! hidupku berat Kevin! Karena hatiku yang lancang mencintai kekasih mamaku.” Batin Kayla terus menunduk malu dengan dirinya sendiri.
"Hei apa yang kamu pikirkan?!" tanya Kevin berteriak mengagetkan Kayla. Tangan kirinya menepuk pelan bahu temannya itu.
"Ayo pulang!" ajak Kayla tak bersemangat. Masih menunduk enggan mengangkat kepalanya.
Mereka berdua kembali menggayuh sepeda, memaksa kaki terus bergerak melewati jalan agar segera sampai di rumah. Membiarkan keringat menetes dan segera melupakan ungkapan cinta dari Kevin yang tidak mengesankan dan berlalu begitu saja di benak Kayla. Namun, Kevin tidak, dia belum menyerah dan akan berusaha mendapatkan hati gadis cantik itu.
“Aku masuk dulu,” pamit Kayla tanpa melihat ke arah Kevin.
Kevin mengangguk lemas. Kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Kayla membawa sepedanya ke garasi yang berada di samping rumah. Kemudian masuk, rasa rindu pada pria sepuluh detiknya itu membuatnya marah dan tak tahu harus berbuat apa. Hanya kesal yang memenuhi hatinya. Ingin marah-marah tidak jelas.
Dengan langkah cepat dia menuju kamarnya, tempat ternyaman untuk menyembunyikan amarahnya. Setidaknya Kayla tidak ingin mamanya tahu kalau dia sedang marah karena rindu kepada calon papa tirinya itu.
Ceklek!
Pintu kamar Kayla terbuka.
Braak!
Gadis itu menutup pintu dengan membantingnya kesal, rasa rindu yang membuncah seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja!
Suara pintu kamar yang didorong dengan kasar, terdengar di telinga mama Elena. Membuatnya bergegas meninggalkan meja kerjanya. Kemudian menyiapkan makanan untuk putrinya.
"Kayla makan dulu!" suruh mama Elena menghampiri putrinya di kamar. Terlihat putrinya sangat murung melamun menatap ke dinding kosong seperti memikirkan sesuatu. Kakinya dilipat ke depan dan kedua tangannya memeluk kaki itu dengan erat. Kepala bersandar di lutut lalu matanya terpejam. Sedih?
"Kayla enggak lapar Ma," sahut Kayla membuka matanya lagi! Suaranya sangat lirih tak b*******h.
"Nanti kamu sakit kalau enggak makan!" paksa mamanya. Berjalan mendekati Kayla dan duduk di sampingny.
"Nanti!" jawab Kayla ketus. Menolak tangan mamanya yang mengulurkan menu makan siangnya. Membuat piring itu hampir saja terlepas dari tangan mamanya.
"Jangan nanti!" perintah mama Elena kesal. Nada suaranya satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya. Terpancing emosi.
"Apaan sih Ma!" sahut Kayla dengan nada yang tinggi. Terlihat matanya yang membelalak. Bibirnya bergetar dan kedua tangannya mengepal.
“Astaga Kayla kenapa kamu membentak mamamu! Cepatlah minta maaf!” batin Kayla.
"Maaf Ma," ucap Kayla menyesal. Bola matanya meredup. Kepalanya menunduk penuh sesal.
"Apa yang membuatmu marah-marah?" tanya mama Elena sambil menatap tepat di kedua bola mata putrinya, mencari jawaban. Dia benar-benar tidak tahu alasan putrinya membentak. Ini baru pertama kali di lakukannya.
“Aku rindu Om Arsen, mama kenapa lama sekali berantem sama dia! Aku ingin dia ke sini. Aku rindu lelaki itu Ma! Bisakah Mama segera baikkan lalu membawanya ke rumah ini! Kayla tidak kuat menyimpan rasa kangen ini Ma! Kangen wajah tampannya! Kangen suara lembutnya! Kangen bau parfumnya! Kangen! ”Batin Kayla.
"Kayla tidak lapar, Ma!" jawabnya sambil menyunggingkan senyum palsu. Berharap sang mama segera lupa kalau dia baru saja membentaknya. Kelopak matanya berkedip cepat menggoda dan memohon agar mama Elena tidak memaksanya lagi.
Dan berhasil, Mama Elena tidak memaksa lagi. Dia keluar dari kamar putrinya lalu kembali bekerja. Namun, ia tahu putrinya sedang terganggu akan sesuatu, mungkin tidak ingin bercerita. Wanita itu cukup mengerti dan mulai detik ini akan memberi kesempatan pada putrinya untuk belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kayla membuka buku diary nya mulai menuliskan isi hatinya di sana. Bolpoin warna ungu dengan tinta tebal di pilihnya secara acak di dalam tas kecilnya.
*Dear diary,
Om Arsen, aku rindu kamu. Rindu suaramu.
Rindu mengobrol denganmu.
Apa yang membuatmu tak lagi datang ke sini, Ayo berbaikan sama Mama.
Kamu tahu Om, aku masih selalu memandangi fotomu.
Aku tahu rasa cinta ini salah,
Mungkin sekarang aku belum bisa melupakanmu.
Namun, saat kamu dan mama menikah, aku akan berusaha merubah rasa cinta untuk kekasih menjadi rasa cinta untuk papa tiri. Aku janji*.
Setelah menulis diary, dia menutup buku itu lalu meletakkan di tempat rahasia yang tidak mudah di temukan sang Mama. Kemudian Kayla membuka ponsel lalu menatap foto pria itu, rasa rindu semakin menguasainya. Membuatnya ingin segera bertemu dengan pria sepuluh detik, begitu Kayla menyebutnya.
“Om Arsen aku kangen! Datanglah!” Batin Kayla sambil memejamkan mata. Memunculkan wajah itu di dalam pikirannya.
Bersambung.